Pelajaran Panas Dengan Ayah Muridku
gumam Arvendra sebelum mencium bagian dalam paha kiri, lembut dan dalam sekaligus.
“Mmm …” Anindya tidak bisa membentuk kata. Yang keluar hanya napas patah.
Pria itu bergeser ke paha kanan. Bibirnya menyentuh kulit tipis itu, satu ciuman ringan, lalu naik sedikit, lalu turun lagi. Tidak pernah langsung ke inti, hanya mengitari, menggoda, memanaskan.
Napas Anindya berantakan. “Mas … jangan … jangan bikin aku–”