Wonderstruck
kata Marco dengan suara diselipi nada sesal.
“Kenapa malah minta maaf, sih?” protesku. Lalu, aku kembali menatap para orangtua yang duduk di depan kami. “Aku nurut keputusan Mama, Papa, Tante Danty, dan Om Bagas. Cuma, kalau boleh, aku mau minta satu hal. Pesta pernikahan kami cukup diadakan di Puan Derana aja.”