Merajut Asa
"Tampaknya kamu menjadi sangat religius di sini. Belum setengah jam menyusuri jalanan Jakarta, sudah beberapa kali kamu menyebut nama Tuhan. Seingatku, selama tiga bulan aku bersamamu di Gotland, hanya sekali aku mendengarmu berkata 'Herregud' yaitu saat kamu kesal aku terpisah jalan di Innerstaden."
Joseph tertawa. "Ah ... mungkin itu sebabnya masyarakat kalian sangat religius, begitu banyak cobaan yang menyebabkan kalian harus bersabar dan mengingat Tuhan."
"Bisa jadi!" Jovita tak bisa menghentikan tawanya.
Joseph mendengkus. "Jalanan ini sungguh membuatku stres." Matanya memandangi motor yang dinaiki oleh tiga orang. Belum lagi bunyi klakson yang saling bersahutan.