INICIAR SESIÓNSetelah dijebak dan diusir oleh majikannya, Roy yang berasal dari desa terpaksa menjadi gembel di Kota Metropolitan. Namun siapa sangka nasib Roy berubah kala bertemu dengan Tante Cindy dan menjadi pria simpanannya. Roy bahkan mulai belajar bahasa Inggris dan menjadi pemandu para wisatawan di Pulau Bali! Hanya saja, di sana, Roy justru bertemu Viola, CEO cantik perusahaan pariwisata yang juga mampu menggetarkan hatinya. Lantas, bagaimana kisah Roy selanjutnya? Siapakah yang akan dia pilih? Tante Cindy atau Viola?
Ver másGabriella’s POV
It was late afternoon when I wrote my last exam of the third year. I waited outside for my friend Chloe and her boyfriend, Alex, feeling lighter than I had in months.
Next year would be my last year.
For someone like me, I had to give it my all. I didn’t have enough money to pay for my education, so I made sure my grades stayed high enough to qualify for a scholarship.
Chloe had been studying on a scholarship since she started university, but she failed several classes, and the scholarship stopped providing financial assistance. Alex had been paying her tuition ever since.
Alex appealed to me. He had money, and he took care of Chloe. They’d been together since their second year, and they adored each other. Alex’s parents adored Chloe too—honestly, sometimes it felt like they adored her more than their own son. When those two argued, his parents always sided with Chloe.
I hoped I could find someone like Alex someday.
He was kind. And, God, he was sexy. Like very sexy!
Chloe and I grew up together at the orphanage. We were both booted out when we turned eighteen. We stuck together after that, but when Chloe turned nineteen, Alex moved in with her. Now I had the place to myself while I studied and worked part-time.
Chloe called out, “Hey, Gaby!” She walked up with Alex beside her.
Before I could even say hello properly, she said, “We’re going out tonight for cocktails. We need to celebrate. Next year is our last year, and I’m not taking no for an answer. I’ll pick you up at six.”
She didn’t even let me speak.
I took a taxi to the garage, worked for four hours, and then went home. I showered, did my makeup, and kept it simple. I always tried to look natural. Then I put on the dress and high heels Chloe demanded.
At 5:45 p.m., she texted me.
Chloe: Are you ready, bitch?
Me: I’ll be down in five minutes.
When I walked toward Alex’s car, both Chloe and Alex looked completely taken aback.
Alex’s eyebrows lifted. “Can you tell me where you’ve been hiding that ass?”
Alex was more like an older brother to me, and Chloe was more like a sister. He was a part-time student and worked for his father’s firm. He was five years older than us, but somehow we still ended up in the same classes. As protective as they were of me, they also pushed me to find a boyfriend of my own.
Chloe leaned closer and smirked. “I think you’re going to get laid tonight.”
“Oh, please shut up.”
I grinned anyway, poor, pathetic me. I’d never seen a man naked. I’d never even kissed one. Sex? Not even close.
Alex drove us to a club that was massive, all lights and noise and bodies. He escorted us into the VIP section he’d reserved. Chloe ordered several drinks, and whatever she picked was sweet and dangerously delicious. I could barely taste the alcohol.
She grabbed my hand. “Come on, Gaby. Let’s get this party started on the dance floor.”
We made our way through the crowd. The DJ was playing Sia’s “Unstoppable.” I could feel people looking at me, and it made my skin prickle.
I glanced around and immediately got irritated.
Chloe and Alex were already kissing.
I backed away and headed to the bar. I felt stiff and out of place. The dance floor seemed reserved for couples, and I didn’t have one.
I drank quickly, staring at the bartender as the sweetness hit my tongue. It tasted amazing, but I wanted something stronger.
“I want something strong,” I muttered, setting my glass on the bar.
“I can give you a tequila shot,” the bartender offered.
“Sure. Give it to me.”
I leaned forward as he shoved a lemon at me. “How do you take this?” I asked, grinning.
“Gulp it down.” I did, and the tequila burned all the way down.
“One more.” I set the tiny glass down again, and he poured another. I drank that one too, then scanned the room like I was hunting for something.
I wanted to twerk. I’d always been a twerking monster, and tequila had just unlocked that part of my brain like it owned the place.
I went back to the dance floor, not caring anymore whether it was “for couples.” I started moving, wobbling my ass to the beat, and I could feel eyes on me again.
For some reason, being watched only made me go harder.
Is this what they mean by sexual desire?
I laughed out loud.
A body pressed against mine as I swayed. I almost turned around to tell whoever it was to fuck off until a hand grabbed my ass.
And instead of getting angry… I wanted more.
I wanted him to grab the other butt cheek too.
My pussy throbbed in the crotch of my thong from that one touch. I froze for half a second, stunned by my own reaction. No one had ever grabbed my ass before. I didn’t know what to do with the feeling.
Our bodies moved together in the music. I followed his lead without thinking. He took my hand, and a shiver ran up my spine.
Then he whirled me around.
My back hit his chest. He pulled me close, then shoved my ass against his crotch. I rolled my hips to the beat, grinding lightly against him.
What am I doing?
I shook the thought off because I didn’t want to stop.
He spun me again, still holding my hand, and this time I faced him.
He was tall, with dirty-blond hair and ocean-blue eyes. The way he looked at me like he could see straight through me made my stomach flip. I couldn’t pull my gaze away.
He was a stunning man.
Broad shoulders. Solid muscle. The kind that didn’t look exaggerated, just powerful, like it belonged there. A tattoo curled over his shoulder, disappearing where I couldn’t see it. I couldn’t even tell where it started.
He looked older. Nine, ten… maybe even eleven years older than me.
I didn’t mind.
He said something, but my brain lagged behind his voice.
“Mind getting some more drinks, baby girl?”
I blinked, still trying to process him. He swallowed and cleared his throat, and I realized I’d been staring too long.
“Huh?”
He smirked. “Come on. Let’s go have some drinks.”
“Yeah. Sure.”
Then Chloe’s voice cut through the moment.
“You have to get laid tonight and lose your virginity!”
She sounded drunk. Heat rushed to my face. I glanced at him, mortified. “I’m so sorry about my friend. Please ignore her.”
“It’s okay.” He leaned closer, still smiling. “Let’s go get drinks… or do you want to get out of here?”
Cuaca hari itu di Pulau Bali sangat cerah, di ruang tunggu keberangkatan di bandara I Gusti Ngurah Rai tampak tiga orang yang duduk berdekatan. Dua orang wanita dan satu lagi seorang pria, mereka tampak asyik ngobrol sembari menunggu jadwal penerbangan pesawat yang akan mereka naiki.“Apa Bang Ardi udah kasih tau Mas Roy jika hari ini kita terbang ke Jakarta menemuinya?” salah seorang dari dua wanita itu bertanya pada pria yang duduk tak jauh di depannya.“Aku sengaja nggak kasih tau Roy, biar kesannya surprise secara aku datang dengan kamu Viola.” Jawab pria itu yang ternyata Ardi dan yang bertanya adalah Viola, sementara seorang wanita lagi yang duduk di sebelah Viola adalah Puspa.“Jujur aja dari tadi malam sampai sekarang aku masih deg-degan, aku kuatir Mas Roy nggak sudi menerima kedatangan kita.” Cemas Aulia.“Hemmm, itu hanya perasaan mu saja. Nggak mungkinlah seorang Roy menolak kita yang datang dari jauh untuk bertemu dengannya.” Ujar Ardi.“Kalau sama Bang Ardi tentu aja Mas
“Tak ada cara lain selain bertemu dan berbicara langsung padanya.” Tutur Viola.“Hemmmm, ya. Itu emang benar, meskipun aku sebenarnya di minta merahasiakan keberadaannya tapi demi masalah kalian clear aku bersedia mengantarmu bertemu dengan Roy di Jakarta.” Ujar Ardi.“Benarkah Bang?!” Viola terkejut tak menyangka dengan yang di ucapkan Ardi, Ardi menanggapi dengan anggukan kepala.“Tapi Bang, tentunya nggak dalam waktu dekat ini karena masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan di kantor.” sambung Viola.“Hemmm, ya tentu saja. Kapan pun kamu inginkan aku akan luangkan waktu ku untuk menemanimu bertemu dengan Roy di Jakarta.” Ulas Ardi diiringi senyumnya.“Terima kasih Bang,” ucap Viola.“Sama-sama.” Balas Ardi.Lebih kurang setengah jam kemudian mereka pun beranjak dari Mall itu dan kembali ke kediaman mereka masing-masing, Viola benar-benar ceria karena tak disangka apa yang selama ini menjadi beban pikirannya tentang keberadaan Roy telah ia ketahui dari Ardi meskipun permasal
“Alhamdulilah juga lancar,” balas Ardi diiringi senyumnya.“Oh ya Bang, kebetulan sekali bertemu Bang Ardi di sini kami ingin bertanya perihal Mas Roy.” kali ini Puspa yang bicara sembari melirik ke arah Viola, sosok yang dilirik tersenyum dan mengangguk.“Tentang Roy? Maksudnya gimana nih?” Ardi berpura-pura kaget dan tak mengerti padahal dia tahu jika Ryan dan Viola memiliki hubungan selama Roy berada di Pulau Bali itu.“Aku rasa Bang Ardi udah tahu dan Mas Roy mungkin juga udah pernah cerita mengenai hubungan ku dengannya?” ulas Viola, Ardi tersenyum dan mengangguk.“Sejak kejadian itu Mas Roy memutuskan untuk resign dari kantor dan pergi meninggalkan Bali. Nomor ponsel yang biasa dia gunakan sejak hari itu juga nggak pernah aktif lagi, aku nggak tahu ke mana dia pergi apakah kembali ke Jakarta atau pulang ke desanya. Apakah Bang Ardi tahu atau mungkin Mas Roy pamitan hari itu pada Bang Ardi dan bilang ingin ke mana?” sambung Viola.“Roy emang temui aku dan bahkan menginap di hotel
“Hemmm, ya aku mengerti dengan yang kamu maksudkan itu. Namun meskipun kamu teman biasa akan tetapi saat ini kamu lah wanita yang paling dekat dengan ku,” ujar Roy diiringi senyumnya, hal itu membuat hati Friska senang walaupun dia sendiri tak tahu sedekat apa dirinya yang dimaksudkan pria tampan di sebelahnya itu.Setelah acara makan bareng itu, mereka pun kembali ke kediaman masing-masing. Bagi Friska malam itu adalah malam yang paling membahagiakan yang pernah ia rasakan selama mengenal Roy walaupun di hatinya masih banyak tanda tanya dan belum yakin apakah dirinya cukup berarti bagi pria yang semakin hari membuatnya makin kagum serta makin nyaman bersamanya.Sementara bagi Roy sendiri masih saja sulit menerima kehadiran wanita lain di hatinya setelah Viola, meskipun Roy juga merasa cukup nyaman bertemu dan jalan dengan Friska akan tetapi hatinya tak bisa ia dustakan jika hal itu masih saja sebatas teman biasa baginya.*****Seiring waktu berjalan dan seringnya Roy dan Friska berte
Siang itu di sebuah restoran mewah, dua wanita yang baru saja datang dan duduk di salah satu meja di dalam restoran itu nampak asyik ngrobrol sambil menikmati menu yang baru saja mereka pesan.“Aku pikir kamu tadinya nggak bisa datang Angel, karena sibuk dengan kerjaan di kantor.” salah seorang dar
Berbeda dengan Roy saat berangkat ke Jakarta dulu menumpang mobil truk Kang Umar sahabat Ayahnya, truk Kang Umar itu membawa buah-buahan dari desa itu ke Kota Jakarta. Pagi itu kedua orang tua Roy dan juga Adiknya berangkat ke Jakarta menaiki Bus dengan jarak lebih kurang 300 KM dari Desa Nelayan it
“Tentu aja nggaklah, ada hal lain yang ingin aku sampaikan berkaitan dengan acara makan bareng tadi malam dengan Bang Bobby.” Jawab Viola diiringi senyum.“Oh iya, gimana dengan acara makan malam dengan Pak Bobby itu Bu?” Puspa penasaran.“Hal yang tadinya membuat aku ragu untuk memenuhi ajakan mak
“Yuk kita makan, mumpung masih hangat dan segar.” ajak Bobby, Viola menanggapinya dengan mengangguk diiringi senyum.“Nggak terasa udah 3 bulan lebih kita menjalin kerja sama, hotel ku sangat terbantu akan jasa dari perusahaan pariwisata mu itu. Dalam 3 bulan belakangan ini pengunjungnya meningkat,












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reseñas