Dokter, Sentuh Aku Lagi
Pintu kamar tiba-tiba terbuka membuyarkan lamunannya, suara langkah kaki terdengar beriringan.
Seorang dokter pria paruh baya dengan jas putih masuk bersama dua perawat muda yang mendorong troli kecil berisi alat pemeriksa dan map tebal.
“Selamat siang, Bu Avrisha,” sapa dokter itu ramah, memasang senyum hangat.
“Bagaimana perutnya? Masih terasa nyeri seperti kemarin?”
Avrisha segera menghapus sisa air mata di pipinya dengan gerakan cepat. Ia menegakkan posisi duduk.