بيت / Mafia / PEREMPUAN MILIK MORETTI / Anjing-Anjing Valerius

مشاركة

Anjing-Anjing Valerius

مؤلف: Pilar Waisakha
last update تاريخ النشر: 2026-03-11 13:33:43
Elena masih berdiri di ambang pintu.

Ia tidak bergerak sejak percakapan itu berakhir.

Tidak pula melangkah masuk.

Seolah garis tipis antara lorong dan ruang makan adalah batas yang tak boleh ia lewati tanpa izin.

Kertas koran berdesir pelan.

Lalu berhenti.

Tatapan abu-abu Valerius Moretti terangkat dari balik halaman.

Pelan.

Menemukan Elena.

Bukan tatapan marah.

Lebih seperti seseorang yang baru menyadari ada benda asing diletakkan di meja kerjanya.

“Pelayan.”

Suaranya ri
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Ia Mengambil Lebih Dari Tubuhnya

    Jarak itu tidak kembali. Tangan Adriano tetap di sana—tidak mengendur, tidak bertambah. Cukup untuk menahan Elena di titik yang sudah ia ubah. Air dari rambut Elena jatuh pelan. Teratur. Menyentuh marmer, menyatu dengan jejak yang belum kering. Tidak ada yang bergerak. Lalu—tangan Adriano bergeser. Bukan untuk melepas. Turun. Lebih rendah. Elena tidak mundur. Ia hanya tidak pergi. Napasnya berubah sedikit—tidak cukup untuk disebut penolakan. Adriano menunduk. Wajahnya terlalu dekat untuk disangkal. Ia bisa berhenti. Ia tidak melakukannya. “Ini belum selesai.” Suaranya rendah. Rata. Bukan ancaman. Bukan ajakan. Sebuah keputusan. Elena tidak menjawab. Tangannya masih terjebak di antara mereka—tertahan oleh kain basah, oleh posisi yang tidak ia ubah. “Kalau kau mulai,” lanjut Adriano, nyaris tanpa napas, “kau tidak berhenti di tengah.” Elena mengangkat dagunya sedikit. Bukan menantang. Bukan menghindar. “Aku tidak berhenti.” Sunyi j

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Ia Tidak Memberinya Pilihan

    Pintu terbuka tanpa suara yang benar-benar terdengar. Elena masuk lebih dulu. Air dari rambutnya jatuh satu per satu ke lantai marmer, membentuk jejak yang tidak rapi. Gaunnya menempel di tubuh, berat oleh hujan, bukan membentuk—hanya mengikuti. Kakinya tanpa sepatu; lumpur tipis menempel di telapak, tertinggal di setiap langkah. Ia tidak memperlambat. Di belakangnya, Adriano masuk beberapa detik kemudian. Jasnya lembap, garis bahunya tetap rapi. Langkahnya tidak berubah, tetap lurus, tetap stabil, seolah hujan di luar tidak pernah benar-benar menyentuhnya. Ia melewati jejak itu tanpa menghindar. Air dan lumpur terpotong oleh langkahnya, bukan dihapus. Koridor tidak kosong. Elias sudah di sana. Berdiri di sisi dinding, cukup dekat untuk melihat, cukup jauh untuk tidak berada di jalur. Elena lewat lebih dulu. Tatapan Elias turun, bukan ke wajahnya, tapi ke air yang jatuh dari ujung rambut, ke kain yang menempel, ke kaki yang meninggalkan garis di lantai. Lalu ke belakang.

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Kali Ini Ia Tidak Menunggu

    Langit belum sepenuhnya gelap, tapi warnanya sudah kehilangan keputusan. Adriano masih di jendela. Di bawah, pola itu tetap sama—sikat menyentuh batu, air bergerak mengikuti, ember bergeser dalam jarak yang konsisten, seolah dunia tidak pernah meminta variasi darinya. Di kaca, bayangannya samar. Tidak cukup jelas untuk disebut refleksi, cukup untuk memastikan ia belum berpindah. “Aku akan membawanya ke museum.” Kalimat itu keluar tanpa ia menoleh. Tidak ada pengantar. Tidak ada penjelasan. Di belakangnya, Valerius diam sepersekian detik. “Kau bisa membawa siapa pun,” katanya akhirnya, nada tetap datar. “Tapi bukan dia.” Tidak ada tekanan. Tidak perlu. Adriano tidak bergerak. Di luar, angin pertama menyentuh permukaan kolam—tidak cukup kuat untuk mengubah bentuknya, hanya menggeser lapisan atas yang hampir tidak terlihat. “Aku butuh dia.” Masih tanpa menoleh. Valerius tidak langsung menjawab. “Kebutuhan,” katanya pelan, “tidak mengubah tempat seseo

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Batas Itu Sedang Dibuat

    Koridor Moretti tidak pernah benar-benar kosong, hanya berganti tingkat kepadatan. Langkah Adriano memecahnya tanpa usaha. Ritmenya stabil, lurus, seperti sesuatu yang tidak sedang berjalan—melainkan kembali ke jalurnya sendiri. Di tangannya, lembar laporan terlipat dua; sudutnya sudah menyimpan tekanan jari yang sama sejak ia mengambilnya. Lampu di atas kepala tidak berkedip. Tidak ada yang perlu diperbaiki di ruang ini, atau setidaknya tidak oleh sistem yang mengaturnya. Pintu di ujung koridor sudah terbuka sebelum ia menyentuhnya. Ruang dalam tidak menunggu. Valerius sudah ada di sana. Kursi roda berhenti pada posisi yang tidak mengganggu garis meja. Tidak terlalu dekat, tidak terlalu jauh. Jaraknya seperti sudah dihitung sebelum Adriano masuk. Tidak ada sapaan. Tidak ada gerakan yang tidak perlu. Adriano masuk, menutup pintu di belakangnya. Bunyi kliknya pendek, seperti menandai sesuatu yang sudah selesai diputuskan lebih dulu. Pandangan mereka bertemu. Tidak lama. Ti

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Seseorang Menggeser Garisnya

    Langkah berlanjut, koridor terlewati tanpa jeda, belokan diambil, dan pintu di ujung sudah terbuka saat Elena masuk. Tangannya langsung bekerja. Rak logam berdiri rapat, lorong di antaranya hanya cukup untuk satu jalur. Lembar pelindung bergeser beberapa milimeter. Sudut kain ditarik hingga sejajar dengan tepi rak. Sebuah fragmen diputar sepersekian—cukup untuk memutus garis ukiran, lalu membiarkannya jatuh kembali dalam bentuk berbeda. Ia tidak berhenti pada satu benda. Jarak antar objek kembali rata. Garis yang tadi bertemu—tidak lagi. Ia berhenti di satu rak. Tiga fragmen batu diletakkan terpisah. Ukiran melingkar, berhenti sebelum menyatu. Tangannya tidak menyentuh permukaan ukiran. Hanya alasnya yang didorong sedikit. Cahaya bergeser. Retakan tipis muncul di satu lengkung. Hilang. Lantainya yang berubah lebih dulu. Tekanan tipis bergeser di satu garis—lurus, stabil, tanpa jeda yang terputus. Tidak ada suara langkah. Hanya satu dorong yang tidak ragu.

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Yang Tidak Seharusnya Ada

    Pintu kamar mandi masih tertutup. Air mengalir tipis di baliknya—stabil, teratur. Elena berdiri di sisi ranjang, tidak duduk, tidak bergerak sepenuhnya. Ponsel di tangannya. Layar menyala. Singkat. Satu baris muncul—lalu hilang sebelum sempat dibaca utuh. Jarinya naik. Berhenti di atas kaca. Tidak menyentuh. Setengah napas. Bukan ragu. Menghitung. Air di dalam berubah tekanan, sedikit lebih keras—lalu kembali. Jarinya turun. Layar mati. Ia tidak menyalakannya lagi. Gerakannya bersih, cepat—tanpa tergesa. Ponsel itu diselipkan ke bawah bantal, sudutnya tepat, tidak menonjol. Kain kembali rata. Tangannya keluar kosong. Air berhenti. Sunyi turun terlalu cepat. Klik kecil dari dalam. Elena sudah berbaring saat pintu terbuka. Adriano keluar. Langkahnya lurus, tidak menuju ranjang. Handuk di bahunya; air masih jatuh dari ujung rambut, menelusuri garis leher tanpa dihapus. Ia melewati meja, mengambil gelas—tidak langsung diminum. Berhenti sedetik. Bukan pad

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Sekarang Kau Tahu

    Elena masih berdiri di depan jendela. Kain lap ada di tangannya. Permukaan kaca sudah bersih, namun ia tetap menggerakkan kain itu perlahan—gerakan yang sama, berulang, seolah pekerjaannya belum selesai. Pantulan dirinya samar di kaca. Di luar, lampu taman menyala pucat di antara semak-semak y

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Ruangan yang Sedang Dipersiapkan

    Sore di mansion Moretti datang tanpa warna. Langit di luar jendela tinggi berubah abu-abu pucat, dan cahaya yang masuk ke dalam rumah terasa tipis—seperti sesuatu yang ragu untuk bertahan lebih lama. Koridor belakang masih lembap oleh bau sabun pembersih ketika Elena sedang merapikan ember dan k

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Jika Undangan Ditolak

    Sore perlahan turun di mansion Moretti. Cahaya matahari yang sebelumnya memenuhi jendela tinggi kini berubah lebih redup, jatuh miring di lantai marmer ruang kerja Adriano. Bayangan rangka jendela memanjang di karpet gelap seperti kisi-kisi penjara. Di luar, taman belakang mulai tenggelam dala

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Pintu yang Seharusnya Tetap Tertutup

    Matahari sudah lebih tinggi ketika gunting rumput itu akhirnya berhenti bergerak. Elena berdiri di tengah potongan daun yang berserakan. Bilah logam terbuka di tangannya. Lalu menutup perlahan. Klik. Ia menurunkannya pelan. Pergelangan kakinya berdenyut di balik perban yang mulai lembap.

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status