Home / Mafia / PEREMPUAN MILIK MORETTI / Rumah Ini Menggigit yang Ragu

Share

Rumah Ini Menggigit yang Ragu

last update publish date: 2026-03-11 21:47:29
Halaman belakang mansion terasa lebih luas saat seseorang bekerja sendirian di dalamnya.

Rumput masih basah di beberapa sudut, namun matahari telah naik cukup tinggi untuk mengusir sisa dingin pagi.

Di tengah taman itu, Elena berdiri dengan gunting rumput besar di tangannya.

Bilah besinya terbuka.

Menutup.

Terbuka lagi.

Suara logamnya berulang pelan—ritme kerja yang sunyi.

Kakinya masih nyeri.

Gigitan anjing tadi tidak dalam, tetapi cukup membuat setiap langkah terasa berat.

Ia
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Tidak Ada Jalan Kembali

    Pintu tertutup di belakang Adriano.Bunyi kuncinya terdengar pelan.Cukup untuk membuat Elena mengangkat kepala.Kamar masih redup.Gorden tetap tertarik rapat seperti semalam. Cahaya pagi hanya masuk dari celah tipis di antara kain tebal dan dinding, meninggalkan garis pucat di lantai kayu.Elena duduk di ujung ranjang.Masih mengenakan pakaian kemarin.Rambutnya jatuh berantakan di bahu.Ia tidak berdiri.Tidak menyambut.Tidak bertanya.Tatapannya mengikuti Adriano yang berjalan melintasi kamar membawa nampan.Pria itu meletakkannya di atas meja dekat jendela.Roti.Buah.Segelas air.Tak satu pun disentuh.Sunyi kembali turun."Makan."Suara Adriano memecahnya.Elena memandang nampan itu."Aku tidak lapar."Adriano berbalik.Jarak di antara mereka menyusut tanpa tergesa.

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Harga yang Belum Lunas

    Pagi di mansion Moretti berjalan seperti biasa bagi siapa pun yang tidak tahu cara membaca perubahan kecil.Lift servis tetap naik turun membawa kotak logistik. Langkah staff berderak pelan di lantai marmer koridor timur. Aroma kopi dari dapur menyusup sampai area administrasi, bercampur dengan bau kertas baru dari ruang arsip.Di salah satu koridor dekat sayap keluarga, dua penjaga baru berdiri di depan satu pintu.Tidak banyak bergerak.Tidak saling bicara.Hanya keberadaan mereka yang cukup membuat siapa pun memilih jalur lain.Di dalam ruang kerja, cahaya pagi jatuh miring ke atas meja kayu gelap.Berkas-berkas tertata rapi, garis tepinya sejajar sempurna. Laporan distribusi. Audit. Kontrak buyer.Tak satu pun disentuh.Ponsel Elena tergeletak di sisi kanan meja.Layar gelap.Diam.Adriano sudah berpakaian lengkap.Kemeja putih.Manset terpasang rapi.

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Jauh Sebelum Hari Ini

    Pintu kamar mandi masih terbuka saat Adriano berbalik. Air menetes dari ujung rambut Elena. Dari dagunya. Dari lengan yang gemetar menahan tubuhnya sendiri. Langkah Adriano sudah mencapai ambang pintu ketika sesuatu menarik ujung celananya. Ia menunduk. Jari-jari Elena mencengkeram kain celananya. Lemah. Basah. Hampir tidak memiliki tenaga. "Tolong." Suara itu pecah di tenggorokannya. Adriano tidak bergerak. Elena menelan napas yang terasa sakit. "Anak-anak di Stella Maris..." Kalimat berikutnya tersangkut. Batuk pendek mengguncang tubuhnya. Air masih terasa memenuhi dadanya. "Mereka tidak tahu apa-apa." Tatapan Adriano turun pada tangan yang mencengkeramnya. Tak lama. Cukup untuk membuat Elena berharap. "Jangan sakiti mereka." Sunyi memenuhi ruangan. Tatapan Adriano tidak berubah. "Kalau nasib mereka bergantung padamu..." Suara itu rendah. Datar. "Terlambat untuk mulai memikirkannya sekarang." Harap

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Setelah Pengampunan Berakhir

    Pintu menghantam kusennya. Gaungnya masih bergetar di dinding saat Adriano melepaskan lengan Elena. Dorongan itu membuat tubuh Elena kehilangan keseimbangan. Lututnya menghantam lantai lebih dulu, telapak tangan menyusul. Napasnya tersentak. Sunyi langsung memenuhi ruangan. Adriano tetap berdiri di depan pintu. Tak bergerak. Tatapannya turun ke Elena. Dingin. Kosong. Lebih buruk daripada amarah. "Adriano—" "Aku membiarkanmu tinggal di sini." Kalimat itu memotongnya. Elena membeku. Adriano berjalan mendekat. Satu langkah. Lalu satu lagi. "Aku membiarkan Stella Maris tetap berdiri." Rahangnya mengeras. "Aku menghentikan pembongkarannya." Elena merasakan tenggorokannya mengeri

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Saat Ia Berhenti Mendengarkanku

    Ponsel itu tergeletak di lantai marmer.Di antara lembar audit yang berserakan.Di dekat bercak darah yang terus menetes dari hidung supervisor distribusi.Tak ada yang bergerak.Napas pria itu terdengar berat. Patah-patah.Monitor transit masih menyala di dinding.Alexandria tetap merah.Tak seorang pun melihatnya.Sebuah getaran pendek memecah ruangan.Layar ponsel menyala.Cahaya putih memantul di marmer.Nama pengirim muncul sesaat sebelum layar meredup kembali.Elena membeku.Di dekatnya, supervisor yang terluka mengerang pelan sambil memegangi rahangnya.Tak ada yang memperhatikannya lagi.Tatapan semua orang tertuju pada benda kecil di lantai.Elena bergerak lebih dulu.Refleks.Jemarinya baru terangkat beberapa inci saat bayangan Adriano sudah menutup cahaya di atas ponsel.Langkahnya berhenti tepat di depan benda itu.Tidak tergesa.Tidak ragu.Ia membungkuk.Mengambilnya.Ruangan tenggelam dalam diam yang lebih pekat.Elena berdiri perlahan.Telapak tangannya terasa dingin.

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Sesuatu Jatuh di Antara Kami

    Tak ada yang sempat bergerak. Kepalan tangan Adriano sudah lebih dulu menghantam. Benturan keras memecah ruangan. Kepala supervisor distribusi terlempar ke samping. Tubuhnya kehilangan keseimbangan dan jatuh menghantam lantai marmer. Kursi di belakangnya ikut terguling sebelum membentur kaki meja. Tak ada yang bersuara. Monitor tetap menyala. Barisan data masih memenuhi layar transit. Tak seorang pun melihatnya. Pria itu mengerang pelan sambil menahan rahangnya. Darah mulai muncul di sudut bibir. Adriano berdiri di atasnya. Napasnya stabil. Itu jauh lebih buruk. "Bangun." Supervisor itu mengangkat wajah. Satu tangan menekan lantai untuk menopang tubuh. "Aku tidak mengirim apa pun keluar." Kalimat itu terdengar serak. Adriano mencengkeram bagian depan kemejanya. Tubuh pria itu terangkat sebelum dihantamkan ke sisi meja. Map-map bergeser. Sebuah tablet jatuh dan

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Pintu yang Seharusnya Tetap Tertutup

    Matahari sudah lebih tinggi ketika gunting rumput itu akhirnya berhenti bergerak. Elena berdiri di tengah potongan daun yang berserakan. Bilah logam terbuka di tangannya. Lalu menutup perlahan. Klik. Ia menurunkannya pelan. Pergelangan kakinya berdenyut di balik perban yang mulai lembap.

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Anjing-Anjing Valerius

    Elena masih berdiri di ambang pintu. Ia tidak bergerak sejak percakapan itu berakhir. Tidak pula melangkah masuk. Seolah garis tipis antara lorong dan ruang makan adalah batas yang tak boleh ia lewati tanpa izin. Kertas koran berdesir pelan. Lalu berhenti. Tatapan abu-abu Valerius Morett

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Meja Itu Tidak Menyediakan Kursi

    Pintu kamar menutup tanpa bunyi. Lorong mansion sudah hidup, tapi tidak pernah benar-benar ramai. Langkah-langkah ringan bergerak cepat di atas marmer mengilap. Kain lembut menyapu permukaan meja konsol. Cairan pembersih meninggalkan jejak kilap di porselen putih. Seorang pelayan berdiri d

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Pagi Setelah Satu Ranjang

    Cahaya pagi belum sepenuhnya menembus kamar. Tirai masih tertutup rapat. Udara dingin menggantung, sunyi, tak terusik. Di ranjang besar itu, dua orang berbagi ruang—hanya satu yang terjaga. Adriano Moretti membuka matanya perlahan. Napasnya tetap tenang. Seolah ia memang tak pernah benar

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status