Home / Mafia / PEREMPUAN MILIK MORETTI / Malam Pertama di Ranjang Adriano

Share

Malam Pertama di Ranjang Adriano

last update Petsa ng paglalathala: 2026-03-09 14:07:17
Elena mendorong pintu dapur dengan bahu.

Nampan masih di tangannya.

Ruangan itu luas dan terang, berbeda dari sunyi ruang makan yang baru saja ia tinggalkan. Lampu-lampu putih memantul di permukaan baja dan porselen. Para pelayan berpakaian rapi bergerak cepat dalam ritme yang terlatih—piring berpindah tangan, air mengalir, kain mengusap meja tanpa suara berlebih.

Tidak ada yang benar-benar menatapnya.

Namun semua sadar ia ada.

Seorang pelayan wanita mendekat. Wajahnya datar, prof
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Saat Dia Tidak Ada

    Langkah Elena berhenti di sisi mobil. Adriano turun menyusul. Pintu sedan menutup pelan di belakangnya. "Ayo." Mereka berjalan berdampingan menyusuri jalan setapak yang membelah hamparan bunga. Perempuan yang tadi memegang gembor telah meletakkannya di atas batu pipih. Celemek berkebunnya diseka singkat dengan telapak tangan sebelum ia menghampiri mereka. "Akhirnya." Senyumnya mengembang hangat. "Kau datang juga." Elena membalas dengan senyum kecil. "Baru sempat." "Aku sudah menunggu cukup lama." Nada itu terdengar lebih seperti candaan daripada keluhan. Bianca berbalik. "Ikut denganku." Jalan setapak berbelok ke sisi rumah. Semak lavender bergoyang pelan diterpa angin laut. Di balik lengkungan bunga rambat berdiri sebuah gazebo kayu yang menghadap tebing. Meja bundar telah tertata rapi. Cangkir-cangkir porselen berukiran bunga diletakkan berdampingan dengan sebuah toples kaca berisi daun teh kering dan sepiring kecil kue mentega yang baru matang. Bianca menoleh ke arah

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Selangkah Lebih Jauh

    Setelan abu-abu gelap membungkus tubuh Adriano dengan rapi. Jam tangannya telah kembali melingkar di pergelangan kiri. Kancing manset terpasang sempurna. Tak ada lagi jejak malam yang tersisa selain memar tipis di rahangnya. Elena keluar dari ruang ganti. Mantel yang sama kembali menutupi tubuhnya. Jemarinya sempat singgah di saku bagian dalam sebelum mengikuti Adriano keluar dari kamar. Mereka menuruni tangga menuju foyer. Pagi memenuhi mansion dengan cahaya pucat yang masuk melalui jendela-jendela tinggi. Di anak tangga terakhir, langkah lain terdengar dari sisi koridor. Elias berhenti. "Selamat pagi, Signore." Adriano mengangguk singkat. "Buyer semalam." "Ya." "Artefaknya dijemput hari ini." "Akan kuurus." Percakapan berakhir begitu saja. Seorang staf muncul dari arah ruang administrasi. Kedua lengannya memeluk setumpuk map dan laporan hingga menutupi sebagian wajahnya. "Laporan penjualan untuk Signore Valerius." Elias mengulurkan tangan. Tumpu

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Tak Pernah Sedekat Ini

    Pintu kamar menutup. Klik. Keheningan kembali memenuhi ruangan. Adriano melepaskan jasnya. Kain itu berpindah ke sandaran kursi. Jemarinya membuka kancing pertama kemeja, disusul yang kedua. "Elena." Perempuan itu masih berdiri membelakangi pintu. "Ya." "Isi bak mandi." Elena menoleh. "Air hangat?" "Air dingin." Tatapannya singgah sesaat pada wajah Adriano. "Baik." Ia menuju kamar mandi. Sumbat pembuangan ditekan hingga rapat. Kran diputar. Air jatuh menghantam dasar bak, memenuhi ruangan dengan gemericik yang pelan namun terus-menerus. Elena berdiri di sisinya. Permukaan air sedikit demi sedikit naik, menelan dinding porselen. Langkah terdengar di belakangnya. Adriano masuk. Kemejanya telah terlepas. Memar di rahang kiri tampak lebih jelas di bawah cahaya lampu. Garis kemerahan di rusuk kirinya belum sepenuhnya memudar. "Sudah?" "Hampir." Air baru melewati separuh bak. Tanpa menunggu lebih penuh, Adriano melangkah masuk. Air dingin beriak mengelilingi tubuh

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Yang Sulit Baru Dimulai

    Pecahan kaca berderak pelan di bawah telapak sepatunya. Julian tak menoleh. Ruang tamu apartemen di lantai bawah gelap. Cahaya lampu pelabuhan menyusup melalui jendela, memantulkan bayangan panjang di lantai. Tangannya meraba sisi pinggang. Perih. Saat ditarik kembali, jemarinya berlumur darah. Serpihan kaca. Bukan luka tembak. Napas pendek keluar dari sela bibirnya. Daun pintu dibuka sedikit. Koridor di luar lengang. Tak terdengar langkah. Tak ada pintu yang terbuka. Julian keluar. Punggungnya menempel sesaat pada dinding. Tatapannya menyapu lorong. Kosong. Ia bergerak menuju tangga darurat. Pintu besi didorong. Engselnya berdecit lirih. Anak-anak tangga dituruni dua, tiga sekaligus. Napasnya memantul di ruang sempit yang dipenuhi aroma semen dan cat tua. Di setiap belokan kepalanya terangkat. Tak ada siapa pun. Tangannya meraih pagar besi. Turun lagi. Lantai demi lantai terlewati. Begitu pintu terakhir terbuka, udara dingin parkira

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Tak Semua Orang Berhasil Keluar

    Asap tipis masih menggantung di depan moncong pistol. Laras itu tetap mengarah ke balik sofa. "Keluar." Sunyi. "Aku tahu kau di sini." Tak ada jawaban. Di balik sandaran yang berlubang oleh peluru, Julian menahan napas. Pandangannya menyapu ruangan. Pintu kamar telah dipotong oleh tubuh pria itu. Balkon terlalu jauh. Kamar mandi sudah kehilangan separuh pintunya akibat benturan. Tak ada tempat yang benar-benar aman. Jarinya menyentuh lantai. Dingin. Pelatuk kembali ditekan. Dor. Busa sofa pecah. Serpihannya beterbangan ke wajah Julian. Tubuhnya langsung berguling ke sisi ranjang. Bahunya menghantam kaki tempat tidur sebelum menyelinap ke kolong. Gelap menyambut. Dari sela rendah itu hanya sepasang sepatu hitam yang terlihat. Langkah itu mendekat. Berhenti. Sofa tiba-tiba terangkat. Brak! Rangka kayunya menghantam dinding hingga retak. Tempat persembunyian yang tadi kosong berubah menjadi puing. Sepatu hitam kembali bergerak. Pelan. Mencari. Angin malam mene

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Terlambat Menyadarinya

    Klik. Gagang pintu berputar. Jemari Elena langsung membeku di atas layar. Tulisan yang baru berhenti di tengah kalimat lenyap ketika ibu jarinya menekan tombol pengunci. Cahaya ponsel padam. Benda itu kembali ke sudut meja, tepat di tempat semula. Kertas kecil di dalam saku mantelnya menempel tipis di sisi pinggang. Pena telah kembali berada di jemarinya saat pintu terbuka. Adriano masuk lebih dulu. Seorang pria menyusul di belakangnya. Jas abu-abu tua membungkus tubuhnya dengan rapi. Sepatu kulitnya memantulkan cahaya lampu. Sebuah map kulit tipis berada di bawah lengannya. "Silakan duduk." Pria itu mengangguk. Ia memilih sofa di dekat jendela. Satu kaki menyilang di atas lutut. Elena tetap menatap berkas. Ujung penanya bergerak dari satu angka ke angka berikutnya. "Maaf kalau kedatangan saya mengganggu, Signora." Baru kali itu Elena mengangkat wajah. "Tidak apa." Tatapannya kembali jatuh ke lembar laporan. Adriano membuka lemari kayu di belakang meja. Deretan katal

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Tidak Ada Tempat Aman di Meja Moretti

    Canapé reception kembali penuh suara saat Elena belum juga muncul di sisi Adriano. Percakapan bergerak dari satu kelompok ke kelompok lain tanpa benar-benar putus. Nama kolektor disebut pendek. Jalur restorasi dibahas sambil lalu. Gelas-gelas tipis beradu pelan di bawah cahaya gantung yang mema

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Ia Tidak Lagi Sekadar Dipamerkan

    Pintu kaca terbuka.Udara di dalam lebih dingin—rata, cahaya jatuh merata di permukaan—lukisan, kaca, logam—tidak ada yang menonjol, tidak ada yang tertinggal.Percakapan sudah ada.Tidak berhenti ketika Adriano masuk.Hanya bergeser.Elena berjalan di sisinya.Sejajar.Tidak menyentuh.Tidak terti

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Yang Tidak Seharusnya Ada

    Pintu kamar mandi masih tertutup. Air mengalir tipis di baliknya—stabil, teratur. Elena berdiri di sisi ranjang, tidak duduk, tidak bergerak sepenuhnya. Ponsel di tangannya. Layar menyala. Singkat. Satu baris muncul—lalu hilang sebelum sempat dibaca utuh. Jarinya naik. Berhenti di atas kaca.

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Sarapan yang Tidak Pernah Aman

    Ruang makan sudah siap sebelum siapa pun masuk. Cahaya pagi jatuh lurus dari jendela tinggi, membelah meja panjang menjadi dua sisi yang terlalu rapi untuk disentuh. Piring porselen tersusun presisi. Sendok dan garpu sejajar seperti garis komando. Cangkir kopi mengepul tipis—hangat, tapi tidak m

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status