로그인"Akhirnya... aku dapet donor darah buat Satria!"Suara heboh Tasya yang katanya menemukan pendonor untuk Satria membuat Pak Anjas, Bu Karina, Rain, dan Bu Yohana langsung menatap ke arahnya.Mereka semua menatap serempak, hingga Tasya yang menyadari jika saat ini berada di rumah sakit langsung menutup mulutnya dan menyengir kuda."Hee, maaf. Aku dapet donor darah buat Satria ini," kata Tasya sambil menunjuk layar ponselnya yang menyala."Kamu serius, Sya? Gak lagi bercanda, kan?" tanya Rain memastikan. Matanya yang memerah dan sembab menatap serius wajah sahabatnya.Ditanya, Tasya yang memang sedang serius dan tidak bercanda itu pun menganggukkan kepalanya dengan cepat."Hmm, aku serius. Ini ada dua bersaudara yang punya golongan darah O negatif dan bersedia donor. Tapi ada syaratnya, mereka minta bayarin semua biaya rumah sakit ibu mereka yang menderita gagal ginjal dan dirawat di Rumah Sakit Sido Mulyo!""Setujui, cepat setujui. Bukan cuma biaya rumah sakit yang akan kulunasi, ibuny
Tuan Seno yang berada di atas ranjang dengan tubuh nyaris polos, menyunggingkan sudut bibirnya saat melihat sang istri keluar dari kamar mandi. Tubuh polosnya yang sedikit bulat, dibalut dengan handuk singkat terlihat begitu menggoda dan menggairahkan."Udah bener-bener selesai datang bulannya?" tanya Tuan Seno, sepasang matanya menatap lekukan tubuh istrinya tanpa berkedip.Sudah seminggu tidak melakukan hubungan intim dan menikmati kemontokan istrinya. Kini pria paruh baya itu sudah tidak tahan ingin memuaskan hasratnya dan juga menyenangkan sang istri yang memang selalu tergila-gila dengan keperkasaannya.Diana, istri dari Tuan Seno yang posesif dan pencemburu, mengangguk sembari melangkah pelan mendekati sang suami yang duduk bersandar di kepala ranjang.Di pinggiran ranjang, wanita paruh baya yang masih cukup cantik dengan tubuh montok itu melepaskan handuk yang melilit tubuh polosnya. Lalu melemparkan handuk tersebut secara asal ke lantai.Selanjutnya, dengan tubuh telanjang bul
"Pasien kehilangan banyak darah, saat ini sedang melakukan transfusi. Tapi, ada kendala yang ingin kami sampaikan, golongan darah pasien O negatif. Dan stok darah dengan golongan O negatif hanya ada dua kantong di rumah sakit ini. Kami sudah menghubungi rumah sakit lain dan juga pusat, tapi belum juga mendapatkan darah dengan golongan tersebut." Degh! Melotot lebar sepasang mata Bu Yohana. Tubuhnya melemas dan kembali terduduk di kursi tunggu IGD tersebut. Golongan darah O negatif, bukankah golongan tersebut golongan darah langka? Batin wanita paruh baya itu. "Golongan darah saya O negatif, Suster. Ambil darah saya sebanyak yang dibutuhkan!" kata Tuan Arya, menyodorkan pergelangan tangannya ke hadapan perawat yang berdiri di depan pintu IGD. Perawat tersebut memandang wajah tegang dan cemas Tuan Arya dengan kening berkerut. Lalu ia pun menganggukkan kepalanya seraya mengulas senyum. "Baiklah, kita lakukan pemeriksaan sekarang. Jika tidak ada masalah, bisa langsung dilakukan trans
Tap, tap, tap!Derap langkah kaki terdengar beriringan menyusuri lorong rumah sakit dengan begitu terburu-buru.Tuan Arya dan yang lainnya mendatangi rumah sakit Citra Medika, tempat di mana Satria yang katanya mengalami kecelakaan dirawat.Tujuan keluarga besar tersebut adalah ruangan IGD, tempat Satria ditangani oleh dokter dan perawat saat ini.Tiba di depan ruangan IGD, Tuan Arya, Rain dan Bu Yohana menghampiri perawat yang kebetulan keluar dari ruangan tersebut."Suster, apa pasien dengan nama Satria Rendra berada di dalam?" tanya Rain wajah pucat dan air mata berderai.Wanita hamil itu bertanya sambil mencekal pergelangan tangan perawat tersebut.Perawat tersebut menghentikan langkahnya dan mengangguk, "Benar, Mbak. Yang berada di dalam adalah Satria Rendra, korban kecelakaan di jalan simpang.""Lalu, gimana keadaannya sekarang, Sus?" Tuan Arya ikut bertanya. Keringat jagung membasahi keningnya, menunjukkan jika pria paruh baya itu sedang panik tingkat maksimal."Keadaan pasien
"Kami dari pihak rumah sakit ingin memberitahukan bahwa Satria Rendra saat ini dirawat di rumah sakit kami. Saat ini kondisinya dalam keadaan kritis dan sedang menjalani perawatan intensif!"Degh!Mendengar kalimat formal yang berasal dari ujung telepon, semua orang terkejut. Bahkan tubuh Rain seketika melemas. Ponsel yang ada di tangannya nyaris terlepas dan jatuh ke lantai."Apa? Satria kritis di rumah sakit?" tanya Rain dengan suara pelan dan bergetar."[Benar, Bu. Pasien mengalami kecelakaan di area jalan simpang, dan beruntung dibawa ke rumah sakit tepat waktu. Jika tidak, mungkin nyawanya tidak tertolong.]"Penjelasan tersebut membuat tubuh Rain yang melemas nyaris ambruk. Beruntung, Tasya segera menyambar tubuh saudaranya itu dan menahannya agar tidak jatuh. "Gak mungkin, Satria gak mungkin kecelakaan dan kritis! Semua ini bohong, gak mungkin... telepon itu pasti hoaks dan penipuan."Rain yang tubuhnya ditahan oleh Tasya menggelengkan kepalanya pelan, menolak percaya pada kaba
Brak!Tubuh Satria yang terlempar ke bahu jalan mengalami kejang-kejang. Kepala, wajah, tangan, serta bagian kakinya terluka. Dalam waktu yang singkat, pinggiran jalan tersebut dibanjiri oleh darah.Para warga dan pengendara yang lalu lalang seketika berhenti dan berkerumun di tempat kejadian peristiwa kecelakaan tersebut.Sedangkan sopir truk yang sengaja menargetkan Satria sudah kabur lebih dulu sesaat setelah tubuh pemuda itu jatuh terhempas."Panggil, panggil ambulans!""Cepat dibantu!""Ya ampun, kasian banget!""Masih hidup, dia masih hidup. Cepat angkat, kita bawa ke rumah sakit!""....""...."Para warga dan pengendara yang berkerumun, segera membantu Satria dan mengangkat tubuhnya yang bersimbah darah. Tanpa menunggu ambulans datang, orang-orang tersebut segera membawa pemuda itu menuju rumah sakit terdekat agar tidak terlambat mendapatkan penanganan.Pak Hendra yang berada di antara kerumunan dan melihat seperti apa keadaan Satria tampak menyunggingkan sudut bibirnya dan ter
Satria melajukan motornya dengan kecepatan sedang, membelah jalanan kota yang cukup sepi pengendara di pagi menjelang siang hari. Sesekali, pemuda itu menoleh ke kiri dan ke kanan, memperhatikan jalanan di sekitarnya. Hingga, tatapannya berhenti pada seorang remaja yang sedang memungut barang-bar
"Saya mau balas dendam, Satria. Mereka harus hidup menderita, mereka harus ngerasain gimana sakitnya jadi saya!" Mendengar perkataan Rain, Satria angguk-angguk kepala. Lalu, kembali menarik kepala wanita itu dan mendekapnya erat. "Saya bakal bantu dan dukung Nyonya...." kata Satria dengan suarany
"Lakukan apa saja yang kamu inginkan, Satria. Buat saya senang malam ini dan juga hamil secepatnya!" Gluk! Satria meneguk ludah. Permintaan Rain membuatnya semakin gugup. Batinnya, apa yang sebenarnya diinginkan oleh wanita itu? Kenapa minta dihamili oleh pria bayaran sepertinya? Kenapa tidak
"Apa yang kamu lihat sampe segitunya? Dada saya?" tegur Rain. Matanya memicing, menatap Satria yang memperhatikan tubuhnya tanpa berkedip. Selanjutnya, Rain melangkah menuju ranjang dan mendaratkan bagian belakangnya di sana, dengan gerakan perlahan. "Percuma kalau cuman dilihat tapi gak kamu







