تسجيل الدخول"Boleh aku ikut ke rumah sakit hari ini, Mas? Aku mau berkenalan dengan rekan dokter yang lain, terlebih lagi Dokter Maya."
Suara Luna mengalun begitu bening. Ia meletakkan secangkir kopi hitam yang masih berasap di hadapan Alan dengan gerakan sangat tenang. Bibirnya menyunggingkan senyum tipis lengkap dengan binar polos di mata jernihnya. Alan yang sedang merapikan lengan kemejanya mendadak menghentikan pergerakan jemarinya. Pria tiga puluh tahun itu mendongak, memicingkan mata tajamnya ke arah sang istri. Semalam ia melampiaskan seluruh ketegangan dan rasa lelahnya pada tubuh mungil ini tanpa ampun. Ia mengeksekusi haknya sebagai suami dengan dominasi tinggi di kamar mandi. Ia menuntut kepatuhan Luna tanpa memberikan ruang sedikit pun untuk bernegosiasi. Biasanya, setelah perlakuan semacam itu. Luna akan bersikap canggung, malu-malu, atau bahkan tidak berani berbicara padanya. Namun pagi ini, wanita sembilan belas tahun di hadapannya justru tampil sempurna. Gaun terusan berwarna pastel membalut tubuhnya dengan rapi. Rambut hitam Luna terurai halus dan wajahnya dipoles riasan tipis yang menyegarkan. Tidak ada raut kelelahan. Tidak ada isak tangis. Dan yang paling membuat Alan terusik, Luna menyebut nama Maya. "Kenapa tiba-tiba kamu mau ke rumah sakit?" suara Alan terdengar berat dan datar. Tangannya terulur meraih cangkir kopi. Alan menikmatii kopi hitam itu tanpa melepas pandangan dari Luna. "Tidak apa-apa, Mas!" sahut Luna lembut. Jemari lentiknya sibuk menata piring berisi roti panggang di meja makan. "Aku hanya berpikir, aku kan istri Mas Alan. Rasanya tidak sopan kalau aku tidak kenal dengan teman-teman dekat Mas di sana. Apalagi Dokter Maya... katanya beliau sering sekali bantu Mas kalau ada operasi besar." Alan menyesap kopinya perlahan. Ia berusaha menetralkan denyut asing di dadanya. Apakah Luna penasaran akan sesuatu? Tidak mungkin. Ponselnya juga selalu terkunci rapat. Luna juga bukan tipe wanita yang suka menggeledah barang pribadinya. Gadis ini terlalu lugu dan penurut untuk melakukan hal sejauh itu. Alan meletakkan cangkirnya kembali ke atas piring kecil dengan denting halus yang tegas. Ekspresi wajahnya berubah dingin. "Tidak perlu!" potong Alan singkat, lugas dan menolak. Langkah Luna terhenti sejenak. Namun senyum manis itu tidak pudar dari wajah cantiknya. "Kenapa, Mas? Aku hanya sebentar kok. Aku hanya ingin berkenalan. Lalu aku bisa langsung berangkat ke kampus. Lagipula jam kuliahku masih siang." "Aku bilang tidak perlu, Luna!" ulang Alan dengan nada yang makin menekan. Pria itu berdiri, merapikan jas dokternya yang tergantung di sandaran kursi. Aura intimidasi langsung memenuhi ruangan makan yang luas itu. "Rumah sakit itu tempat bekerja! Bukan tempat bermain! Aku pergi ke sana untuk membantu pasien bukan untuk memamerkan kehidupan pribadiku." "Memamerkan?" nada suara Luna naik seakan bertanya polos. "Jadi mengenalkan aku sebagai istri Mas Alan ke rekan kerja Mas... itu dianggap memamerkan hal yang tidak perlu?" Alan memejamkan mata sejenak, menahan napas kasar melalui hidungnya. Ego dan harga diri pria dewasanya merasa terganggu oleh pertanyaan lugu yang terasa menusuk itu. Pria itu melangkah mendekati Luna, mengikis jarak di antara mereka hingga aroma maskulin Alan yang dominan kembali menyelubungi indra penciuman Luna. Alan mengulurkan tangannya, merengkuh dagu mulus Luna dan mengangkatnya sedikit agar mata jernih istrinya terkunci pada tatapannya. Sentuhannya tidak terlalu keras, namun cukup penuh tekanan untuk menunjukkan siapa yang memegang kendali. "Dengar, Luna!" bisik Alan dengan suara rendah dan teramat dingin di depan wajah Luna. "Pernikahan kita cukup kita yang tau. Tidak semua orang di rumah sakit perlu tahu detail kehidupan pribadiku. Tugasmu cukup menjadi istri yang baik di rumah. Kamu cukup penuhi kewajibanmu dan fokus pada kuliahmu. Jangan mencampuri urusan pekerjaanku. Paham?" Rasa dingin dari kata-kata Alan merayap ke seluruh tubuh Luna. Kalimat itu menegaskan kembali posisinya. Ia hanya tubuh yang dibutuhkan Alan di dalam kamar. Namun bukannya menangis atau mengalihkan pandangan, Luna justru tersenyum lebih lebar. Senyuman manis yang begitu indah, hingga membuat Alan sempat terpana selama satu detik. "Baik, Mas Alan. Aku mengerti." bisik Luna sangat halus, menepuk pelan tangan Alan yang berada di dagunya. "Maaf kalau aku terkesan lancang." Alan menarik tangannya kembali. Ada riak kebingungan yang lewat di matanya melihat respons Luna yang begitu tenang. Namun karena jam operasinya sudah semakin dekat, Alan menepis perasaan mengganjal itu. "Aku berangkat sekarang. Jangan lupa kunci pintu." kata Alan singkat sebelum membalikkan badan dan melangkah lebar meninggalkan rumah. Begitu dentuman pintu depan terdengar menandakan keberangkatan Alan. Senyum manis di wajah Luna runtuh seketika. Air mata yang sejak semalam ditahannya kini menetes satu per satu. Air mata itu membasahi gaun cantiknya. Dinding kaca di dalam hatinya benar-benar telah hancur berkeping-keping. Pria yang semalam meremas tubuhnya dengan gairah luar biasa, pagi ini membentenginya dengan alasan "Rumah sakit bukan tempat memamerkan istri". Bukan rumah sakitnya yang menjadi masalah. Alan hanya tidak ingin keberadaan gadis sembilan belas tahun ini merusak hubungannya dengan Maya. Luna mengusap pipinya dengan kasar. Sorot matanya yang semula jernih dan penuh kepasrahan perlahan berubah. Ada kilatan tekad baru yang menyala di sana. Jika Alan berpikir Luna akan duduk di rumah dan menjadi wanita yang penurut tentu itu salah. *** Pukul sebelas siang. Suasana Poli Klinik Spesialis Kebidanan dan Kandungan (Obsgyn) Rumah Sakit Utama terasa cukup ramai namun tertib. Di salah satu sudut area tunggu sudah ada Luna duduk menyendiri. Ia mengenakan gaun terusan kasual yang anggun sambil memangku tas kecilnya dengan jemari yang saling bertautan rapat. Ia sedang memegang sebuah kertas pendaftaran pasien umum. Nama yang tertera di papan penunjuk dokter spesialis di depan ruangan nomor kosong empat membakar rasa penasaran di dada Luna: dr. Maya Sartika, Sp.OG. Istri mana yang cukup gila untuk mendaftarkan diri sebagai pasien dari wanita yang mengirimkan pesan mesra pada suaminya di pukul dua dini hari? Luna sendiri tidak tahu dari mana keberanian itu muncul. Rasa sakit hati yang teramat sangat telah mendorong kepolosannya berganti menjadi keberanian nekat. Ia ingin melihat dengan matanya sendiri sosok wanita dewasa yang sanggup membuat Alan Raditya begitu protektif dan dingin pada istrinya sendiri. "Antrean nomor tiga belas, Ny. Luna!" suara suster dari balik pintu nomor kosong empat memanggil nama itu melalui pengeras suara kecil. Luna menghela napas panjang. Ia berdiri dengan percaya diri. Luna melangkah pelan memutar knop pintu kayu tersebut. Saat pintu didorong terbuka, aroma parfum bergaya lavender menyambut indra penciumannya. Seorang wanita cantik yang berusia tiga puluh tahunan sedang mengenakan jas dokter putih yang terpasang sempurna. Dokter Maya mendongak dari berkas pasien di layarnya. Wajah cantiknya menyunggingkan senyum ramah yang sangat profesional. "Selamat siang Bu! Silahkan duduk, Bu Luna!" panggil Maya halus, tanpa menyadari siapa sosok gadis sembilan belas tahun yang kini berdiri mematung di ambang pintu ruangannya. Luna menatap lurus ke dalam manik mata wanita di hadapannya. Jantungnya berdegup kencang, memacu darah di seluruh tubuhnya saat mata jernihnya akhirnya bertatap muka langsung dengan milik Maya."Lihat saja, hanya karena panggilan darurat dari rumah sakit, bisa membuat dia kalang kabut seperti itu." gumam Luna pelan pada dirinya sendiri. Keheningan yang dingin seketika menyelimuti rumah mewah yang mendadak sepi itu. Luna berdiri mematung di ruang tengah, menatap pintu depan yang masih terbuka sedikit. Pandangannya lalu jatuh pada tumpukan kertas yang berserakan di atas lantai kayu, berkas yang tak sengaja tersenggol oleh sambaran kunci mobil Alan. Dengan langkah pelan, Luna mendekat dan berlutut memunguti lembaran dokumen berstempel resmi rumah sakit tempat suaminya bekerja. Namun, jemarinya membeku saat matanya menangkap judul berhuruf tebal di lembar utama: Surat Perjanjian Medis & Hak Asuh Hukum Wasiat Kakek. Napas Luna tertahan. Ia membaca baris demi baris kalimat hukum di lembar pertama dengan bibir gemetar. "D-diagnosis penyakit genetik ...?" bisik Luna parau. "Penyerahan hak keputusan medis penuh kepada Alan Raditya ...?" Luna membaca dokumen itu dengan nyaring
"Foto itu..." Suara Luna gemetar, memandangi foto masa kecilnya sedang di pegang oleh Alan. Alan tersentak hebat. Ia dengan cepat menoleh ke arah pintu ruang kerjanya yang sedikit terbuka. Di ambang pintu, berdiri Luna dengan gaun tidur tipisnya, memeluk kedua tangannya di dada. Wajah gadis itu pucat, dan matanya membelalak lebar saat pandangannya terkunci pada foto berukuran sedang yang dipegang Alan. Mata jernih Luna beralih dari foto tua di tangan suaminya, lalu turun ke arah kotak kayu ukir terbuka di atas meja. Air matanya mendadak merebak kembali tanpa bisa ditahan. "Kenapa... kenapa foto masa kecilku ada di tangan Mas Alan?" bisik Luna parau. Darah Alan mendadak terasa berhenti mengalir. Pria tiga puluh tahun itu berdiri secara refleks, menyembunyikan foto tersebut di balik punggungnya dengan raut panik yang tak pernah Luna lihat sebelumnya. "Luna... kenapa belum tidur?" suara Alan terdengar bergetar tipis, berusaha menguasai suaranya. Luna tidak menjawab. Langk
"Uuuuuhhhh..." desahan lolos begitu saja dari bibir manis Luna.Alan bergerak semakin cepat. Memperdalam hujamannya. Seolah melalui penyatuan fisik yang kasar ini, Alan berusaha mengikis semua kata benci dan niat pergi dari pikiran istrinya.Luna hanya bisa memejamkan mata rapat-rapat. menahan desahan yang pecah di antara isak tangis samar dan kepasrahan yang teramat dalam. Tubuhnya bergoyang mengikuti irama menuntut dari sang suami. Luna terbakar oleh gelombang pelepasan yang dipaksakan Alan padanya.Puncak gejolak itu menghantam mereka setelah belasan menit dalam tempo yang semakin menggila. Alan mempercepat temponya, menekan tubuh Luna sedalam mungkin sebelum menggeram keras saat pelepasannya tuntas di dalam rahim sang istri.Keheningan kembali menguasai kabin mobil.Alan masih berbaring di atas tubuh Luna dengan dada tegap yang masih memburu. Bulir keringat membasahi dahi dan lehernya. Pria itu perlahan menarik tubuhnya. Alan merapikan pakaian Luna dengan gerakan yang anehnya men
Klik "Ada hal yang harus kita lanjutkan." ucapan Alan terus terbayang di ingatannya. Luna tahu persis apa artinya itu. Alan tidak akan bersikap lembut malam ini. Alan pasti masih menyimpan emosinya tadi. Luna yang masih gemetar berlari kecil menuju pintu kayu tebal tersebut. Jemari lentiknya menarik handle pintu dan memutarnya berulang kali. Luna mendorong pintu itu dengan seluruh tenaga. Namun pintu itu tetap kokoh tak berkutik. Pengunci elektronik di bagian luar memerlukan akses kartu spesialis atau bisa juga dengan sidik jari milik Alan. "Tolong... buka..." cicit Luna ketakutan dari dalam ruangan itu. Tidak ada jawaban yang Luna peroleh. Ruangan itu didesain khusus agar tidak menimbulkan suara dari luar. Ia mencoba mencari celah lain. Jendela di ruangan itu dilapisi kaca tebal kedap suara yang menghadap ke arah koridor tertutup. Tidak ada jalan keluar. Selama hampir satu jam, Luna terkurung dalam kesendirian yang mencekik. Ia terduduk di sudut ruangan, memeluk kedua lutu
"Sungguh menarik! Wanita kecil ini ternyata berani kesini." Maya membaca nama yang tertera di layar komputer Ny. Luna. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang sangat tipis.Maya mengenali wajah ini. Sangat mengenalnya. Sebagai wanita yang bertahun-tahun menaruh rasa dan terobsesi pada Alan Raditya. Maya telah menggali setiap detail kehidupan dokter bedah dingin itu. Ia tahu tentang latar belakang keluarga Alan.Tidak terkecuali fakta menyakitkan bahwa Alan telah menikahi seorang gadis sembilan belas tahun secara diam-diam akibat wasiat keluarga beberapa bulan lalu."Ny. Luna..." panggil Maya dengan nada suara manis yang dibuat-buat. Ia meletakkan pulpennya dan menyandarkan tubuhnya di kursi kebesarannya."Atau... harus saya panggil dengan nama lengkapmu, Luna Aurora? Istri dari dr. Alan Raditya?"Langkah Luna mendadak terkunci di tengah ruangan. Jantungnya berdesir hebat. Keberanian nekat yang dibawanya sejak dari ruma
"Boleh aku ikut ke rumah sakit hari ini, Mas? Aku mau berkenalan dengan rekan dokter yang lain, terlebih lagi Dokter Maya."Suara Luna mengalun begitu bening. Ia meletakkan secangkir kopi hitam yang masih berasap di hadapan Alan dengan gerakan sangat tenang. Bibirnya menyunggingkan senyum tipis lengkap dengan binar polos di mata jernihnya.Alan yang sedang merapikan lengan kemejanya mendadak menghentikan pergerakan jemarinya. Pria tiga puluh tahun itu mendongak, memicingkan mata tajamnya ke arah sang istri.Semalam ia melampiaskan seluruh ketegangan dan rasa lelahnya pada tubuh mungil ini tanpa ampun. Ia mengeksekusi haknya sebagai suami dengan dominasi tinggi di kamar mandi. Ia menuntut kepatuhan Luna tanpa memberikan ruang sedikit pun untuk bernegosiasi. Biasanya, setelah perlakuan semacam itu. Luna akan bersikap canggung, malu-malu, atau bahkan tidak berani berbicara padanya.Namun pagi ini, wanita sembilan belas tahun di hadapannya justru tampil sempurna.







