تسجيل الدخول"Uuuuuhhhh..." desahan lolos begitu saja dari bibir manis Luna.
Alan bergerak semakin cepat. Memperdalam hujamannya. Seolah melalui penyatuan fisik yang kasar ini, Alan berusaha mengikis semua kata benci dan niat pergi dari pikiran istrinya. Luna hanya bisa memejamkan mata rapat-rapat. menahan desahan yang pecah di antara isak tangis samar dan kepasrahan yang teramat dalam. Tubuhnya bergoyang mengikuti irama menuntut dari sang suami. Luna terbakar oleh gelombang pelepasan yang dipaksakan Alan padanya. Puncak gejolak itu menghantam mereka setelah belasan menit dalam tempo yang semakin menggila. Alan mempercepat temponya, menekan tubuh Luna sedalam mungkin sebelum menggeram keras saat pelepasannya tuntas di dalam rahim sang istri. Keheningan kembali menguasai kabin mobil. Alan masih berbaring di atas tubuh Luna dengan dada tegap yang masih memburu. Bulir keringat membasahi dahi dan lehernya. Pria itu perlahan menarik tubuhnya. Alan merapikan pakaian Luna dengan gerakan yang anehnya menjadi sangat pelan daripada gerakan saat penyatuan tadi. Luna memalingkan wajahnya ke arah jendela mobil yang berembun. Air matanya menetes pelan. Air mata itu mengalir melewati pelipisnya tanpa suara. Rasa pegal di tubuhnya tak sebanding dengan kekosongan di dadanya. Alan menegakkan kembali sandaran kursi Luna. Alan merasa ada rasa berdenyut asing yang menusuk dada Alan ketika menatap wajah Luna. Alan melihat lelehan air mata di pipi mulus istrinya. Rasa bersalah yang sangat tajam mulai terasa. Namun ego dan ketidakmampuannya mengekspresikan perasaan justru membuat Alan menutupi rasa paniknya dengan sikap dingin kembali. "Rapikan pakaianmu. Kita pulang sekarang," ucap Alan singkat, lalu kembali ke kursi kemudi dan menyalakan mesin mobil tanpa berani menatap mata jernih istrinya lagi. *** Flashback on "Pegang pegangannya yang erat, Luna! Nanti jatuh!" "Nggak mau! Mas Alan mukanya galak, Luna takut!" "Kalau lepas, nanti kamu yang sakit. Diam dan penurut sedikit, bisa?" Flashback off Suara samar dari bayangan belasan tahun lalu bergema di dalam kepala Alan Raditya. Ingatannya kembali kemasa kecilnya. Kalimat-kalimat kaku namun penuh kekhawatiran itu terus berputar, beradu dengan suara deru halus mesin mobil sedan hitamnya yang membelah keheningan jalanan kota pukul dua dini hari. Di kursi penumpang sebelah kemudi, Luna tertidur lelap. Tubuh mungilnya terbungkus jaket tebal milik Alan. Napasnya teratur, namun sesekali dadanya tersengal pelan. Masih ada sisa dari tangisan panjang Luna yang menguras habis tenaganya. Di balik remang cahaya lampu jalanan yang menerobos masuk melalui kaca mobil. Alan bisa melihat jejak air mata yang mengering di pipi mulus istrinya. Alan mencengkeram lingkar kemudi hingga buku-buku jarinya memutih. Matanya sesekali melirik sosok wanita sembilan belas tahun di sampingnya. Ada rasa sesak yang teramat asing yang menghantam dadanya. Tiba-tiba ada rasa takut kehilangan yang mendadak melumpuhkan akalnya. "Apa yang baru saja kulakukan?" batin Alan. Dokter spesialis bedah yang terkenal berdarah dingin dan selalu presisi di meja operasi itu merasa seperti bajingan paling payah malam ini. Ia telah melukai gadis ini. Bukan hanya secara fisik melalui pelampiasan gairah dominannya di dalam mobil tadi, tetapi juga meremukkan jiwanya. Sesampainya di garasi rumah, Alan mematikan mesin. Keheningan langsung menyelimuti kabin mobil. Alan melepaskan sabuk pengamannya, lalu menoleh ke arah Luna. "Luna... kita sudah sampai," bisiknya pelan. Suaranya yang biasa tegas kini terdengar parau dan canggung. Tidak ada jawaban. Luna benar-benar kelelahan. Mata jernih yang biasanya menatapnya penuh kepatuhan itu terpejam rapat dengan bulu mata lentik yang masih sedikit basah. Alan menarik napas panjang. Tidak ada pilihan lain. Dengan sangat hati-hati Alan bergerak seolah gadis itu terbuat dari kaca yang amat rapuh. Alan membungkuk, menyusupkan kedua lengan kokohnya di bawah punggung dan lipatan lutut Luna. Ia menggendong tubuh ringan itu keluar dari mobil. Alan melangkah pelan memasuki rumah mereka yang gelap dan sepi. Kontras dengan perlakuan kasarnya beberapa jam lalu, Alan merebahkan Luna ke atas tempat tidur king size mereka dengan kelembutan yang tak pernah ia tunjukkan sebelumnya. Alan merebahkan selimut sutra tebal hingga menutupi dada Luna. Ia juga tak lupa melepaskan sepatu yang masih melekat di kaki istrinya. Alan berlutut di samping tempat tidur. Tangannya terulur, jemarinya yang gemetar pelan menyapu helai rambut hitam yang menutupi wajah Luna. "Maafkan aku..." bisik Alan lirih. Kalimat itu lolos begitu saja dari bibirnya, tenggelam dalam kegelapan kamar yang hanya diterangi lampu tidur. Pria tiga puluh tahun itu berdiri, meninggalkan kamar tidur utama, dan melangkah menuju ruang kerja pribadinya di ujung lorong. Pikirannya melayang pada kejadian di rumah sakit dan pertengkaran hebat mereka. "Mas cuma mau tubuhku, tapi hati Mas buat wanita lain!" Ucapan Luna tadi siang bergema kembali menampar egonya tanpa ampun. Alan mengepalkan tangannya di atas meja. "Bagaimana bisa Luna berpikir demikian? Bagaimana bisa Luna menganggap dirinya hanya dijadikan pelampiasan?" batin Alan berkecamuk. "Bodoh..." umpat Alan pada dirinya sendiri. "Kamu yang membuat dia berpikir seperti itu, Alan." ucap sisi lain dirinya. Alan menghembuskan napas kasar. Jemarinya yang gelisah bergerak meraih kunci kecil dari dalam dompetnya. Dengan tangan yang sedikit bergetar, Alan membuka laci paling bawah meja kerjanya. Laci rahasia yang tidak pernah ia biarkan terbuka untuk siapa pun. Di dalam laci itu ada sebuah kotak kayu ukir tua milik almarhum Kakeknya. Alan mengangkat kotak itu dan meletakkannya di atas meja. Alan membuka penutupnya perlahan. Di antara lembaran dokumen lama dan surat-surat penting tenryata ia menyelipkan sebuah foto berukuran sedang yang sudah sedikit menguning di bagian sudutnya. Alan mengambil foto tersebut. Matanya menatap gambar di dalamnya dengan sorot emosi yang sangat kompleks. Di dalam foto itu, tampak sosok Alan muda berusia sembilan belas tahun dengan seragam jas laboratorium mahasiswa kedokteran tingkat awal. Wajahnya dalam foto itu sudah tampak kaku dan jarang tersenyum. Namun, yang menarik perhatian adalah sosok anak kecil perempuan berusia delapan tahun yang berdiri di sampingnya. Anak perempuan itu mengenakan gaun merah muda yang sedikit kotor di bagian lututnya. Lutut kanannya terbalut perban putih hasil buatan Alan muda. Meskipun matanya masih sembab akibat menangis karena jatuh dari sepeda, anak kecil itu tersenyum sangat lebar ke arah kamera, memperlihatkan deretan gigi depannya yang berlubang. Luna kecil. "Mas Alan galak, tapi obatnya nggak sakit," bisik Alan, menirukan ucapan polos anak kecil dalam foto itu belasan tahun lalu. Senyum tipis yang sangat langka terukir di bibir Alan, namun dengan cepat sirna digantikan oleh rasa sesak yang kembali menghimpit dadanya. Memori belasan tahun lalu mendadak berputar kembali seperti rol film tua di dalam benak Alan. Kala itu, Alan muda yang selalu dituntut menjadi sempurna oleh keluarganya tinggal sementara di rumah sang Kakek untuk fokus belajar persiapan masuk fakultas kedokteran."Lihat saja, hanya karena panggilan darurat dari rumah sakit, bisa membuat dia kalang kabut seperti itu." gumam Luna pelan pada dirinya sendiri. Keheningan yang dingin seketika menyelimuti rumah mewah yang mendadak sepi itu. Luna berdiri mematung di ruang tengah, menatap pintu depan yang masih terbuka sedikit. Pandangannya lalu jatuh pada tumpukan kertas yang berserakan di atas lantai kayu, berkas yang tak sengaja tersenggol oleh sambaran kunci mobil Alan. Dengan langkah pelan, Luna mendekat dan berlutut memunguti lembaran dokumen berstempel resmi rumah sakit tempat suaminya bekerja. Namun, jemarinya membeku saat matanya menangkap judul berhuruf tebal di lembar utama: Surat Perjanjian Medis & Hak Asuh Hukum Wasiat Kakek. Napas Luna tertahan. Ia membaca baris demi baris kalimat hukum di lembar pertama dengan bibir gemetar. "D-diagnosis penyakit genetik ...?" bisik Luna parau. "Penyerahan hak keputusan medis penuh kepada Alan Raditya ...?" Luna membaca dokumen itu dengan nyaring
"Foto itu..." Suara Luna gemetar, memandangi foto masa kecilnya sedang di pegang oleh Alan. Alan tersentak hebat. Ia dengan cepat menoleh ke arah pintu ruang kerjanya yang sedikit terbuka. Di ambang pintu, berdiri Luna dengan gaun tidur tipisnya, memeluk kedua tangannya di dada. Wajah gadis itu pucat, dan matanya membelalak lebar saat pandangannya terkunci pada foto berukuran sedang yang dipegang Alan. Mata jernih Luna beralih dari foto tua di tangan suaminya, lalu turun ke arah kotak kayu ukir terbuka di atas meja. Air matanya mendadak merebak kembali tanpa bisa ditahan. "Kenapa... kenapa foto masa kecilku ada di tangan Mas Alan?" bisik Luna parau. Darah Alan mendadak terasa berhenti mengalir. Pria tiga puluh tahun itu berdiri secara refleks, menyembunyikan foto tersebut di balik punggungnya dengan raut panik yang tak pernah Luna lihat sebelumnya. "Luna... kenapa belum tidur?" suara Alan terdengar bergetar tipis, berusaha menguasai suaranya. Luna tidak menjawab. Langk
"Uuuuuhhhh..." desahan lolos begitu saja dari bibir manis Luna.Alan bergerak semakin cepat. Memperdalam hujamannya. Seolah melalui penyatuan fisik yang kasar ini, Alan berusaha mengikis semua kata benci dan niat pergi dari pikiran istrinya.Luna hanya bisa memejamkan mata rapat-rapat. menahan desahan yang pecah di antara isak tangis samar dan kepasrahan yang teramat dalam. Tubuhnya bergoyang mengikuti irama menuntut dari sang suami. Luna terbakar oleh gelombang pelepasan yang dipaksakan Alan padanya.Puncak gejolak itu menghantam mereka setelah belasan menit dalam tempo yang semakin menggila. Alan mempercepat temponya, menekan tubuh Luna sedalam mungkin sebelum menggeram keras saat pelepasannya tuntas di dalam rahim sang istri.Keheningan kembali menguasai kabin mobil.Alan masih berbaring di atas tubuh Luna dengan dada tegap yang masih memburu. Bulir keringat membasahi dahi dan lehernya. Pria itu perlahan menarik tubuhnya. Alan merapikan pakaian Luna dengan gerakan yang anehnya men
Klik "Ada hal yang harus kita lanjutkan." ucapan Alan terus terbayang di ingatannya. Luna tahu persis apa artinya itu. Alan tidak akan bersikap lembut malam ini. Alan pasti masih menyimpan emosinya tadi. Luna yang masih gemetar berlari kecil menuju pintu kayu tebal tersebut. Jemari lentiknya menarik handle pintu dan memutarnya berulang kali. Luna mendorong pintu itu dengan seluruh tenaga. Namun pintu itu tetap kokoh tak berkutik. Pengunci elektronik di bagian luar memerlukan akses kartu spesialis atau bisa juga dengan sidik jari milik Alan. "Tolong... buka..." cicit Luna ketakutan dari dalam ruangan itu. Tidak ada jawaban yang Luna peroleh. Ruangan itu didesain khusus agar tidak menimbulkan suara dari luar. Ia mencoba mencari celah lain. Jendela di ruangan itu dilapisi kaca tebal kedap suara yang menghadap ke arah koridor tertutup. Tidak ada jalan keluar. Selama hampir satu jam, Luna terkurung dalam kesendirian yang mencekik. Ia terduduk di sudut ruangan, memeluk kedua lutu
"Sungguh menarik! Wanita kecil ini ternyata berani kesini." Maya membaca nama yang tertera di layar komputer Ny. Luna. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang sangat tipis.Maya mengenali wajah ini. Sangat mengenalnya. Sebagai wanita yang bertahun-tahun menaruh rasa dan terobsesi pada Alan Raditya. Maya telah menggali setiap detail kehidupan dokter bedah dingin itu. Ia tahu tentang latar belakang keluarga Alan.Tidak terkecuali fakta menyakitkan bahwa Alan telah menikahi seorang gadis sembilan belas tahun secara diam-diam akibat wasiat keluarga beberapa bulan lalu."Ny. Luna..." panggil Maya dengan nada suara manis yang dibuat-buat. Ia meletakkan pulpennya dan menyandarkan tubuhnya di kursi kebesarannya."Atau... harus saya panggil dengan nama lengkapmu, Luna Aurora? Istri dari dr. Alan Raditya?"Langkah Luna mendadak terkunci di tengah ruangan. Jantungnya berdesir hebat. Keberanian nekat yang dibawanya sejak dari ruma
"Boleh aku ikut ke rumah sakit hari ini, Mas? Aku mau berkenalan dengan rekan dokter yang lain, terlebih lagi Dokter Maya."Suara Luna mengalun begitu bening. Ia meletakkan secangkir kopi hitam yang masih berasap di hadapan Alan dengan gerakan sangat tenang. Bibirnya menyunggingkan senyum tipis lengkap dengan binar polos di mata jernihnya.Alan yang sedang merapikan lengan kemejanya mendadak menghentikan pergerakan jemarinya. Pria tiga puluh tahun itu mendongak, memicingkan mata tajamnya ke arah sang istri.Semalam ia melampiaskan seluruh ketegangan dan rasa lelahnya pada tubuh mungil ini tanpa ampun. Ia mengeksekusi haknya sebagai suami dengan dominasi tinggi di kamar mandi. Ia menuntut kepatuhan Luna tanpa memberikan ruang sedikit pun untuk bernegosiasi. Biasanya, setelah perlakuan semacam itu. Luna akan bersikap canggung, malu-malu, atau bahkan tidak berani berbicara padanya.Namun pagi ini, wanita sembilan belas tahun di hadapannya justru tampil sempurna.







