Share

Bab 6

Penulis: Ardina whina
last update Tanggal publikasi: 2026-08-05 23:38:47

"Foto itu..."

Suara Luna gemetar, memandangi foto masa kecilnya sedang di pegang oleh Alan.

Alan tersentak hebat. Ia dengan cepat menoleh ke arah pintu ruang kerjanya yang sedikit terbuka.

Di ambang pintu, berdiri Luna dengan gaun tidur tipisnya, memeluk kedua tangannya di dada. Wajah gadis itu pucat, dan matanya membelalak lebar saat pandangannya terkunci pada foto berukuran sedang yang dipegang Alan.

Mata jernih Luna beralih dari foto tua di tangan suaminya, lalu turun ke arah kotak kayu ukir terbuka di atas meja. Air matanya mendadak merebak kembali tanpa bisa ditahan.

"Kenapa... kenapa foto masa kecilku ada di tangan Mas Alan?" bisik Luna parau.

Darah Alan mendadak terasa berhenti mengalir. Pria tiga puluh tahun itu berdiri secara refleks, menyembunyikan foto tersebut di balik punggungnya dengan raut panik yang tak pernah Luna lihat sebelumnya.

"Luna... kenapa belum tidur?" suara Alan terdengar bergetar tipis, berusaha menguasai suaranya.

Luna tidak menjawab. Langkah kakinya yang gemetar pelan-pelan maju mendekati meja kerja.

Pandangannya tidak lepas dari kotak kayu tua milik almarhum Kakek Alan. Kotak itu memancarkan aroma kertas tua yang begitu familier.

Ingatan Alan mendadak tertarik ke belasan tahun lalu. Saat ia masih menjadi remaja yang tertutup, dingin, dan paling tidak suka diganggu. Namun, ketenangannya selalu terusik oleh kedatangan cucu sahabat kakeknya.

Seorang gadis kecil yang seharusnya anggun namun ternyata sangat suka mengganggunya.

***

Flashback on

"Mas Alan! Buka pintunya! Luna mau bolu!"

"Pergi, Luna. Mas lagi belajar," jawab Alan muda dari balik pintu tanpa minat.

"Nggak mau! Kata Kakek, Mas Alan pintar. Luna juga mau diajak belajar."

Alan ingat betul bagaimana ia selalu dibuat pusing oleh tingkah polos anak itu. Namun, di hari ketika Luna jatuh dari sepeda dan lututnya berdarah hebat, Alan-lah yang pertama kali berlari keluar rumah.

Dengan canggung namun telaten, Alan membersihkan luka itu dan membebatnya dengan perban.

Luna kecil berhenti menangis dan mendongak menatapnya dengan mata jernih yang memancarkan kepercayaan penuh, ada sesuatu di dalam dada Alan muda yang bergerak.

"Mas Alan ...," panggil Luna kecil, sambil memegang ujung kemeja Alan. "Kalau Luna besar nanti, Mas Alan mau kan jadi dokternya Luna terus?"

"Bicara apa kamu," balas Alan muda kaku.

"Sana pulang. Jangan ganggu aku terus."

"Janji dulu! Mas Alan harus janji jagain Luna!"

Anak kecil itu memaksakan jarinya melingkar di jari kelingking Alan.

Flashback off

***

Alan menelan ludah dengan susah payah. Ia mengingat janji itu. Janji yang tertanam jauh di dalam dirinya

Ketika Kakeknya memintanya menikahi Luna beberapa bulan lalu, Alan sebenarnya tidak pernah merasa terpaksa.

Ia menerima perjodohan itu tanpa ragu bukan sekadar demi memenuhi wasiat ... melainkan karena nama Luna Aurora memang tidak pernah benar-benar pergi dari hatinya.

Namun, perbedaan usia yang jauh dan rasa paniknya karena takut terlihat lemah di hadapan gadis yang sangat ia inginkan. Malah mengubah niat tulusnya menjadi bentuk kendali yang salah arah.

Pria yang berjanji untuk melindunginya, kini justru berubah menjadi monster yang paling ditakuti oleh istrinya sendiri.

"Foto ini ... aku telah lama menyimpannya. Sebenarnya, aku selalu mengingat janjiku padamu," ucap Alan akhirnya. Suaranya serak, matanya menatap Luna dengan penyesalan yang begitu pekat.

"Maafkan aku, Luna. Aku ... aku salah."

Luna membeku mendengar kata maaf yang amat langka itu. Sebelum Luna sempat merespons, rasa lelah yang luar biasa dan emosi yang bercampur menjadi satu membuat Luna merasakan pusing yang tak tertahankan.

Tubuh mungil Luna melemah dan jatuh kedepan. Dengan refleks secepat kilat, Alan melangkah maju dan menangkap tubuh Luna sebelum menyentuh lantai.

Kali ini, Alan memeluknya tanpa ada sedikit pun hawa ingin menguasai hanya ada rasa ingin melindungi.

Ia mengangkat tubuh Luna dengan hati-hati. Alan memeriksa tubuhnya dan memberinya obat.

***

Luna terbangun pagi itu. Saat ia mencoba duduk, aroma bubur hangat dan teh manis menyambutnya.

Semangkok bubur dan teh manis sudah Alan siapkan di atas nakas samping tempat tidurnya.

Alan sedang berdiri di samping tempat tidur, sudah rapi dengan kemeja kerjanya. Pria itu tidak lagi menatapnya dengan pandangan mengintimidasi. Alan menatapnya hangat.

"Bagaimana keadaanmu? Makanlah sedikit. Aku sudah terlambat," ucap Alan lembut. Suaranya tidak lagi dingin.

"Setelah ini bersiaplah. Hari ini aku mengizinkanmu pergi ke kampus."

Luna menatap suaminya tertegun. "Mas ... tidak melarangku lagi?"

"Tidak. Lakukan apa yang membuatmu bahagia," jawab Alan tulus, menatap mata jernih istrinya yang masih menyimpan jejak trauma.

"Aku tidak akan memaksamu lagi, Luna."

Saat Alan hendak meraih tas kerjanya di meja makan ruang tengah, ponsel hitam di saku jasnya bergetar hebat. Alan merogohnya dan membaca layar yang menyala.

Dalam hitungan detik, raut tenang di wajah Alan hilang dan berganti menjadi kepanikan luar biasa yang belum pernah Luna lihat sebelumnya.

"Mas Alan? Ada apa?" tanya Luna yang menyusul ke ruang tengah.

"Panggilan darurat dari rumah sakit. Aku harus pergi sekarang!" tegas Alan terburu-buru.

"Kamu bisa pergi ke kampus sendiri?" tanyanya tergesa. Luna menganggukan kepalanya. Luna hanya menatap kepergian Alan dengan penasaran.

Tangan Alan sampai bergetar saat menyambar kunci mobil di meja dan menyenggol beberapa lembar kertas hingga berserakan di lantai.

lalu berlari keluar rumah.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Bukan Pemuas Nafsu Dokter   15

    "Luna tidak boleh tahu soal ini, Alan," kata Maya lagi. Ia berdiri, melangkah mendekati Alan dan menyentuh lengan pria itu pelan."Tapi kamu tahu resikonya? Dia sedang frustasi menjawab semua teka-teki ini. Dia pasti tidak akan tinggal diam begitu saja. Dia pasti akan mencari cara bagaimanapun untuk mengorek masa lalu. Jika rahasia ini terbongkar, rumah sakit bakal hancur, dan kamu... kamu bakal kehilangan izin praktilmu."Alan menatap tangan Maya di lengannya, lalu menatap mata wanita itu."Apa mau kamu sebenarnya, Maya?""Tinggalkan dia," jawab Maya tanpa ragu."Ceraikan Luna. Biarkan dia masuk fasilitas rehabilitasi jiwa. Itu tempat yang paling cocok untuknya."***Keesokan harinya.Alan duduk di sisi Luna yang hanya memainkan roti tawar di piringnya."Aku mau ke pemakaman Ayah hari ini," kata Luna tiba-tiba. Suaranya datar, tanpa emosi.Alan menoleh kaget."Hari ini? Tapi kamu baru saja sembuh, Luna. Kita ganti besok saja. Hari ini ramalan cuacanya akan turun hujan.""Aku tidak mi

  • Bukan Pemuas Nafsu Dokter   14

    "Kenapa?" Tanya Luna lirih melihat perubahan raut muka Alan. Ia mendekat mengambil ponsel alan dengan cepat. Ini tidak pernah Luna lakukan sebelumnya. Tubuhnya menegang membaca pesan itu."Jelaskan padaku, Alan! Apa maksud pesan ini?!"Alan cemas luar biasa. Ponsel yang dipegangnya bergetar hebat di bawah cengkeraman jarinya yang membeku. Di hadapannya, Luna tidak lagi berbaring di bawah selimut. Wanita itu berdiri tegap, matanya yang sembap kini terlihat penuh amarah."Kembali ponsel milikku. Aku tidak tahu juga maksdu dari pengirim itu."Jangan berakting!" Luna menahan ponsel alan yang berada di tangannya ketika Alan ingin mengambilnya kembali.Jarinya menunjuk layar yang masih menyala. "Siapa pengirim pesan ini? Kenapa dia bicara soal rahasia delapan tahun lalu?!"Alan menelan ludah. "Aku tidak tahu. Itu nomor asing.""Bohong!" Suara Luna tertahan. Suara tawa yang begitu pahit keluar dari mulutnya."Delapan tahun lalu... itu tahun saat ayahku dinyatakan depresi berat lalu bunuh dir

  • Bukan Pemuas Nafsu Dokter   13

    "Masuk!" ujar Luna pelan.Pintu terbuka. Bukan Alan yang masuk, melainkan Maya. Wanita itu tampil anggun dengan mantel krem dan tas bermerek yang menggantung di lengannya."Kenapa kamu bisa masuk ke sini?" tanga Luna terkejut karena yang dilihatnya bukanlah Alan."Alan yang memintaku datang," jawab Maya tenang sambil melangkah mendekati tempat tidur. Tangannya membawa sebuah map tipis berisi dokumen rekam medis."Dia minta aku mengantarkan berkas evaluasi kesehatanmu yang terbaru."Luna tertawa sumbang. "Apa dia terlalu penakut untuk menatap mataku sendiri?""Alan sangat menyayangimu, Luna. Hanya saja caranya mungkin salah." kata Maya, mengambil posisi duduk di kursi samping kasur. Suaranya terdengar begitu manis, namun matanya memancarkan kehangatan yang palsu."Tapi dia juga manusia biasa. Dia juga merasa stres berat memikirkan kondisimu... Apalagi mendengarkan tuduhan-tuduhanmu untuknya.""Tuduhan?" Luna menatap Maya tajam. "Kamu sendiri yang membawa kertas laboratorium itu tiga ha

  • Bukan Pemuas Nafsu Dokter   12

    "Bukan aku yang menulis resep ini!"Suara Alan menggelegar di kamar rawat VVIP. Dia menolak dan terkejut. Jemarinya mencengkeram erat kertas hasil laboratorium yang disodorkan Maya. Buku-buku jarinya memutih, untung saja dia tahu batasan ketika berada di rumah sakit.Maya menatap Alan dengan raut wajah prihatin. Itu bukan wajah aslinya, itu hanyalah topeng yang selalu digunakannya ketika bersama Alan."Alan, aku hanya menyampaikan hasil dari laboratorium pusat. Tanda tangan dan nomor registrasi medis di lembar resep itu atas namamu.""Bohong!" Alan semakin geram. Ia melangkah maju, mendekatkan tubuhnya, menaikan jari telunjuknya tepat di wajah Maya. Matanya berkilat penuh ancaman."Kamu tahu persis, aku tidak pernah meresepkan zat neuro-suppressant ini untuk Luna! Siapa yang memalsukannya, Maya?!""Cukup!" Satu kata dari Luna menghentikan pertikaian itu. Suaranya tidak kencang, tetapi cukup membuat pertikaian itu berhenti.Alan seketika membalikkan badan, menatap istrinya dengan tatap

  • Bukan Pemuas Nafsu Dokter   11

    "Tekanan darah sembilan puluh per enam puluh! Pendarahannya melebar, Dok!""Siapkan ruang pemindaian sekarang!"Teriakan Alan menggelegar di sepanjang koridor gawat darurat. Ranjang dorong yang membawa Luna melaju cepat. Alan berlari di sampingnya, jemarinya mencengkeram erat tangan Luna yang dingin."Dokter Alan, Anda tidak boleh masuk!" tegur seorang dokter senior. "Anda suaminya!""Aku kepala tim bedah saraf di sini!" bentak Alan, matanya memerah panik. "Lakukan instruksiku sekarang!"Pintu ruang tindakan tertutup keras."Tidak bisa Dok! Ini sudah SOP rumah sakit kita." ucapan itu semakin membuat Alan frustasi. Dia hanya bisa menunggu di luar dengan jantung yang tak karuan.Tiga jam kemudian.Kamar rawat VVIP itu begitu hening, hanya didominasi suara bip teratur dari monitor jantung. Luna terbaring lemah dengan slang oksigen di hidungnya.Alan duduk di samping kasur. Tangannya yang gemetar terulur mengusap lembut dahi Luna."Maafkan aku..." bisik Alan parau. "Maafkan aku, Luna..."

  • Bukan Pemuas Nafsu Dokter   10

    "Jawab aku, Mas!" Jeritan Luna menggema di ruangan kaca itu. Suaranya pecah, rasa putus asa sarat akan ketakutan yang memenuhi dadanya. Pria yang selama ini menjadi suaminya, hanya berdiri mematung."Luna, tenanglah..." Alan mencoba melangkah maju. Tangannya terulur di udara, bergetar."Jangan mendekat!" Luna menepis udara di depannya, melangkah mundur hingga punggungnya menabrak tepi meja kayu. "Penyakit apa yang ada di dalam tubuhku, Mas?! Kenapa ada kata kematian di dalam perjanjian itu?!""Dokter Alan," panggil Dimas, menengahi dengan nada rendah namun penuh penekanan. "Sebagai konsultan hukum keluarga, saya berhak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Mengapa resep pengobatan wajib ini tidak pernah diberikan kepada Nyonya Luna?"Alan mengabaikan Dimas. Matanya terkunci sepenuhnya pada wajah Luna yang pucat pasi dan terbasah air mata. Ada kilat keputusasaan yang sangat dalam di manik mata sang dokter."Itu bukan penyakit genetik biasa, Luna," bisik Alan serak."Lalu apa?!" desak Luna

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status