مشاركة

bab 4

مؤلف: Ardina whina
last update تاريخ النشر: 2026-07-30 20:52:10

Klik

"Ada hal yang harus kita lanjutkan." ucapan Alan terus terbayang di ingatannya.

Luna tahu persis apa artinya itu. Alan tidak akan bersikap lembut malam ini. Alan pasti masih menyimpan emosinya tadi.

Luna yang masih gemetar berlari kecil menuju pintu kayu tebal tersebut. Jemari lentiknya menarik handle pintu dan memutarnya berulang kali. Luna mendorong pintu itu dengan seluruh tenaga. Namun pintu itu tetap kokoh tak berkutik.

Pengunci elektronik di bagian luar memerlukan akses kartu spesialis atau bisa juga dengan sidik jari milik Alan.

"Tolong... buka..." cicit Luna ketakutan dari dalam ruangan itu. Tidak ada jawaban yang Luna peroleh.

Ruangan itu didesain khusus agar tidak menimbulkan suara dari luar. Ia mencoba mencari celah lain. Jendela di ruangan itu dilapisi kaca tebal kedap suara yang menghadap ke arah koridor tertutup.

Tidak ada jalan keluar. Selama hampir satu jam, Luna terkurung dalam kesendirian yang mencekik. Ia terduduk di sudut ruangan, memeluk kedua lututnya rapat-rapat dengan napas yang memburu.

Setiap kali mendengar langkah kaki melintas di luar, jantungnya serasa ingin melompat keluar.

Bzzzt.

Bip.

Suara sensor pintu yang berbunyi membuat tubuh Luna bersitegang seketika.

Pintu besi itu terdorong terbuka. Sosok Alan Raditya masuk di sana. Pria itu sudah melepas jas dokternya, menyisakan kemeja biru tua yang dua kancing atasnya sudah terbuka dan lengan kemeja yang digulung hingga ke siku.

Rambutnya sedikit acak-acakan, memancarkan aura ketampanan yang dominan sekaligus berbahaya. Tatapan matanya yang gelap dan pekat langsung menemukan Luna yang meringkuk di sudut.

Tanpa mengucap sepatah kata pun, Alan melangkah mendekat. Langkah kakinya yang tenang namun penuh intimidasi membuat Luna ingin menyembunyikan tubuhnya.

"M-Mas Alan..." bisik Luna parau.

Alan tidak menjawab. Ia merengkuh lengan atas Luna dan memaksanya berdiri. Sentuhan tangan Alan yang hangat dan kokoh tidak memberikan ruang sedikit pun bagi Luna untuk menghindar.

Alan menarik Luna keluar dari ruangan itu, membawanya melewati lorong khusus staf yang sepi, langsung menuju area parkir VIP bawah tanah.

Lampu-lampu temaram di area parkir bawah tanah memantulkan bayangan mobil sedan hitam milik Alan. Pria itu membukakan pintu penumpang depan, mendorong Luna masuk secara tegas, lalu menutup pintu dengan dentuman keras yang membuat Luna terkejut. Bulu kuduknya merinding.

Alan berjalan mutar, masuk ke kursi kemudi, dan langsung mengunci seluruh pintu secara otomatis melalui tombol kontrol di sampingnya.

Suara mesin mobil yang menderu halus mengisi keheningan yang mencekik.

Alan tidak langsung menjalankan mobilnya. Pria tiga puluh tahun itu melepaskan sabuk pengamannya sendiri. Kemudian memutar tubuhnya menghadap Luna yang duduk mematung dengan mata sembab.

"Mas... kita mau pulang, kan?" ucap Luna dengan berusaha menahan getaran di suaranya.

"Kamu mencoba kabur tadi, Luna?" suara Alan terdengar rendah dan tenang. Namun di balik ketenangan itu ada ancaman yang teramat pekat.

"A-aku tidak—"

"Aku menyuruhmu menunggu," potong Alan dingin. Jemari kokohnya meraih rambut Luna.

Alan menyelipkan helai rambut hitam Luna ke belakang telinga gadis itu. Sentuhan jemari Alan yang kasar di kulit lehernya membuat bulu kuduk Luna berdiri tegak.

"Tapi kamu malah mencari cara untuk pergi dariku."

"Mas Alan yang mengunci aku di sana!" suara Luna meninggi. Entah keberaniannya dari mana keluar dari balik rasa takutnya.

"Mas memperlakukan aku seperti tawanan!"

"Karena kamu tidak menurut!" geram Alan.

Sebelum Luna sempat membalas, Alan sudah mencondongkan tubuh tegapnya. Tangan kanannya menekan tombol pengatur posisi kursi penumpang, menurunkan sandaran kursi Luna secara mendadak hingga posisi gadis itu setengah terbaring di dalam ruang mobil yang sempit.

Luna memberontak.

"Mas! Apa yang Mas lakukan?!" jerit Luna panik. Mata Luna membelalak lebar melihat Alan yang langsung merangkak naik.

Kini Alan mengungkung tubuhnya di antara kursi dan dada bidang pria itu.

"Melanjutkan apa yang tertunda," bisik Alan tepat di depan bibir Luna.

Embusan napas panasnya yang memburu beraroma kopi dan mint membakar wajah istrinya.

"Kamu menuduhku hanya menginginkan tubuhmu, kan? Kalau begitu, biar kupastikan kamu mengingat betul siapa pemilik tubuh ini."

Tanpa memberikan kesempatan bagi Luna untuk memprotes, Alan menyambar bibir Luna dalam ciuman yang dalam dan menuntut.

"Nghh... Mas!" Luna berusaha mendorong bahu tegap Alan dengan kedua tangannya, namun Alan dengan mudah mengunci kedua pergelangan tangan Luna di atas kepalanya dengan satu genggaman erat.

Ciuman Alan membakar tanpa ampun. Lidahnya menerobos masuk, menguasai seluruh rongga mulut Luna. Alan menikmati rintihan dan napas tertahan dari istrinya.

Tangan Alan yang bebas bergerak cepat menyusup ke bawah gaun terusan Luna. Ia meraba pahanya yang mulus dan membelai kulit hangat gadis itu dengan sentuhan yang posesif dan berpengalaman.

Sensasi panas yang membakar langsung menjalar ke seluruh selat tubuh Luna. Meskipun hatinya dipenuhi rasa sakit dan kekecewaan, reaksi tubuhnya tidak bisa membohongi keahlian Alan.

Desahan halus lolos dari tenggorokan Luna di sela-sela ciuman brutal mereka.

"Ngh... ah, Mas Alan... jangan di sini..." rintih Luna saat bibir Alan berpindah menyusuri leher jenjangnya. Alan enggigit kecil kulit halus di sana dan meninggalkan jejak-jejak keperakan yang pekat.

"Kita bisa melakukan di mana saja, Luna. Kamu milikku," bisik Alan dengan suara serak yang penuh gairah tak terkendali.

Alan melepaskan cengkeraman tangannya di pergelangan Luna.

Lalu turun berganti dengan meremas pinggang ramping istrinya. Ia menyingkap gaun Luna lebih tinggi. Ia menarik celana dalam tipis milik Luna hingga terlepas dengan gerakan tidak sabar.

Ruang mobil yang sempit dan remang itu dipenuhi oleh suara napas mereka yang saling beradu, memburu dan tidak teratur.

Dengan satu gerakan mantap dan penuh dominasi, Alan menyatukan tubuh mereka.

"Aaah!" Luna merintih keras. Ia belum siap. Jemarinya refleks mencengkeram erat punggung kemeja Alan hingga kainnya kusut seketika.

Tubuhnya menegang merasakan persatuan yang begitu tiba-tiba dan mendalam dari sang suami.

Alan memejamkan mata, menggeram rendah saat sensasi kehangatan dan ketatnya tubuh Luna menjepitnya tanpa cela.

Pria itu mulai bergerak stabil dan dalam. Rintihan Luna menjadi pembakar semangatnya. Ia bergerak tanpa ampun. Setiap ketukan dan dorongan tubuh Alan mengguncang mobil sedan itu secara konstan di tengah keheningan area parkir yang sepi.

Gairah Alan malam ini terasa liar dan penuh desakan kepemilikan.

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Bukan Pemuas Nafsu Dokter   bab 7

    "Lihat saja, hanya karena panggilan darurat dari rumah sakit, bisa membuat dia kalang kabut seperti itu." gumam Luna pelan pada dirinya sendiri. Keheningan yang dingin seketika menyelimuti rumah mewah yang mendadak sepi itu. Luna berdiri mematung di ruang tengah, menatap pintu depan yang masih terbuka sedikit. Pandangannya lalu jatuh pada tumpukan kertas yang berserakan di atas lantai kayu, berkas yang tak sengaja tersenggol oleh sambaran kunci mobil Alan. Dengan langkah pelan, Luna mendekat dan berlutut memunguti lembaran dokumen berstempel resmi rumah sakit tempat suaminya bekerja. Namun, jemarinya membeku saat matanya menangkap judul berhuruf tebal di lembar utama: Surat Perjanjian Medis & Hak Asuh Hukum Wasiat Kakek. Napas Luna tertahan. Ia membaca baris demi baris kalimat hukum di lembar pertama dengan bibir gemetar. "D-diagnosis penyakit genetik ...?" bisik Luna parau. "Penyerahan hak keputusan medis penuh kepada Alan Raditya ...?" Luna membaca dokumen itu dengan nyaring

  • Bukan Pemuas Nafsu Dokter   Bab 6

    "Foto itu..." Suara Luna gemetar, memandangi foto masa kecilnya sedang di pegang oleh Alan. Alan tersentak hebat. Ia dengan cepat menoleh ke arah pintu ruang kerjanya yang sedikit terbuka. Di ambang pintu, berdiri Luna dengan gaun tidur tipisnya, memeluk kedua tangannya di dada. Wajah gadis itu pucat, dan matanya membelalak lebar saat pandangannya terkunci pada foto berukuran sedang yang dipegang Alan. Mata jernih Luna beralih dari foto tua di tangan suaminya, lalu turun ke arah kotak kayu ukir terbuka di atas meja. Air matanya mendadak merebak kembali tanpa bisa ditahan. "Kenapa... kenapa foto masa kecilku ada di tangan Mas Alan?" bisik Luna parau. Darah Alan mendadak terasa berhenti mengalir. Pria tiga puluh tahun itu berdiri secara refleks, menyembunyikan foto tersebut di balik punggungnya dengan raut panik yang tak pernah Luna lihat sebelumnya. "Luna... kenapa belum tidur?" suara Alan terdengar bergetar tipis, berusaha menguasai suaranya. Luna tidak menjawab. Langk

  • Bukan Pemuas Nafsu Dokter   bab 5

    "Uuuuuhhhh..." desahan lolos begitu saja dari bibir manis Luna.Alan bergerak semakin cepat. Memperdalam hujamannya. Seolah melalui penyatuan fisik yang kasar ini, Alan berusaha mengikis semua kata benci dan niat pergi dari pikiran istrinya.Luna hanya bisa memejamkan mata rapat-rapat. menahan desahan yang pecah di antara isak tangis samar dan kepasrahan yang teramat dalam. Tubuhnya bergoyang mengikuti irama menuntut dari sang suami. Luna terbakar oleh gelombang pelepasan yang dipaksakan Alan padanya.Puncak gejolak itu menghantam mereka setelah belasan menit dalam tempo yang semakin menggila. Alan mempercepat temponya, menekan tubuh Luna sedalam mungkin sebelum menggeram keras saat pelepasannya tuntas di dalam rahim sang istri.Keheningan kembali menguasai kabin mobil.Alan masih berbaring di atas tubuh Luna dengan dada tegap yang masih memburu. Bulir keringat membasahi dahi dan lehernya. Pria itu perlahan menarik tubuhnya. Alan merapikan pakaian Luna dengan gerakan yang anehnya men

  • Bukan Pemuas Nafsu Dokter   bab 4

    Klik "Ada hal yang harus kita lanjutkan." ucapan Alan terus terbayang di ingatannya. Luna tahu persis apa artinya itu. Alan tidak akan bersikap lembut malam ini. Alan pasti masih menyimpan emosinya tadi. Luna yang masih gemetar berlari kecil menuju pintu kayu tebal tersebut. Jemari lentiknya menarik handle pintu dan memutarnya berulang kali. Luna mendorong pintu itu dengan seluruh tenaga. Namun pintu itu tetap kokoh tak berkutik. Pengunci elektronik di bagian luar memerlukan akses kartu spesialis atau bisa juga dengan sidik jari milik Alan. "Tolong... buka..." cicit Luna ketakutan dari dalam ruangan itu. Tidak ada jawaban yang Luna peroleh. Ruangan itu didesain khusus agar tidak menimbulkan suara dari luar. Ia mencoba mencari celah lain. Jendela di ruangan itu dilapisi kaca tebal kedap suara yang menghadap ke arah koridor tertutup. Tidak ada jalan keluar. Selama hampir satu jam, Luna terkurung dalam kesendirian yang mencekik. Ia terduduk di sudut ruangan, memeluk kedua lutu

  • Bukan Pemuas Nafsu Dokter   bab 3

    "Sungguh menarik! Wanita kecil ini ternyata berani kesini." Maya membaca nama yang tertera di layar komputer Ny. Luna. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang sangat tipis.Maya mengenali wajah ini. Sangat mengenalnya. Sebagai wanita yang bertahun-tahun menaruh rasa dan terobsesi pada Alan Raditya. Maya telah menggali setiap detail kehidupan dokter bedah dingin itu. Ia tahu tentang latar belakang keluarga Alan.Tidak terkecuali fakta menyakitkan bahwa Alan telah menikahi seorang gadis sembilan belas tahun secara diam-diam akibat wasiat keluarga beberapa bulan lalu."Ny. Luna..." panggil Maya dengan nada suara manis yang dibuat-buat. Ia meletakkan pulpennya dan menyandarkan tubuhnya di kursi kebesarannya."Atau... harus saya panggil dengan nama lengkapmu, Luna Aurora? Istri dari dr. Alan Raditya?"Langkah Luna mendadak terkunci di tengah ruangan. Jantungnya berdesir hebat. Keberanian nekat yang dibawanya sejak dari ruma

  • Bukan Pemuas Nafsu Dokter   bab 2

    "Boleh aku ikut ke rumah sakit hari ini, Mas? Aku mau berkenalan dengan rekan dokter yang lain, terlebih lagi Dokter Maya."Suara Luna mengalun begitu bening. Ia meletakkan secangkir kopi hitam yang masih berasap di hadapan Alan dengan gerakan sangat tenang. Bibirnya menyunggingkan senyum tipis lengkap dengan binar polos di mata jernihnya.Alan yang sedang merapikan lengan kemejanya mendadak menghentikan pergerakan jemarinya. Pria tiga puluh tahun itu mendongak, memicingkan mata tajamnya ke arah sang istri.Semalam ia melampiaskan seluruh ketegangan dan rasa lelahnya pada tubuh mungil ini tanpa ampun. Ia mengeksekusi haknya sebagai suami dengan dominasi tinggi di kamar mandi. Ia menuntut kepatuhan Luna tanpa memberikan ruang sedikit pun untuk bernegosiasi. Biasanya, setelah perlakuan semacam itu. Luna akan bersikap canggung, malu-malu, atau bahkan tidak berani berbicara padanya.Namun pagi ini, wanita sembilan belas tahun di hadapannya justru tampil sempurna.

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status