مشاركة

bab 3

مؤلف: Ardina whina
last update تاريخ النشر: 2026-07-30 20:00:06

"Sungguh menarik! Wanita kecil ini ternyata berani kesini." Maya membaca nama yang tertera di layar komputer Ny. Luna. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang sangat tipis.

Maya mengenali wajah ini. Sangat mengenalnya. Sebagai wanita yang bertahun-tahun menaruh rasa dan terobsesi pada Alan Raditya. Maya telah menggali setiap detail kehidupan dokter bedah dingin itu. Ia tahu tentang latar belakang keluarga Alan.

Tidak terkecuali fakta menyakitkan bahwa Alan telah menikahi seorang gadis sembilan belas tahun secara diam-diam akibat wasiat keluarga beberapa bulan lalu.

"Ny. Luna..." panggil Maya dengan nada suara manis yang dibuat-buat. Ia meletakkan pulpennya dan menyandarkan tubuhnya di kursi kebesarannya.

"Atau... harus saya panggil dengan nama lengkapmu, Luna Aurora? Istri dari dr. Alan Raditya?"

Langkah Luna mendadak terkunci di tengah ruangan. Jantungnya berdesir hebat.

Keberanian nekat yang dibawanya sejak dari rumah mendadak runtuh digantikan oleh rasa terkejut yang luar biasa. "Bagaimana wanita ini bisa tahu?" Batin Luna.

"Kaget?" Maya terkehdap pelan. Ia berdiri, mengitari meja kerjanya dengan langkah anggun dan penuh percaya diri. Aura wanita matang memancar kuat, sangat berbanding terbalik dengan Luna yang tampak rapuh.

"Alan memang sangat menjaga kerahasiaan hidupnya. Tapi untuk orang yang begitu dekat dengannya seperti saya... tidak ada rahasia yang benar-benar bisa disimpan, Luna."

Luna mengepalkan jemarinya di samping gaun. "Dokter tahu siapa saya... tapi tetap membiarkan saya masuk?"

"Kenapa tidak?" Maya tersenyum miring, lalu meraih ponsel pintarnya dari atas meja. Dengan gerakan santai yang terencana, jemari melancarkan panggilan cepat. Ia menempelkan ponsel itu di telinganya.

Panggilan tersambung dalam hitungan detik.

"Ada apa, Maya? Aku sedang persiapan operasi." suara berat dan dingin milik Alan terdengar dari speaker ponsel.

Maya menatap Luna dengan pandangan mengejek. "Alan... kurasa kamu harus menunda operasimu sebentar. Istrimu yang manis ada di ruanganku sekarang. Dia mendaftar sebagai pasienku."

Hening sejenak di seberang telepon, sebelum suara napas kasar dan tertahan milik Alan terdengar merayap keluar.

Tiiit.

Panggilan terputus secara sepihak. Maya menurunkan ponselnya, menatap Luna yang berdiri kaku dengan dada berombak naik-turun.

"Lihat? Suamimu bahkan langsung panik begitu mendengar namamu. Dia paling tidak suka kehidupannya dicampuri."

Kurang dari tiga menit, pintu ruang pemeriksaan nomor kosong empat terdorong kasar hingga membentur dinding.

BRAKK!

Alan Raditya berdiri di ambang pintu. Jas dokternya yang putih tampak sedikit berantakan, membuktikan betapa cepatnya pria itu berlari melewati koridor rumah sakit.

Tatapan mata gelapnya yang memancarkan bahaya langsung mengunci sosok Luna yang berdiri mematung. Tanpa mengacuhkan keberadaan Maya, Alan melangkah lebar mendekati istrinya.

Cengkeraman tangan kokohnya langsung mengunci pergelangan tangan Luna dengan sangat erat.

"Ikut aku!" geram Alan rendah, suaranya sarat akan ancaman yang terpendam.

"Alan, tunggu..." Maya mencoba menyela, namun Alan bahkan tidak menoleh sedikit pun padanya.

Alan tidak menghiraukan panggilan Maya.

Ia menyeret Luna keluar dari ruangan tersebut. Ia diseret menuju ruang kerjanya yang memiliki bilik seperti kamar yang ia sering gunakan untuk beristirahat.

Alan menghempaskan tubuh Luna ke matras tipis itu. Pintu besi yang tebal tertutup rapat, mengisolasi mereka berdua dalam ruangan bersuhu dingin dengan gema suara napas Alan yang memburu.

"Apa yang kamu lakukan di sini, Luna?!" bentak Alan. Matanya menyala penuh amarah dan frustrasi. Ego dan kontrol dirinya yang biasanya setipis baja kini hancur lelah.

"Aku sudah bilang pagi tadi, jangan pernah campuri urusanku di rumah sakit! Kenapa kamu malah menemui Maya?!"

Luna mengusap pergelangan tangannya yang memerah. Rasa takut yang selama ini mengungkungnya mendadak terbakar oleh rasa sakit hati dan cemburu yang teramat sangat.

Pria di hadapannya ini tidak pernah menanyakan perasaannya, namun kini membentaknya seolah Luna telah melakukan kejahatan besar.

"Kenapa Mas marah?" tanya Luna. Suaranya bergetar, namun matanya menatap Alan dengan penuh keberanian yang tak pernah Alan lihat sebelumnya.

"Mas takut aku tahu rahasia kalian?! Mas takut keberadaanku mengganggu hubungan Mas dengan Dokter Maya?!"

"Jaga bicaramu, Luna!" potong Alan dengan rahang mengeras.

"Tidak ada rahasia apa pun antara aku dan Maya!"

Air mata Luna akhirnya meluncur bebas membasahi pipinya.

"Mas memperlakukan aku dengan kasar di tempat tidur semalam hanya untuk melampiaskan emosi Mas padanya, kan?!"

Kata-kata Luna menampar kesadaran Alan seperti pukulan fisik yang telak. Pupil mata Alan membesar seketika. Pria tiga puluh tahun itu membeku. Jadi... Luna melihat pesan itu? Luna pasti salah paham.

"Luna, itu..."

"Aku cuma tempat pelampiasan nafsu Mas Alan!" tangis Luna makin pecah, dada mungilnya naik turun secara dramatis.

"Mas nggak pernah anggap aku istri! Mas malu punya istri seperti aku yang cuma anak sembilan belas tahun penurut! Mas cuma mau tubuhku, tapi hati Mas buat wanita lain!"

Luna mendorong dada bidang Alan dengan seluruh tenaganya, berusaha menerobos keluar dari kungkungan pria itu.

"Lepaskan aku! Aku benci Mas Alan! Aku mau pulang!"

Dada Alan bergemuruh hebat. Mendengar kata benci dan melihat tatapan hampa yang bercampur air mata di wajah istrinya membuat seolah ada sesuatu yang pecah di dalam diri Alan. Rasa takut kehilangan yang asing dan sangat liar mendadak menguasai pikirannya.

"Tidak. Kamu tidak boleh pergi!" pangkas Alan gelap.

Sebelum Luna sempat melangkah lagi, Alan merengkuh pinggang sempit Luna dengan kasar, menarik tubuh mungil itu menempel rapat pada tubuh tegapnya. Tangan Alan yang lain mencengkeram tengkuk Luna, mengunci pergerakan kepala gadis itu.

"Mas, lepas..."

Protes Luna terputus seketika saat bibir Alan menyambar bibirnya secara brutal. Bukan ciuman lembut yang menenangkan, melainkan ciuman yang dipenuhi dominasi, tuntutan, rasa cemburu, dan keputusasaan yang membakar.

Alan melumat bibir lembut istrinya tanpa ampun, menyerap rasa asin dari air mata Luna yang mengalir di sela-sela penyatuan mereka.

Luna berusaha memberontak. Luna memukul dada bidang Alan dengan tinju kecilnya. Namun Alan justru makin mempererat kungkungannya.

Alan mengurung tubuh gadis itu di antara dinding tangga darurat dan dada tegapnya yang naik turun teratur. Lidah Alan menerobos masuk secara paksa, menguasai rongga mulut Luna, menuntut kepatuhan mutlak dan menegaskan kepemilikannya yang tak tertandingi. Alan ingin membuktikan melalui ciuman gila ini.

"Mas lepas!"

"Aku tidak akan melepaskanmu jika kamu tidak menurut padaku!"

"Kamu perlu bukti apa lagi? Ayo kita lakukan jika kamu masih butuh bukti soal pernikahan ini."

Luna ketakutan dengan tatapan dan ancaman dari Alan. Dengan emosi yang tinggi seperti ini pasti akan akan melakukannya dengan kasar.

"Baiklah aku menurut. Aku akan pulang. Aku minta maaf tadi tidak berfikir panjang."

"Aku ada operasi. Tunggu aku kembali sebentar lagi. Aku akan mengantarmu. Ada hal yang harus kita lanjutkan."

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Bukan Pemuas Nafsu Dokter   bab 7

    "Lihat saja, hanya karena panggilan darurat dari rumah sakit, bisa membuat dia kalang kabut seperti itu." gumam Luna pelan pada dirinya sendiri. Keheningan yang dingin seketika menyelimuti rumah mewah yang mendadak sepi itu. Luna berdiri mematung di ruang tengah, menatap pintu depan yang masih terbuka sedikit. Pandangannya lalu jatuh pada tumpukan kertas yang berserakan di atas lantai kayu, berkas yang tak sengaja tersenggol oleh sambaran kunci mobil Alan. Dengan langkah pelan, Luna mendekat dan berlutut memunguti lembaran dokumen berstempel resmi rumah sakit tempat suaminya bekerja. Namun, jemarinya membeku saat matanya menangkap judul berhuruf tebal di lembar utama: Surat Perjanjian Medis & Hak Asuh Hukum Wasiat Kakek. Napas Luna tertahan. Ia membaca baris demi baris kalimat hukum di lembar pertama dengan bibir gemetar. "D-diagnosis penyakit genetik ...?" bisik Luna parau. "Penyerahan hak keputusan medis penuh kepada Alan Raditya ...?" Luna membaca dokumen itu dengan nyaring

  • Bukan Pemuas Nafsu Dokter   Bab 6

    "Foto itu..." Suara Luna gemetar, memandangi foto masa kecilnya sedang di pegang oleh Alan. Alan tersentak hebat. Ia dengan cepat menoleh ke arah pintu ruang kerjanya yang sedikit terbuka. Di ambang pintu, berdiri Luna dengan gaun tidur tipisnya, memeluk kedua tangannya di dada. Wajah gadis itu pucat, dan matanya membelalak lebar saat pandangannya terkunci pada foto berukuran sedang yang dipegang Alan. Mata jernih Luna beralih dari foto tua di tangan suaminya, lalu turun ke arah kotak kayu ukir terbuka di atas meja. Air matanya mendadak merebak kembali tanpa bisa ditahan. "Kenapa... kenapa foto masa kecilku ada di tangan Mas Alan?" bisik Luna parau. Darah Alan mendadak terasa berhenti mengalir. Pria tiga puluh tahun itu berdiri secara refleks, menyembunyikan foto tersebut di balik punggungnya dengan raut panik yang tak pernah Luna lihat sebelumnya. "Luna... kenapa belum tidur?" suara Alan terdengar bergetar tipis, berusaha menguasai suaranya. Luna tidak menjawab. Langk

  • Bukan Pemuas Nafsu Dokter   bab 5

    "Uuuuuhhhh..." desahan lolos begitu saja dari bibir manis Luna.Alan bergerak semakin cepat. Memperdalam hujamannya. Seolah melalui penyatuan fisik yang kasar ini, Alan berusaha mengikis semua kata benci dan niat pergi dari pikiran istrinya.Luna hanya bisa memejamkan mata rapat-rapat. menahan desahan yang pecah di antara isak tangis samar dan kepasrahan yang teramat dalam. Tubuhnya bergoyang mengikuti irama menuntut dari sang suami. Luna terbakar oleh gelombang pelepasan yang dipaksakan Alan padanya.Puncak gejolak itu menghantam mereka setelah belasan menit dalam tempo yang semakin menggila. Alan mempercepat temponya, menekan tubuh Luna sedalam mungkin sebelum menggeram keras saat pelepasannya tuntas di dalam rahim sang istri.Keheningan kembali menguasai kabin mobil.Alan masih berbaring di atas tubuh Luna dengan dada tegap yang masih memburu. Bulir keringat membasahi dahi dan lehernya. Pria itu perlahan menarik tubuhnya. Alan merapikan pakaian Luna dengan gerakan yang anehnya men

  • Bukan Pemuas Nafsu Dokter   bab 4

    Klik "Ada hal yang harus kita lanjutkan." ucapan Alan terus terbayang di ingatannya. Luna tahu persis apa artinya itu. Alan tidak akan bersikap lembut malam ini. Alan pasti masih menyimpan emosinya tadi. Luna yang masih gemetar berlari kecil menuju pintu kayu tebal tersebut. Jemari lentiknya menarik handle pintu dan memutarnya berulang kali. Luna mendorong pintu itu dengan seluruh tenaga. Namun pintu itu tetap kokoh tak berkutik. Pengunci elektronik di bagian luar memerlukan akses kartu spesialis atau bisa juga dengan sidik jari milik Alan. "Tolong... buka..." cicit Luna ketakutan dari dalam ruangan itu. Tidak ada jawaban yang Luna peroleh. Ruangan itu didesain khusus agar tidak menimbulkan suara dari luar. Ia mencoba mencari celah lain. Jendela di ruangan itu dilapisi kaca tebal kedap suara yang menghadap ke arah koridor tertutup. Tidak ada jalan keluar. Selama hampir satu jam, Luna terkurung dalam kesendirian yang mencekik. Ia terduduk di sudut ruangan, memeluk kedua lutu

  • Bukan Pemuas Nafsu Dokter   bab 3

    "Sungguh menarik! Wanita kecil ini ternyata berani kesini." Maya membaca nama yang tertera di layar komputer Ny. Luna. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang sangat tipis.Maya mengenali wajah ini. Sangat mengenalnya. Sebagai wanita yang bertahun-tahun menaruh rasa dan terobsesi pada Alan Raditya. Maya telah menggali setiap detail kehidupan dokter bedah dingin itu. Ia tahu tentang latar belakang keluarga Alan.Tidak terkecuali fakta menyakitkan bahwa Alan telah menikahi seorang gadis sembilan belas tahun secara diam-diam akibat wasiat keluarga beberapa bulan lalu."Ny. Luna..." panggil Maya dengan nada suara manis yang dibuat-buat. Ia meletakkan pulpennya dan menyandarkan tubuhnya di kursi kebesarannya."Atau... harus saya panggil dengan nama lengkapmu, Luna Aurora? Istri dari dr. Alan Raditya?"Langkah Luna mendadak terkunci di tengah ruangan. Jantungnya berdesir hebat. Keberanian nekat yang dibawanya sejak dari ruma

  • Bukan Pemuas Nafsu Dokter   bab 2

    "Boleh aku ikut ke rumah sakit hari ini, Mas? Aku mau berkenalan dengan rekan dokter yang lain, terlebih lagi Dokter Maya."Suara Luna mengalun begitu bening. Ia meletakkan secangkir kopi hitam yang masih berasap di hadapan Alan dengan gerakan sangat tenang. Bibirnya menyunggingkan senyum tipis lengkap dengan binar polos di mata jernihnya.Alan yang sedang merapikan lengan kemejanya mendadak menghentikan pergerakan jemarinya. Pria tiga puluh tahun itu mendongak, memicingkan mata tajamnya ke arah sang istri.Semalam ia melampiaskan seluruh ketegangan dan rasa lelahnya pada tubuh mungil ini tanpa ampun. Ia mengeksekusi haknya sebagai suami dengan dominasi tinggi di kamar mandi. Ia menuntut kepatuhan Luna tanpa memberikan ruang sedikit pun untuk bernegosiasi. Biasanya, setelah perlakuan semacam itu. Luna akan bersikap canggung, malu-malu, atau bahkan tidak berani berbicara padanya.Namun pagi ini, wanita sembilan belas tahun di hadapannya justru tampil sempurna.

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status