LOGINPak Jatmiko menyerahkan lembaran kertas berisi rekam jejak para karyawan yang baru saja di-PHK oleh Clarissa. Garis-garis tegas di wajah pria paruh baya itu memperlihatkan kekecewaan yang tak lagi bisa disembunyikan. Setelah memeriksa setiap detail pelanggaran dan kinerja mereka, Pak Jatmiko akhirnya menghela napas berat. Ia menyadari sepenuhnya bahwa kali ini ia tidak bisa lagi membela mereka. Mereka memang layak untuk dikeluarkan."Lain kali, kalau kamu mau memecat orang, bilang dulu sama Papa," ujar Pak Jatmiko dengan suara berat namun tenang. "Bukan untuk menghalangi keputusanmu, tapi sebagai bentuk rasa hormatmu pada Papa sebagai seorang ayah. Itu saja."Mendengar penuturan itu, dada Larasati justru makin bergemuruh oleh rasa kesal. Tanpa menyahut sepatah kata pun, ia berbalik dan melangkah pergi menyusuri koridor bersama Pak Jatmiko, membiarkan keheningan yang dingin membungkus langkah mereka.Clarissa akhirnya bernapas lega karena tak harus menghadapi konfrontasi panjang dengan
Clarissa melihat perbincangan di meja makan mendadak terhenti begitu ia melangkah masuk. Semua mata menatapnya dingin. Ia sudah terbiasa dengan atmosfer seperti ini, tetapi kali ini tekanannya terasa lebih membakar.Hanya suara denting alat makan yang beradu dengan piring mengisi keheningan. Semua orang sudah berkumpul. Satu per satu dari mereka mulai mengosongkan piring, kecuali Clarissa yang hanya mengambil sedikit salad. Tadi siang ia sudah makan banyak bersama Pak Budiharjo."Clarissa, kamu tahu apa yang sudah kamu lakukan?" tanya Pak Jatmiko dengan tatapan tajam.Larasati menyipitkan mata, sementara yang lain menunggu kelanjutan kalimat dari kepala keluarga tersebut."Aku tahu. Tentang mutasi yang aku lakukan, kan? Apa ada yang salah?" tanya Clarissa balik, melirik ibu tirinya dengan senyum tipis.Larasati tersentak. Mirella tampak penasaran sejak mengalami morning sickness beberapa minggu terakhir, ia memang lebih banyak beristirahat di kamar. Sementara itu, Bertrand dan Kevin s
Clarissa membaca pesan Mahesa."Kemungkinan aku butuh tambahan waktu. Aku lanjut ke kota B. Ternyata tak sesimpel yang kukira. Ini ada kaitannya dengan cabang di kota B juga. Mungkin seminggu lagi aku akan pulang." Clarissa mendesah. Sekomplek itu rupanya. Ia harus lebih sabar menahan kerinduan yang tak ia pungkiri kian membuncah di rongga dadanya. Ragu sejenak sebelum akhirnya Clarissa membalas pesan Mahesa."Hati-hati di sana," tulisnya singkat. Pesan tidak langsung di balas. Ada jeda beberapa detik dan balasan Mahesa pun masuk. Clarissa segera membacanya."Kamu juga, Jaga dirimu baik-baik."Dada Clarissa tak urung langsung terasa menghangat. Ia pun membuka galerinya. Di sana ia menyimpan foto Mahesa bersama untuk surat nikah dulu. Sebentuk senyum kecil terbentuk di bibirnya.Ada semangat yang kembali menyala, membuatnya segera bangkit dan berangkat untuk menemui Pak Budiharjo. Tak sampai setengah jam kemudian Clarissa sudah duduk berhadapan dengan Pak Bidiharjo di sebuah meja le
Wajah Mahesa muncul dalam layar ponsel Clarissa. “Hai,” sapa pria itu sedikit canggung. “Mahesa, kamu mengejutkanku,” kata Clarissa melihat pria itu tampak lebih hitam dari awal berangkat. Wajahnya juga terlihat sedikit lelah. “Apa semua baik-baik saja?” tanya Mahesa dengan wajah ramah. Tatapanya dalam membuat dada Clarissa berdesir halus, Clarissa menjadi familiar dengan debar aneh ini. “Ya, semuanya lancar. Bagaimana keadaan di sana?” tanya Clarissa mengusap rambutnya menagatasi rasa canggung. “Aku akan menceritakan semuanya ketika pulag nanti. Baik-baik Clarissa. Jangan mabuk lagi alasan apapun itu. Kamu nggak kuat minum,” Sebentuk senyum kecil muncul di sudut bibir Mahesa. Wajah Clarissa langsung memanas. Ingatannya tentang kejadian itu berputar lagi di kepalanya. Spontan ia menundukkan kepalanya. Lama dalam hening sampai Mahesa memutuskan untuk memutuskan panggilan video call mereka. “Sudah dulu ya. Kamu pasti lelah baru pulang kerja. Jangan lupa minum susu jahe. Min
Mahesa membeku seketika. Untuk beberapa detik bibir mereka bertemu sampai Mahesa melihat bulir bening di sudut mata Clarissa. Ia pun menarik dirinya dan menghapus air mata Clarissa. “Ica sayang, kamu butuh istirahat,” ujarnya dengan suara serak. Ia pun memeluk gadis itu dan mengusap punggungnya perlahan. Clarissa memejamkan matanya tampak nyaman. Dengan hati-hati Mahesa membaringkan Clarissa di atas ranjangnya. Malam itu Mahesa tetap mendekap Clarissa sampai gadis itu benar-benar terlelap. ******* Keesokan harinya, Clarissa terbangaun dengan kepala pusing luar biasa. Matanya mengerjap ketika menangkap sinar matahari yang masuk melalui kaca jendela kamar. Ia menggeleng pelan, melihat jam di dinding menunjukkan pukul 9 pagi. Dia sudah kesiangan hari ini. Untungnya ini hari minggu. Samar-samar ia mulai mengingat semua yang terjadi tadi malam. Ia bangun dan duduk, saat ingatannya memutar ulang adegan dirinya mencium Mahesa, ia memukul guling di sampingnya berulang kali. Kenapa ia
“Menemani?” tanya Mahesa menggantung di udara. Clarissa mengangguk mantap. “Lusa ada acara gala dinner pameran untuk donasi. Kita keluarga Sudjana biasanya selalu datang. Aku ingin kali ini kamu menemaniku untuk menghadirinya,” terang Clarissa. “Ya, aku akan menemanimu,” jawab Mahesa sedikit ragu. Ia tidak pernah mengikuti acara para orang kaya. Clarissa tahu keraguan Mahesa. “Biasanya aku hadir mendampingi kakek,” ucap Clarissa tersendat. Raut wajahnya terlihat sedih. Mahesa mengangguk menyanggupi tanpa banyak kata. ******** Lampu kristal ballroom galeri seni malam itu berpijar megah, memantulkan kemewahan dari aneka karya lukis yang dipajang di seluruh dinding Galeri seni. Clarissa berdiri dengan setelan blazer gelapnya. Ekspresinya dingin, serius. Ia terlihat canggung bergandengan dengan Mahesa. Sesekali ia mengangguk memaksakan senyum kecil ketika para tamu lain menyapanya. Mahesa mencoba untuk tetap tenang dan santai menyesuaikan suasana yang baru ia rasakan.







