로그인Wati rela dimadu saat suaminya--Dedy--dilamar oleh Rara, bos tempat pria itu berkerja. Diiming-imingi kehidupan yang lebih baik, ternyata Dedy justru membiarkan Rara menjadikan Wati sebagai babu. Bagaimana aksi Wati membalas perlakuan suami dan madunya? Apalagi, Wati baru tahu bahwa keluarga kandungnya sedang mencari Wati. Dan, mereka kaya raya :)
더 보기**Raina's POV**
Heavy breathing reached my ears as Silas moved on top of me like someone who’s possessed by the demon of lust.
I clenched my hands into fists, catching my breath as I forced down the bile that rose to my throat.
If I threw up now, I would just get a beating and have wounds to nurse for days.
Unlike most werewolves, I didn’t have the ability to heal faster. So, I didn’t like getting hit or injured. Silas could be brutal when angry, and I didn't want to provoke him.
He groaned and released inside me before pulling out of me and getting to his feet. And then his face morphed into a look of disgust.
“Fuck… every time I finish, I come to my senses. Why the hell was I fucking someone like you?” He hissed, gritting his teeth.
My stomach churned.
Why was he fucking me? Even I didn’t have the answer to that question. He always had, from the time I became an adult and was sent to the packhouse to live as a maid, even though I wasn’t an omega.
My wolf was just weak. But I was born to Beta parents.
Silas always looked at me with disgust, calling me fat and ugly, but he lusted after the same body he looked down on.
I didn’t understand him at all…
I placed an arm over my chest in a futile attempt to hide my breasts and cupped my core with the other. I couldn’t stand the look of disgust on his face.
He just slept with me, but he looked at me like I was some filthy pig.
It stung… the prickling-like sensations made my heart feel like it was being pierced with long, sharp needles.
Yes… I had a crush on Silas, the Alpha of the Whitecrest Pack. I thought that maybe if I did as he wanted, he would fall in love with me and make me his Luna.
But he constantly just kept lusting over my body and treated me like trash both in private and publicly.
Guess the joke’s on me…
He would never make me his Luna… my half-sister, Gwen, was a better match for him. She was the typical bombshell- blonde with striking green eyes and a slender figure with just the right amount of curves.
Whereas you wouldn’t feel my hipbones if you grabbed my hips… I had lush breasts that bounced as I moved and a tummy pooch.
I wasn’t beautiful according to werewolf standards.
So, I couldn’t even dream of being Silas’ chosen mate. I should be grateful he could even sleep with me…
I felt my wolf growl in my mind in disapproval, but I ignored her… she wasn’t human, so she wouldn’t understand how insecure my body made me feel.
A sigh escaped my lips as I dressed up in my usual baggy clothes- a large grey tee and loose black pants. When I was done, I made for the door, but Silas suddenly growled.
“What are you doing?” He questioned.
I turned to glance at him, confused. Wasn’t he done?
His eyes fell on the old vanity table. “Aren’t you forgetting something?”
My eyes fell on the small white bowl that had a green liquid, and I wrinkled my nose.
“Can I not take that? I can only get pregnant if I have my heat–”
“Are you fucking kidding me?” Silas furrowed his eyebrows. “I will not take any chances. Are you trying to get pregnant and trap me with a kid? Drink that concoction… only my Luna can have my pup.”
I felt like someone was stabbing me in the gut multiple times.
Silas knew what would happen if I took that concoction for a long time. It was a mixture of very strong herbs that prevented pregnancy, and to make it more effective, it was laced with a small amount of wolfsbane. It’s said to cause infertility in werewolves if used for a long time, and I had been using it ever since Silas took my first time.
I may have no hope of being his Luna, but I wanted to have my own children at some point. After all, I couldn’t be alone forever.
Silas must have seen something on my face because the air around him suddenly turned cold. He stomped towards the vanity table and grabbed the white bowl.
And then, he was in front of me in seconds, holding my jaw tightly, forcing my mouth open.
“Ugh…” I groaned from the pain in my jaw. If he tightened his grip even just a little bit, my jaw would snap in two.
Silas glared at me like I was his greatest enemy. Like the very sight of me disgusted the hell out of him.
His cruel look sent stings of pain through my heart.
Did he hate me that much?
“I said drink this shit,” he growled, forcing the horrible liquid down my throat.
Not only did it taste bad, but it smelled like shit.
Was this poison disguised as a contraceptive meant for people to consume?
I gagged, some of the liquid spilling out of my mouth and Silas grabbed my jaw tightly, tilting my head up.
“You better not waste anything. I don’t want you passing those ugly genes to my offspring,” he said ruthlessly.
I couldn’t hold my breath for too long and since he was pouring the liquid relentlessly down my throat, I ended up swallowing it.
When he was done, he let go of me like I was a disease while I coughed violently, but it was too late.
I had already swallowed everything and immediately, I felt like my insides were burning. Like someone had made me swallow a piece of hot coal and it was wrecking my insides.
Silas nodded in satisfaction. “We are hosting the hunting games today. A lot of important guests will be in our pack today. Don’t show your ugly face… don’t embarrass our pack for having such an ugly ass she-wolf.”
AKP Helmi dan polisi lainnya melangkah dengan hati-hati di sepanjang lorong sempit palka kapal yang gelap. Cahaya remang-remang dari senter yang mereka bawa menciptakan bayangan-bayangan yang menyeramkan di sekitar mereka. Suara langkah mereka bergema di dinding kapal yang berkarat, menciptakan suasana horor yang meningkatkan adrenalin.AKP Helmi memasuki palka kapal dengan hati-hati, bersama beberapa polisi lainnya. Lalu mereka melihatnya. Dedy terlihat lemah dan kesakitan, duduk di lantai palka kapal dengan tangan memegangi kepalanya yang berdarah. Tatapan mata AKP Helmi penuh dengan tekad, menunjukkan bahwa ia tidak akan membiarkan Dedy melarikan diri lagi. Polisi lainnya dengan sigap mengelilingi Dedy, siap untuk merespons apapun yang ia lakukan.“Dedy, akhirnya kami menemukanmu! Jangan bergerak atau melakukan hal bodoh!” AKP Helmi mengacungkan senjatanya. Saat AKP Helmi mendekati Dedy, wajahnya penuh dengan ketegasan.Dedy mengepalkan tangan dengan ekspresi wajah dipenuh rasa sak
"Pak Byzan, bisa berikan informasi detail mengenai kepergian Dedy. Ke mana dia pergi?" ulang AKP Helmi dengan nada suara lebih tenang."Ya, Pak. Dia pergi ke arah laut. Saya yakin. Bunyi kakinya menjauh ke arah bunyi deburan ombak di kejauhan." Byzan memejamkan mata saat memberikan keterangan, seolah-olah tengah menghadirkan kembali masa-masa ia bergulat dengan Dedy."Baik, terima kasih atas informasinya. Akan segera kami kejar dia." AKP Helmi mengangguk puas, lalu berpamitan kepada Shelia dan Byzan.Setelah mendapatkan keterangan dari Byzan, AKP Helmi segera mengumpulkan anak buahnya. Ia memberi perintah, "Segera kirim patroli ke sekitar pantai dan cari tahu keberadaan target kita. Kalau menemukannya, segera tangkap kalau perlu dengan paksaan.""Siap!" Anak-anak buah AKP Helmi menjawab serempak.Regu polisi yang dipimpin oleh AKP Helmi segera bergerak setelah mendapatkan informasi bahwa Dedy pergi ke arah laut. Mereka tiba di sebuah pantai yang luas, dengan pasir putih yang halus dan
Byzan mengerang saat berusaha untuk bangun.“Saya bantu, Pak.” Salah seorang pengawal berkata. Gesit sekali ia menghampiri Byzan dan berusaha memapah. Pengawal yang lain mengikuti jejak rekannya.Byzan dipapah oleh kedua pengawal. Mereka mengangkat dan membawanya ke tempat yang lebih aman.“Lebih baik kita lapor polisi saja, Pak.” Pak Arya kembali angkat bicara. Wajahnya terlihat ketakutan dan dipenuhi dengan kecemasan.“Betul juga. Kalau Dedy kita temukan, bisa langsung diringkus oleh polisi,” sahut Shelia.Akhirnya, diambil keputusan bersama bahwa mereka tidak jadi mencari tempat Dedy terlihat terakhir kali. Mereka langsung membawa Byzan ke mobil.“Kita langsung ke rumah sakit saja, Pak,” kata Shelia kepada Pak Arya yang menjadi sopir.“Siap, Non!” jawab Pak Arya sigap.Pak Arya melajukan mobilnya dengan cukup cepat. Seolah-olah, keluarganya sendiri yang sakit dan memerlukan pertolongan secepatnya.Di dalam perjalanan menuju rumah sakit, Shelia sibuk mengabari kedua orang tuanya ten
Shelia berlari ke arah yang belum pernah dilewatinya sebelumnya di pantai itu. Dia merasakan adrenalin memacu hatinya ketika ia menyusuri tepi pantai yang masih jarang dilalui orang. Angin pantai meniup anak rambutnya, sebagian rambut berkibar menutupi pipinya.“Tunggu, Non!” teriak Pak Arya dari belakang, tetapi Shelia tak menghiraukan seruan Pak Arya sama sekali. Kedua pengawal Shelia pun terus mengikuti Shelia tanpa kata.Akhirnya, Shelia sampai di daerah di mana pasir bergunduk-gunduk dan terdapat sebuah gua di kejauhan. Gundukan pasir itu sedikit menghalangi pandangan Shelia dari gua di kejauhan, tetapi ke sanalah Shelia menuju. Ada sebuah desakan kuat yang menyuruhnya untuk mendekati gua itu. Semacam kata hati, atau sesuatu yang memanggil-manggil dirinya untuk melangkah terus ke sana.“Jangan ke sana, Non! Biarkan kami yang ke sana lebih dulu!” teriak Pak Arya lagi.Akan tetapi, Shelia terus tidak menghiraukan Pak Arya. Shelia mendekati gua itu. Tiba-tiba, hatinya tercekat ketik
Wati memang sengaja tidak melawan saat Rara menjambak rambutnya tadi. Wati bermaksud bermain halus. Ia tak akan terang-terangan memperlihatkan sikap memusuhi dan melawan Rara. Ia akan tetap bersikap sebagai madu yang tidak berdaya, sementara Wati menyusun rencana untuk menghancurkan Rara di belakan
Angkot yang ditumpangi Wati lama berhenti dan diam di beberapa tempat untuk menunggu penumpang penuh. Hati Wati menjadi gelisah.“Pak, cepat jalan, Pak,” pinta Wati kepada supir angkot.“Sebentar, Mbak. Tunggu penuh dulu,” tolak supir angkot.Wati semakin murung. Matahari semakin meluncur turun ke
“Aku ingin memberi pelajaran dulu kepada Rara dan Mas Dedy, Bu. Mereka sudah memperlakukanku dengan sangat buruk seperti budak. Aku ingin membalas perlakuan mereka.” Penjelasan Wati membuat Bu Nara ternganga. Kemudian, perlahan-lahan raut wajah Bu Nara berubah dan bibirnya membentuk senyuman. “K
“Seminggu yang lalu. Ibu sampai bingung, karena kamu kan enggak punya ponsel. Setelah menikah juga kamu baru sekali datang kemari. Ibu sih ingat alamat rumahmu yang dulu, tetapi saat kami datangi ternyata kamu sudah tidak tinggal di situ lagi,” oceh Bu Nara.“Iya, Bu. Saya pindah ke rumah yang lain






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
리뷰