Share

Bab 28. Mabuk

Author: dwi23end
last update publish date: 2026-09-02 12:37:57
“Clarissa jangan kau tampar aku. Aku terpaksa melakukannya,” ujar Mahesa dengan tatapan waspada.

“Tentu saja kalau aku ingin menamparmu tentu tidak di sini,” sahut Clarissa ketus.

Mahesa tersenyum.

“Aku sudah melakukan yang terbaik. Bukannya mendapat tambahan gaji malah akan dapat tamparan. Sudahlah Clarissa. Relakan saja. Ayo kita makan malam bersama para tamu,” ajak Mahesa.

Clarissa hanya mendengus. Bagaimana ia bisa ikhlas. Ia hanya mengenal ciuman dahi dan juga tempel bibir. Ini pria sud
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Suami Bayaran, Suami Tersayang   Bab 31. Jalan-Jalan

    Pak Jatmiko merasakan dadanya sesak. Rasa sakit hati karena dilompati oleh anaknya sendiri membakar harga dirinya. Namun, jemarinya di dalam saku jas menyentuh pinggiran surat wasiat rahasia ayahnya. Surat yang mengingatkan betapa bobroknya cara mengelola divisi selama ini hingga hampir membuat perusahaan kolaps—hal yang hanya diketahui oleh sang Kakek.​Pak Jatmiko perlahan berdiri. Matanya menyapu semua orang di ruangan. Sekilas pada Mahesa yang duduk diam mengamati lalu menatap Clarissa yang menanti keputusannya tanpa rasa takut.​"Jatmiko, pilih dirimu sendiri!" seru Paman Darko.​Pak Jatmiko menghela napas panjang. Dahinya berkeringat. Larasati memijat lengannya dengan perasaan was-was. ​"Saya... sebagai Kepala Divisi Operasional dan pemilik 10 persen saham..." suara Pak Jatmiko bergetar, lalu berhenti sejenak. "Memberikan seluruh 10% suara saya... untuk mendukung Clarissa sebagai Direktur Utama.""Mas Jatmiko!!" seru Larasati menghentikan pijatannya. Matanya langsung berkaca-ka

  • Suami Bayaran, Suami Tersayang   Bab 30. Panik

    Clarissa meletakkan ponselnya seperti menyesal. Kenapa ia harus menelpon Mahesa. Harusnya ia bisa mengatasi kecemasannya sendiri. Ia tidak boleh terlihat rapuh. Ia melangkah pelan dan duduk di sofa. Ia mulai mengatur napasnya secara perlahan dan mulai melakukan meditasi singkat. Perlahan irama jantungnya yang tadi sempat berdetak lebh cepat kini mulai stabil. Mahesa muncul di ambang pintu yang terbuka. Langkahnya tergesa dan tatapannya terlihat was-was. Ia langsung menghampiri Clarissa begitu ia melihatnya. "Ica, ada apa? Sepertinya ada yang tejadi. Kamu tadi menyuruhku segera pulang. Nada bicaramu terdengar tidak seperti biasanya," kata Mahesa dengan mata mengamati Clarissa secara keseluruhan dan kemudian mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan seolah mencari sesuatu yang berbahaya. Perasaan Clarissa yang tadinya sudah tenang melihat Mahesa yang berdiri menatapnya dengan cemas membuat hatinya nyaris runtuh. Air matanya yang tadinya sempat terhenti mendadak ingin menyembul keluar.

  • Suami Bayaran, Suami Tersayang   Bab 29. Jarak

    “Iya, kamu menceritakan tentang kepergian Bi Sarti. Maaf kalau aku kurang peka. Aku turut berduka cita,” seru Clarissa tulus. “Terima kasih. Lain kali kamu tidak perlu juga bersimpati. Ini adalah kehidupan pribadiku. Aku tidak tahu sejauh mana kamu pernah menyelidiki latar belakangku dan kehidupan pribadiku. Selanjutnya hubungan kita sebatas nikah kontrak. Aku punya privasi dan kamu sudah tahu itu.” Mahesa menatap Clarissa dingin dan berlalu begitu saja dari hadapan Clarissa. Clarissa tertegun sejenak. Perubahan sikap Mahesa begitu terlihat. Hilang sudah kesan suami hangat tadi malam dalam sandiwara mereka. Yang tinggal kini hanyalah dua orang asing yang terpaksa ada dalam satu tempat hanya karena selembar surat perjanjian. Clarissa perlahan berbalik dan masuk ke kamar menyusul Mahesa.“Ayo kita sarapan,” ajak Mahesa tanpa menoleh. Di hadapannya sudah ada menu makan pagi dari hotel. Clarissa hanya mengangguk. Ia pun duduk berhadapan dengan Mahesa. Mereka menikmati sarapan nyaris ta

  • Suami Bayaran, Suami Tersayang   Bab 28. Mabuk

    “Clarissa jangan kau tampar aku. Aku terpaksa melakukannya,” ujar Mahesa dengan tatapan waspada. “Tentu saja kalau aku ingin menamparmu tentu tidak di sini,” sahut Clarissa ketus. Mahesa tersenyum. “Aku sudah melakukan yang terbaik. Bukannya mendapat tambahan gaji malah akan dapat tamparan. Sudahlah Clarissa. Relakan saja. Ayo kita makan malam bersama para tamu,” ajak Mahesa. Clarissa hanya mendengus. Bagaimana ia bisa ikhlas. Ia hanya mengenal ciuman dahi dan juga tempel bibir. Ini pria sudah mengenalkannya ciuman yang lebih dalam dalam situasi seperti in lagi. Clarissa mulai berpikiran kalau Mahesa mulai memanfaatkan situasi. Makan malam berlangsung penuh kemeriahan. Suara denting piring dan alat makan bercampur dengan obrolan penuh keakraban sekaligus sindiran khas kelas atas.Musik mulai menghentak lebih keras ketika hidangan makan malam telah diangkat. Makanan penutup disajikan. Para tamu kembali asyik mengobrol. Mahesa kini mengobrol dengan salah satu komisaris Sudjana Grup.

  • Suami Bayaran, Suami Tersayang   Bab 27. Ciuman di tengah Resepsi

    Clarissa tertegun dengan apa yang Mahesa keluarkan dari tas punggungnya. Pria itu mengeluarkan sepasang cincin. Ia sedikit ragu apakah bisa menikah kontrak memakai cincin. Tentu saja dalam pernikahan normal semua juga memakai cincin. Mungkin Mahesa hanya ingin totalitas dalam sandiwaranya. “Kita perlu ini. Untuk sandiwara kita,” ucap Mahesa memberikan isyarat agar Clarissa mengulurkan tangannya. Clarissa masih terdiam berpikir. Mahesa langsung meraih tangannya.“Mungkin cincin ini teramat sederhana buatmu, tapi setidaknya aku masih ingat betapa pentingnya cincin ini di mata para tamu nanti.” Mahesa pun memakaikan cincin itu di jari manis Clarissa. Dan ia juga memakaikan satunya untuk dirinya sendiri. Clarissa menatap cincin sederhana berwarna silver yang kini melingkar cantik di jari manisnya. Dingin, namun terasa begitu berat oleh beban sandiwara yang harus ia jalani."Nah, ayo kita pergi sekarang," ujar Mahesa seraya meraih jemari Clarissa, menyatukannya dalam satu genggaman yang

  • Suami Bayaran, Suami Tersayang   Bab 26. Dia Terlambat

    “Apa yang terjadi semalam sampai kamu mendadak pergi setelah bertelepon?”“Bukankah kau sudah menjawabnya sendiri tadi pada ibu tirimu kalau kerabatku ada yang masuk IGD?” Mahesa membalikkan pertanyaan Clarissa.Clarissa mencebik. “Aku hanya ingin mendengar kamu sendiri yang mengatakannya. Bagaimana kalau saat kamu tiba-tiba pergi gitu aja, aku masih membutuhkanmu?”Mahesa kini menatap Clarissa serius. “Bukankah di dalam perjanjian pernikahan, kamu tidak boleh melibatkan keluargaku dan harus menjaga privasiku?”Clarissa pun segera bangkit. “Kamu di sini tidak punya keluarga. Lantas siapa perempuan bernama Linea itu? Ah, sudahlah. Aku mau tidur saja.”Mata Mahesa melebar mendengar ucapan Clarissa. “Kau menyelidikiku?”“Kamu pikir aku akan langsung menikahimu tanpa tahu latar belakangmu?” ujar Clarissa seraya membaringkan tubuh dan menarik selimutnya.Mahesa menahan napas. Harusnya ia sudah menduganya. Cukup sekali telpon, apa yang tidak buat Clarissa untuk mendapatkan informasi yang ia

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status