author-banner
Aisyah Ais
Aisyah Ais
Author

Novels by Aisyah Ais

Mengapa Aku Anak Pelakor?

Mengapa Aku Anak Pelakor?

Orang-orang selalu menyebutku anak pelakor. Sedih, kesal, marah, tapi itulah kenyataannya. Bahkan aku selalu ditolak calon mertua karena cap anak pelakor itu. Yang lebih menyakitkan lagi, laki-laki yang selalu aku kagumi dan yang dulu selalu melindungiku, malah membenciku karena ibuku lah yang merusak rumah tangga orang tuanya.
Read
Chapter: Masih Seperti Dulu
Entah kenapa hidupku begitu rumit. Jika aku bisa memilih, aku juga tidak ingin semua ini terjadi. Aku ingin menjadi Nadira yang disayangi semua orang, dan tidak memiliki musuh.Kedatangan Athar membuatku kaget. Entah sejak kapan dia berada di sana. Tiba-tiba saja dia menyahut dan sekarang duduk sambil melipat kedua tangannya, menyaksikan Dimas dan aku yang menolak diajak bicara."Sudah diputusin, sekarang mau ngajak balikan lagi?" Athar tersenyum sinis pada Dimas. "Kayak nggak ada cewek lain aja," tambahnya.Dimas melepaskan cengkeraman tangannya dari tanganku, lalu melangkah ke depan Athar. "Nggak usah ikut campur!" Wajah Dimas mulai memerah. Terlihat sekali dia nggak suka dengan Athar yang terkesan ikut campur."Gue nggak ikut campur, cuma ngingetin aja. Kemarin lo udah bawa Valerie ke rumah lo, sekarang mau ngapain lagi? Kayaknya nyokap lo bakalan marah kalau tahu lo deketin cewek lain lagi."Athar terlihat santai dan seperti mengejek Dimas. Dan apa katanya tadi? Dimas sudah bawa
Last Updated: 2026-09-11
Chapter: Masih Mengharap
Harusnya aku biasa saja, tapi mendengar Athar berkata seperti itu, hatiku masih merasakan sakit. Dulu kami sangat dekat. Bahkan, dia pernah berjanji untuk hidup bersamaku. Namun, sekarang keadaan telah berubah. Aku harus terbiasa dan menganggap semuanya biasa saja.Perkataan Athar membuatku sadar bahwa kini di matanya, aku hanyalah orang yang tidak penting lagi. Selama ini aku terlalu berharap. Berharap pelan-pelan dia akan mulai menerima keadaan ini dengan ikhlas dan kembali bersikap baik padaku. Namun, yang terjadi justru sebaliknya.Semakin lama, Athar semakin membenciku. Rasanya mustahil untuk dia bisa bersikap baik seperti dulu lagi. Dan Afrin, sampai sekarang rasa bencinya padaku semakin besar. Terbukti dari sikapnya padaku barusan yang kasar dan berani menjambakku."Aku minta maaf. Jika selama ini aku yang salah, aku benar-benar minta maaf." "Lo pikir dengan minta maaf bakal ngembaliin semuanya? Percuma! Percuma lo minta maaf! Lo nggak bakal bisa ngembaliin kebahagiaan gue, Di
Last Updated: 2026-09-11
Chapter: Hamil
Perempuan yang sudah sakit hati tidak akan peduli lagi dengan apa pun, asal bisa terlepas dari ikatan yang membelenggu. Tante Diana menggugat cerai, tetapi hak asuh kedua anaknya jatuh ke tangan Om Ronal. Tante Diana pergi dari rumah meninggalkan kedua anaknya. Dia tidak ada pilihan lain. Ternyata sebelum menikah, mereka pernah membuat surat perjanjian yang menyatakan bahwa apabila salah satu dari mereka mengajukan cerai, maka harus pergi tanpa harta dan anak-anak.Setelah perpisahan itu, Ibu pun meminta untuk dinikahi. Hingga akhirnya aku dan Ibu tinggal di rumah ini. Sejak saat itu, Athar dan Afrin selalu memusuhiku. Mereka bilang, aku nggak bisa menasehati ibuku dan sama saja seperti ibuku."Non, Bapak dan Ibu memanggil untuk makan malam." Bi Inah mengetuk pintu kamar."Iya, Bi." Aku pun turun dan menuju ke ruang makan. Yang lain sudah berada di sana, aku menjadi yang terakhir duduk."Huh! Tuan Putri baru turun dari singgasananya," ledek Athar saat aku duduk. Dia melirik sebenta
Last Updated: 2026-08-18
Chapter: Konflik Besar
Ibuku memang menjadi orang ketiga. Ibuku juga menjadi perempuan perusak rumah tangga orang. Dia membuat seorang anak harus kehilangan kebahagiaan keluarga, juga membuat seorang suami berpisah dari istri sahnya. Namun, kenapa aku yang selalu dijadikan sasaran? Afrin selalu bersikap kasar dan sering memakiku. Dia melampiaskan semua kekesalannya padaku, padahal aku tidak tahu apa-apa. Ya, aku tahu semua itu perbuatan ibuku, tapi aku juga tidak mampu mencegahnya. Dan hal itu yang selalu Afrin salahkan. "Aku capek, Frin, tolong minggir. Aku mau masuk kamar dan istirahat." "Capek? Emang habis ngapain aja?" Afrin memaksa membuka jaket sweater yang aku pakai. "Kok baju loe kotor dan baunya nggak enak, sih! Kayak agak basah juga," celetuknya sembari mendekatkan hidung ke arahku. Aku melepaskan tangannya dari tubuhku dan menjauhkan diri darinya. Bajuku memang sedikit basah dan kotor karena aku diseret dan dibawa ke toilet yang lantainya agak basah. Dan tentu saja, baunya juga kurang
Last Updated: 2026-08-18
Chapter: Tak Dianggap
Dua tahun lalu, aku dan dia pernah berjanji akan selalu bersama, saling menjaga, saling melindungi, dan saling menyayangi. Athar, laki-laki yang sering kusebut dalam doa agar aku dan dia perdisatukan dalam satu atap. Tuhan menjawab doaku. Kami sekarang tinggal dalam satu atap. Bukan sebagai pasangan, tetapi sebagai saudara tiri. Sekarang dia membenciku dan aku pun benci karena harus menjadi adik tirinya. Bukan hanya karena aku adik tirinya, tetapi karena aku adalah anak dari perempuan yang merebut kebahagiaan keluarganya. Wajar jika dia tidak peduli seseorang merusak hidupku. Mungkin baginya, aku harus membayar harga atas perbuatan ibuku pada keluarganya. "Nurut aja deh, nanti juga kamu bakal minta lagi!" Aku terpejam dengan air mata yang mengalir tanpa henti. Berontak sekuat tenaga, tapi tubuhku tak seberapa jika dibandingkan mereka bertiga. Mereka menyeretku ke toilet pria, menyumpal mulutku dengan kain dan memegangi tanganku sangat kencang. Salah satu dari mereka membuk
Last Updated: 2026-08-15
Chapter: Tragis
Kenapa harus aku yang jadi anak pelakor? Kenapa aku harus mendapatkan sanksi sosial dari perbuatan ibuku di masa lalu? Bahkan sanksi itu berdampak pada kehidupan pribadiku saat ini. Andai bisa memilih, aku tidak ingin lahir sebagai anak pelakor. ----- Pagi hari keluarga ini begitu sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Seperti biasa, aku lebih dulu bangun dan membantu di dapur. Meski Om Ronal sering melarang karena aku sudah dianggap anaknya, tidak lantas membuatku nyaman jika ikut dilayani dan diam tanpa aktivitas. Aku lebih senang memasak bersama Bi Inah karena memang terbiasa dengan pekerjaan dapur. Lagi pula, aku juga cukup sadar diri. Tidak mau dibilang numpang makan dan tidur di rumah mewah. Terlebih, ada Athar dan Afrin sebagai anak pemilik rumah yang selalu memusuhiku. "Sini, Non, biar Bibi saja yang lanjutin masak. Non Dira mau ke kampus, kan?" Bi Inah mengambil alih masakan yang sudah hampir selesai. "Makasih, Bi, aku mandi dulu." Kutinggalkan Bi Inah dan ber
Last Updated: 2026-08-13
SETELAH IBU PUNYA SUAMI BARU

SETELAH IBU PUNYA SUAMI BARU

"Mulai besok kalian akan tinggal di rumah ayah kalian! Kalian itu tanggung jawabnya, bukan tanggung jawab Ibu, ataupun Papa Erik. Ibu adalah seorang istri yang ingin berbakti pada suami. Sudah sepatutnya Ibu tidak memberikan beban untuknya!" Perceraian kedua orang tua, selalu menyisakan luka di hati anak-anak. Terlebih, saat keduanya telah memiliki kehidupan baru dengan pasangannya. Namun yang tidak Vina mengerti, sang ibu lebih memilih tinggal bersama suami barunya, dan meninggalkan keempat anaknya yang masih kecil-kecil. Vina, gadis berusia lima belas tahun yang baru lulus SMP itu, terpaksa tidak melanjutkan sekolah dan berjuang keras menghidupi ketiga adiknya. Di tengah keadaan yang menyakitkan, mampukah ia menjadi ayah sekaligus ibu untuk ketiga adiknya? Adakah sang ibu mengingat dirinya dan adik-adiknya?
Read
Chapter: Bab 119
Di UGD rumah sakit kami menunggu dengan cemas. Ibu terlihat lemas, sesekali menoleh pada pintu UGD. Andi mondar mandir, sedangkan Lani malah menangis dalam pelukan Mbak Fika dan Kak Nur mengurusi administrasi.Fajar berada di rumah bersama Nuri dan Farla, juga Pak Mardi. Tadi aku langsung meminta bantuan Kak Nur. Aku belum bisa menanyai Ibu tentang apa yang terjadi karena Ibu terlihat masih syok.Pintu UGD terbuka, dokter laki-laki keluar dari sana. Dengan segera, kami pun menghampirinya. "Bagaimana keadaan ayah saya, Dok?" tanyaku cepat."Suami saya baik-baik saja, kan, Dok?" Suara Ibu terdengar parau."Sebelumnya kami minta maaf, Bu." Dokter menjeda ucapannya, lalu menghela napas panjang. Aku sudah lemas mendengar kata-kata dokter itu. Semoga yang kupikirkan ini tidak benar. "Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi Allah berkehendak lain. Kami mohon maaf." Ibu ambruk bersamaan dengan tangis Lani yang pecah. "Ayaaaaah ...!""Nggak mungkin," lirihku.Kami baru saja merajut kebah
Last Updated: 2026-08-10
Chapter: Bab 118
Sudah beberapa bulan berlalu setelah pernikahan Ayah dan Ibu. Keduanya tinggal di rumah yang yang dulu ditempati Ayah dan Pak Mardi. Sedangkan Pak Mardi sendiri saat ini memilih tinggal bersama kami setelah Ayah dan Ibu menikah lagi.Meskipun Ayah melarangnya, tapi Pak Mardi tidak ingin tinggal bersama pasangan suami istri. Tentu saja kami pun mendukung keputusan Pak Mardi itu. Lagi pula, aku pernah berjanji untuk menjaga Pak Mardi dan merawatnya.Hampir setiap hari kami berkunjung ke rumah Ayah, bahkan lebih sering menginap di sana. Bagi kami, momen kebersamaan ini tidak boleh dilewatkan. Kami sudah melewatkan masa-masa seperti ini selama bertahun-tahun. Kali ini, kami akan menggantikannya meski harus menunggu terlebih dahulu.Sungguh, kami berempat merasakan kebahagiaan. Rasanya, memiliki keluarga yang utuh itu sangat indah. Akhirnya setelah begitu banyak badai, akhirnya ada pelangi yang begitu indah yang dapat kami lihat di hidup kami."Kak, tolong bawain ini dong, di tasku sudah n
Last Updated: 2026-01-06
Chapter: Bab 117
"Saya terima nikah dan kawinnya, Ratih Setyawati binti Almarhum Zakariya dengan mas kawin emas seberat 10 gram dan uang dua puluh juta, dibayar tunai!""Bagaimana para saksi?" "SAH!" Teriakan kata "Sah" menggema memenuhi ruangan tempat mengucap ijab kabul dilaksanakan. Rumah ini, menjadi saksi bersatunya kembali ikatan antara kedua orang tua kami yang sempat terputus bertahun-tahun.Kututup mata sejenak, menghirup udara sekitarku dengan lembut. Perlahan-lahan, kubuka mata dan menghembuskannya dengan pelan. Rasanya seperti mimpi bisa menghadiri pernikahan orang tua kandungku.Rupanya Ayah sudah memberitahukan niatnya itu kepada Bu Romlah, jauh sebelum memberi tahu kami. Alhasil, Bu Romlah mengkode para tetangga untuk membuatkan dekorasi dari janur dan dipadukan dengan kain batik sebagai background sejak kemarin. Lalu pagi tadi setelah kedatangan Ayah, Bu Romlah datang dan membawa semua perlengkapan dekorasi.Untuk kursinya sendiri, Bu Romlah menggunakan kursi kayu jati dengan ukiran
Last Updated: 2025-06-04
Chapter: Bab 116
Suara takbir berkumandang, semua orang bersuka cita. Setelah sebulan penuh menahan lapar dan dahaga di siang hari, hari kemenangan pun tiba. Rasanya hari ini sangat bahagia bisa merasakan lebaran pertama bersama Ayah dan Ibu, setelah sekian tahun kami berlebaran di tempat terpisah.Meskipun lebaran tahun lalu sudah ada Ayah, tetapi beliau berlebaran di rumahnya dan kami pun di rumah kami. Namun, kali ini berbeda. Mereka berdua ada untuk kami.Karena selama bulan puasa kami berada di rumah Ayah, malam ini kami pulang ke rumah. Tentu saja menyiapkan segala keperluan untuk esok pagi yang dinanti. Bersih-bersih rumah, juga membuat hidangan untuk tamu.Lani begitu bersemangat membersihkan rumah, karena Ibu dan Ayah akan ke sini besok pagi. Aku sudah bilang agar mereka tidak usah ke sini, dan kami saja yang ke sana. Namun, Ayah bilang akan ada kejutan untuk kami."Capek nggak? Sini, istirahat dan makan ini dulu." Kutaruh nampan berisi risoles dan piscok, serta teh hangat di meja. "Tapi cuci
Last Updated: 2025-06-04
Chapter: Bab 115
Aku berdiri menghampiri Lani. Kak Arya memandangku sekilas, lalu duduk di tempat yang tadi kutempati. "Ayo kita pulang, Kak. Sebentar lagi buka puasa. Tadi Fajar bilang, Ibu punya tamu," ucap Lani."Tamu? Siapa?""Aku juga nggak tahu, Fajar hanya kirim pesan dan bilang di rumah ada tamunya Ibu.""Apa nggak buka di sini saja, Lan?" Kak Arya berkata dengan lembut, aku pun menoleh, begitu juga Lani."Lain kali aja deh, Kak Arya, nanti kita cari waktu lagi buat buka puasa bareng. Nggak apa-apa, kan?""Ya sudah, santai aja. Masih ada banyak waktu, kan?" Kak Arya tetap tersenyum ramah meski mungkin tadi mendengar percakapanku dengan Mbak Fika."Aku pamit ya, Mbak, Kak Arya." Aku tetap menghormatinya, Kak Arya pun mengangguk.Aku dan Lani segera menaiki motor dan bergegas pulang."Kok kamu ngajak pulang, Lan? Kupikir tadi kamu mau buka puasa di sana," ujarku saat Lani sudah mengendarai motor. "Tadinya sih, gitu! Tapi setelah dengar ucapan Kak Vina sama Mbak Fika ... aku jadi nggak enak sama
Last Updated: 2025-03-27
Chapter: Bab 114
Kucari sumber suara itu berasal. Dari samping, laki-laki itu berjalan ke arahku dengan pelan. Sudah lama aku tidak melihatnya, sepertinya dia baru pulang dari rantau."Kak Arya. Kapan pulang?" tanyaku basa basi."Baru tadi pagi, Vin. Ini anaknya Mbak Fika, kan? Yang waktu bayi aku ikut nengok ke rumah sakit?" Kak Arya memandangi Nuri yang ada dalam gendonganku."Iya, ini Nuri, anaknya Mbak Fika dan Kak Nur.""Cantik ya, Vin. Kalau kita punya anak, pasti juga secantik Nuri." Kak Arya senyum-senyum sendiri."Kita?" "Eh, maksudku ... kalau kita punya anak. Iya. Eh, maksudnya ... aku punya anak, kamu juga punya anak. Gitu deh maksudnya. Bingung gimana jelasinnya." Kak Arya malah garuk-garuk kepala. Aku merasa aneh dengan sikap Kak Arya itu."Tadi katanya mau naik bianglala, kan? Ayo aku temani. Kebetulan itu yang punya adalah temenku. Nanti kita minta diskon," ujar Kak Arya pelan sambil tersenyum."Tapi aku nggak biasa naik bianglala, takut tinggi," sahutku. "Nanti aja deh, nungguin Lani
Last Updated: 2025-03-23
PESONA SUAMI TUKANG OJEKKU

PESONA SUAMI TUKANG OJEKKU

"Nikahkan saja mereka! Beraninya berbuat mesum di sini, membuat malu kampung kita saja!" Geram warga yang sudah berkumpul di pos ronda. "Tapi kami tidak saling mengenal dan tidak melakukan apa-apa, Pak!" Kanaya, gadis berusia dua puluh satu tahun itu mengelak atas tuduhan warga. Ia digrebek bersama seorang laki-laki yang tidak dikenalnya, saat pulang dari kuliah. Demi menghindari amukan warga, Devan pun menikahi Kanaya. Kanaya yang masih kuliah pun terpaksa menerima pernikahan grebekan itu meski belum terpikir olehnya tentang pernikahan. Bagaimana kelanjutan kisah mereka? Lalu, siapa Devan yang sebenarnya? Benarkah ia hanya seorang tukang ojek?
Read
Chapter: Kebahagiaan Radit. Tamat
Tujuh bulan kemudian. Di rumah sakit, Kanaya baru saja dipindahkan ke ruang rawat setelah menjalani proses operasi caesar. Sebelumnya, ia ingin menjalani persalinan normal. Namun, dokter tidak memperbolehkan karena kondisi Kanaya yang mulai lemah saat mendekati persalinan. Akhirnya operasi caesar pun dilakukan."Terima kasih, Sayang, terima kasih sudah berjuang untuk mereka. Terima kasih karena sudah menjadi ibu untuk anak-anak kita. Terima kasih karena kamu menjadi istriku." Devan mengecup pucuk kepala istrinya dengan lembut dan senyum manisnya. Tangannya masih setia menggenggam tangan sang istri.Sepasang bayi kembar didorong di box bayi dan seluruh keluarga menunggu dengan penuh kebahagiaan. Devan senantiasa berada di samping sang istri yang tampak masih lelah."Silakan diadzani dulu bayinya, Pak." Dua orang perawat menyerahkan bayi kembar itu kepada Devan.Devan pun melepaskan tangan Kanaya setelah menerima bayi itu, lalu mulai mengadzaninya satu per satu. Hatinya tak kuasa menah
Last Updated: 2024-12-25
Chapter: Kehamilan Beruntun
"Aya! Kamu kenapa, Sayang?" Bu Herlin menghampiri Kanaya yang berada di kamar mandi dapur. Menantunya itul tampak lemas dan pucat. "Bi, bantu bawa Aya ke kamarnya."Dengan bantuan Bi Karti, Bu Herlin membawa menantunya ke kamar. Sampai di sana, dia semakin terkejut melihat Devan yang juga tampak lemas dan tiduran di ranjang. "Istriku kenapa, Ma?" Dengan tubuh yang lemas, Devan mendekati istrinya yang kini dibaringkan di sampingnya. "Kamu kenapa, Sayang?Kanaya memegang perutnya, sementara Bu Herlin memijat kepala menantunya itu. "Aya muntah di kamar mandi," jawab Bu Herlin. "Kamu sakit juga, Dev?" "Kepalaku pusing, Ma, tapi aku lebih khawatir sama Aya. Biar kutelepon Aldo agar memeriksanya." Devan mengambil ponsel dan melakukan panggilan pada Aldo. "Apa? Lalu kamu tidak bisa ke sini? Ya sudah, tolong suruh Dokter Maria kemari untuk memeriksa istriku.""Gimana, Dev?""Aldo sedang mengurusi istrinya yang juga sakit, Ma. Sama seperti Aya, Resti juga muntah-muntah parah dan harus dirawa
Last Updated: 2024-12-13
Chapter: Setelah Bulan Madu Kedua
Hari ini Kanaya akan menghadiri pernikahan Tini, setelah mendapatkan undangan yang diberikan Resti dua hari yang lalu. Kanaya sudah bersiap dan sedang menunggu Resti dan Mili. Tak lama kemudian, kedua sahabatnya itu datang bersama pasangannya masing-masing.Setelah ijab kabul yang dilaksanakan berbarengan dengan Mili, Resti akan ikut suaminya ke Jakarta, begitupun Mili yang akan ikut di mana suaminya tinggal. Namun, sebelum itu mereka akan menghabiskan beberapa hari lagi untuk menikmati suasana di kampung mereka. Seperti hari ini, ketiga pasangan itu sudah berada di salah satu gedung yang sedang diadakannya pesta pernikahan Tini dan Pak Iyan, dosen Kanaya dulu. Mereka tidak menyangka jika Pak Iyan yang sikapnya kadang lemah lembut seperti perempuan itu akhirnya menikah. Dan yang tidak disangka juga, Tini, yang dulu selalu mengutamakan ketampanan untuk menjadi pasangannya, kini menjatuhkan pilihan pada Pak Iyan."Hai, Aya, Mas Ganteng, selamat datang!" sapa Tini, setelah melihat kedat
Last Updated: 2024-12-11
Chapter: Menikah Hari Ini Juga!
Kanaya dan Devan mengajak semua tamunya untuk masuk. Mereka duduk bersantai di belakang rumah, yang mana ada dua gazebo yang baru saja dipesan oleh Devan dari meubel Pak Karman. Tempatnya yang rindang, membuat mereka betah berlama-lama di sana. Terlebih ada banyak mangga yang sudah tua dan ada yang sudah masak dari pohonnya. Kemarin setelah menghabiskan waktu di gazebo yang disediakan warga, Devan mempunyai inisiatif untuk membuat gazebo juga di belakang rumah sang istri. Kapan-kapan ia akan mengajak seluruh keluarganya untuk ke sini, sambil membuat tenda dan bermalam di belakang rumah. Sudah lama sekali tidak melakukan kegiatan seperti itu. Tidak masalah meski harus kemah di belakang rumah karena suasananya sudah seperti di hutan, banyak pohon yang rindang. "Ayo ambil lagi! Itu yang atas ada yang sudah masak, My Sweety. Aku mau yang di atas yang warnanya sudah kuning." Mili berteriak pada sang kekasih yang kini naik ke atas pohon mangga. Andre mengambil beberapa mangga muda serta
Last Updated: 2024-12-10
Chapter: Dua Pria Tampan
"Aku hanya bercanda, Sayang. Aku tahu tidak akan ada yang bisa menandingi pesonaku," kata Devan dengan percaya dirinya."Jadi, kamu mau memberinya pekerjaan?""Iya. Nanti akan kuminta Andre untuk menanyakan posisi yang masih membutuhkan karyawan di kantor cabang yang ada di sini." Kanaya pun tersenyum bahagia.Mereka menikmati jajanan yang tadi dibawanya, ditemani angin sepoi-sepoi dan lucunya Mira yang sesekali merebut makanan Kanaya."Kali ini biar aku yang menggendongnya. Setelah ini kita langsung istirahat," tegas Devan saat melihat istrinya lelah. Dengan membawa payung, Devan menggendong Mira dan menggandeng istrinya. Sungguh pemandangan yang membuat banyak orang merasa iri pada Kanaya. Memiliki suami yang tampan dan juga kaya, serta perhatian dan penuh kasih."Waduh, jadi ngerepotin Nak Devan. Sini Mira, sama Nenek." Bu Sumi langsung menyambut Mira yang berada di gendongan Devan dan Devan pun menyerahkan balita itu setelah sampai di rumah Bu Sumi."Nggak ngerepotin kok, Bu," sa
Last Updated: 2024-12-03
Chapter: Lelaki Pecemburu
Cintia menatap Devan, yang membuat laki-laki juga menoleh. "Aku minta maaf karena membuatmu digerebek warga. Aku juga minta maaf atas kesalahan yang telah kulakukan pada Aya selama ini."Cintia menangkupkan kedua tangannya, membuat Kanaya memegang tangan itu. "Suamiku sudah memaafkanmu, iya, kan, Honey?" Kanaya lagi-lagi tersenyum, Devan hanya mengangguk."Papa, ayo kita pulang!" Anak kecil berusia dua tahun itu menarik lengan papanya."Iya, Sayang. Sebentar, ya.""Hai, anak manis, siapa namamu?" Kanaya menanyai anaknya Alex."Namaku Altaf, Tante," jawabnya dengan lancar. Meski baru dua tahun, anak itu sudah pandai berbicara dengan lancarnya. Hal itu membuat Kanaya senang karena dia memang sangat menyukai anak kecil."Oh ya, Altaf, Tante ada jajanan, kamu mau nggak?" Kanaya mengambil plastik berisi jajanan miliknya, memberikan pada Altaf.Anak kecil itu memilih-milih dan akhirnya mengambil klepon."Terima kasih, Tante.""Sama-sama, Sayang." Kanaya tersenyum ramah dan mengusap kepala A
Last Updated: 2024-12-02
You May Also Like
Nikah Kontrak
Nikah Kontrak
Romansa · Rasyidfatir
131.4K views
Terjebak Nafsu Tuan Sanjaya
Terjebak Nafsu Tuan Sanjaya
Romansa · Buenda Vania
130.6K views
Aku Mundur, Mas!
Aku Mundur, Mas!
Romansa · Dyah Ayu Prabandari
130.0K views
Menikahi Mantan Pacar Teman
Menikahi Mantan Pacar Teman
Romansa · Indy Shinta
129.7K views
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status