Chapter: Bab 10. Lagi-lagi Dihina Anak Pelakor"Lucu banget! Hari ini ternyata ada adegan lucu banget. Lumayan lah ya, buat hiburan. Ha ha."Kuseka air mata yang baru menggenang di pelupuk mata. Aku akan semakin malu jika Athar melihat aku menangis."Awas, aku mau lewat." Aku melangkah, tapi Athar menghalangiku."Kenapa? Malu, ya? Seisi cluster ngetawain kamu, ya? Yaa resiko, sih." "Aku tahu kamu benci aku, Athar. Aku tahu aku memang selalu salah. Tapi aku juga punya hati!" Tak sanggup lagi menahan semua gejolak yang ada dalam dada, aku menumpahkannya. Terserah jika dia ingin menertawakanku, aku tidak peduli. Tangisku pecah. Aku memegangi dada yang terasa begitu sesak dan penuh.Athar terdiam melihat reaksiku. Mungkin ini terlihat berlebihan, tapi terserah pemikirannya.Aku mulai menarik napas panjang dan melepaskannya perlahan, lalu mengusap air mata ini. Athar masih membeku. Kulihat matanya menyimpan sesuatu yang lain. Aku tidak tahu apakah itu rasa kasihan, atau hanya sekedar perasaan tak peduli."Tolong minggir, aku mau lew
Last Updated: 2026-09-16
Chapter: Bab 9. KehebohanAku benar-benar heran dengan pemikiran dan sikap ibuku. Bisa-bisanya dia malah begitu ingin memperlihatkan semua yang dimilikinya kepada Tante Diana, wanita yang telah dia sakiti hatinya sebegitu parahnya. Aku sungguh malu dengan tingkah ibuku."Ibu nggak serius, kan? Jangan, gila, Bu." "Aku memang gila. Kenapa? Dulu dia sangat merendahkan aku di depan banyak orang. Meski aku merebut suaminya, harusnya dia sadar diri kenapa Mas Ronal lebih memilih aku. Lagian, dulu dia sendiri yang milih pisah. Padahal Mas Ronal sudah beri dia pilihan untuk menjadikan aku madunya. Harusnya dia bersyukur, tapi dia malah memilih mundur. Bukan salah aku, dong. Aku nggak pernah merebutnya, aku bahkan rela berbagi suami dengannya. Dia saja yang sok-sokan." Ibuku semakin parah. Pemikirannya malah semakin kacau. Jelas-jelas dia yang menjadi akar masalah, tapi malah menyalahkan Tante Diana."Ibu benar-benar nggak bisa diselamatkan. Pemikiran Ibu benar-benar gila!""Sudahlah, Dira. Kamu nggak perlu ikut camp
Last Updated: 2026-09-13
Chapter: Merasa MaluAku masih berharap semua yang aku dengar tadi hanyalah kebohongan. Aku nggak mau mengakui ucapan Dimas tadi itu benar. "Itulah kenapa dia nggak suka aku deketin kamu lagi. Dia merasa aku adalah saingannya. Aku juga tahu, kamu masih bimbang dengan perasaan kamu ke aku meskipun kita sudah pacaran setahun. Makanya kamu biasa aja saat kemarin aku minta putus. Iya, kan, Ra?"Ya, yang Dimas bilang itu memang benar. Perasaanku padanya memang masih ambigu. Meskipun aku menjalaninya selama setahun, tapi perasaanku padanya lebih ke ingin menjalani hidup apa adanya, layaknya seorang perempuan yang memiliki pacar, lalu melanjutkan ke jenjang pernikahan.Aku hanya ingin memiliki hidup yang semestinya. Aku hanya ingin menjalani hidup dengan seseorang yang bisa menerima dan menemaniku setiap saat.Namun, entah mengapa hatiku memang tidak merasakan cinta yang mendalam pada Dimas, seperti perasaanku terhadap Athar, dulu. Dulu aku penuh kekaguman, juga merasa begitu bahagia walau hanya mendengar naman
Last Updated: 2026-09-12
Chapter: Masih Seperti DuluEntah kenapa hidupku begitu rumit. Jika aku bisa memilih, aku juga tidak ingin semua ini terjadi. Aku ingin menjadi Nadira yang disayangi semua orang, dan tidak memiliki musuh.Kedatangan Athar membuatku kaget. Entah sejak kapan dia berada di sana. Tiba-tiba saja dia menyahut dan sekarang duduk sambil melipat kedua tangannya, menyaksikan Dimas dan aku yang menolak diajak bicara."Sudah diputusin, sekarang mau ngajak balikan lagi?" Athar tersenyum sinis pada Dimas. "Kayak nggak ada cewek lain aja," tambahnya.Dimas melepaskan cengkeraman tangannya dari tanganku, lalu melangkah ke depan Athar. "Nggak usah ikut campur!" Wajah Dimas mulai memerah. Terlihat sekali dia nggak suka dengan Athar yang terkesan ikut campur."Gue nggak ikut campur, cuma ngingetin aja. Kemarin lo udah bawa Valerie ke rumah lo, sekarang mau ngapain lagi? Kayaknya nyokap lo bakalan marah kalau tahu lo deketin cewek lain lagi."Athar terlihat santai dan seperti mengejek Dimas. Dan apa katanya tadi? Dimas sudah bawa
Last Updated: 2026-09-11
Chapter: Masih MengharapHarusnya aku biasa saja, tapi mendengar Athar berkata seperti itu, hatiku masih merasakan sakit. Dulu kami sangat dekat. Bahkan, dia pernah berjanji untuk hidup bersamaku. Namun, sekarang keadaan telah berubah. Aku harus terbiasa dan menganggap semuanya biasa saja.Perkataan Athar membuatku sadar bahwa kini di matanya, aku hanyalah orang yang tidak penting lagi. Selama ini aku terlalu berharap. Berharap pelan-pelan dia akan mulai menerima keadaan ini dengan ikhlas dan kembali bersikap baik padaku. Namun, yang terjadi justru sebaliknya.Semakin lama, Athar semakin membenciku. Rasanya mustahil untuk dia bisa bersikap baik seperti dulu lagi. Dan Afrin, sampai sekarang rasa bencinya padaku semakin besar. Terbukti dari sikapnya padaku barusan yang kasar dan berani menjambakku."Aku minta maaf. Jika selama ini aku yang salah, aku benar-benar minta maaf." "Lo pikir dengan minta maaf bakal ngembaliin semuanya? Percuma! Percuma lo minta maaf! Lo nggak bakal bisa ngembaliin kebahagiaan gue, Di
Last Updated: 2026-09-11
Chapter: HamilPerempuan yang sudah sakit hati tidak akan peduli lagi dengan apa pun, asal bisa terlepas dari ikatan yang membelenggu. Tante Diana menggugat cerai, tetapi hak asuh kedua anaknya jatuh ke tangan Om Ronal. Tante Diana pergi dari rumah meninggalkan kedua anaknya. Dia tidak ada pilihan lain. Ternyata sebelum menikah, mereka pernah membuat surat perjanjian yang menyatakan bahwa apabila salah satu dari mereka mengajukan cerai, maka harus pergi tanpa harta dan anak-anak.Setelah perpisahan itu, Ibu pun meminta untuk dinikahi. Hingga akhirnya aku dan Ibu tinggal di rumah ini. Sejak saat itu, Athar dan Afrin selalu memusuhiku. Mereka bilang, aku nggak bisa menasehati ibuku dan sama saja seperti ibuku."Non, Bapak dan Ibu memanggil untuk makan malam." Bi Inah mengetuk pintu kamar."Iya, Bi." Aku pun turun dan menuju ke ruang makan. Yang lain sudah berada di sana, aku menjadi yang terakhir duduk."Huh! Tuan Putri baru turun dari singgasananya," ledek Athar saat aku duduk. Dia melirik sebenta
Last Updated: 2026-08-18
Chapter: Bab 120Kepergian Ayah masih menyisakan duka di keluarga kami. Hari demi hari kami melaluinya dengan perasaan yang berbeda. Banyak hal serta kenangan yang mengingatkan kami pada sosok Ayah. Setiap sudut rumah penuh dengan kenangannya. Ayah yang begitu merawat rumah yang ku berikan, dengan penuh rasa syukur bisa kembali berkumpul bersama kami, anak-anaknya.Kebun di belakang rumah yang setiap hari menjadi teman kesehariannya, tak luput dari pandanganku setiap saat. Di kebun inilah Ayah memulai hidupnya untuk bangkit. Cabai, tomat, dan sayur mayur yang dulu ditanamnya pun masih tumbuh subur dan selalu aku rawat. Mungkin tidak seberapa hasilnya, tapi setiap kali aku memetik hasil tanaman itu, aku seperti dekat dengan Ayah, dan serasa masih berada di sini. Setelah empat puluh hari meninggalnya Ayah, Ibu melanjutkan kegiatan Ayah bercocok tanam. Ladang yang dulu digarap Ayah, saat ini digarap oleh Ibu. Sesekali aku pun ikut ke ladang bersama adik-adikku. Kami hanya memiliki Ibu, sekarang. Meski
Last Updated: 2026-09-19
Chapter: Bab 119Di UGD rumah sakit kami menunggu dengan cemas. Ibu terlihat lemas, sesekali menoleh pada pintu UGD. Andi mondar mandir, sedangkan Lani malah menangis dalam pelukan Mbak Fika dan Kak Nur mengurusi administrasi.Fajar berada di rumah bersama Nuri dan Farla, juga Pak Mardi. Tadi aku langsung meminta bantuan Kak Nur. Aku belum bisa menanyai Ibu tentang apa yang terjadi karena Ibu terlihat masih syok.Pintu UGD terbuka, dokter laki-laki keluar dari sana. Dengan segera, kami pun menghampirinya. "Bagaimana keadaan ayah saya, Dok?" tanyaku cepat."Suami saya baik-baik saja, kan, Dok?" Suara Ibu terdengar parau."Sebelumnya kami minta maaf, Bu." Dokter menjeda ucapannya, lalu menghela napas panjang. Aku sudah lemas mendengar kata-kata dokter itu. Semoga yang kupikirkan ini tidak benar. "Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi Allah berkehendak lain. Kami mohon maaf." Ibu ambruk bersamaan dengan tangis Lani yang pecah. "Ayaaaaah ...!""Nggak mungkin," lirihku.Kami baru saja merajut kebah
Last Updated: 2026-08-10
Chapter: Bab 118Sudah beberapa bulan berlalu setelah pernikahan Ayah dan Ibu. Keduanya tinggal di rumah yang yang dulu ditempati Ayah dan Pak Mardi. Sedangkan Pak Mardi sendiri saat ini memilih tinggal bersama kami setelah Ayah dan Ibu menikah lagi.Meskipun Ayah melarangnya, tapi Pak Mardi tidak ingin tinggal bersama pasangan suami istri. Tentu saja kami pun mendukung keputusan Pak Mardi itu. Lagi pula, aku pernah berjanji untuk menjaga Pak Mardi dan merawatnya.Hampir setiap hari kami berkunjung ke rumah Ayah, bahkan lebih sering menginap di sana. Bagi kami, momen kebersamaan ini tidak boleh dilewatkan. Kami sudah melewatkan masa-masa seperti ini selama bertahun-tahun. Kali ini, kami akan menggantikannya meski harus menunggu terlebih dahulu.Sungguh, kami berempat merasakan kebahagiaan. Rasanya, memiliki keluarga yang utuh itu sangat indah. Akhirnya setelah begitu banyak badai, akhirnya ada pelangi yang begitu indah yang dapat kami lihat di hidup kami."Kak, tolong bawain ini dong, di tasku sudah n
Last Updated: 2026-01-06
Chapter: Bab 117"Saya terima nikah dan kawinnya, Ratih Setyawati binti Almarhum Zakariya dengan mas kawin emas seberat 10 gram dan uang dua puluh juta, dibayar tunai!""Bagaimana para saksi?" "SAH!" Teriakan kata "Sah" menggema memenuhi ruangan tempat mengucap ijab kabul dilaksanakan. Rumah ini, menjadi saksi bersatunya kembali ikatan antara kedua orang tua kami yang sempat terputus bertahun-tahun.Kututup mata sejenak, menghirup udara sekitarku dengan lembut. Perlahan-lahan, kubuka mata dan menghembuskannya dengan pelan. Rasanya seperti mimpi bisa menghadiri pernikahan orang tua kandungku.Rupanya Ayah sudah memberitahukan niatnya itu kepada Bu Romlah, jauh sebelum memberi tahu kami. Alhasil, Bu Romlah mengkode para tetangga untuk membuatkan dekorasi dari janur dan dipadukan dengan kain batik sebagai background sejak kemarin. Lalu pagi tadi setelah kedatangan Ayah, Bu Romlah datang dan membawa semua perlengkapan dekorasi.Untuk kursinya sendiri, Bu Romlah menggunakan kursi kayu jati dengan ukiran
Last Updated: 2025-06-04
Chapter: Bab 116Suara takbir berkumandang, semua orang bersuka cita. Setelah sebulan penuh menahan lapar dan dahaga di siang hari, hari kemenangan pun tiba. Rasanya hari ini sangat bahagia bisa merasakan lebaran pertama bersama Ayah dan Ibu, setelah sekian tahun kami berlebaran di tempat terpisah.Meskipun lebaran tahun lalu sudah ada Ayah, tetapi beliau berlebaran di rumahnya dan kami pun di rumah kami. Namun, kali ini berbeda. Mereka berdua ada untuk kami.Karena selama bulan puasa kami berada di rumah Ayah, malam ini kami pulang ke rumah. Tentu saja menyiapkan segala keperluan untuk esok pagi yang dinanti. Bersih-bersih rumah, juga membuat hidangan untuk tamu.Lani begitu bersemangat membersihkan rumah, karena Ibu dan Ayah akan ke sini besok pagi. Aku sudah bilang agar mereka tidak usah ke sini, dan kami saja yang ke sana. Namun, Ayah bilang akan ada kejutan untuk kami."Capek nggak? Sini, istirahat dan makan ini dulu." Kutaruh nampan berisi risoles dan piscok, serta teh hangat di meja. "Tapi cuci
Last Updated: 2025-06-04
Chapter: Bab 115Aku berdiri menghampiri Lani. Kak Arya memandangku sekilas, lalu duduk di tempat yang tadi kutempati. "Ayo kita pulang, Kak. Sebentar lagi buka puasa. Tadi Fajar bilang, Ibu punya tamu," ucap Lani."Tamu? Siapa?""Aku juga nggak tahu, Fajar hanya kirim pesan dan bilang di rumah ada tamunya Ibu.""Apa nggak buka di sini saja, Lan?" Kak Arya berkata dengan lembut, aku pun menoleh, begitu juga Lani."Lain kali aja deh, Kak Arya, nanti kita cari waktu lagi buat buka puasa bareng. Nggak apa-apa, kan?""Ya sudah, santai aja. Masih ada banyak waktu, kan?" Kak Arya tetap tersenyum ramah meski mungkin tadi mendengar percakapanku dengan Mbak Fika."Aku pamit ya, Mbak, Kak Arya." Aku tetap menghormatinya, Kak Arya pun mengangguk.Aku dan Lani segera menaiki motor dan bergegas pulang."Kok kamu ngajak pulang, Lan? Kupikir tadi kamu mau buka puasa di sana," ujarku saat Lani sudah mengendarai motor. "Tadinya sih, gitu! Tapi setelah dengar ucapan Kak Vina sama Mbak Fika ... aku jadi nggak enak sama
Last Updated: 2025-03-27
Chapter: Kebahagiaan Radit. TamatTujuh bulan kemudian. Di rumah sakit, Kanaya baru saja dipindahkan ke ruang rawat setelah menjalani proses operasi caesar. Sebelumnya, ia ingin menjalani persalinan normal. Namun, dokter tidak memperbolehkan karena kondisi Kanaya yang mulai lemah saat mendekati persalinan. Akhirnya operasi caesar pun dilakukan."Terima kasih, Sayang, terima kasih sudah berjuang untuk mereka. Terima kasih karena sudah menjadi ibu untuk anak-anak kita. Terima kasih karena kamu menjadi istriku." Devan mengecup pucuk kepala istrinya dengan lembut dan senyum manisnya. Tangannya masih setia menggenggam tangan sang istri.Sepasang bayi kembar didorong di box bayi dan seluruh keluarga menunggu dengan penuh kebahagiaan. Devan senantiasa berada di samping sang istri yang tampak masih lelah."Silakan diadzani dulu bayinya, Pak." Dua orang perawat menyerahkan bayi kembar itu kepada Devan.Devan pun melepaskan tangan Kanaya setelah menerima bayi itu, lalu mulai mengadzaninya satu per satu. Hatinya tak kuasa menah
Last Updated: 2024-12-25
Chapter: Kehamilan Beruntun"Aya! Kamu kenapa, Sayang?" Bu Herlin menghampiri Kanaya yang berada di kamar mandi dapur. Menantunya itul tampak lemas dan pucat. "Bi, bantu bawa Aya ke kamarnya."Dengan bantuan Bi Karti, Bu Herlin membawa menantunya ke kamar. Sampai di sana, dia semakin terkejut melihat Devan yang juga tampak lemas dan tiduran di ranjang. "Istriku kenapa, Ma?" Dengan tubuh yang lemas, Devan mendekati istrinya yang kini dibaringkan di sampingnya. "Kamu kenapa, Sayang?Kanaya memegang perutnya, sementara Bu Herlin memijat kepala menantunya itu. "Aya muntah di kamar mandi," jawab Bu Herlin. "Kamu sakit juga, Dev?" "Kepalaku pusing, Ma, tapi aku lebih khawatir sama Aya. Biar kutelepon Aldo agar memeriksanya." Devan mengambil ponsel dan melakukan panggilan pada Aldo. "Apa? Lalu kamu tidak bisa ke sini? Ya sudah, tolong suruh Dokter Maria kemari untuk memeriksa istriku.""Gimana, Dev?""Aldo sedang mengurusi istrinya yang juga sakit, Ma. Sama seperti Aya, Resti juga muntah-muntah parah dan harus dirawa
Last Updated: 2024-12-13
Chapter: Setelah Bulan Madu KeduaHari ini Kanaya akan menghadiri pernikahan Tini, setelah mendapatkan undangan yang diberikan Resti dua hari yang lalu. Kanaya sudah bersiap dan sedang menunggu Resti dan Mili. Tak lama kemudian, kedua sahabatnya itu datang bersama pasangannya masing-masing.Setelah ijab kabul yang dilaksanakan berbarengan dengan Mili, Resti akan ikut suaminya ke Jakarta, begitupun Mili yang akan ikut di mana suaminya tinggal. Namun, sebelum itu mereka akan menghabiskan beberapa hari lagi untuk menikmati suasana di kampung mereka. Seperti hari ini, ketiga pasangan itu sudah berada di salah satu gedung yang sedang diadakannya pesta pernikahan Tini dan Pak Iyan, dosen Kanaya dulu. Mereka tidak menyangka jika Pak Iyan yang sikapnya kadang lemah lembut seperti perempuan itu akhirnya menikah. Dan yang tidak disangka juga, Tini, yang dulu selalu mengutamakan ketampanan untuk menjadi pasangannya, kini menjatuhkan pilihan pada Pak Iyan."Hai, Aya, Mas Ganteng, selamat datang!" sapa Tini, setelah melihat kedat
Last Updated: 2024-12-11
Chapter: Menikah Hari Ini Juga!Kanaya dan Devan mengajak semua tamunya untuk masuk. Mereka duduk bersantai di belakang rumah, yang mana ada dua gazebo yang baru saja dipesan oleh Devan dari meubel Pak Karman. Tempatnya yang rindang, membuat mereka betah berlama-lama di sana. Terlebih ada banyak mangga yang sudah tua dan ada yang sudah masak dari pohonnya. Kemarin setelah menghabiskan waktu di gazebo yang disediakan warga, Devan mempunyai inisiatif untuk membuat gazebo juga di belakang rumah sang istri. Kapan-kapan ia akan mengajak seluruh keluarganya untuk ke sini, sambil membuat tenda dan bermalam di belakang rumah. Sudah lama sekali tidak melakukan kegiatan seperti itu. Tidak masalah meski harus kemah di belakang rumah karena suasananya sudah seperti di hutan, banyak pohon yang rindang. "Ayo ambil lagi! Itu yang atas ada yang sudah masak, My Sweety. Aku mau yang di atas yang warnanya sudah kuning." Mili berteriak pada sang kekasih yang kini naik ke atas pohon mangga. Andre mengambil beberapa mangga muda serta
Last Updated: 2024-12-10
Chapter: Dua Pria Tampan"Aku hanya bercanda, Sayang. Aku tahu tidak akan ada yang bisa menandingi pesonaku," kata Devan dengan percaya dirinya."Jadi, kamu mau memberinya pekerjaan?""Iya. Nanti akan kuminta Andre untuk menanyakan posisi yang masih membutuhkan karyawan di kantor cabang yang ada di sini." Kanaya pun tersenyum bahagia.Mereka menikmati jajanan yang tadi dibawanya, ditemani angin sepoi-sepoi dan lucunya Mira yang sesekali merebut makanan Kanaya."Kali ini biar aku yang menggendongnya. Setelah ini kita langsung istirahat," tegas Devan saat melihat istrinya lelah. Dengan membawa payung, Devan menggendong Mira dan menggandeng istrinya. Sungguh pemandangan yang membuat banyak orang merasa iri pada Kanaya. Memiliki suami yang tampan dan juga kaya, serta perhatian dan penuh kasih."Waduh, jadi ngerepotin Nak Devan. Sini Mira, sama Nenek." Bu Sumi langsung menyambut Mira yang berada di gendongan Devan dan Devan pun menyerahkan balita itu setelah sampai di rumah Bu Sumi."Nggak ngerepotin kok, Bu," sa
Last Updated: 2024-12-03
Chapter: Lelaki Pecemburu Cintia menatap Devan, yang membuat laki-laki juga menoleh. "Aku minta maaf karena membuatmu digerebek warga. Aku juga minta maaf atas kesalahan yang telah kulakukan pada Aya selama ini."Cintia menangkupkan kedua tangannya, membuat Kanaya memegang tangan itu. "Suamiku sudah memaafkanmu, iya, kan, Honey?" Kanaya lagi-lagi tersenyum, Devan hanya mengangguk."Papa, ayo kita pulang!" Anak kecil berusia dua tahun itu menarik lengan papanya."Iya, Sayang. Sebentar, ya.""Hai, anak manis, siapa namamu?" Kanaya menanyai anaknya Alex."Namaku Altaf, Tante," jawabnya dengan lancar. Meski baru dua tahun, anak itu sudah pandai berbicara dengan lancarnya. Hal itu membuat Kanaya senang karena dia memang sangat menyukai anak kecil."Oh ya, Altaf, Tante ada jajanan, kamu mau nggak?" Kanaya mengambil plastik berisi jajanan miliknya, memberikan pada Altaf.Anak kecil itu memilih-milih dan akhirnya mengambil klepon."Terima kasih, Tante.""Sama-sama, Sayang." Kanaya tersenyum ramah dan mengusap kepala A
Last Updated: 2024-12-02