Share

159|

Penulis: Shanum Belle
last update Tanggal publikasi: 2026-04-15 19:00:38
Hal pertama yang dilakukan oleh para hadirin di Aula Hutama saat Muniratri memasuki ruangan ialah mendelik. Luka lebam yang ada di sekujur tubuh Muniratri menjadi penyebabnya.

Alih-alih risi dengan pandangan orang-orang, Muniratri justru menikmatinya. Ia memamerkan tubuhnya yang babak belur dengan bangga.

“Saya memberi hormat pada Baginda Prabu, Yang Mulia Putra Mahkota dan juga Yang Mulia Putri Mahkota.” Muniratri menundukkan kepala dan juga merendahkan badannya.

Di belakang tempatnya berdiri,
Shanum Belle

Penulis sedang hiatus. Kembali aktif Juni 2026.

| 1
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   178|

    Pangeran Atmajaya datang ke penjara bawah tanah diikuti oleh lima orang petugas. Mereka membawa dokumen dan juga kotak kayu. Jejak mereka meninggalkan abu yang tak biasa.“Kenapa mereka memakai kain untuk menutup hidung?” bisik Ganendra.“Tidak tahu. Kita ikuti saja.” Saka menutup indra penciumannya menggunakan telapak tangan.Ganendra tak mencium bau yang aneh. Namun karena Saka menutup hidung, lelaki itu pun menirukannya. Mencegah sesuatu yang buruk lebih baik daripada membiarkannya terjadi.“Terus kenapa mereka membungkus kotak itu pakai daun pisang yang sudah kering?” Ganendra menggaruk kepalanya pelan.“CK!” Saka menabok lengan Ganendra.“Kamu ini ikut Putra Mahkota kok enggak tambah pintar sih?” Si sipir itu geleng-geleng kepala.“Tebakanku, di dalam kotak itu pasti adalah barang bukti. Mereka membungkusnya dengan daun pisang kering supaya sidik jari petugas tidak

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   177|

    “Ini jatahmu!” Sipir meletakkan bubur dan minuman khas penjara bawah tanah di hadapan Ganendra dengan hati-hati.Ajudan Putra Mahkota tersebut langsung menenggak minuman coklat kehitaman di dalam gelas. Setelah air yang pahit itu tandas, ia segera memakan bubur untuk menetralkan pahit yang tertinggal di lidah.“Eh! Pelan-pelan saja, tidak ada yang ingin berebut denganmu,” Sipir tersebut mengambil sesuatu dari kantong yang tergantung di pinggangnya.“Nih penawarnya.” Ia memberikan sepotong kue wajik kepada Ganendra.Sorot mata Ganendra tertuju pada kue yang terbuat dari ketan dan gula merah itu. Ia melihat ekspresi si sipir sejenak, lalu mengambil wajik di tangannya.“Tenang saja. Tidak ada racunnya,” celetuk si sipir ketika melihat Ganendra ragu untuk memakan wajik pemberiannya.Ganendra tertawa singkat. Ia membagi wajik itu menjadi dua. Satu untuknya, sedangkan yang lain untuk sipir itu.

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   176|

    “Apa hanya ini yang kalian temukan?” Pangeran Atmajaya membentangkan laporan yang diberikan bawahannya.“Benar, Kanjeng Pangeran. Kami sudah mencari ke semua tempat yang berhubungan dengan Senapati Cakrasurya, namun tak menemukan adanya bukti bahwa beliau yang melakukan kebakaran,” terang lelaki itu.Pangeran Atmajaya meremas laporan yang baru saja ia baca. Lelaki itu menyalakan api dan menghanguskannya.“Ingat ini baik-baik!” Sang Pangeran mengacungkan jari telunjuk ke depan muka si bawahan.“Kita belum menemukan petunjuk siapa dalang pembakaran pabrik tekstil keraton. Paham?!” ucap Pangeran Atmajaya dengan suara pelan.Lelaki itu menepuk-nepuk pundak bawahannya tiga kali secara berturut-turut dengan tempo lambat. Ia tak ingin mendengar kata penolakan.“Hamba ... hamba mengerti.” Bahu si ajudan menegang.Pangeran Atmajaya menarik salah satu ujung bibirnya. Ia kemudian

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   175|

    Prameswari Widuri mendengar dengan jelas teriakan dan raungan dari luar ruang interogasi. Suara itu membuatnya ketakutan, namun ia berusaha tetap tenang.“Yang Mulia, apakah kita akan masuk?” tanya Gendhis.Prameswari Widuri memejamkan mata. Ia menghirup napas panjang dan mengembuskannya perlahan agar suasana hatinya tetap stabil.“Tidak usah.” Widuri balik badan.“Serahkan saja itu kepada sipir.” Wanita itu melihat sekilas ke arah makanan yang dibawa oleh dayang.Alih-alih mematuhi perintah sang majikan, Gandhis menahan makanan yang ada ditangannya. Mulutnya ingin berbicara, namun bibirnya terkunci rapat.“Katakan saja!” ucap sang Prameswari.“Yang Mulia, bagaimana dengan ini?” Gendhis mengulurkan tangan.Di dalam genggamannya, terdapat botol kecil terbuat dari kaca. Benda itu berisi ‘Sumber Kehidupan Abadi’.Widuri menarik napas panjang. “Awa

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   174|

    “EHHHMM ... AAKKKKKHHHHHH!!”Suara Raden Cakrasurya mengisi ruang interogasi.“Senapati! Kalau Anda jujur dan mau bekerja sama, Anda tidak perlu menderita seperti ini,” ucap Pangeran Atmajaya yang sedang menikmati pisang putri muling.Raden Cakrasurya yang terikat rantai besi tetap pada pendiriannya. Ia selalu mengatakan tidak tahu tiap kali petugas bertanya. Bahkan jika pertanyaan itu disertai dengan cambukkan.Sikap sang Senapati yang konsisten dari awal hingga akhir membuat Pangeran Atmajaya geram. Ia membuang kulit pisang sembarangan dan mengambil alih penyelidikan.“Sepertinya mereka terlalu lembut pada Anda.” Pangeran Atmajaya merebut cambuk dari tangan petugas.Lelaki itu tersenyum sinis pada Raden Cakrasurya. Di dalam kepala sang Pangeran berputar banyak ide untuk mendapatkan jawaban yang memuaskan tahanan di depannya.“Jika Senapati ingin aku bersikap lembut juga, Anda menjawab pertan

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   173|

    Prameswari Widuri memejamkan mata untuk beberapa saat. Ia menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan.“Ayah bilang apa barusan?” sang Prameswari membuka mata. Ia tersenyum getir.“Baginda mengeluarkan surat penangkapan Raden Cakrasurya serta izin untuk menggeledah kediamannya. Di sana ditemukan laporan investigasi bahwa penyebab kebakaran pabrik tekstil adalah Magnesium,” tutur Raden Kamaharja, Perdana Menteri Badra.“Laporan itu sengaja disembunyikan di kediaman Senapati dan tak kunjung memberikannya kepada Baginda. Karena itu beliau murka.” Raden Kamaharja mengurangi volume suaranya.“Baginda kemudian memberi kuasa penuh kepada Pangeran Atmajaya untuk menyelidiki kasus kebakaran pabrik tekstil Putra Mahkota secara menyeluruh.” Sang Perdana Menteri menghela napas dengan berat, kemudian menggigit bibirnya.Bahu Prameswari Widuri merosot begitu saja. Apa yang terjadi pada besannya membuat w

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   98|

    Berbohong merupakan perbuatan tercela. Jika seseorang berbohong pada orang biasa konsekuensinya hanya tidak dipercaya lagi. Namun jika berbohong pada seorang pangeran, orang tersebut bisa mendapat konsekuensi yang serius.Damarteja tidak memandang bulu saat menghukum seseorang. Karena Must

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   97|

    Pertunjukkan wayang memiliki kaitan yang erat dengan agama yang dianut oleh masyarakat Badra. Mereka menganggap acara ini sebagai sesuatu yang sakral karena mengubungkan dunia manusia dan spiritual.Bagi para penguasa, wayang memiliki fungsi yang lain, yakni sebagai penggerak cerita agar m

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   96|

    Apabila barang tersedia dalam jumlah sedikit sementara permintaan masyarakat sangat tinggi, maka menurut konsep ekonomi akan terjadi kelangkaan relatif yang mendorong harga barang naik. Hal ini juga berlaku untuk keadaan sebaliknya.Untuk menekan tingginya harga barang, Tumenggung Yajnayod

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   95|

    Chapter 95Demi mengurangi perhatian orang lain, Muniratri mengubah strategi. Dia yang awalnya rutin mengunjungi Balai Geliat Merah Muda, kini menukar posisi dengan Ayunda.Setiap satu minggu sekali, wanita yang kini dipercaya sebagai pemilik di atas kertas atas balai t

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status