LOGINKamakarna memang terlambat menghadiri rapat pagi. Namun karena dia datang bersama dengan Ndari, dia masih bisa berjalan dengan dada membusung.
‘Orang-orang itu pasti mengiranya aku sengaja datang lebih lambat karena harus menemani Putri Mahkota yang pertama kali datang ke Aula Hutama,’ pikir Kamakarna.
“Yang Mulia ... mereka semua melihat ke arah sini. Saya takut.” Ndari berpegang erat pada lengan Kamakarna.
Putra Mahkota menepuk-nepuk punggung tan
“Ini jatahmu!” Sipir meletakkan bubur dan minuman khas penjara bawah tanah di hadapan Ganendra dengan hati-hati.Ajudan Putra Mahkota tersebut langsung menenggak minuman coklat kehitaman di dalam gelas. Setelah air yang pahit itu tandas, ia segera memakan bubur untuk menetralkan pahit yang tertinggal di lidah.“Eh! Pelan-pelan saja, tidak ada yang ingin berebut denganmu,” Sipir tersebut mengambil sesuatu dari kantong yang tergantung di pinggangnya.“Nih penawarnya.” Ia memberikan sepotong kue wajik kepada Ganendra.Sorot mata Ganendra tertuju pada kue yang terbuat dari ketan dan gula merah itu. Ia melihat ekspresi si sipir sejenak, lalu mengambil wajik di tangannya.“Tenang saja. Tidak ada racunnya,” celetuk si sipir ketika melihat Ganendra ragu untuk memakan wajik pemberiannya.Ganendra tertawa singkat. Ia membagi wajik itu menjadi dua. Satu untuknya, sedangkan yang lain untuk sipir itu.
“Apa hanya ini yang kalian temukan?” Pangeran Atmajaya membentangkan laporan yang diberikan bawahannya.“Benar, Kanjeng Pangeran. Kami sudah mencari ke semua tempat yang berhubungan dengan Senapati Cakrasurya, namun tak menemukan adanya bukti bahwa beliau yang melakukan kebakaran,” terang lelaki itu.Pangeran Atmajaya meremas laporan yang baru saja ia baca. Lelaki itu menyalakan api dan menghanguskannya.“Ingat ini baik-baik!” Sang Pangeran mengacungkan jari telunjuk ke depan muka si bawahan.“Kita belum menemukan petunjuk siapa dalang pembakaran pabrik tekstil keraton. Paham?!” ucap Pangeran Atmajaya dengan suara pelan.Lelaki itu menepuk-nepuk pundak bawahannya tiga kali secara berturut-turut dengan tempo lambat. Ia tak ingin mendengar kata penolakan.“Hamba ... hamba mengerti.” Bahu si ajudan menegang.Pangeran Atmajaya menarik salah satu ujung bibirnya. Ia kemudian
Prameswari Widuri mendengar dengan jelas teriakan dan raungan dari luar ruang interogasi. Suara itu membuatnya ketakutan, namun ia berusaha tetap tenang.“Yang Mulia, apakah kita akan masuk?” tanya Gendhis.Prameswari Widuri memejamkan mata. Ia menghirup napas panjang dan mengembuskannya perlahan agar suasana hatinya tetap stabil.“Tidak usah.” Widuri balik badan.“Serahkan saja itu kepada sipir.” Wanita itu melihat sekilas ke arah makanan yang dibawa oleh dayang.Alih-alih mematuhi perintah sang majikan, Gandhis menahan makanan yang ada ditangannya. Mulutnya ingin berbicara, namun bibirnya terkunci rapat.“Katakan saja!” ucap sang Prameswari.“Yang Mulia, bagaimana dengan ini?” Gendhis mengulurkan tangan.Di dalam genggamannya, terdapat botol kecil terbuat dari kaca. Benda itu berisi ‘Sumber Kehidupan Abadi’.Widuri menarik napas panjang. “Awa
“EHHHMM ... AAKKKKKHHHHHH!!”Suara Raden Cakrasurya mengisi ruang interogasi.“Senapati! Kalau Anda jujur dan mau bekerja sama, Anda tidak perlu menderita seperti ini,” ucap Pangeran Atmajaya yang sedang menikmati pisang putri muling.Raden Cakrasurya yang terikat rantai besi tetap pada pendiriannya. Ia selalu mengatakan tidak tahu tiap kali petugas bertanya. Bahkan jika pertanyaan itu disertai dengan cambukkan.Sikap sang Senapati yang konsisten dari awal hingga akhir membuat Pangeran Atmajaya geram. Ia membuang kulit pisang sembarangan dan mengambil alih penyelidikan.“Sepertinya mereka terlalu lembut pada Anda.” Pangeran Atmajaya merebut cambuk dari tangan petugas.Lelaki itu tersenyum sinis pada Raden Cakrasurya. Di dalam kepala sang Pangeran berputar banyak ide untuk mendapatkan jawaban yang memuaskan tahanan di depannya.“Jika Senapati ingin aku bersikap lembut juga, Anda menjawab pertan
Prameswari Widuri memejamkan mata untuk beberapa saat. Ia menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan.“Ayah bilang apa barusan?” sang Prameswari membuka mata. Ia tersenyum getir.“Baginda mengeluarkan surat penangkapan Raden Cakrasurya serta izin untuk menggeledah kediamannya. Di sana ditemukan laporan investigasi bahwa penyebab kebakaran pabrik tekstil adalah Magnesium,” tutur Raden Kamaharja, Perdana Menteri Badra.“Laporan itu sengaja disembunyikan di kediaman Senapati dan tak kunjung memberikannya kepada Baginda. Karena itu beliau murka.” Raden Kamaharja mengurangi volume suaranya.“Baginda kemudian memberi kuasa penuh kepada Pangeran Atmajaya untuk menyelidiki kasus kebakaran pabrik tekstil Putra Mahkota secara menyeluruh.” Sang Perdana Menteri menghela napas dengan berat, kemudian menggigit bibirnya.Bahu Prameswari Widuri merosot begitu saja. Apa yang terjadi pada besannya membuat w
“Ayah ... Ibu ...!”Ndari yang berada di dalam penjara bawah tanah bergegas menuju pintu sel. Dia menatap orang tuanya dari balik jeruji besi.“Kenapa kalian ditahan di sini juga?!” Wanita itu menggenggam jeruji besi erat-erat, seolah ingin menghancurkannya.Raden Cakrasurya hanya bisa menghela napas berat, sementara sang istri sibuk memutar matanya. Ia menelisik ke seluruh penjuru ruangan gelap itu.“Kalian harus bersyukur karena ditempatkan di sel yang sama!” ejek Pangeran Atmajaya.Seorang sipir membuka gembok sel yang ditempati oleh Ndari. Ia menjebloskan kedua orang itu dengan kasar.“Ayah ... Ibu ... kalian tidak apa-apa?” tanya Ndari saat kedua orang tuanya jatuh tersungkur di atas jerami kering.Ndari dan Narti bahu-membahu mengangkat sang Senapati dan istrinya. Mereka menepuk-nepuk badan keduanya, membersihkan noda dan debu yang menempel di badan.“Ibunda, apa yang terjadi?” Ndari menggenggam tangan ibunya.Sang Putri Mahkota yang terpuruk itu bergidik ngeri melihat penampilan
Sebelum sang ayah tersandung kasus korupsi, Muniratri sudah biasa berkunjung ke Keraton Badra. Ia ke sana tak hanya untuk menghadiri acara-acara besar, tetapi juga sekadar untuk memenuhi undangan para anggota keraton.“Tempat ini tidak berubah, tapi entah kenapa suasananya berbeda,&r
Sepanjang perjalanan menuju ke Keputren, Narti berulang kali melirik sang Putri Mahkota. Ia ingin mengatakan sesuatu, tapi tak berani. Ia takut dianggap terlalu ikut campur urusan majikannya.“Katakan. ada apa?” Pandangan Ndari lurus ke depan.Perempuan itu memang tidak
Hal pertama yang Kamakarna lakukan saat tiba di Ibu Kota ialah mengajak Muniratri kembali ke kediaman Keluarga Wasista yang telah disita oleh keraton. Suasana hangat yang Muniratri ciptakan di dalam kereta kini berubah drastis.Tak ada lagi senyum terukir di bibir indah sang Putri Hadiwang
Sebagai perempuan yang terlahir di keluarga bangsawan, Ndari tak pernah mengalami kehidupan yang buruk. Namun semenjak menjadi Putri Mahkota Badra, dirinya tak jauh berbeda dengan bunga plastik, indah dilihat namun tak benar-benar hidup.Saat Putra Mahkota mengabaikan keberadaannya dan mem







