LOGIN
“Paramitha tidak ada di kamarnya!” Abhimata terburu-buru memasuki ruang keluarga. Ia menyerahkan sebuah kertas pada ayahnya. “Dia meninggalkan sebuah surat.”
Wajah Seno Wiratama langsung mengeras. Rahang-rahang wajahnya terlihat jelas, matanya menatap nyalang pada selembar kertas yang ia baca. Berani-beraninya Paramitha kabur saat acara sakral yang melibatkan kerajaan.
Hari ini adalah pernikahan sang putri pertama, Paramitha Wiratama dengan pangeran ketiga. Semuanya telah siap, kereta kuda sudah datang dari kemarin sore, tinggal menunggu calon pengantin wanita untuk berangkat ke istana.
“Apa yang ditulisnya? Kenapa ia pergi di hari pernikahan?” Utari menatap sang suami. Mata wanita itu berkaca-kaca. Paramitha adalah putri kesayangannya, bagaimana bisa pergi sendiri tanpa tahu ke mana?
Sejak kecil Paramitha terbiasa di rumah dan bermain dengan anak-anak sekitar rumah saja, tidak pernah pergi jauh. Gadis itu seperti permata Wiratama yang dijaga dengan sangat hati-hati.
Saat keluarga kerajaan datang melamar Paramitha, Seno dan Utari sangat senang dan berbangga hati. Anak kesayangan mereka akan mengangkat derajat keluarga. Menikah dengan keluarga kerajaan adalah kebanggaan semua orang.
“Paramitha pergi bersama Caraka. Ia tidak mau menikah dengan pangeran ketiga,” ucap Seno dengan suara rendah dan berat. Terdengar helaan napas beberapa kali, berpikir jalan keluar untuk menghadapi keluarga kerajaan,
Pangeran ketiga bukanlah pewaris kerajaan, lelaki itu lahir dari selir yang dihukum mati. Ia dianggap pangeran yang terbuang dan terkenal kejam. Itu juga yang menjadi alasan Paramitha kabur.
Seno mengurut keningnya perlahan, kalau sampai pangeran ketiga tahu Paramitha kabur, habis sudah keluarga Wiratama. Pasti akan dihukum, entah diusir atau dipenjara. Keduanya tidak ada yang lebih baik.
Netranya tiba-tiba melihat Nirmala, anak bungsu yang memiliki perangai berlawanan dengan Paramitha. Tidak ada jalan lain. Seno berseru, “Nirmala, kamu harus menggantikan Paramitha menikah dengan pangeran!”
Nirmala berdiri. “Tidak Ayah! Aku tidak mau me–”
“Ini perintah! Kamu tidak bisa membantah. Demi nama baik keluarga kita dan untuk menghindari hukuman dari kerajaan.” Seno berdiri menatap tajam Nirmala, suara lantangnya membuat keluarga yang hadir terdiam. “Utari, dandani Nirmala agar bisa segera berangkat menuju kerajaan!”
“Ayah! Aku tidak mau!” teriak Nirmala. Ia berlari mengejar Seno yang keluar dari ruang keluarga. “Ayah!”
Gadis itu menghadang jalan Seno. “Aku tidak mau pergi ke istana, Ayah. Tolong jangan paksa aku.”
“Kalau kamu tidak mau menikah dengan pangeran, maka kamu bukan anak keluarga Wiratama lagi!” ancam Seno.
Nirmala terdiam. Matanya berkaca-kaca. Ini lebih menakutkan dari sekadar mimpi buruk.
Setelah langkah Seno menjauh, Utari mendekati Nirmala dan menariknya ke ruangan untuk didandani. Tidak ada kelembutan dari sang ibu. Wanita itu mendandani Nirmala seperti mendandani boneka.
“Ibu …,” lirih Nirmala. Berharap ibunya membuka suara untuk menghibur atau sekadar basa-basi.
“Jangan merengek! Setidaknya masa depanmu terjamin di istana. Dibandingkan dengan Paramitha yang entah di mana ia berada,” ujar Utari mengusap air mata.
Bukan kesedihan karena Nirmala akan pergi meninggalkannya, tetapi sedih karena kehilangan Paramitha.
***
Kereta kuda melaju meninggalkan halaman rumah Wiratama. Roda kayunya berderak pelan, terdengar menyayat hati. Seolah ikut meratapi nasib penumpang di dalamnya. Nirmala duduk kaku, pandangannya kosong. Setiap getaran kereta seperti membawanya menjauh dari rumah, menuju dunia yang belum pernah ia jamah.
Nirmala menahan tangis. Karena ia tahu menangis tidak akan mengubah apa pun. Sejak kecil, ia selalu berada di balik bayang-bayang Paramitha, anak yang disayangi semua keluarga. Sedangkan dirinya? Anak bungsu yang dianggap keras kepala dan sering membantah. Namun kini, justru ia yang harus menanggung akibat dari kepergian sang kakak.
“Putri Wiratama, kita sudah sampai istana.” Seorang penjaga membuka tirai kereta dan membantu Nirmala turun.
Setelah turun dari kereta, Seno berdiri di samping Nirmala. Di belakang mereka, semua keluarga Wiratama mengiringi menuju aula.
Pintu aula terbuka lebar, sudah dipenuhi oleh para tamu dan keluarga kerajaan. Duduk di paling depan, sang raja didampingi ratu. Tepat di tengah aula, pangeran ketiga sudah menanti calon pengantinnya.
Langkah Nirmala terasa berat, banyak ketakutan hinggap di benaknya. Akankah sang pangeran menerima pengantinnya diganti?
“Berhenti!” seru sang pangeran. Matanya menatap nyalang Nirmala. Ia mendekat dan tiba-tiba menghunuskan pedang pada Nirmala. “Kamu bukan pengantinku. Siapa kamu? Di mana Paramitha?”
Ujung pedang itu berkilat, hanya berjarak sejengkal dari leher Nirmala. Gadis itu membeku. Wajahnya pucat pasi. Kakinya terasa lemas.
Seluruh aula mendadak sunyi. Terkejut dan penasaran dengan apa yang akan terjadi selanjutnya. Pangeran Arya, sang pangeran ketiga itu tak pernah bermurah hati pada siapa pun.
“Jawab!” bentak Arya, “aku bertanya, siapa kamu?”
Nirmala menelan ludah. Tangannya gemetar, namun ia memaksa diri berdiri tegak. Jika hari ini memang akhir hidupnya, ia tidak ingin mati sambil berlutut.
“Hamba … Nirmala Wiratama,” jawabnya dengan nada bergetar, “adik dari Paramitha.”
Para tamu semakin kaget. Beberapa bangsawan saling berbisik, baru kali ini ada kejadian mengejutkan seperti ini. Sementara itu, Ratu menegakkan punggungnya, menatap tajam ke depan. Raja sendiri mengernyitkan dahi, sorot matanya penuh pertanyaan.
“Adik? Berani sekali keluarga Wiratama mempermainkan kerajaan. Apakah kamu tidak tahu hukuman atas perbuatan kalian ini?” Mata Arya tajam menatap Nirmala, kemudian menatap satu per satu keluarga Wiratama. Wajah mereka pucat pasi.
Ujung pedang itu sedikit terangkat. Nirmala menelan ludah. Selangkah saja Arya maju, maka pedang itu akan menembus leher Nirmala.
Abhitama maju ke depan, kemudian berlutut di hadapan Arya. “Mohon ampun, Pangeran. Maaf atas kelancangan kami. Adik hamba, Paramitha Wiratama telah kabur dari rumah. Sehingga kami membawa Nirmala Wiratama sebagai pengantin pengganti. Semoga Pangeran bermurah hati dan mengampuni kelancangan kami.”
Seno ikut berlutut, diikuti seluruh keluarga Wiratama, kecuali Nirmala. Gadis itu tak berani bergerak sedikit pun.
“Hukuman bagi pengkhianat adalah mati ….” Suara berat itu menggelegar di aula yang seketika hening. Pangeran Arya menatap tajam pada Nirmala.
Hari pernikahan yang seharusnya dirayakan sukacita, akankah berubah menjadi acara kematian?
-
Bersambung
Tepat setelah cambukan ke-20, Wistara tak sadarkan diri. Alih-alih iba, Arya yang melihatnya justru semakin murka. Ia membayangkan saat Nirmala duduk di kursi pesakitan dan menerima cambukan. Apa yang diterima Wistara belum seberapa dibanding dengan penderitaan yang dialami Nirmala.“Bawa ia ke ruang tahanan!” seru Arya. “Obati lukanya. Pastikan ia hidup untuk menerima cambukan besok. Setiap hari, beri 20 kali cambukan, hingga genap seribu sampai hari ke-50.”Kepala Tahanan yang mendengarnya langsung menerima perintah dengan sikap tegap. “Kami akan melakukan perintah Anda, Pangeran.”Arya kemudian melangkah menuju ruangannya. Ia menatap ruangan berisi sebuah meja di depan dan beberapa meja yang dibuat melingkar. Kalau bukan karena Nirmala, mungkin Arya tidak pernah terpikirkan untuk masuk ke ruangan peradilan ini. Beberapa bukti kematian ibunya sudah ia dapatkan dari orang-orang di pemukiman pegunungan. Mereka mencari informasi dari mulut ke mulut. Namun, Arya tahu bukti sesungguhnya
“Setelah melakukan penyelidikan kembali terhadap kejadian Putri Nirmala, maka Yang Mulia Raja memutuskan bahwa itu bukanlah kejahatan ….” Sekretaris Kerajaan membacakan keputusan Raja di hadapan para menteri. Ketiga pangeran berdiri sejajar paling depan. Ini adalah rapat pertama bagi Arya. Tadi, sebelum matahari terbit, dirinya baru sampai ke istana bersama utusan Putra Mahkota.Suasana hening menyelimuti aula besar itu. Semua orang menunggu pengumuman selanjutnya. Kalau Putri Nirmala tidak bersalah, maka pihak yang melaporkan dan memberi hukuman semena-mena harus diberi sanksi.Wajah Wistara sudah pucat. Ia hanya bisa menunduk menerima tatapan tajam dari sang raja. Para menteri juga melirik ke arahnya, ia benar-benar tidak punya wajah saat ini. Fraksi kanan benar-benar telah membuangnya.“... dan membebaskan Putri Nirmala dari segala tuduhan. Adapun kepada Pejabat Wistara yang telah membuat tuduhan palsu, akan dihukum dengan hukuman cambuk seratus kali dan diturunkan jabatannya dari
Nirmala terbangun saat hari semakin gelap. Di ruangan itu hanya ada sebuah lentera kecil yang menyinari. Cahaya redupnya tak mampu menerangi seluruh ruangan. Pemandangan yang biasa ia temui saat masih di rumahnya.“Kamu sudah bangun?” Suara Arya membuat Nirmala menengok ke arah kursi. Di sana, Arya sedang duduk ditemani secangkir teh.Nirmala merasa punggungnya sedikit berat, ada selimut tebal yang menyelimuti tubuhnya. Ia merapikan baju belakangnya di balik selimut sebelum mengangkat kepala dan duduk di pinggir ranjang.Meski tidak sebesar tempat tidur di istana, ranjang itu cukup untuk dua orang dengan posisi yang saling rapat. Gerakan perempuan itu tak luput dari perhatian Arya. Dengan rambut sedikit berantakan dan wajah polos tanpa riasan, Nirmala membuat gairah sang pangeran perlahan bangkit.“Sepertinya aku tidur sangat lama, sampai tidak sadar kalau Daya sudah pergi.” Nirmala coba mencairkan kecanggungan di ruangan itu.Sejak bertemu lagi dengan Arya, Nirmala merasa dadanya jad
Wangi tubuh Nirmala yang beberapa hari ini Arya rindukan, menyelusup ke dalam indra penciumannya. Memberi ketenangan dan juga gairah yang tak mungkin dihentikan. Mereka masih memakai pakaian lengkap karena Arya tak ingin buru-buru. Ia memiliki banyak waktu untuk menyentuh istrinya itu. Tok! Tok! Tok!Suara ketukan pintu seketika membuat sepasang manusia itu terdiam. Mereka lupa kalau mereka bukan di kediaman Arya yang bisa bebas tanpa gangguan. Di pemukiman kecil ini, orang-orang terbiasa berkunjung ke rumah satu sama lain.“Pangeran, sudah waktunya mengobati luka Nona Nirmala.” Suara Daya di luar pintu.Tiba-tiba, Arya langsung mendorong tubuh Nirmala hingga terjatuh dari ranjang. Ia mengabaikan suara rintihan kecil perempuan itu. Arya melangkah menuju pintu.“Apa harus sekarang?” tanya Arya dingin begitu membuka pintu dan melihat Daya berdiri di hadapannya dengan membawa obat-obatan.“Kenapa? Apa aku mengganggumu? Meskipun kalian suami istri, bukankah masih terlalu siang untuk sali
“Bagaimana Pangeran bisa ada di sini?” Nirmala masih tak percaya kalau lelaki di hadapannya adalah Arya. “Bukankah Seharusnya Pangeran ke Jayastamba?”“Kenapa? Apa kamu tidak senang bertemu denganku?” Arya menatap Nirmala datar. Harusnya ia langsung memeluk perempuan di hadapannya itu, bersyukur karena akhirnya bisa menemukan Nirmala.“Bu-bukan begitu, Pangeran.” Nirmala merasa serba salah. Ia hanya tak menyangka akan bertemu Arya di sini, di atas gunung. “Apakah … penduduk di pemukiman ini adalah orang-orang Pangeran?Nirmala teringat ucapan Daya yang mengatakan kalau pemimpin di sini adalah seseorang dari istana. Sepertinya itu adalah Arya. Mengabaikan pertanyaan Nirmala, Arya menarik tangan perempuan itu dan membawanya ke sebuah bangunan kayu yang berada di paling ujung. Saat masuk, Nirmala melihat ada ranjang dan kursi. Tempat itu juga lebih besar dari rumah Daya.“Ini tempat tinggalku di sini. Kamu bisa menggunakannya … hanya untuk sementara, karena setelah lukamu sembuh, kita h
Sudah tiga hari Arya tinggal sementara di kedai hiburan untuk mencari Nirmala. Belum ada jejak ke mana perginya perempuan itu. Petugas istana pun mengabarkan kalau Nirmala belum kembali.Arya mulai menduga kalau Nirmala sengaja kabur dari istana. Namun, bukan berarti ia melarikan diri dari hukuman, dari awal Arya yakin kalau Nirmala tidak bersalah. Kemungkinan yang masuk akal adalah, Nirmala kabur dari istana untuk hidup bebas dan pergi sebelum perjanjian seratus hari selesai. Jika itu yang terjadi, Arya tidak akan mengampuni Nirmala dan akan mencarinya sampai ketemu.“Pangeran, lebih baik Anda kembali ke istana. Biar petugas yang mencari di sini,” ucap Prama yang dua hari lalu menemui Arya.Dari Prama pula, Arya tahu bagaimana Anila berusaha mengabari Putra Mahkota untuk meminta bantuan. Arya menyesal, andai saja ia tidak ikut mengantar rombongan Jayastamba, mungkin Nirmala masih ada di istana.“Saya benar-benar tidak tahu kalau Putri Nirmala yang dimaksud Anila adalah istri Pangera







