Share

BANG TARA TURUN TANGAN.

Ternyata Fahri nggak buang-buang waktu lagi buat deketin Tika pake acara modus. Terbukti Fahri lebih gentle dari abang yang ribet, tanpa waktu lama selama menunggu doi mempertemukan kamu dengan orang tuanya. Canda sayang.

Tika yang apa adanya cuma pakai celana hitam panjang bahan karet yang pas melekat di kaki pendekanya dipadukan dengan baju jaman now yang panjang sampai paha, dimana terlihat seperti baju tidur tapi bukan. Warnanya abstrak, cakep. Kaya muka Fahri dan abang, cakepnya paripurna. Tidak tertandingi siapapun dimata Tika, yang cuma melihat lelaki itu-itu saja.

Kalau tidak teman lelaki dikantor, ya pasti abang dan bang Tara ditambah kak Fahri sekarang.

Terus rambut Tika kuncir seperti buntut kuda, kunciran favorit kalau kata bang Tara. Alasan lainnya Tika males menata rambutnya, cuman kuncir kuda yang dirasa nggak ribet.

Pucuk dicinta ulam pun tiba, yang sedang dibicarakan muncul didepan rumah Tika dengan wajah seumringah, sinar senyumnya menyaingi matahari yang merongrong bumi siang ini. Kemudian binar senang yang antusias tidak Fahri tutupi ketika melihat Tika yang imut dipadukan dengan tubuh pendeknya.

Aduh, Fahri jadi merasa salah kostum walau pakaiannya terlihat sederhana tidak sesederhana harga pakaiannya, yang dibandrol jutaan. Soalnya walau sudah pakai baju biasa, dia tetap lebih keliatan dewasa dari Tika, nanti dikata Tika ini adiknya kan bikin keki.

Sedang Tika yang masih menilai Fahri, memandang dari atas kebawah. Untuk menilai, kok walau pakai baju cukup biasa. Tetap saja wajah dan karisma laki-laki dewasa berkepala tiga, tidak bisa ditutupi dengan semua pakaian biasa.

Tika mendadak insecure cuma liat dari sepatu yang Fahri gunakan, dia tau harga sepatu itu dan dia kenali.

Soalnya abang pernah nanya ke Tika, gimana kalau Farhan beli sepatu ini, Tapi langsung Tika ceramahi karena abang sudah banyak mengoleksi sepatu yang mana mungkin hanya dipakai setahun sekali, seperti artis papan atas itu tuh.

Sepatu yang dicuci seminggu sekali miliknya menangis mendengar ini. Sudah lusuh, buluk lagi. Begitu saja Tika sudah beryukur karena masih dapat dipakai. Sepatu juga kalau abang baik, nanyain buat belikan tapi jarang. Paling traktir Tika jajan, amat sering. Tapi sambil dikawal abang.

Tika kan anak paud, nggak bisa di tinggal, dikepar gitu aja. Nanti jajan yang tidak-tidak terus buat khawatir banyakan.

"Udah mandanginnya?,"

Sadar dari kekacauan batin Tika langsung geleng, tengok kanan tengok kiri. Maksudnya geleng-geleng. Malu, Tika langsung tutup mata dengan telapak tangan. Sedang Fahri tertawa melihatnya, dia jadi terhibur liat perempuan yang disukai temannya namun tidak segera ia miliki karena alasan takut ditolak.

Kalah sama anak SD jaman now, yang maju terus pantang mundur. Sampai papa, mamaan pacarannya.

"Yaudah, Kakak mau ijin ke abang kamu dulu ya. Ada didalemkan?." Fahri bertanya dan Tika angguki saja tanpa suara. Cuma kepalanya saja yang gerak sama kaya patung kucing yang biasa ada ditoko miliki orang tiongkok dekat kantor.

Cuma tangganya doang yang gerak, kalau Tika kepalanya.

Terus nggak lama bang Tara yang dengan celana training serta kaos abu-abu berjalan bersisian dengan kak Fahri, sedang bang Tara mengusap rambut basahnya dengan handuk. Tika pandangi saja dalam diam, abisnya bingung mau nyari topik buat ngajak ribut bang Tara.

Habis Tika salah tingkah setelah ketahuan menilai penampilan Fahri yang nggak ada cela buat dijulidin.

"Udah, makannya lu tinggalin mobil lo disini. Pake motor gue aja. Biarin itu setan alas kelabakan tau calon bininya dibawa orang pake motor sambil peluk-peluk mesrahhh," habis ngomong gitu, abang langsung ngakak mukul lengan Fahri.

Tika yang dengar dan lihat malu sendiri sama kelakuan abangnya yang melampaui orang mevvah.

"Tapi ini bakalan mancing gak sih. Soalnya saya ragu sama rencana kamu, dilihat-lihat dia gak ada rasa gitu kok. Yang kaya biasa aja. Baik dan perhatian sama semua cewek,"

"Iya. Baik dan perhatian sama semua cewek, tau adik gue digebet laki lain langsung keluar jurus kucing garongnya sampe luntang lantung cowok yang deketin adek gue. Yang apes adik gue, mewek mulu tiap ditinggalin!."

Terus bang Tara paksa Fahri buat genggam kunci motornya sambil bilang.

"Percaya sama gue, jangan lupa buat story juga biar dia liat."

.

.

Tika bingung sekaligus takjub sama sifat Fahri yang beda dari pertama ketemu, ternyata orangnya nggak begitu jaga image kaya yang tsundere. Dia orangnya suka buka-bukaan aja, untungnya bukan buka baju--nanti hidung Tika mimisan-- apa adanya tapi cara yang halus tanpa menusuk jantung. Nanti Tika malah mati.

Mulai aktif hiperbolanya ya, bun.

Tika dibawa nonton lagi dan disana terlihat ramai, Tika paling malas deh. Tapi karena dipegangi oleh Fahri nggak bisa kabur. Kenapa deh semua orang kalau ajak jalan Tika suka banget ke bisokop, sekali-kali ajak liburan gitu. Tika kan bete dirumah aja, kalau peri juga harus dianterin. Semua abang dan kakaknya terlalu protektif karena katanya Tika anak bungsu dan perempuana.

Hisss...

Dahlah, Tika jadi sebel. Dia hentak kakinya diatas lantaai karena Fahri mau kekamar mandi sebenatr, Tika disuruh duluan buat ambil popcorn dan minuman sebelum masuk studio.

Jadilah dengan wajah ditekuk Tika mendekat kearah si mas, menunggu pesanannya. Si mas nya tadi merhatiin Tika sama Fahri bicara, mukanya yang kaya aneh gitu tapi Tika nggak sempet mikirin. Jadi bodo amat.

Pas popcorn dan minuman sudah ada ditangan, Tika lupa sama sedotannya. Ketika mau ambil, eh kok babang tampan bisa ada disitu, berdiri didepan straw dispenser sedotan yang mana orangnya tadi berdiri dibelakang Tika.

Dan kenapatinggi banget, sampai untuk liat mukanya Tika perlu mendongak. Sontak Tika tersenyum dan bilang.

"Kak, permisi. Mau ambil sedotan."

Eh, habis bilang begitu si babang tampan malah ambilin dua sedotan buat Tika terus kasihin ke Tika sambil nunduk sopan.

"Itu... kamu bisa bawa sendiri minum sama popcornnya?,"

"Em..."Tika terus tengok dua minuman soda dan satu popcorn ukuran sedang.

Tika juga tidak yakin, mau jawab nggak bisa tapi sungkan. Memangnya kalau Tika bilang tidak si babang tampan mau bantuin bawa gitu, kan enggak, takutnya cuma basa basi Tikanya sudah berharap. Kan jatuhnya sakit banget.

"Enggak ya?. Mau saya bantu bawain kedalam? kayanya kita juga satu studio, saya juga nonton sendiri karena teman saya batal datang. Saya cuma pesan minuman, jadi tangan saya yang bisa bantu bawain." Jelasnya yang tidak Tika perkirakan. Padahal tadi sudah berburuk sangka duluan Tika.

'Ampuni Tika ya Allah'

Ucap Tika dalam hati sambil meringis.

"Boleh emangnya?,"

"Sure, kenapa enggak. Tunggu sebentar kalau gitu, kita masuk ke studio bareng."

Oke, Tika akan tunggu. Lagian Fahri lama sekali sih ke kamar mandi, ngobrolin air kali ya?.

Akhirnya keduanya jalan bersisian, Tika jadi meras kerdil jalany disebelah babang tampan. Makannya ketika jalan dia pelan-pelan biar nggak bersisian, dia juga jadi diliatin gitu ketika jalan masuk mau ke studio.

Singkat cerita Tika sudah ada didalam dan duduk, terus takdir memang suka mengagetkan sebab si babang tampan duduk di tepat disebelah Fahri.

Terus Tika bilang terima kasih karena sudah dibantu bawakan, salah satu etika sopan santun yang jangan sampa lupa. Terus babang tampan ngajak ngobrol Tika sambil nungguin semua orang masuk. Tika ngerasa babang tampan seperti tertarik sama Tika, tapi Tika nggak suka diajak ngobrol terus.

Basa-basi gitu tapi emang basi.

Tika sejujurnya malas, guys. Tapi karena balas budi sudah mau bantu Tika bawakan popcorn, dia balas budi dengan jawab terus setiap diajak ngobrol. Untung nggak lama Fahri datang dan langsung comot popcorn gitu aja.

Lihat Tika ternyata ada pawang babang tampan yang tadinya ngajak ngobrol Tika cari perhatian, langsung kenalan sama Fahri dan diam.

Syukur deh sudah muncur duluan. Jadi Tika bisa fokus nonton tanpa perlu di ajak ngobrol.

Tika memang begitu teman. Suka terlalu percaya diri, di kira babang tampan tertarik. Bisa jadi kan dia ajak ngobrol karena nggak mau canggung atau karena dia easy going dan mudah banget berbaur dalam keadaan apapun.

Huh. Dasar Tika, suusdzon saja sama orang lain.

.

.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status