Bab 4 Suasana Pagi Hari

Pagi Harinya

Melalui celah jendela kamar, sinar mentari menyeruak masuk ke dalam kamar Yuan. Yuan tersadar dari tidurnya. Ia mendapati sebuah selimut yang menutupi dan menghangatkan tubuhnya. Sekilas Yuan tersenyum, ia yakin pasti Caramel lah yang telah memberi selimut itu untuknya. 

Yuan melihat ke arah ranjang dan sudah tidak ada Caramel di sana. Yuan bergegas bangun dan mencari keberadaan Caramel di kamar mandi. Namun, tak juga ia temukan. 

Yuan turun ke lantai bawah, dari kejauhan ia melihat punggung wanita yang sedang dicarinya. Tanpa sadar senyum tipis terurai di bibirnya. Caramel selalu bisa membuatnya kagum dengan sosoknya. Caramel tengah bergelut di dapur dengan beberapa ART di sana. Caramel terlihat sangat nyaman dan bahagia. 

“Lho, Mas? Kamu sudah bangun?” tanya Caramel lembut setelah menyadari kehadiran Yuan. 

“Iya. Kamu lagi apa di sini? Tempat ini bukan tempatmu.” Yuan menyelidik. 

“Aku sedang menyiapkan sarapan buat kamu, Mas. Lagian ini pekerjaan yang biasa aku lakukan setiap hari kok. Justru aku bingung kalau hanya berdiam diri di kamar,” jawab Caramel. 

“Ya sudah. Kalau sudah selesai, kamu ke kamar, siapkan baju untuk kukenakan ke kantor hari ini,” ucap Yuan dengan melangkah kembali menuju kamarnya. 

“Iya, Mas,” jawab Caramel. 

Setelah menyelesaikan semuanya, Caramel izin untuk kembali ke kamarnya. Dengan tersenyum senang, para pembantu itu mengizinkannya. Baru kali ini mereka merasa mempunyai majikan yang membuatnya nyaman. 

Caramel telah sampai di kamar. Ia melihat Yuan yang baru keluar dari kamar mandi dengan menggunakan handuk di pinggangnya. 

“Maaf, Mas. Aku cuma mau menyiapkan baju kamu saja,” ucap Caramel dengan menutupi wajahnya. Ia berjalan melewati Yuan menuju ruang ganti untuk mengambilkan pakaian untuk Yuan. Sedangkan Yuan hanya kikuk karena belum terbiasa dengan kehadiran Caramel di kamarnya. 

Yuan telah selesai memakai baju dan celananya. Ia menggunakan celana hitam dan kemeja berwarna maroon. Caramel berniat ingin memasangkan dasi di kerah Yuan, namun ia tidak berani. Bukan hanya tidak berani, tapi ia juga tidak bisa. Dalam hidupnya, ini pertama kalinya ia memasang dasi untuk seorang pria. 

Caramel melangkah perlahan menghampiri Yuan yang tengah bercermin. 

“Mas … ini dasinya,” ujar Caramel dengan memberikan dasi itu kepada Yuan. 

“Sebagai istri yang baik, harusnya kamu yang memasang!” sindir Yuan dengan melirik ke arah Caramel. 

Dengan canggung, Caramel semakin mendekatkan diri dengan Yuan. 

“Permisi ya, Mas?” ucap Caramel sopan. Karena ia akan memulai eksekusinya. 

Caramel mulai memasangkan dasi itu, dan beberapa kali pula salah. Ia tidak tau bagaimana cara memasangnya. 

“Kenapa? Tidak bisa?” tanya Yuan dengan nada mengejek. 

“Ini 'kan memang pertama kalinya aku akan memakaikan dasi, Mas,” bela Caramel. 

“Sini aku ajarin,” ujar Yuan dengan membantu Caramel memasang dasi di kerahnya. 

Dengan sangat pelan dan telaten, Yuan mengajari Caramel. Beberapa kali tanpa sengaja mereka saling menatap dan menyapu pandangannya. 

“Bagaimana sudah bisa, kan? Mulai besok kamu yang memasangkan dasi ini untukku,” pinta Yuan. Dan Caramel pun mengangguk tanda setuju. 

Setelah drama kecil itu selesai, Yuan mengambil tas kerjanya dan mengambil dompetnya. Ia mengambil 1 buah black card dan diberikan kepada Caramel. 

“Apa ini, Mas?” tanya Caramel bingung dengan memperhatikan black card yang ada di telapak tangannya. 

“Beli apapun yang kamu mau dengan menggunakan kartu itu,” jawab Yuan. 

“Tapi aku tidak membutuhkannya, Mas!” tolak Caramel dengan mengembalikan kartu tersebut ke tangan Yuan. 

“Simpanlah dulu. Gunakan jika sewaktu-waktu kamu butuh. Kapan-kapan aku akan mengajakmu keluar untuk membeli pakaian dan semua kebutuhanmu. Tunggu waktuku luang, aku sendiri nanti yang akan mengantarmu.” Lagi-lagi Yuan menepis tangan Caramel. 

“Mas ...,” rengek Caramel namun tetap tak dihiraukan oleh Yuan. 

“Menurutlah. Cukup dengan menurut maka semua akan lebih mudah,” balas Yuan. 

“Baiklah. Kalau memang itu mau kamu.” Caramel akhirnya menyerah dengan kemauan Yuan dan menyimpan kartu tersebut. 

Yuan dan Caramel melangkah menuruni tangga menuju ruang makan. Yuan berjalan satu langkah di depan Caramel dan Caramel mengekori di belakang Yuan dengan membawa tas kerja Yuan di tangan kanannya. 

Di tempat makan, sudah terlihat Damitri dan Selina yang sedang menampakkan wajah muaknya. Mereka muak melihat kehadiran Yuan dan Caramel yang datang secara bersama-sama. 

“Haduh ... suasana masih pagi ... tapi kok rasanya engap banget, ya?” sindir Selina dengan suara menggelegar. 

Caramel yang merasa tersindir dengan ucapan adik iparnya, hanya diam dan membantu Yuan untuk duduk di kursinya. Yuan hanya diam karena tidak ingin membuat suasana semakin runyam. 

Caramel membuka piring dan mengambilkan makanan untuk Yuan. Semua orang melihat ke arah Caramel dengan tatapan sinis dan tidak suka. 

“Devon di mana, Ra?” tanya Yuan. 

“Dia sudah sarapan tadi pagi, Mas. Dan sudah minum obat juga,” jawab Caramel dengan menuangkan air putih di gelas Yuan. 

“Nanti Om Bima dan Tante Sinta ke sini untuk jemput Devon,” ucap Yuan. 

“Kok pagi ini, Mas? Bukannya masih besok ya, berangkatnya?” tanya Caramel bingung. 

“Om Bima dan Tante Sinta sekalian pulang. Ternyata semalam mereka menginap di Jakarta karena ada urusan pekerjaan. Jadi, mereka meminta Devon untuk pulang bersamanya. Sepertinya besok aku juga ada klien penting, jadi tidak bisa mengantar Devon ke Singapura. Next time saja kita main ke sana,” jelas Yuan. 

Caramel terduduk lemas. Devon akan meninggalkannya sebentar lagi. Tentu ini akan kembali menjadi perpisahan yang menyedihkan untuk Caramel. 

“Drama banget sih ini, gadis miskin! Bikin selera makanku hilang saja,” celetuk Selina sembari melirik ke arah Caramel. 

“Iya, Sayang. Sekarang sudah tidak asyik. Rumah kita dipenuhi drama murahan!” cela Damitri. 

“Kak ... Mah ... sudah dong! Kalian bisa enggak sih, sehari saja enggak buat ulah?” Jennifer ikut berkomentar. 

“Jen ... harusnya kamu ada di pihak Mama. Bukan malah membela mereka!” tukas Damitri memarahi Jennifer. 

“Jenni enggak berada di pihak Kak Caramel atau siapapun, Mah. Jenni hanya membela siapa yang menurut Jenni benar!” bela Jennifer dengan tegas. 

“Kamu memang adik yang paling pintar, Jen. Bulan ini jatah kamu Kakak tambah,” ujar Yuan santai. 

“Serius, Kak? Asyik!!” seru Jennifer kegirangan. 

Selina tampak geram dengan Jennifer yang mengambil hati kakaknya. Apalagi mendengar uang jajan Jenni yang akan ditambah, membuat Selina semakin kebakaran jenggot. 

Selina mengangkat sendok dan garpunya ingin melemparkannya ke arah Jenni, namun seketika Yuan mendelik ke arah Selina. Kemudian Jenni hanya membalas perlakuan Selina dengan menjulurkan lidahnya ke arah Selina. 

“Selina! Jenni! Sudah ayo makan! Jangan sampai kalian membuat kakakmu marah!” Dengan tegas Damitri memperingati anak-anaknya agar menghentikan tingkah bocahnya. 

Setelah sarapan, semua anggota keluarga berpencar kembali pada aktivitasnya. Begitu pun dengan Yuan dan Caramel yang hendak ke kamar Devon untuk membantu mengemasi pakaiannya. 

Caramel membuka pintu kamar Devon sangat pelan. Ia melihat Devon sedang membaca sebuah komik yang ia bawa dari rumah lamanya. Posisi Devon tengkurap dengan membelakangi pintu.

“Dek ...,” panggil Caramel. 

Mendengar namanya disebut, Devon langsung membalikkan tubuhnya ke arah belakang. 

“Kak Caramel, Kak Yuan .... ” Devon menjawab dengan cepat kemudian menutup komik yang sedari ia baca. 

“Kamu lagi apa?” tanya Caramel lembut. 

“Devon lagi baca komik, Kak. Ada apa?” jawab Devon kemudian balik bertanya. 

“Kita kemasi pakaian kamu, yuk. Hari ini, om Bima dan tante Sinta akan menjemput kamu ke sini,” terang Caramel. 

“Kok hari ini? Kak Yuan bilang kan masih besok, Kak?” tanya Devon cukup terkejut. 

“Mereka akan sekalian pulang, Dek. Lagian kak Yuan juga tidak bisa mengantar kamu besok, karena Kak Yuan ada pekerjaan penting. Nanti kalau ada waktu, Kakak dan Kak Yuan akan main ke tempat Devon. Di Singapura lho, Dek. Salah satu negara impian kamu, kan?” Caramel terus merayu Devon. 

“Nanti kalau ternyata Devon diculik bagaimana, Kak?” tanya Devon polos membuat Caramel seketika melihat ke arah Yuan. 

Yuan mengambil KTP (Kartu Tanda Penduduk) dari dalam dompetnya. Lalu menyuruh Caramel mengambil sebuah ponsel baru yang terletak di lemari yang berada di ruang kerjanya. 

“Kamu gunakan ponsel ini, dan fotoin KTP Kakak. Kalau sampai Kakak berniat menculik kamu dan bersekongkol dengan om Bima dan tante Sinta, kamu boleh melaporkan kami ke kantor polisi. Dan satu lagi, kalau om Bima dan tante Sinta tidak memperlakukan kamu dengan baik, kamu adukan semuanya sama Kakak,” tutur Yuan dengan memberikan sebuah ponsel dan KTP untuk di foto sesuai arahannya. 

“Dan ini … Kakak memberikan kamu kartu ini, untuk kamu gunakan jika memang kamu membutuhkan. Kakak percaya kamu bisa menggunakannya dengan baik, minta bantuan tante Sinta untuk menggunakannya. Untuk keperluan kamu selama di sana, Kakak sudah tanggung semuanya.”

Yuan juga memberi sebuah kartu titanium miliknya untuk Devon. 

“Tidak! Tidak! Devon tidak mau, Kak. Oke, baiklah Devon percaya. Devon hanya akan menggunakan ponsel ini untuk menghubungi Kakak dan Kak Caramel. Terimakasih banyak, Kak. Maafkan Devon yang sudah salah sangka sama Kakak,” ucap Devon dengan meminta maaf kepada Yuan karena sempat berpikiran buruk terhadap kakak iparnya. 

“Iya. Jadi sekarang bagaimana? Kamu mau 'kan berangkat ke Singapura saat ini juga?” tanya Yuan memastikan. 

“Demi kembali melihat senyum Kak Caramel karena kesembuhan Devon, Devon mau Kak. Meskipun ini sulit banget untuk berpisah dengan Kak Caramel. Kakak tolong jaga Kak Caramel, ya? Jangan sampai buat Kak Caramel bersedih,” ucap Devon. 

Yuan menatap mata Caramel yang sudah basah karena air mata. Kemudian Yuan mengusapnya dengan menggunakan ibu jarinya. 

“Kakak akan berusaha, Devon.” Yuan menjawab pernyataan Devon masih dengan mengusap air mata Caramel yang terus mengalir. 

Devon memeluk tubuh Caramel dan Yuan bergantian. Rasanya sangat menyesakkan untuknya. Ia akan berpisah dengan kakak yang selama ini sangat menyayanginya, dan berjuang mati-matian untuk kesembuhannya. 

“Kamu jaga diri baik-baik ya di sana, Dek. Jangan nakal, jangan merepotkan om Bima dan tante Sinta. Devon harus janji setelah pulang dari sana, Devon harus sudah sembuh total. Agar kita bisa kembali sama-sama dengan senyuman yang bahagia,” ucap Caramel dengan kembali memeluk tubuh Devon yang terasa mungil menurutnya.

“Iya, Kak.” Devon menjawab dengan tegas. 

Setelah itu, Caramel mengemasi pakaian Devon yang akan dibawa ke Singapura. Lalu mengajak Devon ke ruang keluarga untuk menunggu kedatangan Bima dan Sinta. 

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status