LOGINKami duduk bersebelahan, kaki kami menjuntai santai di tepi balkon. Suara ombak kecil yang menampar pilar water villa menjadi satu-satunya musik pengiring. Di hadapan kami, matahari tenggelam dalam kemegahan, mewarnai langit dan permukaan laut dengan spektrum oranye, merah marun, dan ungu yang menyala. Pemandangan itu luar biasa, jauh lebih indah dari gambar mana pun yang pernah kulihat.
“Ini indah sekali, Mas,” bisikku, takjub.“Tidak seindah kamu, Sayang,” balas Althaf, taKami duduk bersebelahan, kaki kami menjuntai santai di tepi balkon. Suara ombak kecil yang menampar pilar water villa menjadi satu-satunya musik pengiring. Di hadapan kami, matahari tenggelam dalam kemegahan, mewarnai langit dan permukaan laut dengan spektrum oranye, merah marun, dan ungu yang menyala. Pemandangan itu luar biasa, jauh lebih indah dari gambar mana pun yang pernah kulihat.“Ini indah sekali, Mas,” bisikku, takjub.“Tidak seindah kamu, Sayang,” balas Althaf, tatapannya beralih dari sunset ke wajahku.Ia menyesap wine-nya, lalu memiringkan badannya sedikit, merangkul punggung kursi di belakangku. Rasa damai yang mendalam menyelimuti kami. Aku bersandar ke bahunya.“Mas, sejujurnya, setelah semua penjelasan soal Theresa dan Project Ascension, saya merasa sangat lega,” kataku jujur. “Tadinya saya takut kalau kecurigaan saya ngaco lagi, seperti yang terjadi saat kasus Bu Yuanita dulu.”Althaf memegang tanganku, menggerakkan ibu
Pagi ini, aku dan Layla duduk di kantin jurusan, memanfaatkan jam kosong sebelum mata kuliah selanjutnya. Aku berusaha fokus meninjau ulang catatan untuk outline Bab 2 tesisku di buku catatan. Sayangnya, pikiranku masih dipenuhi bayang-bayang kejadian semalam, membuatku hanya bisa membolak-balik halaman yang sama berulang kali. Layla, dengan kacamata bacanya yang tersemat di rambut, menyeruput kopi susu sambil menatapku penuh selidik. "Sen, please deh, Lo dari tadi muter-muter di halaman yang itu-itu aja," Layla berbisik, memajukan kursinya. "Gue mau tahu, gimana hasil interogasi semalam? Lo sudah tanya langsung soal Theresa belum?" Aku menutup buku catatan tesisku dan menyandarkannya di meja. Aku tersenyum kecil, merasa jauh lebih tenang dari kemarin. "Gue udah tanya, Lay. Last night, saat kami makan Ayam Betutu," jawabku. Layla langsung meletakkan kopinya. "DAN?! Cepat cerita! Gimana? Lo berhasil dapat kejujuran dari dia, nggak? Jangan sampai dia bohong lagi pakai alasan meeting
Kami duduk berhadapan. Aku menyendokkan Nasi Jeruk ke piring Althaf—butiran nasinya masih harum dan berkilauan—kemudian aku memberinya porsi besar Ayam Betutu kuah. Daging ayam yang empuk dan kuah pedasnya tampak menggugah selera.“Mas, selamat makan,” kataku tulus.“Selamat makan, Sayang,” balas Althaf, ia meraih tanganku dan mengecup punggungnya sebelum mulai menyantap. “Terima kasih banyak, ini comfort food yang paling saya rindukan setelah seharian diluar rumah.”Althaf mulai menikmati hidangannya dengan lahap. Aku memperhatikannya, melihat bagaimana raut tegang di wajahnya perlahan luntur seiring setiap suapan yang ia nikmati. Ini adalah momen intim kami, fondasi yang ku coba pertahankan mati-matian dari guncangan Theresa Adrianna.Aku tahu, meskipun suasana sudah nyaman, aku harus bertanya. Jika aku menunda lagi, bayangan Theresa yang anggun di layar TV—sang Top Model yang sempurna—akan kembali menghantuiku. Aku tidak mau membiarkan rasa pen
Aku duduk di meja makan, menatap hidangan yang telah aku masak. Aku menghabiskan waktu berjam-jam di dapur, menuangkan semua energi cemas dan rasa insecurity terhadap Theresa menjadi hidangan yang hangat. Di hadapanku, tersaji Ayam Betutu Kuah yang aromanya menggiur kan, kaya akan wangi rempah, jahe, dan kunyit—rasanya pasti pedas dan hangat. Ayam utuh itu dimasak perlahan hingga dagingnya begitu lembut. Hidangan utama itu ditemani semangkuk besar Nasi Jeruk yang harum, butiran nasinya pulen dan berkilau. Sebagai pelengkap, ada Tumis Bunga Pepaya yang sengaja kutambahkan teri medan agar rasanya seimbang, tidak terlalu pahit.Semua tertata rapi di atas piring-piring keramik yang baru kami beli. Aku menatapnya dengan tatapan bangga. Aku mengambil ponselku, membuka kamera, dan memotret makanan di meja makan itu dari sudut terbaik, memastikan plating yang rapi dan uap tipis yang masih mengepul terlihat jelas.aku mengirimkan foto itu pada Althaf.[Sent to : Mas Althaf]Makanan sudah sia
Di layar itu, terpampang jelas akun Instagram dengan ikon centang biru dan followers yang mencapai jutaan. Feed-nya menampilkan foto-foto Theresa Adrianna dalam balutan gaun haute couture di berbagai fashion week Eropa. Sosok wanita itu tampak sangat cantik, elegan, dan memancarkan aura jet-setter yang profesional dan mahal. Wajah Theresa benar-benar tanpa cela: mata tajam, tulang pipi tinggi, kulit porselen yang memancarkan aura dingin, dan sorot mata yang penuh percaya diri—sebuah kecantikan yang terasa matang, elit, dan sangat mahal.“Iya, Lay. Ini dia. Wajahnya sama persis,” bisikku, lidahku terasa kelu. “Dia... dia jauh lebih cantik dari yang gue bayangkan dari foto profil kecil itu.”Fakta bahwa Theresa adalah Top Model yang menetap di Milan dan tidak pernah kembali ke Indonesia, namun kini menghubungi Althaf secara urgent di hari Minggu, membuat situasiku terasa mencekik. Konflik ini tiba-tiba menjadi jauh lebih besar dan lebih pribadi daripada sekadar masal
Aku duduk meringkuk di sofa ruang TV apartemen. Udara terasa dingin, meskipun di luar cerah. Aku baru saja mematikan televisi, tak ada satu pun suara berita di sana yang bisa menenggelamkan riuh di kepalaku. Baru beberapa jam yang lalu, aku terbangun dalam pelukan Althaf yang begitu hangat; kini, yang tersisa hanyalah kekosongan dan kehampaan.Althaf sudah pergi. Ia pergi begitu cepat, tergesa-gesa mengganti baju training-nya dengan kemeja formal, setelah menerima telepon yang tidak ia sebutkan namanya. Tentu saja, aku tahu siapa yang membuat rahangnya menegang dan membuatnya buru-buru menghilang: Theresa Adrianna.Nama itu mendadak menjadi racun yang menyebar di nadiku. Setelah semua janji, semua keintiman yang kami bagi semalam—pengakuan cinta, belanja groceries bersama, tidur berdua, dan janji lari pagi sebagai fondasi pernikahan kami—kenapa ia memilih pergi mendadak dengan raut wajah tegang saat nama wanita lain muncul?Aku bangkit, berjalan gelisah menuju dapur. Aku membuka kulka
Namaku Sekar Senjani Paramitha. Usiaku dua puluh empat tahun– Mahasiswi FKIP Bahasa Inggris di Universitas Negeri Jakarta—seharusnya tahun ini aku sudah menyandang gelar sarjana, jika saja setahun lalu aku tidak memilih berhenti sementara demi merawat Ibu yang sakit.Beberapa minggu terakhir, hidup
Revan pernah mengatakan bahwa dia memiliki perasaan lebih terhadapku. Itu terjadi tepat di awal semester perkuliahan, di sebuah sore yang biasa, ketika aku sama sekali tidak menduganya. Aku masih ingat jelas ekspresinya saat itu—tulus, hangat, dan penuh keyakinan.Awalnya aku benar-benar kaget. Tak
Suara benturan keras memecah sunyi, disusul suara perabot terjatuh. Aku terperanjat dari tidur lelapku. Jantungku berdegup liar, napasku tercekat.“Ibu…” gumamku panik.Tanpa pikir panjang, aku menyingkap selimut dan melompat dari ranjang. Kaki telanjangku menghantam lantai dingin saat aku berlari
"Senjani, saya ingin menawarkan sebuah kesepakatan pernikahan."Kalimat itu menghantam telingaku seperti petir di siang bolong. Seketika, jantungku berdebar tak terkendali. Di hadapanku, Althaf duduk di depan meja kerjanya. Meja kayu besar itu tampak rapi, hanya ada setumpuk berkas, sebuah pena per







