เข้าสู่ระบบCHAPTER 101
Ruangan konselor jauh lebih ramai daripada yang Summer bayangkan. Beberapa siswa memenuhi meja-meja yang tersedia sambil membahas universitas pilihan mereka, sementara di sisi lain ruangan para konselor sibuk menjawab pertanyaan dan memeriksa formulir yang sudah selesai diisi.Emma menjatuhkan diri ke kursi kosong di sampingnya tepat saat salah satu konselor datang membawa dua lembar formulir. “Silakan diisi. Kalau sudah selesai bisa langsung diserahkan.”“TerimaCHAPTER 102“Ternyata kau di sini.”Summer tersenyum kecil sambil menepuk leher kuda di sampingnya. “Aku ingin melihat kuda.”“Seharusnya aku sudah menebaknya.”Pak Herry yang sedang membereskan peralatan di dekat pagar ikut tertawa. Entah apa yang terlintas di kepalanya, pria tua itu tiba-tiba berkata, “Lain kali saya harus memasang pengumuman saja.”“Pengumuman?” tanya Dylan.“Ya.” Pak Herry mengangguk mantap. “Non Summer ada di kandang kuda.”Summer langsung menggeleng. “Pak Herry.”“Kenapa? Itu ide bagus.”“Memangnya kenapa?” tanya Dylan lagi.“Karena banyak yang mencarinya.”Jawaban itu membuat Dylan kembali menoleh ke arah Summer. “Banyak?”“Lumayan,” jawab Pak Herry santai saat melihat ekspresinya.“Siapa?”Pak Herry berpikir cukup lama seolah sedang menghitung jumlahnya. “Beberapa pria tampan.”“Siapa mereka?”“Entahlah.”“Nama mereka?”Pak Herry mengangkat bahu santai. “Saya tidak pernah tanya.”
CHAPTER 101Ruangan konselor jauh lebih ramai daripada yang Summer bayangkan. Beberapa siswa memenuhi meja-meja yang tersedia sambil membahas universitas pilihan mereka, sementara di sisi lain ruangan para konselor sibuk menjawab pertanyaan dan memeriksa formulir yang sudah selesai diisi.Emma menjatuhkan diri ke kursi kosong di sampingnya tepat saat salah satu konselor datang membawa dua lembar formulir. “Silakan diisi. Kalau sudah selesai bisa langsung diserahkan.”“Terima kasih,” jawab Summer sambil menerima formulir tersebut.Begitu konselor itu pergi, Emma memutar kursinya menghadap Summer. “Aku tidak akan mengganggu,” bisiknya pelan. “Aku cuma mau melihat formulirmu.”Summer menoleh sekilas. “Itu namanya mengganggu.”Emma terkekeh tanpa merasa bersalah sedikit pun. Summer menundukkan pandangan ke formulir di depannya dan mulai mengisinya satu per satu. Nama, data pribadi, jurusan. Saat sampai di bagian pilihan universitas, tangannya bergerak b
CHAPTER 100“Kau menyebalkan.”“Kamu yang lucu.”Summer mendengus lalu berjalan lebih dulu menuju area berikutnya tanpa menyembunyikan senyumnya sedikit pun. Dylan hanya menggeleng sambil mengikuti dari belakang.Tidak lama kemudian mereka sudah berada di area penguin. Summer berdiri di dekat kaca pembatas sambil memperhatikan beberapa penguin yang berjalan mondar-mandir di tepi kolam. Salah satunya terpeleset saat hendak masuk ke air dan membuatnya langsung tertawa.“Kak Dylan, lihat mereka. Lucu sekali.”“Sepertinya kita akan berada di sini sampai malam.”Summer malah tertawa lebih keras mendengar itu. Dylan memperhatikannya beberapa saat tanpa mengatakan apa-apa. Sudah lama ia tidak melihat Summer tertawa sebanyak ini.Selama beberapa tahun terakhir, gadis itu selalu terlihat tenang dan hati-hati seolah terbiasa menyimpan semuanya sendiri. Namun hari ini Dylan seperti melihat Summer yang pernah dikenalnya dulu.Gadis kecil yang berlari men
CHAPTER 99Takumi yang berdiri di sampingnya langsung menoleh. “Ayah…”“Dia tetap berhak menentukan hidupnya sendiri.”Ren mengangguk santai. “Aku bisa menerima itu.”Takeshi mengambil pena yang berada di atas meja, tetapi Takumi lebih dulu menahan pergelangan tangannya. “Berpikirlah dulu.” Tatapan putranya tidak bergeser sedikit pun. “Summer bukan alat tukar. Dia putriku.”“Dia juga cucuku.”“Kalau begitu jangan lakukan ini.” Suara Takumi terdengar lebih keras dari sebelumnya. “Biarkan dia memilih kebahagiaannya sendiri.”Takeshi terdiam mendengar itu. Baginya, tidak ada yang lebih ia inginkan selain melihat Summer bahagia.Namun setiap kali memikirkan masa depan cucunya, yang terbayang justru wajah orang-orang yang selama bertahun-tahun menunggu kesempatan menjatuhkan keluarga Ryu. “Aku hanya ingin memastikan dia aman.”“Biarkan aku melindunginya.”Takeshi memandang putranya cukup lama. Ia ingin mempercayai kalimat itu. Sungguh ingin. N
CHAPTER 98Pertanyaan itu membuat Summer tertawa kecil. “Tentu saja.” Jemarinya masih bermain dengan liontin kecil di gelang tersebut. “Aku sangat ingin.”Saat mengangkat kepala lagi, Summer sempat melihat senyum tipis di sudut bibir Dylan. “Ada apa?”Dylan menggeleng. “Tidak ada.”Jawaban itu terdengar terlalu cepat untuk benar-benar meyakinkannya, tetapi Summer memilih tidak mengejar penjelasan lain.Beberapa saat kemudian Dylan berdiri dari bangku dan memasukkan kedua tangannya ke saku celana olahraga. Summer ikut bangkit. “Summer.”“Iya?”Dylan menatapnya beberapa saat hingga tanpa sadar Summer ikut menahan napas. “Jangan takut mengambil keputusan untuk hidupmu sendiri.”Kalimat itu langsung mengingatkannya pada percakapan dengan kakeknya. “Kakekku bilang hal yang hampir sama.”“Kakekmu benar.”Summer menunggu, dan Dylan kembali membuka suara dengan tenang. “Keputusanmu akan menentukan takdirmu.”Ia mengangguk pelan. Aneh, tetapi
CHAPTER 97Arthur masih memeriksa laporan keuangan di atas mejanya saat ketukan pintu terdengar dari luar. Ia tidak perlu menebak siapa yang datang. “Masuk.”Pintu terbuka dan Dylan melangkah ke dalam ruang kerja, lalu berhenti beberapa langkah dari meja seperti biasa.Arthur menutup map di hadapannya, berdiri dari kursi, lalu berjalan ke arah jendela yang menghadap taman. Dari tempatnya berdiri, ia bisa melihat para petugas taman yang masih sibuk merapikan semak-semak di sepanjang jalan setapak. “Sudah kau putuskan?”“Aku akan melindunginya.”Arthur tidak langsung menjawab. Pandangannya tetap tertuju ke luar jendela sementara kata-kata itu terngiang di kepalanya. Jawaban itu sama sekali tidak mengejutkan.Dylan tidak pernah mengambil keputusan karena emosi sesaat. Sejak kecil, anak itu selalu memikirkan segala sesuatu jauh lebih lama daripada orang lain sebelum akhirnya menentukan pilihan.Karena itulah Dylan sering terlihat keras kepala di mata ora
CHAPTER 92“Sejak kapan?”“Jauh sebelum kau lahir.”Jawaban itu membuat Dylan kehilangan kata-kata. Potongan-potongan kenangan yang selama bertahun-tahun tersimpan begitu saja tiba-tiba muncul kembali di kepalanya.Napas Dylan mulai terasa berat. “Apakah…” Tenggorokannya tera
CHAPTER 91 “Aku minta maaf.” Suara Dylan terdengar pelan. Summer menggeleng kecil. “Seharusnya aku yang minta maaf.” “Untuk apa?” “Aku pergi begitu saja.” Summer menunduk memandangi lantai di bawah kakinya. Bibirnya sempat bergerak seperti ingin mengatakan sesuatu, tetapi tidak satu kata pun ke
CHAPTER 90 Cloud berjalan mendekat dan menahan bahunya, memastikan pria itu tidak punya kesempatan untuk melepas cengkeraman Dylan. "Jawab." Pria itu menelan ludah. Jemarinya terlihat sedikit gemetar. “T-Tuan Dylan…” Alis Dylan langsung berkerut. Tatapannya menyapu wajah pria itu dengan saksama.
CHAPTER 89“Ke mana sekarang?” tanya Tom sambil melirik keramaian di depan mereka.Axl langsung mengangkat tangan dan menunjuk deretan permainan yang memenuhi sisi lain lapangan. “Ke sana.”“Tentu saja.” Tom bahkan tidak terlihat terkejut.“Festival tanpa permainan bukan fest







