로그인Nyonya Catherine Oswald tidak langsung menjawab. Perempuan paruh baya itu menatap putrinya selama beberapa saat, seolah sedang mempertimbangkan sesuatu sebelum akhirnya bersandar pada sofa. "Kenapa kamu tiba-tiba menanyakan itu?" "Karena aku masih tidak mengerti." Reana berusaha menjaga suaranya tetap tenang. "Dulu, waktu Issa pertama kali datang kesini, Ibu menyambutnya dengan sangat antusias. Ibu bahkan terlihat senang sekali bertemu dengannya." "Itu dulu." "Ya, aku tahu. Tapi apa yang berubah?" Nyonya Oswald mengalihkan pandangan ke arah meja kecil di sampingnya. "Rea, ada banyak hal yang belum kamu ketahui tentang lelaki itu." Reana mengerutkan kening. "Maksud Ibu?" "Issa tidak sebaik dan sesempurna yang kamu kira." Kalimat itu membuat Reana terdiam. Ia tidak menyangka ibunya akan menjawab seperti itu. Bukan karena Nyonya Oswald kembali menunjukkan ketidaksukaannya kepada Issa, melainkan karena ada sesuatu dalam cara ibunya mengucapkan kalimat tersebut yang ter
Reana berbaring telentang di atas tempat tidurnya. Kedua tangannya terletak di sisi tubuh, sementara matanya menatap langit-langit kamar yang dilukis dengan indah. Ornamen-ornamen halus menghiasi permukaannya, membentuk pola yang selama ini selalu ia sukai.Namun, malam itu pikirannya terlalu sibuk untuk memperhatikan keindahannya.Ia menghela napas pelan, lalu menggerakkan tangannya ke saku celana jeans yang masih dikenakannya. Dari sana, ia mengeluarkan sebelah anting emas yang ditemukan di apartemen Issa beberapa jam sebelumnya.Benda kecil itu terbaring di atas telapak tangannya.Reana sebenarnya tidak berniat membawa anting tersebut pulang. Ia bukan pencuri, dan ia juga tidak membutuhkan benda itu. Ketika menemukannya di dekat sepatu Issa tadi, ia hanya bereaksi secara spontan. Memasukkannya ke dalam saku terasa seperti satu-satunya hal yang bisa ia lakukan saat itu.Mungkin karena ia terkejut, atau juga karena ia tidak ingin Issa melihatnya.Sekarang, setelah berada sendirian di
Saat Reana melihat sebelah anting itu tergeletak di sana, pertanyaan itu muncul begitu saja di kepalanya. Milik siapa? Ia kemudian melirik ke arah sepatu Issa. Sepatu itu tampak biasa saja. Tidak ada sesuatu yang istimewa, tetapi keberadaan anting tersebut di dekatnya membuat Reana berpikir bahwa mungkin benda itu terjatuh ketika seseorang melepas sepatu atau berjalan masuk ke apartemen. Seseorang. Seorang perempuan, tentu saja. "Rea?" Suara Issa terdengar dari arah ruang keluarga. Reana sedikit tersentak. "Iya?" "Kamu butuh bantuan?" Ia segera menggenggam anting itu dan memasukkannya ke saku celana jeans. "Tidak! Aku sudah bawa makanannya." Reana mengambil kembali kantong-kantong makanan di meja kecil, kemudian berjalan menuju ruang keluarga dengan senyum yang sama seperti sebelumnya. Issa muncul dari arah meja makan. Tampaknya ia sudah menyiapkan peralatan makan untuk mereka berdua di sana. "Aku bisa bantu membawa itu," katanya. "Tidak perlu. Ringan, kok." Reana melet
Sabtu sore itu terasa lebih menyenangkan dari biasanya bagi Reana.Sejak mengakhiri panggilan telepon dengan Issa pagi tadi, ia sudah memikirkan satu hal yang ingin dilakukannya. Ia ingin mengunjungi laki-laki itu dan memberinya sedikit kejutan setelah malam yang cukup melelahkan.Peluncuran buku di divisi fiksi ilmiah yang dipimpin Issa bukan pencapaian kecil. Reana tahu betapa banyak waktu dan tenaga yang telah dicurahkan laki-laki itu untuk pekerjaannya. Meskipun Issa hanya sempat bercerita singkat tentang acara tersebut melalui pesan, Reana tetap merasa bangga.Karena itu, ia memutuskan untuk membeli sesuatu.Tidak ada hadiah besar atau sesuatu yang berlebihan. Hanya sebuah buket bunga sederhana yang terdiri dari beberapa tangkai bunga berwarna lembut, dibungkus kertas krem dengan pita tipis berwarna biru. Sebelum meninggalkan toko bunga, Reana menyelipkan sebuah kartu kecil di antara rangkaian bunga tersebut.Ia menulisnya sendiri.Congratulations on your achievement, Issa.I'm p
Issa membeku. Senyum di bibirnya lenyap. Untuk sesaat, ia bahkan lupa bahwa ponsel masih menempel di telinganya. Bagaimana ia pulang? Pertanyaan sederhana itu mendadak membuka celah dalam ingatannya yang kosong. Ia mencoba mengingat. Koridor ballroom. Dinding tempat ia bersandar. Emma. Wajah perempuan itu muncul samar-samar di benaknya. Ia ingat Emma menghampirinya. Ia ingat seseorang memegang lengannya ketika tubuhnya kehilangan keseimbangan. Ia juga ingat suara Emma yang terdengar dekat, memintanya untuk berhati-hati. Lalu? Issa mengerutkan kening. Ingatan itu tidak cukup jelas untuk membentuk urutan kejadian yang utuh. Namun, semakin ia berusaha mengingatnya, semakin ia menyadari satu hal yang membuat perutnya terasa tidak nyaman. Emma yang membantunya meninggalkan hotel. Emma yang berada bersamanya setelah acara selesai. Emma yang... Ia tidak tahu. Kepalanya berdenyut lebih kuat. "Issa?" Suara Reana menariknya kembali ke percakapan. "Ya?" "Kamu mendengarku?" "Iya.
Pagi di Ashbourne House berjalan seperti biasanya. Sinar matahari menembus jendela-jendela tinggi, menyinari lantai kayu yang mengilap dan perabotan elegan di ruang makan. Aroma kopi yang baru diseduh memenuhi ruangan, bercampur dengan wangi roti panggang yang disajikan di atas piring porselen. Reana duduk di hadapan ibunya, menghabiskan sarapannya dalam keheningan. Mereka masih belum banyak berbicara sejak percakapan terakhir yang membuat hubungan mereka terasa sedikit berbeda. "Apakah kamu akan berangkat ke Reading Delights sekarang?" tanya ibunya. "Sebentar lagi, Bu." Ibunya mengangguk singkat. "Jangan sampai terlambat." Reana hanya tersenyum tipis sebelum menyelesaikan tehnya. Setelah berpamitan, ia meninggalkan ruang makan dan kembali ke kamarnya di lantai dua. Begitu pintu kamar tertutup, ia meletakkan tasnya di atas sofa kecil, lalu berjalan menuju meja rias. Ia duduk di kursi berlapis kain krem, menatap bayangan dirinya sendiri di cermin. Rambutnya sudah tertata rapi.







