Share

A Story We Misread
A Story We Misread
Author: Ann Azure

PROLOG

Author: Ann Azure
last update publish date: 2026-08-29 23:09:18

Mereka terlihat sangat dekat dan… mesra.

Reana bertanya-tanya apakah ia dan lelaki itu pernah terlihat semesra ini di mata orang lain? Lalu apakah lelaki itu juga pernah memeluknya seerat itu?

Reana tidak mungkin salah mengenali. Ia bahkan bisa tahu didetik pertama kalau lelaki di dalam foto itu adalah dia. Lelaki yang terlihat sedang memeluk perempuan lain di foto itu adalah lelaki yang sama dengan yang minggu lalu menghabiskan malam di apartemen bersamanya.

Rasa iri dan marah mulai berdesir dari ujung kaki sampai ujung kepala. Perasaan yang sebelumnya tak pernah ia ketahui bahwa ia akan merasakannya. Namun sekarang Reana akui bahwa ia merasa sangat… cemburu.

Reana penasaran, setelah itu, setelah momen di dalam foto itu, kemana mereka pergi? Apa yang mereka lakukan? Apakah setelah berpelukan, mereka saling menyentuh satu sama lain? Apakah dia menyentuh perempuan itu sama seperti saat dia menyentuhnya?

Jari-jemari Reana perlahan membuat lembar foto itu kusut. Bibirnya terkatup rapat dan sepasang matanya mulai terasa panas. Cemburu ini mulai terasa menyiksa. Namun Reana tidak bisa menangis dan kalah begitu saja. Setidaknya tidak di sini, tidak saat ini.

Ia memejamkan mata dan menghela napas dalam-dalam sebelum mengangkat wajahnya dan menatap seseorang yang duduk tepat di hadapannya.

“Dari mana kamu mendapatkan foto ini?” tanya Reana.

Lelaki itu mengangkat sedikit sudut bibir, memberikan Reana senyum tipis yang khas. Ia merasa takjub pada Reana yang sekarang masih bisa duduk tenang dan mengontrol emosi dengan baik.

“Apakah itu masih penting sekarang?” Lelaki itu balik bertanya. “Dia, lelaki yang selalu kamu banggakan, seperti itulah dia di luar sana. Liar.”

Rahang Reana mengeras, kepalan tangannya semakin kencang, membuat foto itu semakin kusut tak berbentuk.

“Lalu apa tujuanmu memberitahuku hal ini?”

“Tujuanku?” Lelaki itu mencodongkan tubuh ke arah Reana, lalu ia menatap mata gadis itu lekat-lekat. “Tentu saja karena aku ingin kamu membuka matamu dan sadar, Reana… Jangan melihat terlalu jauh, tapi lihatlah baik-baik mana lelaki yang sungguh-sungguh berjuang untukmu. Mungkin selama ini dia ada tepat di depan matamu.”

Reana balas menatap sepasang mata hitam itu sama lekatnya. Ini bukan kali pertama mereka saling menatap, dan Reana tahu meskipun dia terlihat tajam dan mengintimidasi, namun di saat yang sama ada kehangatan yang terlihat tulus.

Tapi, darahnya tak pernah berdesir, hatinya tak pernah berdetak kencang untuk lelaki itu. Bahkan rasa cemburu dan emosi yang sedang ia tahan saat ini, tak pernah sekalipun ia rasakan untuknya.

“Reana, jangan bertahan untuk seseorang yang sedang menghancurkanmu perlahan-lahan.”

Reana berkedip dan memalingkan wajahnya dari lelaki itu. “Aku tahu,” ucapnya pelan.

Lelaki itu menarik tubuhnya dan kembali duduk bersandar pada sofa. Ia sengaja tidak begitu banyak bicara karena ia sedang berusaha memberi Reana ruang untuk berpikir.

Untuk beberapa saat mereka berdua hanya terdiam dan sibuk dengan pikiran masing-masing. Sampai lelaki itu berkata, “Kamu tahu aku selalu ada di sini, bahkan jika kamu mau membalas dendam atas rasa sakit pengkhianatan itu, aku selalu ada di sini untukmu.”

Reana kembali menatap lelaki di depannya dengan tatapan tajam, keningnya berkerut setelah mencerna apa yang baru saja ia dengar.

“Balas dendam?”

Lelaki itu mengangguk, “Tidakkah kamu menginginkannya?” tanyanya.

“Berhenti bicara omong kosong!” tiba-tiba Reana meninggikan suara. “Dia tidak seburuk yang—”

“Buktinya sudah jelas.” Lelaki itu memotong ucapan Reana. “Kamu sedang memegang buktinya sekarang.” Katanya lagi sambil menunjuk selembar foto yang masih berada di genggaman tangan Reana dalam keadaan kusut.

Tanpa sadar Reana menahan napas. Kata-kata itu terus terulang di telinganya seperti kaset rusak. Balas dendam… benarkah ia menginginkannya? Haruskah ia melakukannya?

Lalu bayangan-bayangan kenangan muncul satu-persatu begitu saja, saat Reana dan lelaki dalam foto itu sedang bersama. Menatap satu sama lain dengan penuh cinta. Saling menyentuh dengan kasih sayang. Ucapan-ucapan manis yang terdengar seperti masa depan.

Namun apakah Reana satu-satunya perempuan yang diperlakukan sebaik itu olehnya? Atau apakah di luar sana ada banyak perempuan lain yang punya perasaan yang sama dengannya?

Balas dendam… entah kenapa, tiba-tiba jadi terdengar sangat masuk akal sekarang.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • A Story We Misread   BAB XV - Learning To Love

    Kita tak akan pernah tahu pada siapa kita akan jatuh cinta. Bisa saja pada dia yang sudah menemanimu sejak masih remaja, atau pada dia yang bersamamu pernah menghabiskan waktu di suatu malam. Mungkin juga pada dia yang selalu membuatmu kesal tapi di saat yang sama mampu memberikan getaran yang tak biasa. Itu juga barangkali yang dirasakan Reana sekarang. Ia memang belum bisa mengatakan kalau Issa Saverio adalah cinta matinya, namun ketika ia bertindak mengikuti kata hati, ia merasa benar. Sama sekali tidak ada setitik pun penyesalan dalam hatinya setelah memutuskan untuk mau belajar saling mencintai bersama lelaki itu. Kejujuran yang Issa katakan dengan apa adanya mengenai perasaan membuat Reana terenyuh. Dan baru kali ini ia mendapatkan pernyataan cinta tanpa diiming-imingi janji-janji manis yang sebenarnya belum tentu bisa terpenuhi. Maka dengan apa adanya pula ia mau memberikan hatinya. Lalu, ada hal yang sangat lucu. Reana kira diusianya sekarang yang sudah menginjak dua puluh

  • A Story We Misread   BAB XIV - From This Day On

    "Aku menyukaimu."Tegas.Tanpa ragu.Tanpa aba-aba.Reana yakin ia tidak salah dengar, bahkan sekarang jantungnya berdetak semakin cepat, darahnya berdesir, wajahnya menghangat dan Issa masih memaku sepasang matanya dengan tatapan tajam.Demi Tuhan, ia gugup setengah mati!Sesaat Reana mengira waktu baru saja berhenti. Hanya tetesan air hujan di luar sana yang tetap jatuh silih berganti. Namun suara petir yang tiba-tiba terdengar membuatnya tersadar, ia pun berkedip untuk memutuskan kontak mata dengan lelaki di hadapannya, lalu tertawa.Benar-benar tertawa sampai perutnya terasa sakit dan ujung matanya berair.Issa mengernyit dan mengerucutkan bibir, sama sekali tidak merasa ada sesuatu yang lucu di antara mereka. Atau, apa pernyataannya barusan terdengar seperti sebuah lelucon?"Kenapa tertawa?" Lelaki itu bertanya.Reana melihat ke arahnya sekilas, masih tertawa geli sambil sesekali mengibaskan tangan dan memukul meja."Kamu lucu,” ucapnya di sela tawa, "dari semua leluconmu, ini ya

  • A Story We Misread   BAB XIII - The Confession

    Tidak ada persahabatan antara lelaki dan perempuan.Sudah tak terhitung berapa kali Reana mendengar kalimat itu. Bahkan sahabatnya sendiri pun, Oliver Sebastian, pernah mengatakannya. Namun ia hanya tertawa seraya mengibaskan tangan seolah apa yang ia dengar adalah omong kosong belaka. Hanya sebuah teori.Reana bahkan selalu dengan bangga mengatakan kalau teori itu terbukti salah, karena ia dan Oliver tetap bersahabat meski telah enam belas tahun mereka bersama. Hanya orang-orang yang terlalu mudah terbawa perasaan yang akan menyukai sahabatnya sendiri, begitu katanya.Nyatanya, malam ini, bukti yang ada justru semakin menguatkan teori itu.Benar, Reana lupa.Ia benar-benar lupa kalau suatu hubungan bisa disebut sebagai hubungan karena dilakukan oleh lebih dari satu pihak. Boleh saja dirinya dengan bangga berkata kalau ia menganggap Oliver hanya sebagai sahabat dan tidak akan pernah berubah selamanya. Namun ia lupa memikirkan dari sisi yang lain. Dari sudut pandang Oliver. Ia lupa per

  • A Story We Misread   BAB XII - A Feeling He Shouldn't Have

    Seharusnya, saat ini Issa sedang berada di tahun 1980. Sebagai pemuda yang menjadi sukarelawan membersihkan jenazah korban kekerasan. Kemudian ia akan berpindah ke tahun 1985, sebagai seorang jurnalis yang berkali-kali ditampar oleh personil tentara saat diinterogasi. Setelah itu ia akan ke tahun 1990, 2002, dan 2010.Itulah Issa setiap kali berduaan dengan sebuah novel. Ketika tubuhnya duduk nyaman di sofa ditemani oleh secangkir kopi hitam, tangannya sibuk membuka halaman, matanya sibuk membaca setiap kata, jiwanya justru seolah ditarik masuk ke dalam cerita. Dalam pikirannya, ia menjelma menjadi si tokoh utama atau hanya sekadar menjadi penonton tak kasat mata.Tapi malam ini berbeda.Sudah sekitar satu jam matanya tertuju pada salah satu halaman novel Human Acts yang ditulis oleh Han Kang enam tahun lalu, namun Issa tidak benar-benar sedang membaca. Novel yang menceritakan tentang aksi demonstrasi warga Gwangju, Korea tahun 1980 itu malam ini tidak berhasil membawa jiwa dan pikira

  • A Story We Misread   BAB XI - More Than Just A Coffee

    Arland yakin sahabatnya satu ini sudah gila. Mungkin tanpa sengaja minum obat diare milik Lue—kucing kesayangannya—atau kerasukan hantu. Tidak heran, gedung apartemen tempat Issa tinggal ini memang sudah lama dirumorkan angker, dan sepertinya salah satu makhluk tak kasat mata itu sedang berada dalam diri Issa saat ini. "Aku mulai merinding melihatmu semakin aneh,” ucap Arland sambil menyentuh tengkuk, seolah membuktikan kata-katanya. Issa tidak menghiraukan Arland sama sekali, mata dan kedua tangannya seharian ini sibuk dengan ponsel. Sesekali ia menyeringai atau tertawa geli, namun tidak ingin mengatakan apa yang sedang ia lakukan maupun apa yang ia lihat pada sahabatnya. "Apa telingamu itu hanya pajangan?" Lagi, Arland mencari perhatian, kesal karena terus menerus diabaikan. "Issa!" Arland meraih sebutir anggur dari piring di atas meja dan melemparnya pada Issa yang berbaring santai di sofa di hadapannya. "Aduh!" Akhirnya kata pertama sejak kedatangan Arland terlontar dari mulu

  • A Story We Misread   BAB X - An Unwanted Visitor

    Oh dia benar-benar datang hari ini.Reana mengeluh dalam hati ketika orang yang sangat tidak ingin dilihatnya melangkah masuk ke Reading Delights. Orang itu, Issa Saverio, justru malah tersenyum lebar saat tatapan mereka bertemu. Membuat Reana semakin ingin mencabik-cabik wajahnya."Hai.” Bukannya membalas sapaan, Reana malah membuang muka ke layar datar di depannya, dengan bibir terkatup rapat ia pura-pura kembali sibuk ke dalam apa yang sedari tadi sedang ia kerjakan, yaitu melanjutkan naskah cerita baru. Sial, inspirasinya tiba-tiba menguap entah kemana.Issa menyeringai, sudah menduga perempuan di hadapannya ini pasti masih merasa kesal setelah apa yang terjadi kemarin. Hell, yah, untuk itulah ia menemuinya malam ini."Aku mau mengembalikan buku ini," Issa masih bicara dengan nada bersahabat seperti biasa.Reana mendengus kesal, mau tidak mau menerima buku Hansel and Gretel yang dipinjam Rosie tiga hari yang lalu."Terima kasih sudah mengembalikan bukunya tepat waktu."Dengan te

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status