Share

3. Baper

Jalannya hidup tidak ada yang tau bukan?

Sama seperti yang di rasakan Diva saat ini.

Jika tadi pagi masih single, beda dengan sekarang yang menyandang gelar pacar ketua geng Dragon.

Berita di kantin langsung menyebar luas.

Saat ini Diva dan para sahabatnya sedang membereskan alat tulis, karna jam pelajaran telah usai.

Memang setelah dari taman belakang mereka memutuskan untuk kembali ke kelas sebelum ketahuan telah menguping.

"Lo pulang bareng siapa, Va?" tanya Nisa setelah membereskan alat tulisnya.

"Enggak tau, mungkin naik taxi," jawab Diva tanpa menatap lawan bicaranya.

"Yaudah yuk kita kedepan aja," sambung Mira yang sedari tadi memperhatikan obrolan kedua sahabatnya.

"Gue masih gak nyangka tau Va, kalau lo jadi pacarnya Adit," celetuk Tika heboh.

Mira yang mendengar celetukan Tika hanya memutar bola matanya malas. Pasalnya sedari tadi dia mengulang kalimat yang sama.

"Pulang bareng gue,"

ucapan datar itu membuat obrolan mereka berempat berhenti dan secara otomatis menoleh ke asal suara.

Ternyata disana Adit dkk sedang bersandar menunggu mereka.

"Semoga Adit enggak denger ucapan gue tadi." Batin Tika gelisah.

Mereka hanya bisa tersenyum kikuk ketika di tatap intens oleh ke empat inti danger. Terutama Diva rasanya ia ingin menghilang saja.

"Ha-i," ucap Diva dkk serempak dengan nada gugup.

"Malu-maluin banget sih, pake gugup segala." Batin Diva dkk merutuki ucapannya yang gugup.

"Hahaha gausah gugup juga kali," celetuk Revan dengan tawanya.

"Gue tau kalau gue ganteng," sambung Bara dengan pedenya.

"Kita belum kenalan kan?" tanya Daniel yang tau kalau ke empat gadis di depannya sedang gugup.

Dengan serempak Diva dkk menganggukkan kepala.

"Kenalin gue Daniel Radeya Bramantio, panggil Daniel aja," ucap Daniel tersenyum ramah.

"Kalau gue Arzan Revandra Malik, panggil aa' Revan," ujar Revan dengan tersenyum yang memperlihatkan lesung pipinya. Dan tanpa di sadari telah membuat salah satu teman Diva terpesona.

"Adiyatma Alister Bagaskara, Adit," ucap Adit datar seraya menatap Diva intens yang membuat jantung Diva berdetak kencang.

"Nah kalau gue Bara Zayan Maulana, panggil yayang Bara aja," sambung Bara dengan tersenyum lebar memperlihatkan gingsulnya.

Lagi, salah satu sahabat Diva ada yang terpesona melihatnya.

"Gue Adiva Daania Khanza, panggil Adiva," ucap Diva dengan senyum manis yang membuat ke empat cowok di depannya terpaku.

"Khem," Dehaman keras membuat mereka sadar.

"Hehe peace bos," serempak Daniel, Revan, dan Bara kala melihat tatapan mematikan milik Adit.

"Gue Annisa Shezan Banafsha, panggil Nisa," celetuk Nisa kalem.

Daniel yang mendengar suara Nisa sejenak terpana. Tanpa sadar kalau jantungnya sudah berdebar kencang.

"Gue Aretha Zayba Almira, panggil Mira," ucap Mira jutek.

"Gue Atika Fitria Tsabita, panggil Tika," lanjut Tika dengan suara cemprengnya yang khas.

"Pulang," ucap Adit dengan menarik tangan Diva lembut.

Meninggalkan para sahabatnya yang melongo seperti sapi ompong.

"WOI DASAR ES BATU," umpat Bara kesal.

"Udah ditemenin malah ninggalin," sambung Revan.

"Udah biarin aja, namanya juga baru jadian," lerai Daniel agar kedua sahabatnya tidak kesal lagi.

"Kita duluan permisi," pamit Nisa yang langsung ngacir dengan menarik tangan kedua sahabatnya.

Dirinya tidak sanggup jika harus berlama-lama di dekat mereka. Selain takut, juga tidak baik untuk kesehatan jantungnya.

**

Sedangkan kedua sejoli yang baru saja jadian justru asik tatap-tatapan.

Sewaktu tiba di parkiran, Adit dengan gantle memakaikan jaket kebanggaannya di pinggang sang kekasih. Perlakuan Adit membuat Diva terpaku dan terjadilah adegan tatap-tatapan.

Mereka saling menyelami mata indah milik sang kekasih, tanpa diminta pipi Diva berubah warna merah.

"Cie blushing," goda Adit kala melihat semburat merah hadir di pipi gadisnya.

"Udah ih ayo pulang," rengek Diva yang tidak tahan dengan godaan Adit.

Adit mengulas senyum tipis melihat tingkah Diva.

"Gemes pengen bawa pulang, eh." Batin Adit gemas.

"Naik!" perintah Adit.

Dengan segera Diva naik ke motor Adit. Dirinya ingin cepat sampai rumah, rasanya lelah sekali.

"Pegangan, Va" ucap Adit menyuruh Diva.

Dengan pelan Diva berpegangan di pundak Adit.

"Gue bukan ojek," celetuk Adit dengan ketus.

"Terus dimana?" tanya Diva kebingungan.

Tanpa menjawab Adit langsung menarik tangan Diva untuk memeluk pinggangnya.

Setelah dirasa pas Adit melajukan motornya untuk mengantar sang kekasih.

"Aaa mama Diva baper," jerit Diva di dalam hati.

Adit yang memperhatikan Diva lewat spion pun mengulas senyum tipis. Cantik begitu pikirnya.

**

"Terima kasih ya," ucap Diva setelah sampai di rumahnya dengan selamat.

"Iya," jawab Adit singkat.

"Yaudah gue masuk dulu," pamit Diva dengan berjalan menuju pintu rumahnya.

"Div," panggil Adit lumayan keras karena jarak antara dirinya dengan Diva sudah lumayan jauh.

Mendengar ada yang memanggil, dengan cepat Diva menoleh ke arah Adit dengan kening berkerut.

"Selamat istirahat, Pacar," ucap Adit dengan menekan kata pacar, tanpa mendengar jawaban dari Diva Adit langsung melesat pergi meninggalkan Diva yang masih terpaku.

"AAAA GUE BAPER!" teriak Diva seraya jingkrak-jingkrak, mengabaikan satpam rumahnya yang geleng-geleng kepala melihat kelakuan absurdnya itu.

"Maklum anak muda," Batin Pak Harto satpam yang bekerja di rumah Diva.

**

Mama dan Papa Diva dibuat heran dengan kelakuan anaknya.

Bagaimana tidak, Diva memasuki rumah dengan senyum lebarnya.

Di panggil pun tidak merespon justru senyumnya semakin lebar bahkan berjalan sambil melompat-lompat.

"Pa, apa Diva kerasukan?" tanya

Githa mama Diva dengan suara pelan.

"Papa juga enggak tau, Ma," jawab Afnan papa diva.

"Kok mama takut ya, Pa," ucap Githa ngeri.

Dirinya membayangkan jika Diva kerasukan terus jadi gila. Bagaimana nanti nasib anak cantiknya itu, membayangkan saja sudah ngeri.

"Amit-amit Ya Allah, semoga Diva baik-baik aja." do'a Githa di dalam hati.

Afnan yang melihat tingkah sang istri dibuat bingung, dengan tangan yang di angkat jangan lupakan bibirnya juga komat-kamit.

"Apa disini banyak setannya ya?" gumam Afnan lirih melihat ke arah sang istri dengan ngeri.

Dengan gerakan cepat dia menjauh dari istrinya itu.

Dirinya takut tertular gila seperti anak dan istrinya.

Githa membuka mata setelah selesai berdo'a.

Niat hati ingin mangajak sang suami berdo'a bersama justru Afnan tidak ada ditempat.

"Loh papa kemana?" tanya Githa pada dirinya sendiri.

**

"AAA GUE BAPER PLEASE!" teriak Diva diatas kasur king size nya.

"Baru kali ini gue ngerasain kaya gini," ucap Diva dengan posisi terlentang.

Jangan tanyakan bagaimana kondisi kamar Diva saat ini, bahkan ini bisa dibilang mirip kapal pecah.

Bantal, sepatu, dan tas yang berceceran di lantai.

Kondisi Diva sungguh memprihatinkan, rambut yang awalnya tertata rapi kini mengembang seperti singa, bahkan bajunya kusut layaknya orang gila.

Jatuh cinta bisa membuat orang gila, begitupun dengan patah hati.

Apa pun akan dilakukan asal cintanya terbalas.

Jatuh cinta membutuhkan mental dan iman yang kuat.

Jadi, bijaklah dalam bertindak jangan sampai kamu menyesal atas perlakuan mu.

Sayangi dirimu sendiri baru sayangi orang lain.

Dirimu nomer satu.

Komen (1)
goodnovel comment avatar
Afka
Seruu kak. Baperr ih lucu jugaa
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status