تسجيل الدخولDua hari telah berlalu sejak keputusan rahasia para petinggi gereja dijatuhkan.
Sejak fajar menyingsing, kamar Seraphina sudah disibukkan oleh derap langkah para pelayan. Di bawah pias mentari pagi yang perlahan naik menembus jendela kaca patri, Seraphina dipaksa bersiap untuk menghadiri misa agung yang diselenggarakan pagi ini.
Tubuhnya yang masih ringkih kembali dibalut oleh kemegahan gaun Saintess. Sebuah jubah mantel perpaduan warna putih sulaman perak membungkus bahunya, dengan aksen beludru berwarna biru navy gelap yang memberikan kesan anggun sekaligus dingin.
Beberapa pelayan muda bergerak gesit mendandaninya. Meski gurat ketakutan tercetak jelas setiap kali kulit mereka tidak sengaja bersentuhan dengan Seraphina, mereka tetap profesional menyematkan veil tipis transparan di kepala sang Saintess, memasangkan sarung tangan renda putih, dan menata berbagai aksesori suci.
Namun, ada yang janggal pada ornamen-ornamen yang mereka pasangkan hari ini. Sebuah bros salib suci kecil disematkan terbalik di bagian belakang kerah lehernya. Beberapa ornamen perak berbentuk pilar suci yang retak sengaja dipadukan dengan lambang agung The Seven Thrones. Sebuah simbolisme terselubung yang mengerikan.
Para pelayan itu mendandani Seraphina dengan tangan gemetar. Seolah-olah, alih-alih seorang Saintess, mereka sedang merakit sebutir bom waktu yang bisa meledak dan menghancurkan seluruh katedral kapan saja.
Di sepanjang proses itu, bisikan-bisikan dari isi hati para pelayan masih saja mendengung riuh di telinga Seraphina. Namun, kali ini jiwanya tidak lagi terguncang hebat seperti dua hari lalu. Ada semacam dinding pelindung tak kasat mata di dalam benaknya. Sebuah ketenangan dingin yang entah bagaimana berhasil disuntikkan oleh suara misterius yang waktu itu berbicara kepadanya.
“Aku tidak mau menyentuh tangannya…”
“Tuhan, tolong lindungi hamba… hamba tidak mau mati di sini.”
“Sial, mengapa harus aku yang kedapatan giliran bertugas hari ini?”
Seraphina hanya menatap lurus ke arah cermin besar di depannya. Rambut panjangnya yang berwarna perak keabuan—dengan gradasi warna hitam pekat yang aneh di bagian ujungnya—dibiarkan tergerai indah membingkai wajahnya yang pucat. Ia mengabaikan semua ketakutan manusia di sekitarnya.
Detik demi detik merayap begitu lambat dan melelahkan. Hingga akhirnya, keheningan di dalam kamar itu dipecah oleh ketukan pada pintu berdaun dua. Seorang biarawati paruh baya melangkah masuk dengan kepala tertunduk dalam menyampaikan pesan dari luar.
"Yang Mulia Saintess, seluruh jemaat dan petinggi telah berkumpul. Sudah waktunya Anda hadir."
Alih-alih dituntun menuju aula utama katedral, biarawati paruh baya itu justru mengarahkan langkah Seraphina menuju balkon marmer putih yang terletak tepat di sisi atas altar suci.
Dari ketinggian itu, pemandangan di bawahnya tampak luar biasa padat. Ratusan rakyat dan jemaat telah memadati setiap sudut gereja. Suasana di dalam aula besar itu riuh rendah, dipenuhi oleh gemuruh antusiasme dan kehebohan massa yang masih tidak percaya bahwa sang Saintess—yang sebelumnya dikabarkan telah tewas—kini kembali tegak berdiri.
Dari tempatnya berdiri, Seraphina bisa langsung memetakan dua reaksi ekstrem yang bertolak belakang dari kerumunan manusia di bawah sana.
Sebagian besar dari mereka menyanyikan kidung pujian yang megah kepada dewa agung mereka, The Seven Thrones, merayakan apa yang mereka kira sebagai mukjizat terbesar abad ini.
"Puji syukur atas belas kasih-Mu yang tiada batas, wahai Dewa!"
"Ini sungguh mukjizat yang nyata! Beliau telah bangkit!"
Namun, di sela-sela gema pujian yang keluar dari mulut-mulut munafik itu, gelombang suara batin mereka ikut melesat naik, menyusup langsung ke indra pendengaran Seraphina.
“Bahkan Dewa masih berbaik hati memaafkan dosa dan kesalahan fatal seorang Saintess yang cacat…”
Di sisi lain, sebagian jemaat justru melemparkan kata-kata kutukan dan keraguan yang pekat ke arahnya. Kalimat mereka terdengar santun secara lisan, tetapi isi kepala mereka memancarkan racun ketakutan yang murni.
“Sungguh mengerikan, bukankah pihak gereja bilang jalang itu sudah dihukum mati?”
“Oh, Dewaku… pertanda buruk apakah ini? Mengapa makhluk mati diizinkan menginjak tanah suci kembali?”
“Haruskah kami tetap mempercayai seorang Saintess yang tangannya telah menodai kesucian altar Dewa?”
Suara pujian lisan dan teriakan batin yang penuh kebencian itu saling bertabrakan di udara, menciptakan simfoni kekacauan yang memekakkan telinga.
Kendati demikian, Seraphina tetap berdiri tegak tanpa bergeming sedikitpun di tepi balkon marmer. Jubah putih-peraknya berkibar pelan tertiup angin katedral. Wajahnya sedatar es, tidak menunjukkan secuil pun kegoyahan atau tatapan getir saat dihadapkan pada kontradiksi yang menjijikkan di depan matanya.
Seruan dari orang-orang yang berpura-pura memujanya, maupun jeritan ketakutan dari hati mereka yang mengutuknya, kini tidak lagi mampu menyentuh ketenangan dingin di dalam jiwanya.
***
Misa Agung dimulai dengan khidmat di bawah pimpinan langsung sang Uskup Agung. Upacara suci itu berlangsung dalam dua bagian utama, di mana Seraphina mengemban tugas penting untuk menjalankan Liturgi Sabda—membacakan ayat-ayat dari kitab suci. Ratusan umat yang memadati katedral mendengarkan dengan saksama setiap bait kisah nubuat kuno yang ia lafalkan. Ketika Seraphina mulai melantunkan Doa Umat The Seven Thrones, suaranya yang tenang, jernih, dan lembut bergema memenuhi langit-langit beratap tinggi, seketika mengubah suasana aula menjadi begitu sakral dan suci.
Namun, kedamaian itu berumur pendek. Begitu rangkaian misa dinyatakan selesai, sebuah keributan hebat mendadak pecah di area belakang katedral.
Pintu masuk utama berdaun ganda itu didobrak kasar. Seorang prajurit Holy Knight melangkah masuk dengan angkuh, menyeret paksa seorang anak laki-laki berusia sekitar delapan hingga sepuluh tahun ke tengah-tengah aula utama.
Penampilan bocah itu sangat mengenaskan, tubuhnya kurus kering, pakaiannya lusuh dipenuhi noda tanah, dan kulitnya tampak pucat. Namun, yang membuat seluruh pasokan udara di dalam ruangan itu tersedat adalah lengan kanan si anak. Di sana, guratan bercak hitam pekat menjalar dari pergelangan tangan hingga siku seperti akar tanaman mati yang merayap di bawah kulit.
Itu adalah Stain—tanda visual mutlak dari gejala Stage 2 Corruption.
Melihat perwujudan nyata dari kutukan kegelapan itu hadir di tengah-tengah mereka, kepanikan massal sontak melanda para jemaat yang tersisa di aula. Histeria pecah seketika. Orang-orang dewasa berseru histeris seraya menunjuk-nunjuk sang bocah dengan jemari gemetar. Mereka berebut mundur dan saling sikut demi menjauh, memperlakukan anak malang itu seolah-olah ia adalah sumber wabah paling mematikan.
"Anak ini ditemukan sedang mengantri di barisan pembagian makanan yang disiapkan oleh pihak gereja!" teriak sang kesatria suci memberi penjelasan kepada massa, sama sekali tidak melonggarkan cengkraman besinya yang meremas kuat pergelangan tangan kurus si bocah.
Anak kecil itu merintih parau, tubuh kecilnya meronta lemah mencoba melepaskan diri dari kekangan sang prajurit. "Sa-sakit... Ampuni saya, Tuan Ksatria... Saya... Saya Cessar… hanya ingin mengambil sedikit makanan untuk Ibu yang sedang sakit di rumah."
"Diam, makhluk terkutuk!" bentak sang Holy Knight telak, menghentakkan tubuh anak itu hingga lututnya menghantam lantai marmer dengan keras.
Bocah itu menangis tersedu-sedu, gurat ketakutan yang murni terpatri jelas di wajah kecilnya yang kotor. Di usianya yang masih begitu belia, ia sama sekali tidak paham apa kesalahan fatal yang telah ia perbuat. Sementara itu, dinding manusia di sekelilingnya terus menghujani tubuh kecilnya dengan tatapan jijik, penuh murka, dan haus akan darah, seolah-olah ia adalah monster pendosa yang layak dimusnahkan saat itu juga.
Dari atas balkon altar, Seraphina masih berdiri mematung. Sepasang mata abu keperakannya menatap lurus ke bawah, mengunci sosok anak kecil yang kini tengah terisak di lantai batu yang dingin. Di dalam kepala Seraphina, badai suara batin dari ratusan orang dewasa di ruangan itu bergemuruh begitu bising dan memekakkan telinga, dipenuhi oleh teriakan kepanikan, sumpah serapah, dan egoisme yang menjijikkan.
Namun, Seraphina menolak untuk tenggelam dalam kebisingan itu. Mengabaikan suara-suara dewasa yang kotor, batinnya seolah meraba ke dalam kegelapan, mencari satu frekuensi yang berbeda.
Hingga akhirnya, indra pendengaran magisnya berhasil menangkap seutas suara hati yang teramat tipis, pilu, dan bergetar hebat dari tengah aula.
“Aku tidak mau mati…”
“Ibu…”
“Tolong aku… dingin…”
Suara batin yang rendah, rapuh, dan menyayat hati itu menghantam dinding kesadaran Seraphina dengan telak. Untuk pertama kalinya sejak ia terbangun dari kematian, es di dalam hatinya retak. Itu bukan suara penuh kemunafikan atau kebencian politik seperti yang selama ini ia dengar. Itu adalah ratapan ketakutan yang paling murni dari seorang anak manusia yang sedang sekarat.
Kael Adraven melangkah maju memecah kerumunan. Sebagai Komandan Holy Knight, sudah menjadi tugas mutlaknya untuk mengambil kendali penuh setiap kali faksi militer berhadapan dengan ancaman corruption. Sesuai dengan prosedur baku dan ajaran suci yang berlaku di dalam gereja, anak yang telah terkontaminasi itu harus segera dimusnahkan demi keselamatan umat manusia.
Tanpa ragu atau secuil pun keraguan di wajahnya, Kael menarik pedang sucinya dari sarung. Gesekan logam yang berdenting nyaring di dalam aula itu seketika memicu sorot ketakutan yang luar biasa dari sepasang mata sang bocah. Anak itu meringkuk, menatap bilah pedang yang berkilat tajam dengan napas yang memburu.
Seraphina meremas tangannya sedikit lebih erat. Jeritan batin anak itu terus bergema di kepalanya. Untuk sesaat, ia mencoba meyakinkan dirinya agar tidak ikut campur. Namun suara ketakutan itu tidak berhenti.
Sebelum pedang itu terayun, sebuah suara yang dingin dan tenang memecah ketegangan mencekam di dalam aula.
"Tunggu sebentar."
Semua orang di dalam ruangan itu sontak memutar kepala mereka ke satu arah, menoleh ke arah altar utama. Di atas sana, Seraphina perlahan melangkah turun dari posisinya, jubah putih-peraknya menyapu lantai marmer saat ia berjalan mendekat ke tengah aula.
Melihat pergerakan sang Saintess, Kael bergerak sigap. Ia langsung melangkah maju menghadang jalur berjalan Seraphina, menatap datar ke arah wanita itu dengan sepasang mata emas redupnya yang mengintimidasi.
"Mundur, Lady Seraphina," ucap Kael dingin, suaranya berupa perintah yang tak terbantahkan. "Ini bukan tempat bagi Anda."
Di saat yang sama, salah satu pendeta yang panik ikut berlari mendekat. Pria paruh baya itu berdiri di sisi Seraphina, berusaha berbisik dengan nada cemas yang tertahan. "Benar, Yang Mulia. Ini adalah prosedur pemurnian resmi yang diwajibkan oleh Ordo. Tidak baik bagi Nona Saintess untuk berada di sekitar area terkontaminasi lebih lama lagi. Mari kembali ke tempat Anda."
Segala bentuk peringatan—baik dari bisikan cemas sang pendeta maupun tatapan tajam dari Kael Adraven—sama sekali tidak diindahkan oleh Seraphina. Seolah-olah mereka semua hanyalah angin lalu, Seraphina terus melangkah maju. Ia dengan berani melewati tubuh tegap Kael dan berdiri tepat di depan anak laki-laki yang masih terisak di lantai.
Seraphina melakukan ini bukan karena ia memiliki rencana yang matang untuk melawan gereja. Bukan pula karena ia telah menguasai sihir suci untuk menyembuhkan infeksi itu. Ia maju hanya karena satu alasan sederhana.
Jiwanya sudah tidak tahan lagi mendengar jeritan batin si anak.
Melihat ada sesosok wanita agung berselimut gaun suci berdiri melindunginya, bocah kecil itu mendongak perlahan. Dua pasang mata dengan warna yang sangat berbeda—netra gelap penuh air mata milik sang anak, dan iris abu keperakan yang dingin milik Seraphina—saling bertatapan sejenak.
Keheningan yang pekat dan mencekam seketika menyelimuti seluruh aula katedral. Ratusan jemaat, pendeta, dan ksatria suci di sana menahan napas dalam-dalam. Mereka terpaku, menunggu dengan cemas tindakan apa yang akan dilakukan oleh Saintess mereka terhadap "monster" kecil di depannya.
Alih-alih merapalkan doa pemurnian atau menjauh, Seraphina justru memecah keheningan dengan suara yang luar biasa tenang.
"Dia bahkan belum berubah menjadi monster."
Itu adalah sebuah kalimat yang sangat sederhana. Namun, bobot kebenaran yang keluar dari bibir pucat Seraphina itu bergaung begitu kuat, siap meruntuhkan hukum yang selama ini dipegang teguh oleh gereja.
Dari balik bilah pedangnya yang berkilau, Kael Adraven menangkap sebuah pemandangan yang seketika menghantam dinding keyakinannya hingga retak.
Seraphina—wanita yang dicurigai oleh seluruh petinggi gereja sebagai ancaman berbahaya dan calon monster berikutnya—justru menjadi satu-satunya orang di dalam katedral agung ini yang melangkah maju untuk menyelamatkan nyawa seorang anak kecil.
Sementara itu, pihak gereja yang selalu mengagungkan kesucian dan belas kasih Dewa... termasuk dirinya sendiri yang mengemban gelar Ksatria Suci…
Justru berdiri di sini dengan senjata terhunus, haus akan darah, dan berniat membunuh anak malang tersebut.
Sebuah kontradiksi yang menjijikkan. Sebersit pertanyaan yang teramat pekat dan mengganggu mendadak menyusup ke dalam benak sang komandan, meruntuhkan ajaran yang selama ini ia pelajari seumur hidupnya.
Keheningan di aula itu terasa kian mencekam saat mata emas redup Kael bergetar hebat. Hari itu, di hadapan ratusan pasang mata umat dan petinggi altar, untuk pertama kalinya dalam sejarah hidupnya sebagai mesin pembunuh gereja...
Komandan Kael Adraven gagal mengangkat pedangnya.
.
.
.
Continue…
Tiga hari telah berlalu sejak kepulangan mendadak Lucien dari garis depan perbatasan. Dalam waktu yang singkat itu, atmosfer di Ibu Kota berubah total. Kesibukan luar biasa melanda istana gereja demi mempersiapkan Holy Banquet. Sebuah perjamuan agung yang tidak hanya berfungsi sebagai perayaan kepulangan Lucien sang Kandidat Pahlawan, tetapi juga panggung politik terbesar musim ini. Ratusan pelayan bekerja tanpa henti menghias aula, sementara para bangsawan dari berbagai penjuru wilayah mulai berdatangan, membawa ambisi dan kepentingan masing-masing di balik pakaian mewah mereka. Malam yang dinanti pun tiba. Aula utama istana gereja diselimuti kemegahan yang luar biasa. Lilin-lilin sihir terapung di langit-langit tinggi, memancarkan cahaya keemasan yang menerangi ratusan bangsawan, uskup, dan ksatria tinggi. Di balik denting gelas kristal dan musik kecapi yang mengalun anggun, bisik-bisik politik mulai berdengung di antara para elit. Di salah satu sudut aula, sekelompok uskup senior
"Lihatlah dia baik-baik."Suara misterius itu kembali bergema, dingin dan menusuk. Seraphina membeku, tidak berani melepaskan tatapannya dari pria muda di hadapannya. 'Apa maksudmu?' batinnya menuntut jawaban."Pahlawan itu... akan menghancurkan dunia."Detik berikutnya, suara dari lubuk Abyss itu lenyap tanpa jejak. Keheningan mendadak pecah, mengembalikan detak waktu yang sempat terasa berhenti seketika."Lady Seraphina?" Pemuda itu memiringkan kepalanya sedikit. Ia menatap sang Saintess yang masih termangu, mengabaikan uluran tangannya yang menggantung di udara."Nona Saintess! Terima kasih, Tuhan... Anda baik-baik saja!"Langkah kaki yang tergesa-gesa memecah kecanggungan. Dari arah belakang, seorang pendeta tua berlari, napasnya memburu, wajahnya dipenuhi kecemasan. Pendeta Darwin langsung berlutut di dekat Seraphina, memeriksa kondisi sang Saintess dengan panik.Melihat situasi tersebut, sang pria berambut pirang menarik kembali tangannya dengan anggun. Senyum ramah terkembang d
Di keheningan malam yang tenang, ketika mayoritas penghuni kuil suci telah terlelap dalam mimpi, sebuah pergerakan rahasia terjadi secara diam-diam menuju penjara bawah tanah. Di dalam sel yang pengap, Cessar kecil masih tertidur pulas di atas alas jerami yang tipis. Tubuhnya melingkar rapat, berusaha menghalau rasa dingin yang menusuk dari lantai batu penjara. Ketenangan fana itu seketika pecah saat bunyi derit kasar dari jeruji besi yang dibuka paksa membangunkannya dengan sentakan kaget.Sekelompok penjaga kuil merangsek masuk. Tanpa membuang waktu, mereka bergerak cepat dan beringas, menyeret paksa tubuh Thomas yang sudah lemah keluar dari dalam sel. Cessar merangkak mundur ke sudut ruangan dengan tubuh gemetar ketakutan, sementara Thomas hanya diam tanpa perlawanan. Pria paruh baya itu sama sekali tidak memberontak, seakan-akan ia sudah lama memprediksi nasib malang yang akan menjemputnya malam ini.Setelah perdebatan panas yang terjadi di ruang kerjanya beberapa waktu lalu, Kard
Kriieet...Bunyi derit pintu kayu pada engselnya yang mulai berkarat memecah kesunyian, membuat suasana di dalam ruang arsip tua itu terasa semakin mencekam. Kael melangkah masuk sembari mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan yang dipenuhi debu tipis. Barisan rak-rak kayu yang rapuh menjulang tinggi, menampung ribuan buku kuno dengan lembaran-lembaran yang telah menguning dimakan waktu. Pria itu datang ke tempat terlarang ini dengan satu tujuan pasti.Mencari informasi yang sengaja dikubur oleh gereja.Selama hampir dua jam, Komandan Holy Knight itu tenggelam dalam keheningan yang pekat. Permukaan meja kayu di tengah ruangan tampak sedikit miring, nyaris tak kuat menahan beban dari tumpukan dokumen dan arsip tebal yang menggunung di atasnya. Kael menarik napas dalam, lalu perlahan menutup halaman terakhir dari buku tebal yang baru saja selesai ia baca.Catatan sejarah mengenai para Saintess dari ratusan tahun lalu terasa sangat janggal di matanya. Ada sebuah pola yang tidak wajar
Ruang rapat agung kembali mencekam, dihadiri oleh Komandan Kael, Pendeta Senior Darwin, Kardinal, dan Uskup Agung. Peristiwa besar yang terjadi dua jam lalu berhasil mengguncang dua saksi hidup dari generasi yang berbeda itu. Sebagai Komandan Holy Knight, Kael Adraven segera melaporkan kejadian aneh tersebut dan mengajukan rapat darurat demi keamanan ordo."Stain milik anak itu berkurang," Kael mengulang kembali laporannya dengan suara berat dan tegas.Seketika, ruangan besar itu diselimuti keheningan yang mencekik. Kardinal dan Uskup Agung saling lempar pandang. Tatapan mereka sama sekali tidak menyiratkan ketidakpercayaan terhadap laporan Kael, melainkan kilat kepanikan dan adanya kepentingan mendesak yang harus segera ditindaklanjuti."Ini masalah yang sangat serius. Terima kasih sudah melaporkannya dengan cepat, Komandan Adraven, Pendeta Darwin," Uskup Agung berucap tenang, walau senyum tipis di bibirnya terasa sangat dipaksakan.Kardinal menghela napas berat, guratan kecemasan te
Suasana di dalam katedral hari ini sama sekali tidak lebih baik dari hari-hari sebelumnya.Ketika para petinggi gereja mengira bahwa membiarkan Seraphina kembali tampil ke publik sebagai Saintess adalah langkah taktis yang tepat untuk meredam situasi, kenyataan justru menampar mereka dengan keras. Insiden kemunculan bocah terkutuk kemarin—serta aksi pembangkangan tak terduga dari Seraphina—malah menjadi sumbu yang memicu perpecahan jauh lebih besar.BRAK!Suara hantaman keras pada meja kayu ek bergaung nyaring dari dalam ruang kerja Kardinal siang itu. Beberapa pendeta dan biarawati yang kebetulan sedang melintas di koridor luar sontak tersentak pelan, buru-buru mempercepat langkah mereka dengan wajah tegang."Mengapa kau tidak langsung mengeksekusi makhluk menjijikkan itu?!" Wajah sang Kardinal merah padam menahan amarah yang meledak-ledak. Matanya melotot tajam ke arah pria di depannya. "Apa kau sudah lupa pada sumpahmu, Komandan? Tugas utamamu sebagai bagian dari Executor adalah mem







