Início / Fantasi / AKU MASUK KE TUBUH SAINTESS PALSU / Chapter 6 -The Child With Corruption-

Compartilhar

Chapter 6 -The Child With Corruption-

Autor: Sei_30
last update Data de publicação: 2026-07-01 19:13:57

Dua hari telah berlalu sejak keputusan rahasia para petinggi gereja dijatuhkan.

Sejak fajar menyingsing, kamar Seraphina sudah disibukkan oleh derap langkah para pelayan. Di bawah pias mentari pagi yang perlahan naik menembus jendela kaca patri, Seraphina dipaksa bersiap untuk menghadiri misa agung yang diselenggarakan pagi ini.

Tubuhnya yang masih ringkih kembali dibalut oleh kemegahan gaun Saintess. Sebuah jubah mantel perpaduan warna putih sulaman perak membungkus bahunya, dengan aksen beludru berwarna biru navy gelap yang memberikan kesan anggun sekaligus dingin.

Beberapa pelayan muda bergerak gesit mendandaninya. Meski gurat ketakutan tercetak jelas setiap kali kulit mereka tidak sengaja bersentuhan dengan Seraphina, mereka tetap profesional menyematkan veil tipis transparan di kepala sang Saintess, memasangkan sarung tangan renda putih, dan menata berbagai aksesori suci.

Namun, ada yang janggal pada ornamen-ornamen yang mereka pasangkan hari ini. Sebuah bros salib suci kecil disematkan terbalik di bagian belakang kerah lehernya. Beberapa ornamen perak berbentuk pilar suci yang retak sengaja dipadukan dengan lambang agung The Seven Thrones. Sebuah simbolisme terselubung yang mengerikan.

Para pelayan itu mendandani Seraphina dengan tangan gemetar. Seolah-olah, alih-alih seorang Saintess, mereka sedang merakit sebutir bom waktu yang bisa meledak dan menghancurkan seluruh katedral kapan saja.

Di sepanjang proses itu, bisikan-bisikan dari isi hati para pelayan masih saja mendengung riuh di telinga Seraphina. Namun, kali ini jiwanya tidak lagi terguncang hebat seperti dua hari lalu. Ada semacam dinding pelindung tak kasat mata di dalam benaknya. Sebuah ketenangan dingin yang entah bagaimana berhasil disuntikkan oleh suara misterius yang waktu itu berbicara kepadanya.

“Aku tidak mau menyentuh tangannya…”

“Tuhan, tolong lindungi hamba… hamba tidak mau mati di sini.”

“Sial, mengapa harus aku yang kedapatan giliran bertugas hari ini?”

Seraphina hanya menatap lurus ke arah cermin besar di depannya. Rambut panjangnya yang berwarna perak keabuan—dengan gradasi warna hitam pekat yang aneh di bagian ujungnya—dibiarkan tergerai indah membingkai wajahnya yang pucat. Ia mengabaikan semua ketakutan manusia di sekitarnya.

Detik demi detik merayap begitu lambat dan melelahkan. Hingga akhirnya, keheningan di dalam kamar itu dipecah oleh ketukan pada pintu berdaun dua. Seorang biarawati paruh baya melangkah masuk dengan kepala tertunduk dalam menyampaikan pesan dari luar.

"Yang Mulia Saintess, seluruh jemaat dan petinggi telah berkumpul. Sudah waktunya Anda hadir."

Alih-alih dituntun menuju aula utama katedral, biarawati paruh baya itu justru mengarahkan langkah Seraphina menuju balkon marmer putih yang terletak tepat di sisi atas altar suci.

Dari ketinggian itu, pemandangan di bawahnya tampak luar biasa padat. Ratusan rakyat dan jemaat telah memadati setiap sudut gereja. Suasana di dalam aula besar itu riuh rendah, dipenuhi oleh gemuruh antusiasme dan kehebohan massa yang masih tidak percaya bahwa sang Saintess—yang sebelumnya dikabarkan telah tewas—kini kembali tegak berdiri.

Dari tempatnya berdiri, Seraphina bisa langsung memetakan dua reaksi ekstrem yang bertolak belakang dari kerumunan manusia di bawah sana.

Sebagian besar dari mereka menyanyikan kidung pujian yang megah kepada dewa agung mereka, The Seven Thrones, merayakan apa yang mereka kira sebagai mukjizat terbesar abad ini.

"Puji syukur atas belas kasih-Mu yang tiada batas, wahai Dewa!"

"Ini sungguh mukjizat yang nyata! Beliau telah bangkit!"

Namun, di sela-sela gema pujian yang keluar dari mulut-mulut munafik itu, gelombang suara batin mereka ikut melesat naik, menyusup langsung ke indra pendengaran Seraphina.

“Bahkan Dewa masih berbaik hati memaafkan dosa dan kesalahan fatal seorang Saintess yang cacat…”

Di sisi lain, sebagian jemaat justru melemparkan kata-kata kutukan dan keraguan yang pekat ke arahnya. Kalimat mereka terdengar santun secara lisan, tetapi isi kepala mereka memancarkan racun ketakutan yang murni.

“Sungguh mengerikan, bukankah pihak gereja bilang jalang itu sudah dihukum mati?”

“Oh, Dewaku… pertanda buruk apakah ini? Mengapa makhluk mati diizinkan menginjak tanah suci kembali?”

“Haruskah kami tetap mempercayai seorang Saintess yang tangannya telah menodai kesucian altar Dewa?”

Suara pujian lisan dan teriakan batin yang penuh kebencian itu saling bertabrakan di udara, menciptakan simfoni kekacauan yang memekakkan telinga.

Kendati demikian, Seraphina tetap berdiri tegak tanpa bergeming sedikitpun di tepi balkon marmer. Jubah putih-peraknya berkibar pelan tertiup angin katedral. Wajahnya sedatar es, tidak menunjukkan secuil pun kegoyahan atau tatapan getir saat dihadapkan pada kontradiksi yang menjijikkan di depan matanya.

Seruan dari orang-orang yang berpura-pura memujanya, maupun jeritan ketakutan dari hati mereka yang mengutuknya, kini tidak lagi mampu menyentuh ketenangan dingin di dalam jiwanya.

***

Misa Agung dimulai dengan khidmat di bawah pimpinan langsung sang Uskup Agung. Upacara suci itu berlangsung dalam dua bagian utama, di mana Seraphina mengemban tugas penting untuk menjalankan Liturgi Sabda—membacakan ayat-ayat dari kitab suci. Ratusan umat yang memadati katedral mendengarkan dengan saksama setiap bait kisah nubuat kuno yang ia lafalkan. Ketika Seraphina mulai melantunkan Doa Umat The Seven Thrones, suaranya yang tenang, jernih, dan lembut bergema memenuhi langit-langit beratap tinggi, seketika mengubah suasana aula menjadi begitu sakral dan suci.

Namun, kedamaian itu berumur pendek. Begitu rangkaian misa dinyatakan selesai, sebuah keributan hebat mendadak pecah di area belakang katedral.

Pintu masuk utama berdaun ganda itu didobrak kasar. Seorang prajurit Holy Knight melangkah masuk dengan angkuh, menyeret paksa seorang anak laki-laki berusia sekitar delapan hingga sepuluh tahun ke tengah-tengah aula utama. 

Penampilan bocah itu sangat mengenaskan, tubuhnya kurus kering, pakaiannya lusuh dipenuhi noda tanah, dan kulitnya tampak pucat. Namun, yang membuat seluruh pasokan udara di dalam ruangan itu tersedat adalah lengan kanan si anak. Di sana, guratan bercak hitam pekat menjalar dari pergelangan tangan hingga siku seperti akar tanaman mati yang merayap di bawah kulit. 

Itu adalah Stain—tanda visual mutlak dari gejala Stage 2 Corruption.

Melihat perwujudan nyata dari kutukan kegelapan itu hadir di tengah-tengah mereka, kepanikan massal sontak melanda para jemaat yang tersisa di aula. Histeria pecah seketika. Orang-orang dewasa berseru histeris seraya menunjuk-nunjuk sang bocah dengan jemari gemetar. Mereka berebut mundur dan saling sikut demi menjauh, memperlakukan anak malang itu seolah-olah ia adalah sumber wabah paling mematikan.

"Anak ini ditemukan sedang mengantri di barisan pembagian makanan yang disiapkan oleh pihak gereja!" teriak sang kesatria suci memberi penjelasan kepada massa, sama sekali tidak melonggarkan cengkraman besinya yang meremas kuat pergelangan tangan kurus si bocah.

Anak kecil itu merintih parau, tubuh kecilnya meronta lemah mencoba melepaskan diri dari kekangan sang prajurit. "Sa-sakit... Ampuni saya, Tuan Ksatria... Saya... Saya Cessar… hanya ingin mengambil sedikit makanan untuk Ibu yang sedang sakit di rumah."

"Diam, makhluk terkutuk!" bentak sang Holy Knight telak, menghentakkan tubuh anak itu hingga lututnya menghantam lantai marmer dengan keras.

Bocah itu menangis tersedu-sedu, gurat ketakutan yang murni terpatri jelas di wajah kecilnya yang kotor. Di usianya yang masih begitu belia, ia sama sekali tidak paham apa kesalahan fatal yang telah ia perbuat. Sementara itu, dinding manusia di sekelilingnya terus menghujani tubuh kecilnya dengan tatapan jijik, penuh murka, dan haus akan darah, seolah-olah ia adalah monster pendosa yang layak dimusnahkan saat itu juga.

Dari atas balkon altar, Seraphina masih berdiri mematung. Sepasang mata abu keperakannya menatap lurus ke bawah, mengunci sosok anak kecil yang kini tengah terisak di lantai batu yang dingin. Di dalam kepala Seraphina, badai suara batin dari ratusan orang dewasa di ruangan itu bergemuruh begitu bising dan memekakkan telinga, dipenuhi oleh teriakan kepanikan, sumpah serapah, dan egoisme yang menjijikkan.

Namun, Seraphina menolak untuk tenggelam dalam kebisingan itu. Mengabaikan suara-suara dewasa yang kotor, batinnya seolah meraba ke dalam kegelapan, mencari satu frekuensi yang berbeda.

Hingga akhirnya, indra pendengaran magisnya berhasil menangkap seutas suara hati yang teramat tipis, pilu, dan bergetar hebat dari tengah aula.

“Aku tidak mau mati…”

“Ibu…”

“Tolong aku… dingin…”

Suara batin yang rendah, rapuh, dan menyayat hati itu menghantam dinding kesadaran Seraphina dengan telak. Untuk pertama kalinya sejak ia terbangun dari kematian, es di dalam hatinya retak. Itu bukan suara penuh kemunafikan atau kebencian politik seperti yang selama ini ia dengar. Itu adalah ratapan ketakutan yang paling murni dari seorang anak manusia yang sedang sekarat.

Kael Adraven melangkah maju memecah kerumunan. Sebagai Komandan Holy Knight, sudah menjadi tugas mutlaknya untuk mengambil kendali penuh setiap kali faksi militer berhadapan dengan ancaman corruption. Sesuai dengan prosedur baku dan ajaran suci yang berlaku di dalam gereja, anak yang telah terkontaminasi itu harus segera dimusnahkan demi keselamatan umat manusia.

Tanpa ragu atau secuil pun keraguan di wajahnya, Kael menarik pedang sucinya dari sarung. Gesekan logam yang berdenting nyaring di dalam aula itu seketika memicu sorot ketakutan yang luar biasa dari sepasang mata sang bocah. Anak itu meringkuk, menatap bilah pedang yang berkilat tajam dengan napas yang memburu.

Seraphina meremas tangannya sedikit lebih erat. Jeritan batin anak itu terus bergema di kepalanya. Untuk sesaat, ia mencoba meyakinkan dirinya agar tidak ikut campur. Namun suara ketakutan itu tidak berhenti.

Sebelum pedang itu terayun, sebuah suara yang dingin dan tenang memecah ketegangan mencekam di dalam aula.

"Tunggu sebentar."

Semua orang di dalam ruangan itu sontak memutar kepala mereka ke satu arah, menoleh ke arah altar utama. Di atas sana, Seraphina perlahan melangkah turun dari posisinya, jubah putih-peraknya menyapu lantai marmer saat ia berjalan mendekat ke tengah aula.

Melihat pergerakan sang Saintess, Kael bergerak sigap. Ia langsung melangkah maju menghadang jalur berjalan Seraphina, menatap datar ke arah wanita itu dengan sepasang mata emas redupnya yang mengintimidasi.

"Mundur, Lady Seraphina," ucap Kael dingin, suaranya berupa perintah yang tak terbantahkan. "Ini bukan tempat bagi Anda."

Di saat yang sama, salah satu pendeta yang panik ikut berlari mendekat. Pria paruh baya itu berdiri di sisi Seraphina, berusaha berbisik dengan nada cemas yang tertahan. "Benar, Yang Mulia. Ini adalah prosedur pemurnian resmi yang diwajibkan oleh Ordo. Tidak baik bagi Nona Saintess untuk berada di sekitar area terkontaminasi lebih lama lagi. Mari kembali ke tempat Anda."

Segala bentuk peringatan—baik dari bisikan cemas sang pendeta maupun tatapan tajam dari Kael Adraven—sama sekali tidak diindahkan oleh Seraphina. Seolah-olah mereka semua hanyalah angin lalu, Seraphina terus melangkah maju. Ia dengan berani melewati tubuh tegap Kael dan berdiri tepat di depan anak laki-laki yang masih terisak di lantai.

Seraphina melakukan ini bukan karena ia memiliki rencana yang matang untuk melawan gereja. Bukan pula karena ia telah menguasai sihir suci untuk menyembuhkan infeksi itu. Ia maju hanya karena satu alasan sederhana.

Jiwanya sudah tidak tahan lagi mendengar jeritan batin si anak.

Melihat ada sesosok wanita agung berselimut gaun suci berdiri melindunginya, bocah kecil itu mendongak perlahan. Dua pasang mata dengan warna yang sangat berbeda—netra gelap penuh air mata milik sang anak, dan iris abu keperakan yang dingin milik Seraphina—saling bertatapan sejenak.

Keheningan yang pekat dan mencekam seketika menyelimuti seluruh aula katedral. Ratusan jemaat, pendeta, dan ksatria suci di sana menahan napas dalam-dalam. Mereka terpaku, menunggu dengan cemas tindakan apa yang akan dilakukan oleh Saintess mereka terhadap "monster" kecil di depannya.

Alih-alih merapalkan doa pemurnian atau menjauh, Seraphina justru memecah keheningan dengan suara yang luar biasa tenang.

"Dia bahkan belum berubah menjadi monster."

Itu adalah sebuah kalimat yang sangat sederhana. Namun, bobot kebenaran yang keluar dari bibir pucat Seraphina itu bergaung begitu kuat, siap meruntuhkan hukum yang selama ini dipegang teguh oleh gereja.

Dari balik bilah pedangnya yang berkilau, Kael Adraven menangkap sebuah pemandangan yang seketika menghantam dinding keyakinannya hingga retak.

Seraphina—wanita yang dicurigai oleh seluruh petinggi gereja sebagai ancaman berbahaya dan calon monster berikutnya—justru menjadi satu-satunya orang di dalam katedral agung ini yang melangkah maju untuk menyelamatkan nyawa seorang anak kecil.

Sementara itu, pihak gereja yang selalu mengagungkan kesucian dan belas kasih Dewa... termasuk dirinya sendiri yang mengemban gelar Ksatria Suci…

Justru berdiri di sini dengan senjata terhunus, haus akan darah, dan berniat membunuh anak malang tersebut.

Sebuah kontradiksi yang menjijikkan. Sebersit pertanyaan yang teramat pekat dan mengganggu mendadak menyusup ke dalam benak sang komandan, meruntuhkan ajaran yang selama ini ia pelajari seumur hidupnya.

Keheningan di aula itu terasa kian mencekam saat mata emas redup Kael bergetar hebat. Hari itu, di hadapan ratusan pasang mata umat dan petinggi altar, untuk pertama kalinya dalam sejarah hidupnya sebagai mesin pembunuh gereja...

Komandan Kael Adraven gagal mengangkat pedangnya.

.

.

.

Continue…

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • AKU MASUK KE TUBUH SAINTESS PALSU   Chapter 46 -To Save Another Soul-

    Sudah cukup lama berlalu semenjak kepulangan Saintess Seraphina dari Ibu Kota Kekaisaran Suci. Namun, gema dari berita mengejutkan itu belum juga surut. Desas-desus tentang kebangkitan sang perempuan suci dari kematian—yang oleh sebagian pihak dianggap sebagai kutukan atau kebangkitan haram—telah menyulut api kegelisahan. Satu demi satu masalah baru terus bermunculan, membuat para petinggi Kuil kewalahan dan dirundung keluh kesah. Riuh keputusasaan kini berujung pada kepungan para tetua yang terus mendesak dan menuntut kejelasan di depan gerbang kediaman resmi Paus, di jantung Istana Suci. Kemegahan arsitektur Ibu Kota yang dilapisi emas dan marmer putih, serta suasana religius yang pekat dan suci, rupanya hanya menjadi topeng di bagian luarnya saja. Pada kenyataannya, ketegangan yang merayap sejak hari kebangkitan sang Saintess kini terasa seperti kabut tak kasat mata yang mencekik napas tiap penghuni Katedral Agung.Keputusan ekstrem yang diambil oleh Paus untuk memulai kembali ri

  • AKU MASUK KE TUBUH SAINTESS PALSU   Chapter 45 -Silent Alliances-

    Derap langkah pelan yang disertai gesekan samar zirah besi memecah keheningan koridor tengah malam. Pintu kayu ek itu terbuka dengan derit halus. Lucien baru saja kembali dari medan pertempuran di desa bagian barat.Tubuhnya didera lelah yang teramat sangat. Zirah bajunya masih menyisakan noda jelaga dan darah kehitaman—sisa peperangan brutal melawan kawanan monster Abyss. Tugas sebagai seorang Pahlawan yang dianugerahi Throne of Light memaksanya memikul beban yang teramat berat. Menjadi pelindung bagi umat manusia.Namun malam ini, ada perang lain yang berkecamuk di dalam kepalanya.Setelah menanggalkan zirah beratnya dan berganti pakaian, alih-alih mengistirahatkan tubuhnya yang letih, Lucien langsung melangkah menuju meja kerja. Ia membuka buku catatan kecil yang dibiarkan tergeletak di sana. Lembar demi lembar ia balik, hingga matanya tertuju pada secarik kertas laporan kusut yang terselip di sana.“Yang Mulia mengalami sesak napas tepat setelah menerima makan malamnya.”Tulisan t

  • AKU MASUK KE TUBUH SAINTESS PALSU   Chapter 44 -A Saint’s Silhouette-

    "Hei, sudah waktunya gantian."Seorang ksatria menghampiri rekan kerjanya yang sudah sejak siang berjaga. "Oh, akhirnya aku bisa pergi tidur." Ia merenggangkan kedua lengan sebelum sorot matanya menangkap cahaya di salah satu kamar gereja. "Kalau tidak salah, itu ruang kerja Pahlawan Lucien, bukan?"Rekan lain yang baru datang mengangguk. "Beliau masih belum tidur meski sudah selarut ini.""Tuan Pahlawan memang dikenal berdedikasi tinggi. Sama seperti Komandan Ksatria kita, Tuan Adraven. Selama ada mereka berdua, kekaisaran suci tidak akan kalah dari monster Abyss.""Ya, kau benar!"Sementara itu, di kamar Lucien Vaelis. Sang Pahlawan memang masih terjaga seperti yang dikira pada ksatria penjaga. Ia tengah sibuk di meja kerjanya, menatap kitab suci, dokumen terbaru Gereja, dan arsip tua yang ia temukan di perpustakaan tempo lalu. Pena bulu di tangannya tertahan di udara, tidak bergerak. Sepasang matanya menyipit tajam."Ada sesuatu yang keliru di sini," gumam Lucien pelan.Sebagai ks

  • AKU MASUK KE TUBUH SAINTESS PALSU   Chapter 43 -The Throne I Chose-

    Seraphina mengulurkan tangan di udara, di tengah-tengah kesunyian kapel malam itu. Sebuah keputusan akhir dibuat oleh sang wanita suci dengan alasan yang sederhana namun kuat.Ia tidak ingin mati, terlebih sebagai korban.Kegelapan kembali datang menyelimuti seluruh tubuhnya. Saat kesadarannya tersedot kembali ke dunia Abyss, Seraphina merasakan lagi sensasi jatuh dari ketinggian tanpa dasar yang dingin. Namun, kali ini tidak ada perasaan takut pada kematian. Perempuan itu menutup matanya dengan tenang, merasakan tiap gesekan angin pada ujung jari.Perlahan, seluruh tubuhnya mengeluarkan cahaya samar berwarna keunguan yang lembut. Di tengah kegelapan pekat itu, Seraphina yang bersinar terlihat bagaikan bintang jatuh. Lalu, kejatuhan itu mendadak berhenti tepat di atas hamparan sungai perak dengan langit penuh bintang."Selamat datang kembali, Seraphina," sebuah suara yang tidak asing menyambut tepat di telinga sang Saintess.Seraphina membuka kelopak mata dan menatap sekitar. Menyadar

  • AKU MASUK KE TUBUH SAINTESS PALSU   Chapter 42 -Not Yet-

    Langkah kaki Seraphina terasa berat saat ia melangkah keluar dari ruang rahasia arsip. Tubuhnya bergeming beberapa detik sebelum berbalik perlahan, menatap lamat-lamat bilik pengakuan dosa yang sunyi. Lembaran-lembaran kertas kuno yang baru dibacanya seolah masih membakar ingatan, meninggalkan jejak kepedihan yang mendalam. Di dalam kapel yang remang-remang, Seraphina ambruk tepat di depan altar. Tubuhnya gemetar hebat. Ia terduduk diam di lantai yang dingin, membiarkan keheningan malam menelan sisa-sisa kekosongan jiwanya. Tatapan matanya lurus ke depan, tetapi tidak fokus pada apa pun. Seraphina bahkan tidak mampu merasakan ujung jarinya sendiri. Semua terasa kebas dan mati rasa.Di bawah bayang-bayang melankolis patung para Seven Thrones, Seraphina mulai menyusun kembali kepingan informasi yang baru saja ia temukan. Pikirannya berputar hebat, dihantam kenyataan pahit.Ritual Sinkronisasi.Satu frasa itu kini menjelma menjadi monster yang nyata. Lembar arsip kuno tadi dengan jelas

  • AKU MASUK KE TUBUH SAINTESS PALSU   Chapter 41 -Forbidden archive-

    "Tuan Vaelis...?"Lucien berjalan mendekat dengan langkah berat. Dia mengambil tempat di kursi kayu samping ranjang, lalu perlahan meraih tangan pucat Seraphina yang terasa sedingin es."Masih sakit?"Pertanyaan itu lolos begitu saja dari bibir sang Kandidat Pahlawan. Nada suaranya bergetar rendah, dipenuhi amarah yang tertahan di balik dadanya. Seraphina hanya bisa diam. Jangankan menjawab, untuk sekadar membalas tatapan pria itu saja rasanya seluruh energi di dalam tubuhnya telah habis tak bersisa."Mengapa..." Lucien mendesis. Jemarinya mencengkeram erat tangan ringkih yang terasa begitu kecil dalam genggamannya. "Mengapa mereka terus memaksamu, Lady?""Tuan Vaelis... kecilkan suaramu," bisik Seraphina parau. Tenggorokannya terasa sekering padang pasir yang gersang. "Dinding tempat ini memiliki telinga."Napas pemuda berambut pirang itu memburu, berusaha keras menahan diri agar tidak melepaskan amarahnya yang bisa meledak kapan saja. Lucien menghela napas panjang yang sarat akan be

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status