Início / Fantasi / AKU MASUK KE TUBUH SAINTESS PALSU / Chapter 7 - The First Exception-

Compartilhar

Chapter 7 - The First Exception-

Autor: Sei_30
last update Data de publicação: 2026-07-02 15:14:04

Suasana di dalam katedral hari ini sama sekali tidak lebih baik dari hari-hari sebelumnya.

Ketika para petinggi gereja mengira bahwa membiarkan Seraphina kembali tampil ke publik sebagai Saintess adalah langkah taktis yang tepat untuk meredam situasi, kenyataan justru menampar mereka dengan keras. Insiden kemunculan bocah terkutuk kemarin—serta aksi pembangkangan tak terduga dari Seraphina—malah menjadi sumbu yang memicu perpecahan jauh lebih besar.

BRAK!

Suara hantaman keras pada meja kayu ek bergaung nyaring dari dalam ruang kerja Kardinal siang itu. Beberapa pendeta dan biarawati yang kebetulan sedang melintas di koridor luar sontak tersentak pelan, buru-buru mempercepat langkah mereka dengan wajah tegang.

"Mengapa kau tidak langsung mengeksekusi makhluk menjijikkan itu?!" Wajah sang Kardinal merah padam menahan amarah yang meledak-ledak. Matanya melotot tajam ke arah pria di depannya. "Apa kau sudah lupa pada sumpahmu, Komandan? Tugas utamamu sebagai bagian dari Executor adalah membasmi setiap benih monster Abyss tanpa pandang bulu!"

Jari telunjuk Kardinal menuding kasar ke arah pedang panjang yang tersampir di pinggang kiri Kael. "Itulah satu-satunya alasan mengapa Gereja memercayakan senjata Relic berkekuatan pecahan blessing Dewa itu kepadamu! Bukan untuk dijadikan pajangan!"

Kael tidak memiliki jawaban yang bagus untuk membela diri. Bibirnya terkatup rapat, membentuk garis lurus yang kaku. Kendati tubuhnya dimarahi habis-habisan dan ditekan oleh otoritas tertinggi di hadapannya, ego militer Kael tidak berontak. Di balik wajahnya yang sedatar es, sebersit keraguan yang pekat justru mulai mengakar di dalam hatinya.

Sang Kardinal akhirnya menghembuskan napas kasar, menghempaskan tubuhnya kembali ke kursi kebesarannya dengan gemuruh emosi yang masih tersisa di dada. Ia memijat pelipisnya yang mendadak berdenyut menyakitkan. Kepalanya terasa pening bukan main.

Saat ini, katedral telah terpecah menjadi dua kubu yang saling serang. Faksi pertama setuju dengan tindakan sang Saintess, menganggap pembelaan tersebut sebagai wujud belas kasih suci yang sejati dari utusan Dewa. Sementara faksi lain justru melemparkan protes keras dan kecaman, mereka menganggap sang Saintess telah menodai kesucian altar dengan melindungi cikal bakal monster. Rumor buruk itu terus menyebar liar di luar dinding gereja seperti wabah.

Padahal, Kardinal sudah bersusah payah mengambil keputusan sebelumnya demi mempertahankan kestabilan keimanan rakyat dan para jemaat. Ia bahkan harus menanggung beban politik yang berat saat berhadapan dengan pihak Kekaisaran dan Paus di pusat.

"Sekarang..." Kardinal memejamkan mata sejenak, mengatur napasnya yang memburu hingga kembali tenang. "Di mana Saintess berada? Dan... apa yang kalian lakukan pada anak yang terkontaminasi corruption itu?"

Kael masih berdiri tegak layaknya pilar batu, memberikan laporan dengan nada formal. "Anak itu kini dikurung di ruang bawah tanah sektor Selatan. Seluruh pergerakannya diawasi ketat, menunggu keputusan final dari Anda, Yang Mulia Kardinal."

Kardinal membuka matanya, sorotnya mendadak menajam kembali. "Jangan bermain-main denganku, Komandan Adraven. Justru karena hal itulah aku bertanya sejak awal. Jika anak itu kini ada di bawah kuasamu, mengapa sampai detik ini kau belum juga mengeksekusinya?!"

***

Sementara perdebatan sengit masih berlangsung di menara atas katedral, Seraphina melangkah dalam kesunyian menuju ruang bawah tanah sektor Selatan.

Udara di area penjara itu terasa jauh lebih dingin, lembap, dan berbau karat besi. Berkat bantuan suara misterius yang membimbing jalannya, serta aura Saintess yang membuat para penjaga tak berani membantah, Seraphina berhasil berdiri di depan jeruji besi sebuah sel yang terisolasi.

Di dalam ruangan yang remang-remang itu, si bocah terkutuk sedang meringkuk sendirian di atas tumpukan jerami kering.

Begitu Seraphina mendekat, kemampuan Whisper di dalam dirinya mendadak bergejolak hebat, berevolusi ke tingkat yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Suara batin anak itu tidak lagi terdengar seperti bisikan tipis, melainkan sebuah proyeksi emosi yang begitu nyata dan berlapis-lapis.

Namun, perkembangan kemampuannya tidak berhenti sampai di situ. Indra penglihatan Seraphina mendadak buram sejenak sebelum fokus kembali, memperlihatkan sesuatu yang melampaui batasan mata manusia normal.

Kali ini, bukan hanya suara hati yang ia tangkap, melainkan bentuk manifestasi asli dari corruption.

Di sekeliling tubuh ringkih anak itu, Seraphina melihat sebentuk bayangan hitam kecil yang melilit erat. Anehnya, perwujudan kegelapan itu sama sekali tidak tampak menyeramkan atau haus darah layaknya monster Abyss yang sering digambarkan oleh pihak gereja.

Sebaliknya, bayangan itu justru terlihat seperti sesosok makhluk kecil yang sedang menangis tersedu-sedu, meringkuk kesakitan sambil memeluk sang anak.

Seraphina tertegun di tempat, napasnya tertahan. Pada detik itulah, sebuah pencerahan besar menghantam kesadarannya dengan telak.

Untuk pertama kalinya, Seraphina mulai meragukan gereja.

Seraphina berlutut di depan jeruji besi, menatap bayangan hitam itu dengan mata berkaca-kaca. Bibirnya bergerak, "kau terlihat seperti seseorang yang sedang menangis.." lirih Seraphina, suaranya bergetar penuh simpati. 

"Mengapa rasanya kau lebih mirip luka daripada kutukan?”

***

Setelah hampir satu jam penuh menahan rentetan amarah yang meledak-ledak dari sang Kardinal, Komandan Holy Knight itu akhirnya menutup pintu ruang kerja dengan hati yang luar biasa lelah. Kael Adraven menghembuskan napas panjang, bersiap mengayunkan langkah beratnya kembali menuju meja kerjanya sendiri. Namun, derap langkah tergesa-gesa serta seruan panik dari Pendeta Darwin seketika menghentikan pergerakannya.

"Ko-komandan Adraven...!" Napas pendeta tua itu terputus-putus. Sorot cemas sekaligus panik terpancar jelas dari sepasang matanya yang telah mengabu termakan usia. "Yang Mulia Saintess... Yang Mulia Saintess menghilang dari kamarnya, Komandan!"

Sepasang netra keemasan Kael mendadak meredup tajam. Rahangnya mengeras seketika, mengutuk dalam hati saat memikirkan nekatnya tindakan yang mungkin sedang dilakukan perempuan itu lagi. "Sepertinya, aku tahu kemana dia pergi."

***

Di kedalaman penjara bawah tanah sektor Selatan yang dingin dan lembab, Seraphina sama sekali tidak membalikkan badan saat telinganya menangkap derap langkah kaki berlapis zirah besi yang menggema dari arah koridor. Ia tetap berlutut di depan jeruji besi, menatap sayu ke arah si bocah terkutuk, lalu berujar dengan nada parau yang menyayat hati.

"Dengarkan dia, Komandan. Dibalik ketakutan yang mencekam ini, dia hanya seorang anak yang sedang kelaparan. Dan di tengah kurungan dingin ini, hal yang paling menyiksa pikirannya bukanlah bayang-bayang kematian, melainkan rasa khawatir yang teramat dalam pada ibunya yang sakit di rumah kumuh mereka."

Kael yang baru saja tiba di depan sel tidak langsung menggubris ucapan itu. Ia berdiri membeku, tajam memperhatikan situasi di sekelilingnya. Di belakang punggung tegap sang komandan, Pendeta Darwin menyusul dengan sisa-sisa napas yang terengah-engah.

Seraphina mengabaikan ketegangan yang dibawa kedua pria itu. Ia kembali memfokuskan atensinya pada sang anak, lalu berbisik lembut, "Siapa namamu, adik kecil?"

Mendengar seuntai suara ramah yang begitu tulus—suatu hal yang pertama kali ia dengar semenjak diseret paksa dan dikurung seperti binatang—anak kecil itu perlahan mengangkat kepalanya yang kotor. Tatapannya masih menyiratkan sisa-sisa trauma yang besar, tetapi ia memberanikan diri untuk menyahut.

"Cessar... Yang Mulia Saintess."

Mendengar nama itu, Seraphina menyunggingkan sebuah senyuman tipis yang terasa begitu hangat dan menenangkan di mata Cessar. Tangis sang bocah yang sempat tertahan mendadak pecah seketika. Dengan tubuh bergetar hebat, ia merangkak mendekat ke arah jeruji besi, lalu bersujud dengan dahi menyentuh lantai  kotor dan dingin tepat di hadapan kaki Seraphina.

"Maafkan aku, Saintess... Maafkan aku!" ratap Cessar di sela-sela tangis sesegukannya. "Aku-aku datang ke gereja bukan untuk meminta ibuku disembuhkan. Aku hanya ingin meminta sedikit makanan agar Ibu tidak kelaparan di rumah. Maafkan aku, Saintess... Tolong jangan bunuh aku..."

Hati Seraphina terasa diremas mendengar kejujuran yang memilukan itu. Demi menenangkan kepanikan sang anak, ia meraba bagian dalam jubah mantelnya dan mengeluarkan sepotong roti lembut yang masih hangat.

Sepasang mata bulat milik Cessar mengerjap beberapa kali, menatap benda di tangan Seraphina seolah itu adalah benda paling berharga di dunia. Bibir mungilnya mengerucut kuat, berusaha menahan tangis yang kian membuncah.

"Makanlah dulu," ujar Seraphina lembut, menyerahkan roti itu melewati celah jeruji besi. "Aku... akan mencoba meminta izin kepada petinggi agar diperbolehkan mengirimkan makanan ke rumahmu. Agar ibumu tidak lagi kelaparan."

Cessar tidak mampu menjawab lagi. Dengan tangan bergetar, ia segera menerima roti hangat itu dari tangan sang Saintess. Air matanya tumpah ruah membasahi pipinya yang kotor saat bocah laki-laki itu sibuk mengunyah dan menghabiskan rotinya dengan perasaan syukur yang teramat murni.

Ratapan keputusasaan si anak kini telah berganti menjadi isak tangis kegetiran yang perlahan mereda. Cessar menatap Seraphina dengan binar mata yang rapuh, ia akhirnya percaya bahwa ia aman, bahwa dirinya tidak akan dieksekusi malam ini. Diperlakukan dengan begitu manusiawi membuat jiwanya yang hancur perlahan merekat kembali. Dia merasa diterima.

Kael Adraven dan Pendeta Darwin yang menyaksikan interaksi tersebut dari belakang hanya bisa terpaku, merasakan kecamuk badai emosi yang luar biasa di dalam dada masing-masing.

Namun, tepat pada saat itulah, sebuah keajaiban yang mustahil terjadi di depan mata kepala mereka.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah teologi gereja, Kael dan Pendeta Darwin melihat guratan bercak hitam (Stain) di lengan kanan Cessar perlahan menyusut. Noda pekat yang semula tampak menjalar mengerikan itu mendadak memudar, meninggalkan warna kulit asli yang bersih, walau hanya sedikit.

Fenomena ajaib itu seketika meruntuhkan seluruh logika Kael dan Pendeta Darwin. Bukti nyata di lengan Cessar adalah sebuah kebenaran yang tidak bisa dibantah oleh kepercayaan mana pun di dunia ini. Corruption ternyata bisa disembuhkan tanpa perlu menumpahkan darah.

Di saat Kael dan Pendeta Darwin masih tenggelam dalam badai pikiran mereka sendiri, indra penglihatan magis Seraphina mendadak menangkap kejanggalan lain.

Di dalam sel jeruji besi yang gelap itu, ternyata tidak hanya ada Cessar sendirian. Tepat di sudut ruangan yang paling remang, sesosok pria paruh baya tampak duduk termangu, menatap kosong ke arah mereka dengan tubuh yang diselimuti oleh noda-noda hitam kecil yang mulai memadat.

Saat itulah suara hati pria itu terdengar.

“Aku ingin pulang.”

.

.

.

Continue

Sei_30

-Bab 8: Fake Saintess, update malam ini-

| Curtir
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • AKU MASUK KE TUBUH SAINTESS PALSU   Chapter 46 -To Save Another Soul-

    Sudah cukup lama berlalu semenjak kepulangan Saintess Seraphina dari Ibu Kota Kekaisaran Suci. Namun, gema dari berita mengejutkan itu belum juga surut. Desas-desus tentang kebangkitan sang perempuan suci dari kematian—yang oleh sebagian pihak dianggap sebagai kutukan atau kebangkitan haram—telah menyulut api kegelisahan. Satu demi satu masalah baru terus bermunculan, membuat para petinggi Kuil kewalahan dan dirundung keluh kesah. Riuh keputusasaan kini berujung pada kepungan para tetua yang terus mendesak dan menuntut kejelasan di depan gerbang kediaman resmi Paus, di jantung Istana Suci. Kemegahan arsitektur Ibu Kota yang dilapisi emas dan marmer putih, serta suasana religius yang pekat dan suci, rupanya hanya menjadi topeng di bagian luarnya saja. Pada kenyataannya, ketegangan yang merayap sejak hari kebangkitan sang Saintess kini terasa seperti kabut tak kasat mata yang mencekik napas tiap penghuni Katedral Agung.Keputusan ekstrem yang diambil oleh Paus untuk memulai kembali ri

  • AKU MASUK KE TUBUH SAINTESS PALSU   Chapter 45 -Silent Alliances-

    Derap langkah pelan yang disertai gesekan samar zirah besi memecah keheningan koridor tengah malam. Pintu kayu ek itu terbuka dengan derit halus. Lucien baru saja kembali dari medan pertempuran di desa bagian barat.Tubuhnya didera lelah yang teramat sangat. Zirah bajunya masih menyisakan noda jelaga dan darah kehitaman—sisa peperangan brutal melawan kawanan monster Abyss. Tugas sebagai seorang Pahlawan yang dianugerahi Throne of Light memaksanya memikul beban yang teramat berat. Menjadi pelindung bagi umat manusia.Namun malam ini, ada perang lain yang berkecamuk di dalam kepalanya.Setelah menanggalkan zirah beratnya dan berganti pakaian, alih-alih mengistirahatkan tubuhnya yang letih, Lucien langsung melangkah menuju meja kerja. Ia membuka buku catatan kecil yang dibiarkan tergeletak di sana. Lembar demi lembar ia balik, hingga matanya tertuju pada secarik kertas laporan kusut yang terselip di sana.“Yang Mulia mengalami sesak napas tepat setelah menerima makan malamnya.”Tulisan t

  • AKU MASUK KE TUBUH SAINTESS PALSU   Chapter 44 -A Saint’s Silhouette-

    "Hei, sudah waktunya gantian."Seorang ksatria menghampiri rekan kerjanya yang sudah sejak siang berjaga. "Oh, akhirnya aku bisa pergi tidur." Ia merenggangkan kedua lengan sebelum sorot matanya menangkap cahaya di salah satu kamar gereja. "Kalau tidak salah, itu ruang kerja Pahlawan Lucien, bukan?"Rekan lain yang baru datang mengangguk. "Beliau masih belum tidur meski sudah selarut ini.""Tuan Pahlawan memang dikenal berdedikasi tinggi. Sama seperti Komandan Ksatria kita, Tuan Adraven. Selama ada mereka berdua, kekaisaran suci tidak akan kalah dari monster Abyss.""Ya, kau benar!"Sementara itu, di kamar Lucien Vaelis. Sang Pahlawan memang masih terjaga seperti yang dikira pada ksatria penjaga. Ia tengah sibuk di meja kerjanya, menatap kitab suci, dokumen terbaru Gereja, dan arsip tua yang ia temukan di perpustakaan tempo lalu. Pena bulu di tangannya tertahan di udara, tidak bergerak. Sepasang matanya menyipit tajam."Ada sesuatu yang keliru di sini," gumam Lucien pelan.Sebagai ks

  • AKU MASUK KE TUBUH SAINTESS PALSU   Chapter 43 -The Throne I Chose-

    Seraphina mengulurkan tangan di udara, di tengah-tengah kesunyian kapel malam itu. Sebuah keputusan akhir dibuat oleh sang wanita suci dengan alasan yang sederhana namun kuat.Ia tidak ingin mati, terlebih sebagai korban.Kegelapan kembali datang menyelimuti seluruh tubuhnya. Saat kesadarannya tersedot kembali ke dunia Abyss, Seraphina merasakan lagi sensasi jatuh dari ketinggian tanpa dasar yang dingin. Namun, kali ini tidak ada perasaan takut pada kematian. Perempuan itu menutup matanya dengan tenang, merasakan tiap gesekan angin pada ujung jari.Perlahan, seluruh tubuhnya mengeluarkan cahaya samar berwarna keunguan yang lembut. Di tengah kegelapan pekat itu, Seraphina yang bersinar terlihat bagaikan bintang jatuh. Lalu, kejatuhan itu mendadak berhenti tepat di atas hamparan sungai perak dengan langit penuh bintang."Selamat datang kembali, Seraphina," sebuah suara yang tidak asing menyambut tepat di telinga sang Saintess.Seraphina membuka kelopak mata dan menatap sekitar. Menyadar

  • AKU MASUK KE TUBUH SAINTESS PALSU   Chapter 42 -Not Yet-

    Langkah kaki Seraphina terasa berat saat ia melangkah keluar dari ruang rahasia arsip. Tubuhnya bergeming beberapa detik sebelum berbalik perlahan, menatap lamat-lamat bilik pengakuan dosa yang sunyi. Lembaran-lembaran kertas kuno yang baru dibacanya seolah masih membakar ingatan, meninggalkan jejak kepedihan yang mendalam. Di dalam kapel yang remang-remang, Seraphina ambruk tepat di depan altar. Tubuhnya gemetar hebat. Ia terduduk diam di lantai yang dingin, membiarkan keheningan malam menelan sisa-sisa kekosongan jiwanya. Tatapan matanya lurus ke depan, tetapi tidak fokus pada apa pun. Seraphina bahkan tidak mampu merasakan ujung jarinya sendiri. Semua terasa kebas dan mati rasa.Di bawah bayang-bayang melankolis patung para Seven Thrones, Seraphina mulai menyusun kembali kepingan informasi yang baru saja ia temukan. Pikirannya berputar hebat, dihantam kenyataan pahit.Ritual Sinkronisasi.Satu frasa itu kini menjelma menjadi monster yang nyata. Lembar arsip kuno tadi dengan jelas

  • AKU MASUK KE TUBUH SAINTESS PALSU   Chapter 41 -Forbidden archive-

    "Tuan Vaelis...?"Lucien berjalan mendekat dengan langkah berat. Dia mengambil tempat di kursi kayu samping ranjang, lalu perlahan meraih tangan pucat Seraphina yang terasa sedingin es."Masih sakit?"Pertanyaan itu lolos begitu saja dari bibir sang Kandidat Pahlawan. Nada suaranya bergetar rendah, dipenuhi amarah yang tertahan di balik dadanya. Seraphina hanya bisa diam. Jangankan menjawab, untuk sekadar membalas tatapan pria itu saja rasanya seluruh energi di dalam tubuhnya telah habis tak bersisa."Mengapa..." Lucien mendesis. Jemarinya mencengkeram erat tangan ringkih yang terasa begitu kecil dalam genggamannya. "Mengapa mereka terus memaksamu, Lady?""Tuan Vaelis... kecilkan suaramu," bisik Seraphina parau. Tenggorokannya terasa sekering padang pasir yang gersang. "Dinding tempat ini memiliki telinga."Napas pemuda berambut pirang itu memburu, berusaha keras menahan diri agar tidak melepaskan amarahnya yang bisa meledak kapan saja. Lucien menghela napas panjang yang sarat akan be

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status