MasukSuasana di dalam katedral hari ini sama sekali tidak lebih baik dari hari-hari sebelumnya.
Ketika para petinggi gereja mengira bahwa membiarkan Seraphina kembali tampil ke publik sebagai Saintess adalah langkah taktis yang tepat untuk meredam situasi, kenyataan justru menampar mereka dengan keras. Insiden kemunculan bocah terkutuk kemarin—serta aksi pembangkangan tak terduga dari Seraphina—malah menjadi sumbu yang memicu perpecahan jauh lebih besar.
BRAK!
Suara hantaman keras pada meja kayu ek bergaung nyaring dari dalam ruang kerja Kardinal siang itu. Beberapa pendeta dan biarawati yang kebetulan sedang melintas di koridor luar sontak tersentak pelan, buru-buru mempercepat langkah mereka dengan wajah tegang.
"Mengapa kau tidak langsung mengeksekusi makhluk menjijikkan itu?!" Wajah sang Kardinal merah padam menahan amarah yang meledak-ledak. Matanya melotot tajam ke arah pria di depannya. "Apa kau sudah lupa pada sumpahmu, Komandan? Tugas utamamu sebagai bagian dari Executor adalah membasmi setiap benih monster Abyss tanpa pandang bulu!"
Jari telunjuk Kardinal menuding kasar ke arah pedang panjang yang tersampir di pinggang kiri Kael. "Itulah satu-satunya alasan mengapa Gereja memercayakan senjata Relic berkekuatan pecahan blessing Dewa itu kepadamu! Bukan untuk dijadikan pajangan!"
Kael tidak memiliki jawaban yang bagus untuk membela diri. Bibirnya terkatup rapat, membentuk garis lurus yang kaku. Kendati tubuhnya dimarahi habis-habisan dan ditekan oleh otoritas tertinggi di hadapannya, ego militer Kael tidak berontak. Di balik wajahnya yang sedatar es, sebersit keraguan yang pekat justru mulai mengakar di dalam hatinya.
Sang Kardinal akhirnya menghembuskan napas kasar, menghempaskan tubuhnya kembali ke kursi kebesarannya dengan gemuruh emosi yang masih tersisa di dada. Ia memijat pelipisnya yang mendadak berdenyut menyakitkan. Kepalanya terasa pening bukan main.
Saat ini, katedral telah terpecah menjadi dua kubu yang saling serang. Faksi pertama setuju dengan tindakan sang Saintess, menganggap pembelaan tersebut sebagai wujud belas kasih suci yang sejati dari utusan Dewa. Sementara faksi lain justru melemparkan protes keras dan kecaman, mereka menganggap sang Saintess telah menodai kesucian altar dengan melindungi cikal bakal monster. Rumor buruk itu terus menyebar liar di luar dinding gereja seperti wabah.
Padahal, Kardinal sudah bersusah payah mengambil keputusan sebelumnya demi mempertahankan kestabilan keimanan rakyat dan para jemaat. Ia bahkan harus menanggung beban politik yang berat saat berhadapan dengan pihak Kekaisaran dan Paus di pusat.
"Sekarang..." Kardinal memejamkan mata sejenak, mengatur napasnya yang memburu hingga kembali tenang. "Di mana Saintess berada? Dan... apa yang kalian lakukan pada anak yang terkontaminasi corruption itu?"
Kael masih berdiri tegak layaknya pilar batu, memberikan laporan dengan nada formal. "Anak itu kini dikurung di ruang bawah tanah sektor Selatan. Seluruh pergerakannya diawasi ketat, menunggu keputusan final dari Anda, Yang Mulia Kardinal."
Kardinal membuka matanya, sorotnya mendadak menajam kembali. "Jangan bermain-main denganku, Komandan Adraven. Justru karena hal itulah aku bertanya sejak awal. Jika anak itu kini ada di bawah kuasamu, mengapa sampai detik ini kau belum juga mengeksekusinya?!"
***
Sementara perdebatan sengit masih berlangsung di menara atas katedral, Seraphina melangkah dalam kesunyian menuju ruang bawah tanah sektor Selatan.
Udara di area penjara itu terasa jauh lebih dingin, lembap, dan berbau karat besi. Berkat bantuan suara misterius yang membimbing jalannya, serta aura Saintess yang membuat para penjaga tak berani membantah, Seraphina berhasil berdiri di depan jeruji besi sebuah sel yang terisolasi.
Di dalam ruangan yang remang-remang itu, si bocah terkutuk sedang meringkuk sendirian di atas tumpukan jerami kering.
Begitu Seraphina mendekat, kemampuan Whisper di dalam dirinya mendadak bergejolak hebat, berevolusi ke tingkat yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Suara batin anak itu tidak lagi terdengar seperti bisikan tipis, melainkan sebuah proyeksi emosi yang begitu nyata dan berlapis-lapis.
Namun, perkembangan kemampuannya tidak berhenti sampai di situ. Indra penglihatan Seraphina mendadak buram sejenak sebelum fokus kembali, memperlihatkan sesuatu yang melampaui batasan mata manusia normal.
Kali ini, bukan hanya suara hati yang ia tangkap, melainkan bentuk manifestasi asli dari corruption.
Di sekeliling tubuh ringkih anak itu, Seraphina melihat sebentuk bayangan hitam kecil yang melilit erat. Anehnya, perwujudan kegelapan itu sama sekali tidak tampak menyeramkan atau haus darah layaknya monster Abyss yang sering digambarkan oleh pihak gereja.
Sebaliknya, bayangan itu justru terlihat seperti sesosok makhluk kecil yang sedang menangis tersedu-sedu, meringkuk kesakitan sambil memeluk sang anak.
Seraphina tertegun di tempat, napasnya tertahan. Pada detik itulah, sebuah pencerahan besar menghantam kesadarannya dengan telak.
Untuk pertama kalinya, Seraphina mulai meragukan gereja.
Seraphina berlutut di depan jeruji besi, menatap bayangan hitam itu dengan mata berkaca-kaca. Bibirnya bergerak, "kau terlihat seperti seseorang yang sedang menangis.." lirih Seraphina, suaranya bergetar penuh simpati.
"Mengapa rasanya kau lebih mirip luka daripada kutukan?”
***
Setelah hampir satu jam penuh menahan rentetan amarah yang meledak-ledak dari sang Kardinal, Komandan Holy Knight itu akhirnya menutup pintu ruang kerja dengan hati yang luar biasa lelah. Kael Adraven menghembuskan napas panjang, bersiap mengayunkan langkah beratnya kembali menuju meja kerjanya sendiri. Namun, derap langkah tergesa-gesa serta seruan panik dari Pendeta Darwin seketika menghentikan pergerakannya.
"Ko-komandan Adraven...!" Napas pendeta tua itu terputus-putus. Sorot cemas sekaligus panik terpancar jelas dari sepasang matanya yang telah mengabu termakan usia. "Yang Mulia Saintess... Yang Mulia Saintess menghilang dari kamarnya, Komandan!"
Sepasang netra keemasan Kael mendadak meredup tajam. Rahangnya mengeras seketika, mengutuk dalam hati saat memikirkan nekatnya tindakan yang mungkin sedang dilakukan perempuan itu lagi. "Sepertinya, aku tahu kemana dia pergi."
***
Di kedalaman penjara bawah tanah sektor Selatan yang dingin dan lembab, Seraphina sama sekali tidak membalikkan badan saat telinganya menangkap derap langkah kaki berlapis zirah besi yang menggema dari arah koridor. Ia tetap berlutut di depan jeruji besi, menatap sayu ke arah si bocah terkutuk, lalu berujar dengan nada parau yang menyayat hati.
"Dengarkan dia, Komandan. Dibalik ketakutan yang mencekam ini, dia hanya seorang anak yang sedang kelaparan. Dan di tengah kurungan dingin ini, hal yang paling menyiksa pikirannya bukanlah bayang-bayang kematian, melainkan rasa khawatir yang teramat dalam pada ibunya yang sakit di rumah kumuh mereka."
Kael yang baru saja tiba di depan sel tidak langsung menggubris ucapan itu. Ia berdiri membeku, tajam memperhatikan situasi di sekelilingnya. Di belakang punggung tegap sang komandan, Pendeta Darwin menyusul dengan sisa-sisa napas yang terengah-engah.
Seraphina mengabaikan ketegangan yang dibawa kedua pria itu. Ia kembali memfokuskan atensinya pada sang anak, lalu berbisik lembut, "Siapa namamu, adik kecil?"
Mendengar seuntai suara ramah yang begitu tulus—suatu hal yang pertama kali ia dengar semenjak diseret paksa dan dikurung seperti binatang—anak kecil itu perlahan mengangkat kepalanya yang kotor. Tatapannya masih menyiratkan sisa-sisa trauma yang besar, tetapi ia memberanikan diri untuk menyahut.
"Cessar... Yang Mulia Saintess."
Mendengar nama itu, Seraphina menyunggingkan sebuah senyuman tipis yang terasa begitu hangat dan menenangkan di mata Cessar. Tangis sang bocah yang sempat tertahan mendadak pecah seketika. Dengan tubuh bergetar hebat, ia merangkak mendekat ke arah jeruji besi, lalu bersujud dengan dahi menyentuh lantai kotor dan dingin tepat di hadapan kaki Seraphina.
"Maafkan aku, Saintess... Maafkan aku!" ratap Cessar di sela-sela tangis sesegukannya. "Aku-aku datang ke gereja bukan untuk meminta ibuku disembuhkan. Aku hanya ingin meminta sedikit makanan agar Ibu tidak kelaparan di rumah. Maafkan aku, Saintess... Tolong jangan bunuh aku..."
Hati Seraphina terasa diremas mendengar kejujuran yang memilukan itu. Demi menenangkan kepanikan sang anak, ia meraba bagian dalam jubah mantelnya dan mengeluarkan sepotong roti lembut yang masih hangat.
Sepasang mata bulat milik Cessar mengerjap beberapa kali, menatap benda di tangan Seraphina seolah itu adalah benda paling berharga di dunia. Bibir mungilnya mengerucut kuat, berusaha menahan tangis yang kian membuncah.
"Makanlah dulu," ujar Seraphina lembut, menyerahkan roti itu melewati celah jeruji besi. "Aku... akan mencoba meminta izin kepada petinggi agar diperbolehkan mengirimkan makanan ke rumahmu. Agar ibumu tidak lagi kelaparan."
Cessar tidak mampu menjawab lagi. Dengan tangan bergetar, ia segera menerima roti hangat itu dari tangan sang Saintess. Air matanya tumpah ruah membasahi pipinya yang kotor saat bocah laki-laki itu sibuk mengunyah dan menghabiskan rotinya dengan perasaan syukur yang teramat murni.
Ratapan keputusasaan si anak kini telah berganti menjadi isak tangis kegetiran yang perlahan mereda. Cessar menatap Seraphina dengan binar mata yang rapuh, ia akhirnya percaya bahwa ia aman, bahwa dirinya tidak akan dieksekusi malam ini. Diperlakukan dengan begitu manusiawi membuat jiwanya yang hancur perlahan merekat kembali. Dia merasa diterima.
Kael Adraven dan Pendeta Darwin yang menyaksikan interaksi tersebut dari belakang hanya bisa terpaku, merasakan kecamuk badai emosi yang luar biasa di dalam dada masing-masing.
Namun, tepat pada saat itulah, sebuah keajaiban yang mustahil terjadi di depan mata kepala mereka.
Untuk pertama kalinya dalam sejarah teologi gereja, Kael dan Pendeta Darwin melihat guratan bercak hitam (Stain) di lengan kanan Cessar perlahan menyusut. Noda pekat yang semula tampak menjalar mengerikan itu mendadak memudar, meninggalkan warna kulit asli yang bersih, walau hanya sedikit.
Fenomena ajaib itu seketika meruntuhkan seluruh logika Kael dan Pendeta Darwin. Bukti nyata di lengan Cessar adalah sebuah kebenaran yang tidak bisa dibantah oleh kepercayaan mana pun di dunia ini. Corruption ternyata bisa disembuhkan tanpa perlu menumpahkan darah.
Di saat Kael dan Pendeta Darwin masih tenggelam dalam badai pikiran mereka sendiri, indra penglihatan magis Seraphina mendadak menangkap kejanggalan lain.
Di dalam sel jeruji besi yang gelap itu, ternyata tidak hanya ada Cessar sendirian. Tepat di sudut ruangan yang paling remang, sesosok pria paruh baya tampak duduk termangu, menatap kosong ke arah mereka dengan tubuh yang diselimuti oleh noda-noda hitam kecil yang mulai memadat.
Saat itulah suara hati pria itu terdengar.
“Aku ingin pulang.”
.
.
.
Continue
-Bab 8: Fake Saintess, update malam ini-
Ruang rapat agung kembali mencekam, dihadiri oleh Komandan Kael, Pendeta Senior Darwin, Kardinal, dan Uskup Agung. Peristiwa besar yang terjadi dua jam lalu berhasil mengguncang dua saksi hidup dari generasi yang berbeda itu. Sebagai Komandan Holy Knight, Kael Adraven segera melaporkan kejadian aneh tersebut dan mengajukan rapat darurat demi keamanan ordo."Stain milik anak itu berkurang," Kael mengulang kembali laporannya dengan suara berat dan tegas.Seketika, ruangan besar itu diselimuti keheningan yang mencekik. Kardinal dan Uskup Agung saling lempar pandang. Tatapan mereka sama sekali tidak menyiratkan ketidakpercayaan terhadap laporan Kael, melainkan kilat kepanikan dan adanya kepentingan mendesak yang harus segera ditindaklanjuti."Ini masalah yang sangat serius. Terima kasih sudah melaporkannya dengan cepat, Komandan Adraven, Pendeta Darwin," Uskup Agung berucap tenang, walau senyum tipis di bibirnya terasa sangat dipaksakan.Kardinal menghela napas berat, guratan kecemasan te
Suasana di dalam katedral hari ini sama sekali tidak lebih baik dari hari-hari sebelumnya.Ketika para petinggi gereja mengira bahwa membiarkan Seraphina kembali tampil ke publik sebagai Saintess adalah langkah taktis yang tepat untuk meredam situasi, kenyataan justru menampar mereka dengan keras. Insiden kemunculan bocah terkutuk kemarin—serta aksi pembangkangan tak terduga dari Seraphina—malah menjadi sumbu yang memicu perpecahan jauh lebih besar.BRAK!Suara hantaman keras pada meja kayu ek bergaung nyaring dari dalam ruang kerja Kardinal siang itu. Beberapa pendeta dan biarawati yang kebetulan sedang melintas di koridor luar sontak tersentak pelan, buru-buru mempercepat langkah mereka dengan wajah tegang."Mengapa kau tidak langsung mengeksekusi makhluk menjijikkan itu?!" Wajah sang Kardinal merah padam menahan amarah yang meledak-ledak. Matanya melotot tajam ke arah pria di depannya. "Apa kau sudah lupa pada sumpahmu, Komandan? Tugas utamamu sebagai bagian dari Executor adalah mem
Dua hari telah berlalu sejak keputusan rahasia para petinggi gereja dijatuhkan.Sejak fajar menyingsing, kamar Seraphina sudah disibukkan oleh derap langkah para pelayan. Di bawah pias mentari pagi yang perlahan naik menembus jendela kaca patri, Seraphina dipaksa bersiap untuk menghadiri misa agung yang diselenggarakan pagi ini.Tubuhnya yang masih ringkih kembali dibalut oleh kemegahan gaun Saintess. Sebuah jubah mantel perpaduan warna putih sulaman perak membungkus bahunya, dengan aksen beludru berwarna biru navy gelap yang memberikan kesan anggun sekaligus dingin.Beberapa pelayan muda bergerak gesit mendandaninya. Meski gurat ketakutan tercetak jelas setiap kali kulit mereka tidak sengaja bersentuhan dengan Seraphina, mereka tetap profesional menyematkan veil tipis transparan di kepala sang Saintess, memasangkan sarung tangan renda putih, dan menata berbagai aksesori suci.Namun, ada yang janggal pada ornamen-ornamen yang mereka pasangkan hari ini. Sebuah bros salib suci kecil dis
Suara kasak-kusuk di sekitarnya perlahan menarik kesadaran Seraphina kembali ke permukaan.Saat kelopak matanya dipaksa terbuka, tubuhnya terasa luar biasa lemah. Kepalanya berdenyut hebat seperti habis dibelah, sementara pandangannya buram dan berbayang. Di sekeliling ranjang, beberapa pendeta jubah putih sedang memeriksa kondisinya.Begitu menyadari sepasang manik mata Seraphina terbuka, mereka sontak mundur teratur. Itu bukan penghormatan, melainkan refleks karena ketakutan.Seraphina menyadari hal itu dengan getir."Yang Mulia Saintess sudah sadar," bisik seorang pelayan dengan suara gemetar."Cepat panggil Uskup Agung!" perintah pendeta yang tadi memeriksa, suaranya naik satu oktaf karena panik.Di antara kerumunan pelayan dan pendeta yang memilih menjaga jarak, Seraphina menangkap sosok pendeta tua yang kemarin menolongnya. Semua orang diam membisu, tidak berani mendekat seolah dirinya adalah wabah. Hanya pendeta tua Darwin yang akhirnya memberanikan diri melangkah maju.Ia menc
Seraphina akhirnya bisa bernapas lega setelah tekanan yang dibawa Kael sepenuhnya menghilang dari ruangan. Walau demikian, kedua tangannya masih gemetar tipis. Detak jantungnya yang memburu liar di balik rongga dada membuatnya sempat kesulitan menarik napas.Meski begitu, ada seulas rasa kagum yang menyusup di sudut hatinya. Ia berhasil bertahan. Ia baru saja lolos dari jerat interogasi sang ksatria paling berbahaya di kerajaan tanpa merusak topengnya. Tanpa sadar, sudut bibir Seraphina ketarik, membentuk sebuah senyuman tipis penuh kemenangan.Setelah emosinya mulai tenang, Seraphina melangkah menuju jendela besar di sisi kamar, berniat mencari udara segar demi mendinginkan kepalanya. Namun, langkah kakinya mendadak terhenti. Seluruh tubuhnya membeku seketika saat matanya menangkap siluet ganjil di balik kaca.Seekor monster Abyss berukuran kecil tengah bertengger di luar jendela kamarnya.Makhluk itu tidak menunjukkan tanda-tanda ingin menyerang. Ia tidak mencakar kaca, tidak pula m
Ruang kerja komandan Holy Knight sore itu tampak seperti biasanya. Tumpukan dokumen menjulang tinggi di sisi kiri meja. Tangan kekar Kael yang terbungkus sarung tangan hitam terlihat kontras dengan pena bulu rajawali di genggamannya. Ia bergerak tenang, menorehkan puluhan tanda tangan di atas kertas-kertas laporan.Ketukan di pintu sama sekali tidak menggoyahkan fokus sang komandan. Ia hanya berdehem pelan, memberi isyarat agar si pengetuk masuk. Seorang pemuda berusia awal dua puluhan dengan rambut cokelat melangkah maju, lalu berdiri tegap memberi penghormatan. Ia membawa map baru yang harus diperiksa berikutnya.“Permisi, Komandan Adraven. Ini laporan mengenai pencemaran corruption di sekitar area gereja.”Kael meletakkan pena bulunya sebelum menerima map hitam tersebut. Isinya terdiri dari lima halaman laporan hasil pengawasan selama seminggu terakhir—tepatnya sejak Saintess mereka bangkit dari kematian. Tidak ada yang tahu bencana apa lagi yang akan menimpa kerajaan setelah hari







