MasukRuang interogasi terasa begitu pengap. Bau keringat lama dan tembakau murah melekat pada dinding kayu yang lembap. Sebuah lampu gantung berayun pelan, melemparkan bayangan panjang yang menari-nari di lantai.
Konstabel Thomas membanting map kertas ke atas meja. Debu beterbangan. Pria itu menatap Caelia dengan alis berkerut, sementara Caelia tetap diam, punggungnya menempel pada kursi kayu yang keras.
"Empat orang, Caelia. Kau merobohkan empat orang dengan senjata lengkap hanya dengan tangan kosong."
Caelia menatap jemari tangannya sendiri. Tidak ada bekas luka di sana, hanya kulit mulus yang terasa asing.
"Mereka yang menyerang duluan. Saya hanya menepis."
"Menepis? Baron Pedrick mengalami retak tulang rusuk dan gegar otak ringan. Anak buahnya? Dua patah tulang lengan dan satu lagi pingsan dengan rahang bergeser."
Thomas memijat pangkal hidungnya. Ia menatap gadis muda di depannya, mencari tanda-tanda penyesalan atau ketakutan. Ia tidak menemukan apa pun. Wajah Caelia sedatar permukaan danau di musim dingin.
"Dia mencoba memukul saya dengan sekop. Saya tidak punya kewajiban untuk membiarkan tengkorak saya retak demi kenyamanan seorang bangsawan."
"Dia seorang Baron. Hukum melindungi martabatnya di depan pelayan."
"Hukum juga melarang percobaan pembunuhan. Saya membela diri. Itu fakta."
Thomas menghela napas panjang. Ia mengambil pena, mencoret sesuatu di formulir pelaporannya.
"Kau beruntung Baron Pedrick terlalu malu untuk mengakui bahwa ia dikalahkan oleh seorang pelayan. Dia menarik tuntutannya, meski dengan ancaman akan membuat hidupmu di Midwintry menjadi neraka. Kau bebas untuk sekarang. Pergi."
Caelia berdiri. Kursi kayu berdecit nyaring di atas lantai beton. Ia melangkah menuju pintu tanpa menoleh. Udara ruang interogasi yang menyesakkan itu perlahan memudar, digantikan oleh aroma dingin jalanan kota. Namun, pikiran Caelia tidak berada di sana. Pikirannya melayang sepuluh hari ke belakang.
*
Kantor penyalur tenaga kerja terasa lebih sesak daripada ruang interogasi. Kertas-kertas formulir menumpuk di atas meja kayu ek yang sudah mulai lapuk. Bau kopi panas yang pahit dan apek buku tua memenuhi ruangan.
Pria berkacamata di seberang meja menatap Caelia dari balik lensa tebalnya. Ia menyesap kopi dari cangkir yang retak.
"Nama?"
"Caelia Vance."
"Latar belakang? Pengalaman kerja? Kita tidak bisa menempatkan sembarang orang di manor kelas atas."
"Saya bisa melakukan apa saja. Angkat beban, bersihkan kotoran, atau mengurus rumah. Saya tidak butuh libur."
Pria itu melepaskan kacamata, menyeka debunya dengan sapu tangan.
"Kau baru saja tiba dari Pulau Quin? Catatan kesehatanmu kosong. Seolah-olah kau baru lahir kemarin."
"Saya hanya butuh uang. Pekerjaan apa pun yang membayar gaji tepat waktu."
"Banyak orang yang mencari ketenangan. Kau justru meminta tempat yang 'paling merepotkan' dan 'majikan yang paling menuntut'."
"Ketenangan membuat saya berpikir. Saya tidak suka berpikir. Saya butuh kelelahan fisik agar saya bisa tidur."
Pria itu terdiam, menatap mata Caelia yang dingin. Ia membuka sebuah lembaran katalog properti yang sudah lusuh.
"Manor Weatherwoods. Pemiliknya seorang Viscount yang tidak pernah terlihat, dan pelayan kepalanya, Valerie, dikenal tidak punya toleransi pada ketidakbecusan. Tempat itu berhantu, atau setidaknya begitulah gosipnya. Gajinya kecil, tapi mereka selalu butuh orang baru karena yang sebelumnya selalu 'pergi' tanpa pamit."
"Itu cocok untuk saya."
*
Caelia tersentak kembali ke realitas saat kakinya menginjak trotoar batu Midwintry. Ia memeluk tubuhnya sendiri, menahan embusan angin malam yang menggigit.
Jiwa di dalam tubuh perempuan ini bukan milik Caelia yang asli. Itu milik Auden Vance. Mantan Komandan Sword of the Emperor.
Ingatan akan medan perang Pulau Quin masih terasa sangat nyata. Darah yang menggenangi sepatu botnya, jeritan sekarat para prajurit, dan kilatan pedang terakhir yang menembus jantungnya. Ia seharusnya mati empat tahun lalu. Sihir kuno yang ia gunakan sebagai pertahanan terakhir telah mengoyak jiwanya, meninggalkan retakan permanen yang menyedot sisa energinya setiap hari.
Tubuh pria Auden Vance telah hancur menjadi abu di medan perang itu. Sihir itu tidak membiarkan jiwanya lenyap sepenuhnya, melainkan menariknya kembali ke dalam wadah yang paling dekat dengan frekuensi jiwanya yang tersisa: tubuh Caelia Vance, seorang gadis yang entah bagaimana telah menjadi tempat persinggahan jiwanya yang patah.
Kini, ia hidup sebagai Caelia. Terpisah jauh dari Grand Duke Raphael Von Vaelen, sosok yang pernah ia panggil sahabat sekaligus atasan. Ia memutus semua ikatan itu.
Jari Caelia meraba dadanya. Sisa umur yang ia miliki hanya tiga tahun. Retakan di jiwanya perlahan meluas setiap kali ia menggunakan kekuatan fisik melampaui batas manusia biasa.
Ia berhenti di bawah lampu jalan yang berkedip. Cahaya kuning yang lemah menyinari wajahnya yang pucat.
"Tiga tahun," bisiknya pada udara kosong.
Midwintry bukan sekadar pelarian. Ia memilih kota ini bukan karena kemiskinan atau kebetulan. Berdasarkan catatan intelijen militer terakhir yang ia simpan dalam ingatannya yang retak, sebuah artefak kuno—Dian Ket's Eye—berada di sekitar wilayah ini. Sebuah artefak yang konon mampu menyatukan kembali jiwa yang terbelah dan memberikan waktu tambahan bagi tubuh yang sekarat.
Pintu gerbang besar Manor Weatherwoods kini terlihat di kejauhan, berdiri angkuh dalam kegelapan. Manor itu tampak seperti nisan raksasa bagi mereka yang putus asa.
Caelia melangkah maju. Sepatu botnya beradu dengan jalanan, menciptakan irama yang tegas dan pasti.
Ia tidak peduli pada ancaman Baron Pedrick. Ia tidak peduli pada hukum yang mengatur para bangsawan. Ia hanya peduli pada detak jantungnya yang semakin melemah setiap detik.
Tepat di depan gerbang, ia berhenti. Valerie berdiri di sana, memegang lampu minyak yang cahayanya menari-nari di dinding manor yang hitam.
"Kau terlambat, Caelia. Dapur belum dibersihkan dan teh malam belum disiapkan."
Caelia menundukkan kepala sedikit, gestur yang sopan namun kosong.
"Maafkan keterlambatan saya, Valerie. Ada urusan polisi yang harus diselesaikan."
Valerie menatapnya, memperhatikan sudut bibir Caelia yang sedikit tergores.
"Polisi? Kau berkelahi lagi?"
"Saya memindahkan beberapa hambatan dari jalan masuk."
Valerie tertawa pendek, suara yang terdengar kering dan tak bernyawa.
"Masuklah. Jangan biarkan aku melihatmu berdiri di sini seperti patung. Kita punya banyak pekerjaan besok. Viscount Weatherwoods meminta perhatian ekstra, meskipun kita bahkan tidak tahu apakah dia benar-benar ada di dalam."
Caelia masuk melewati gerbang. Ia melirik Manor Eshla di seberang jalan—rumah kosong yang selama ini ia anggap tak berpenghuni. Kegelapan di sana terasa pekat, seolah-olah mata sedang mengintip dari balik tirai yang tertutup rapat.
Ia tidak merasakan kehadiran manusia. Ia merasakan kehadiran predator.
Caelia menutup pintu depan manor di belakangnya, mengunci dunia luar agar tidak ikut masuk. Keheningan rumah itu menyambutnya, berat dan menindas. Namun, ia tidak gentar. Selama ada Dian Ket's Eye, ia akan tetap hidup.
Bahkan jika ia harus menghancurkan setiap dinding manor ini untuk menemukannya.
Ia menaiki tangga menuju lantai dua, langkahnya tenang meski otaknya sudah menyusun rencana untuk menggeledah setiap sudut properti. Hidup sebagai pelayan hanyalah kedok yang sempurna. Orang-orang jarang memperhatikan pelayan. Mereka menganggap pelayan tidak memiliki mata, telinga, atau masa lalu sebagai komandan perang.
Itu adalah kesalahan fatal yang selalu membuat musuh-musuhnya berakhir di tanah.
Di kamarnya yang sempit dan berdebu, ia melepaskan celemek pelayannya. Caelia duduk di tepi tempat tidur, menatap pantulan dirinya di cermin retak. Wajah yang asing, namun ia harus membiasakan diri.
"Tiga tahun," ulangnya lagi, lebih tegas kali ini.
Ia menutup mata, mencoba merasakan sisa-sisa sihir yang masih berdenyut di dalam nadinya. Sesuatu di Midwintry sedang memanggil, sesuatu yang lebih kuno daripada dendam Baron Pedrick, dan lebih berbahaya daripada polisi mana pun yang mencoba menginterogasinya.
Ia akan menemukan artefak itu. Atau ia akan mati mencoba, sekali lagi, dengan cara yang lebih permanen.
Caelia berbaring, membiarkan kelelahan merayap ke seluruh ototnya. Besok adalah hari kerja baru. Besok, ia akan mulai mencari lagi. Tidak ada tempat untuk penyesalan. Hanya ada hari esok yang harus dimenangkan.
-to be continued-
Dapur manor hanya diterangi satu lampu minyak yang sumbunya mulai menghitam. Cahaya temaram menari di dinding kayu, menciptakan bayangan panjang yang meliuk seperti hantu yang tidak diundang. Bau mesiu dan hangus yang menempel pada pakaian mereka masih tertinggal, bercampur dengan aroma tajam antiseptik yang Caelia keluarkan dari lemari penyimpanan.Lucian duduk di kursi kayu dengan kaki terentang, bersandar pada meja dapur yang permukaannya sudah tergores oleh pisau koki selama bertahun-tahun. Lengan kemejanya digulung hingga siku, memperlihatkan kulit pucat yang kini dihiasi bercak merah keunguan dan lepuhan bakar akibat sihir api lawan.Caelia meletakkan baskom berisi air hangat dan kain perban kasar di atas meja. Bunyi denting porselen baskom yang beradu dengan kayu memecah keheningan. Ia tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Gerakannya presisi, dingin, dan efisien."Jika kau ingin memotong tanganku, lakukan saja dengan cepat. Tidak perlu menyiksa dengan air hangat itu," Lucian meny
Pukul 03.00 pagi. Waktu di mana dunia seharusnya mati dalam keheningan, Manor Weatherwoods justru meledak dalam kekacauan.Dentuman keras mengoyak udara malam. Pagar besi di sisi timur manor terbang menghantam tanah, menciptakan dentang logam yang memekakkan telinga. Debu mengepul, membawa aroma mesiu dan besi hangus yang menusuk hidung. Bayangan-bayangan hitam merangsek masuk—dua belas pria berzirah rantai ringan, bergerak dengan sinkronisasi predator."Valerie! Tetap di ruang bawah tanah. Kunci segelnya dari dalam dan jangan buka pintu apa pun yang terjadi!"Caelia tidak menunggu jawaban. Ia memutar tubuh di balkon lantai dua, menggenggam sebilah pedang latihan dari kayu ek padat yang ia ambil dari gudang beberapa jam lalu. Berat senjata itu memuaskan di tangannya. Dingin, padat, dan mematikan.Ia melompat.Tubuhnya melayang di udara,
Lantai lorong sayap utara manor itu sedingin es. Debu setebal lapisan salju menutupi permukaan batu, tidak terganggu oleh sapu pelayan selama puluhan tahun. Caelia berdiri di depan pintu kayu ek yang menjulang, dihiasi ukiran naga yang mulutnya terbuka lebar, seolah menolak siapa pun yang berani masuk.Lucian berdiri dua langkah di belakang, tangannya bersedekap di dada. Cahaya lilin yang ia pegang menari-nari, memantulkan bayangan panjang di dinding."Sejarah keluarga Weatherwoods bukan sekadar dongeng pengantar tidur," Lucian berbisik. "Keluarga itu menyegel perpustakaan ini dengan sisa darah terakhir sang komandan. Jika kau bukan keturunan langsung atau memegang segel komandan, pintu itu akan merobek tanganmu sebelum kau sempat menyentuh gagang kunci."Caelia tidak menoleh. Ia menarik belati kecil dari balik manset jasnya. Ujung tajamnya mengiris ibu jari kiri dengan gerakan efisie
Manor Weatherwoods menelan langkah kaki mereka dengan keheningan yang menyesakkan. Udara malam yang biasanya dingin dan lembap kini terasa kering, dipenuhi aroma ozon yang menusuk hidung—tanda jelas adanya kebocoran sihir murni dalam skala besar. Caelia melepaskan pegangan pada gagang pedangnya, namun jari-jarinya tetap siap di dekat saku celemek, tempat ia menyembunyikan sisa ramuan penstabil."Kau merasakannya?" Lucian berhenti di tengah aula utama. Ia memiringkan kepala, telinganya bergerak tipis, seolah menangkap frekuensi suara yang tidak bisa didengar manusia biasa.Caelia tidak menjawab. Ia merasakan getaran merambat dari tulang tumit hingga ke tengkorak. Lantai kayu di bawah mereka mengerang, seolah-olah fondasi bangunan itu sedang dipaksa menahan beban yang jauh melampaui kapasitasnya. Tanpa peringatan, seluruh lampu minyak di lorong padam secara bersamaan. Kegelapan pekat menyelimuti mereka, pekat dan dingin."Bawah tanah," Caelia meluncur menuju pintu masuk ruang bawah tana
Roda kereta berguncang keras saat melindas lubang di jalanan berbatu menuju pinggiran kota. Caelia menyandarkan punggung pada dinding kabin yang sempit. Korset penekan dada itu terasa seperti jeratan yang perlahan menghentikan aliran napasnya. Ia masih mengenakan pakaian pria, jubahnya tergeletak di samping tempat duduk.Kabin kereta tiba-tiba berderit. Pintu yang terkunci dari luar terbuka dengan sentakan paksa. Sesosok bayangan meluncur masuk seolah-olah ia adalah bagian dari kegelapan itu sendiri.Lucian De Eris duduk di hadapan Caelia. Ia tidak terlihat seperti baru saja melompati atap kereta yang sedang melaju. Kemejanya tetap rapi. Rambut birunya tersisir sempurna. Ia memegang cangkir porselen berisi teh mengepul, seolah ia baru saja duduk di ruang tamu Manor Eshla, bukan di tengah kereta sewaan yang bau debu.Caelia tidak membuang waktu. Dalam satu gerakan kilat yang nyaris tak kasat mata, ia menghunus belati dari balik manset jasnya. Ujung tajam belati itu menempel tepat di na
Suasana aula sidang membeku. Debu-debu yang beterbangan di bawah sinar cahaya lampu gantung kristal tampak berhenti bergerak. Hanya detak jam dinding besar di sudut ruangan yang memecah keheningan, terdengar seperti palu yang menghantam landasan besi.Grand Duke Raphael Von Vaelen berdiri satu langkah di depan podium. Bayangannya jatuh menutupi tubuh Caelia, menciptakan kepungan kegelapan yang menyesakkan. Pria itu tidak berkedip. Matanya yang kelelahan—dihiasi lingkaran hitam yang menceritakan malam-malam tanpa tidur—terkunci pada cincin segel di jari telunjuk Caelia."Desain ini," suara Raphael rendah, bergetar di sela napas yang tertahan. "Sudah lama aku tidak melihatnya. Terakhir kali benda ini ada di medan tempur Pulau Quin."Caelia mengeraskan rahang di balik kerah jas yang tinggi. Korset penekan dada membuatnya sulit menghirup oksigen, namun ia memaksa paru-parunya bekerja dengan ritme stabil. Ia tidak boleh gemetar. Ia adalah Viscount Weatherwoods. Ia adalah orang asing. Ia ad







