Home / Zaman Kuno / AKU MENYAMAR JADI MAID DI MANOR HANTU / 002 : Di Balik Topeng Caelia Vance

Share

002 : Di Balik Topeng Caelia Vance

Author: vevenulis
last update publish date: 2026-09-02 01:09:20

Ruang interogasi terasa begitu pengap. Bau keringat lama dan tembakau murah melekat pada dinding kayu yang lembap. Sebuah lampu gantung berayun pelan, melemparkan bayangan panjang yang menari-nari di lantai.

Konstabel Thomas membanting map kertas ke atas meja. Debu beterbangan. Pria itu menatap Caelia dengan alis berkerut, sementara Caelia tetap diam, punggungnya menempel pada kursi kayu yang keras.

"Empat orang, Caelia. Kau merobohkan empat orang dengan senjata lengkap hanya dengan tangan kosong."

Caelia menatap jemari tangannya sendiri. Tidak ada bekas luka di sana, hanya kulit mulus yang terasa asing.

"Mereka yang menyerang duluan. Saya hanya menepis."

"Menepis? Baron Pedrick mengalami retak tulang rusuk dan gegar otak ringan. Anak buahnya? Dua patah tulang lengan dan satu lagi pingsan dengan rahang bergeser."

Thomas memijat pangkal hidungnya. Ia menatap gadis muda di depannya, mencari tanda-tanda penyesalan atau ketakutan. Ia tidak menemukan apa pun. Wajah Caelia sedatar permukaan danau di musim dingin.

"Dia mencoba memukul saya dengan sekop. Saya tidak punya kewajiban untuk membiarkan tengkorak saya retak demi kenyamanan seorang bangsawan."

"Dia seorang Baron. Hukum melindungi martabatnya di depan pelayan."

"Hukum juga melarang percobaan pembunuhan. Saya membela diri. Itu fakta."

Thomas menghela napas panjang. Ia mengambil pena, mencoret sesuatu di formulir pelaporannya.

"Kau beruntung Baron Pedrick terlalu malu untuk mengakui bahwa ia dikalahkan oleh seorang pelayan. Dia menarik tuntutannya, meski dengan ancaman akan membuat hidupmu di Midwintry menjadi neraka. Kau bebas untuk sekarang. Pergi."

Caelia berdiri. Kursi kayu berdecit nyaring di atas lantai beton. Ia melangkah menuju pintu tanpa menoleh. Udara ruang interogasi yang menyesakkan itu perlahan memudar, digantikan oleh aroma dingin jalanan kota. Namun, pikiran Caelia tidak berada di sana. Pikirannya melayang sepuluh hari ke belakang.

*

Kantor penyalur tenaga kerja terasa lebih sesak daripada ruang interogasi. Kertas-kertas formulir menumpuk di atas meja kayu ek yang sudah mulai lapuk. Bau kopi panas yang pahit dan apek buku tua memenuhi ruangan.

Pria berkacamata di seberang meja menatap Caelia dari balik lensa tebalnya. Ia menyesap kopi dari cangkir yang retak.

"Nama?"

"Caelia Vance."

"Latar belakang? Pengalaman kerja? Kita tidak bisa menempatkan sembarang orang di manor kelas atas."

"Saya bisa melakukan apa saja. Angkat beban, bersihkan kotoran, atau mengurus rumah. Saya tidak butuh libur."

Pria itu melepaskan kacamata, menyeka debunya dengan sapu tangan.

"Kau baru saja tiba dari Pulau Quin? Catatan kesehatanmu kosong. Seolah-olah kau baru lahir kemarin."

"Saya hanya butuh uang. Pekerjaan apa pun yang membayar gaji tepat waktu."

"Banyak orang yang mencari ketenangan. Kau justru meminta tempat yang 'paling merepotkan' dan 'majikan yang paling menuntut'."

"Ketenangan membuat saya berpikir. Saya tidak suka berpikir. Saya butuh kelelahan fisik agar saya bisa tidur."

Pria itu terdiam, menatap mata Caelia yang dingin. Ia membuka sebuah lembaran katalog properti yang sudah lusuh.

"Manor Weatherwoods. Pemiliknya seorang Viscount yang tidak pernah terlihat, dan pelayan kepalanya, Valerie, dikenal tidak punya toleransi pada ketidakbecusan. Tempat itu berhantu, atau setidaknya begitulah gosipnya. Gajinya kecil, tapi mereka selalu butuh orang baru karena yang sebelumnya selalu 'pergi' tanpa pamit."

"Itu cocok untuk saya."

*

Caelia tersentak kembali ke realitas saat kakinya menginjak trotoar batu Midwintry. Ia memeluk tubuhnya sendiri, menahan embusan angin malam yang menggigit.

Jiwa di dalam tubuh perempuan ini bukan milik Caelia yang asli. Itu milik Auden Vance. Mantan Komandan Sword of the Emperor.

Ingatan akan medan perang Pulau Quin masih terasa sangat nyata. Darah yang menggenangi sepatu botnya, jeritan sekarat para prajurit, dan kilatan pedang terakhir yang menembus jantungnya. Ia seharusnya mati empat tahun lalu. Sihir kuno yang ia gunakan sebagai pertahanan terakhir telah mengoyak jiwanya, meninggalkan retakan permanen yang menyedot sisa energinya setiap hari.

Tubuh pria Auden Vance telah hancur menjadi abu di medan perang itu. Sihir itu tidak membiarkan jiwanya lenyap sepenuhnya, melainkan menariknya kembali ke dalam wadah yang paling dekat dengan frekuensi jiwanya yang tersisa: tubuh Caelia Vance, seorang gadis yang entah bagaimana telah menjadi tempat persinggahan jiwanya yang patah.

Kini, ia hidup sebagai Caelia. Terpisah jauh dari Grand Duke Raphael Von Vaelen, sosok yang pernah ia panggil sahabat sekaligus atasan. Ia memutus semua ikatan itu.

Jari Caelia meraba dadanya. Sisa umur yang ia miliki hanya tiga tahun. Retakan di jiwanya perlahan meluas setiap kali ia menggunakan kekuatan fisik melampaui batas manusia biasa.

Ia berhenti di bawah lampu jalan yang berkedip. Cahaya kuning yang lemah menyinari wajahnya yang pucat.

"Tiga tahun," bisiknya pada udara kosong.

Midwintry bukan sekadar pelarian. Ia memilih kota ini bukan karena kemiskinan atau kebetulan. Berdasarkan catatan intelijen militer terakhir yang ia simpan dalam ingatannya yang retak, sebuah artefak kuno—Dian Ket's Eye—berada di sekitar wilayah ini. Sebuah artefak yang konon mampu menyatukan kembali jiwa yang terbelah dan memberikan waktu tambahan bagi tubuh yang sekarat.

Pintu gerbang besar Manor Weatherwoods kini terlihat di kejauhan, berdiri angkuh dalam kegelapan. Manor itu tampak seperti nisan raksasa bagi mereka yang putus asa.

Caelia melangkah maju. Sepatu botnya beradu dengan jalanan, menciptakan irama yang tegas dan pasti.

Ia tidak peduli pada ancaman Baron Pedrick. Ia tidak peduli pada hukum yang mengatur para bangsawan. Ia hanya peduli pada detak jantungnya yang semakin melemah setiap detik.

Tepat di depan gerbang, ia berhenti. Valerie berdiri di sana, memegang lampu minyak yang cahayanya menari-nari di dinding manor yang hitam.

"Kau terlambat, Caelia. Dapur belum dibersihkan dan teh malam belum disiapkan."

Caelia menundukkan kepala sedikit, gestur yang sopan namun kosong.

"Maafkan keterlambatan saya, Valerie. Ada urusan polisi yang harus diselesaikan."

Valerie menatapnya, memperhatikan sudut bibir Caelia yang sedikit tergores.

"Polisi? Kau berkelahi lagi?"

"Saya memindahkan beberapa hambatan dari jalan masuk."

Valerie tertawa pendek, suara yang terdengar kering dan tak bernyawa.

"Masuklah. Jangan biarkan aku melihatmu berdiri di sini seperti patung. Kita punya banyak pekerjaan besok. Viscount Weatherwoods meminta perhatian ekstra, meskipun kita bahkan tidak tahu apakah dia benar-benar ada di dalam."

Caelia masuk melewati gerbang. Ia melirik Manor Eshla di seberang jalan—rumah kosong yang selama ini ia anggap tak berpenghuni. Kegelapan di sana terasa pekat, seolah-olah mata sedang mengintip dari balik tirai yang tertutup rapat.

Ia tidak merasakan kehadiran manusia. Ia merasakan kehadiran predator.

Caelia menutup pintu depan manor di belakangnya, mengunci dunia luar agar tidak ikut masuk. Keheningan rumah itu menyambutnya, berat dan menindas. Namun, ia tidak gentar. Selama ada Dian Ket's Eye, ia akan tetap hidup.

Bahkan jika ia harus menghancurkan setiap dinding manor ini untuk menemukannya.

Ia menaiki tangga menuju lantai dua, langkahnya tenang meski otaknya sudah menyusun rencana untuk menggeledah setiap sudut properti. Hidup sebagai pelayan hanyalah kedok yang sempurna. Orang-orang jarang memperhatikan pelayan. Mereka menganggap pelayan tidak memiliki mata, telinga, atau masa lalu sebagai komandan perang.

Itu adalah kesalahan fatal yang selalu membuat musuh-musuhnya berakhir di tanah.

Di kamarnya yang sempit dan berdebu, ia melepaskan celemek pelayannya. Caelia duduk di tepi tempat tidur, menatap pantulan dirinya di cermin retak. Wajah yang asing, namun ia harus membiasakan diri.

"Tiga tahun," ulangnya lagi, lebih tegas kali ini.

Ia menutup mata, mencoba merasakan sisa-sisa sihir yang masih berdenyut di dalam nadinya. Sesuatu di Midwintry sedang memanggil, sesuatu yang lebih kuno daripada dendam Baron Pedrick, dan lebih berbahaya daripada polisi mana pun yang mencoba menginterogasinya.

Ia akan menemukan artefak itu. Atau ia akan mati mencoba, sekali lagi, dengan cara yang lebih permanen.

Caelia berbaring, membiarkan kelelahan merayap ke seluruh ototnya. Besok adalah hari kerja baru. Besok, ia akan mulai mencari lagi. Tidak ada tempat untuk penyesalan. Hanya ada hari esok yang harus dimenangkan.

-to be continued-

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • AKU MENYAMAR JADI MAID DI MANOR HANTU   010 : Telinga Penuh Tindikan dan Penyamaran Pria

    Cahaya matahari siang memanggang taman depan Manor Weatherwoods, mengubah ilalang kering menjadi warna emas yang menyakitkan mata. Caelia berdiri di balik bayang-bayang pohon ek, membiarkan punggungnya bersandar pada kulit batang yang kasar. Fokusnya terkunci pada satu titik: profil samping wajah Lucian De Eris.Pria itu sedang membaca buku tebal bersampul kulit di kursi taman, kakinya menyilang santai. Caelia tidak memerhatikan isi buku itu. Ia memerhatikan telinga Lucian.Dua daun telinga pria itu penuh dengan deretan lubang tindikan halus, simetris, dan presisi. Tidak ada perhiasan emas atau perak yang menggantung di sana. Kosong. Bagi orang awam, itu mungkin hanya bekas tindikan lama. Namun, bagi mata seorang mantan komandan perang yang terbiasa membedah pola sihir musuh, lubang-lubang itu adalah sesuatu yang lain.Titik alir mana.Belasan lubang itu dirancang untuk menanamkan artefak penyembunyi status sihir tingkat tinggi. Lucian tidak sedang menyembunyikan identitasnya sebagai

  • AKU MENYAMAR JADI MAID DI MANOR HANTU   009 : Koin Guild dan Pemburu Artefak Sebenarnya

    Cahaya lilin berkedip, melemparkan bayangan panjang yang menari di dinding kayu ruangan belakang pub. Suasana pengap, berbau keringat, arak murahan, dan ketakutan yang kental. Di atas meja kasar, sebuah koin emas tergeletak. Sisi permukaannya tidak menampilkan wajah raja atau lambang kerajaan, melainkan pahatan burung gagak yang sedang mematuk mata manusia.Si Bartender menarik sudut bibirnya, membiarkan darah menetes dari luka di hidungnya. "Kau pikir kau bisa menguasai jalanan? Koin ini adalah surat kematian bagi siapa pun yang berani menyentuh harta Buried Letter."Gideon mundur dua langkah, punggungnya menabrak dinding kayu. Napasnya memburu, matanya membesar menatap benda kecil yang berkilau di atas meja. Tangannya yang gemetar terkepal di samping jubah gordennya."Buang benda itu, Nona Caelia. Sekarang." Gideon menelan ludah dengan susah payah. "Itu tanda kontrak eksekusi. Sekali koin itu diperlihatkan, mereka tidak akan berhenti sampai targetnya menjadi abu. Mereka tidak membal

  • AKU MENYAMAR JADI MAID DI MANOR HANTU   008 : Pengambilalihan Pub Piece of Land

    Udara di dalam Pub Piece of Land terasa seperti napas busuk orang mati. Campuran bir basi, tembakau murah, dan keringat dingin para pria yang terbiasa hidup dalam bayang-bayang memenuhi ruangan. Caelia berdiri di ambang pintu, matanya yang sedingin es memindai interior pub. Cahaya lampu gantung berayun pelan, melemparkan bayangan panjang yang menari di dinding kayu.Di dinding belakang bar, sebuah bingkai foto besar tergantung dengan kemiringan yang tidak sopan. Tujuh Pahlawan Perang Penyihir. Ada Auden Vance di sana, wujud prianya dahulu, berdiri tegak di samping Grand Duke Raphael. Foto itu menatapnya dengan kejayaan yang sudah membusuk, mengingatkan pada masa ketika dunia masih terasa memiliki aturan yang jelas. Sekarang, hanya ada sampah.Enam pria duduk mengelilingi meja bundar besar di tengah ruangan. Mereka adalah pimpinan Merchants' Association. Wajah-wajah mereka adalah peta dari setiap dosa kecil yang dilakukan di jalanan Midwintry.Langkah kaki Caelia berhenti tepat di bawa

  • AKU MENYAMAR JADI MAID DI MANOR HANTU   007 : Nenek Penjual Kentang dan Hukum Jalanan

    Pasar Midwintry berbau busuk. Aroma keringat basi, limbah ikan, dan sampah organik yang membusuk di bawah matahari siang menyerang indra penciuman. Caelia menyentakkan tas belanjaan di bahunya. Ia berhenti di bawah naungan atap kedai tua, memeriksa isi tas. Tujuh kentang. Satu, dua, tiga... sampai delapan.Penjual itu salah hitung. Ketidakteraturan ini mengusik sarafnya. Dalam perang, kesalahan hitung logistik berarti kelaparan bagi satu peleton. Caelia memutar tumit, kembali ke arah gang sempit di sisi pasar. Ia tidak suka memiliki sesuatu yang bukan miliknya.Gang yang dilaluinya begitu gelap, tertutup bayang-bayang toko kain di kedua sisi. Lantainya lembap, dipenuhi genangan air sisa cucian. Suara sepatu botnya beradu dengan batu jalanan yang licin, menciptakan irama monoton yang terputus oleh suara erangan. Caelia melambat. Ia menempelkan punggungnya ke dinding bata yang kasar, mengintip ke tikungan.Tiga pria berdiri mengepung seorang wanita tua. Salah satu pria, dengan tato naga

  • AKU MENYAMAR JADI MAID DI MANOR HANTU   006 : Potato Gratin dan Pot Bunga Tanpa Nama

    Cahaya matahari pagi menerobos celah jendela dapur yang kotor, menyinari debu yang menari di udara. Lucian berdiri di tengah dapur Manor Weatherwoods, memegang sebuah kentang busuk dengan ujung jarinya seolah-olah ia baru saja memungut bangkai tikus. Ia menjatuhkan umbi kecokelatan itu ke atas meja kayu dengan bunyi gedebuk yang menyedihkan."Apa ini? Apakah kita berencana memberi makan tikus atau membuat sup untuk manusia?"Caelia tidak mendongak. Ia terus mengupas kentang kedua dengan ritme konstan. Pisau kecilnya menyayat kulit tipis tanpa menyisakan daging umbi yang berharga."Itu adalah persediaan dapur. Kami menyebutnya makanan, Lucian. Cobalah untuk beradaptasi dengan kemiskinan."Lucian mendengus, sebuah suara elegan yang terdengar sangat tidak pada tempatnya di dapur yang berbau apek ini. Ia mengeluarkan sebungkus mentega dingin dan seikat rosemary segar dari balik jubahnya. Bahan-bahan itu tampak bercahaya, kontras dengan tumpukan sayuran layu di hadapannya."Beradaptasi? Ak

  • AKU MENYAMAR JADI MAID DI MANOR HANTU   005 : Sepotong Gratin dan Janji di Balik Jendela

    Aroma mentega yang mencair beradu dengan harum rempah rosemary yang tajam di dapur. Caelia berdiri mematung di sudut, tangannya memegang pengupas kentang, sementara matanya terpaku pada tangan Lucian. Pria itu menyusun irisan kentang tipis di atas loyang keramik dengan ketelitian seorang pembedah medis."Kentang busuk yang kau temukan di gudang bawah tanah tadi pagi kini menjadi potato gratin yang layak disajikan di meja raja," Lucian bergumam, suaranya tenang, nyaris seperti sedang melantunkan mantra.Caelia tidak menjawab. Ia mengalihkan pandangan ke tumpukan kulit kentang yang jatuh ke meja kayu. Kentang-kentang itu tadinya layu, tak bernyawa. Sekarang, di bawah tangan Lucian, bahan-bahan sampah itu berubah menjadi mahakarya kuliner. Ia mencium aroma gurih yang mulai menyeruak dari oven. Perutnya bergejolak, menuntut asupan."Kau menggunakan teknik velouté yang salah," Caelia bergumam, suaranya kering. "Kau menaruh terlalu banyak krim."Lucian tertawa kecil, suara yang terdengar se

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status