Beranda / Zaman Kuno / AKU MENYAMAR JADI MAID DI MANOR HANTU / 009 : Koin Guild dan Pemburu Artefak Sebenarnya

Share

009 : Koin Guild dan Pemburu Artefak Sebenarnya

Penulis: vevenulis
last update Tanggal publikasi: 2026-09-06 23:16:18

Cahaya lilin berkedip, melemparkan bayangan panjang yang menari di dinding kayu ruangan belakang pub. Suasana pengap, berbau keringat, arak murahan, dan ketakutan yang kental. Di atas meja kasar, sebuah koin emas tergeletak. Sisi permukaannya tidak menampilkan wajah raja atau lambang kerajaan, melainkan pahatan burung gagak yang sedang mematuk mata manusia.

Si Bartender menarik sudut bibirnya, membiarkan darah menetes dari luka di hidungnya. "Kau pikir kau bisa menguasai jalanan? Koin ini adala
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • AKU MENYAMAR JADI MAID DI MANOR HANTU   017 : Luka Bakar dan Sumpah yang Mulai Retak

    Dapur manor hanya diterangi satu lampu minyak yang sumbunya mulai menghitam. Cahaya temaram menari di dinding kayu, menciptakan bayangan panjang yang meliuk seperti hantu yang tidak diundang. Bau mesiu dan hangus yang menempel pada pakaian mereka masih tertinggal, bercampur dengan aroma tajam antiseptik yang Caelia keluarkan dari lemari penyimpanan.Lucian duduk di kursi kayu dengan kaki terentang, bersandar pada meja dapur yang permukaannya sudah tergores oleh pisau koki selama bertahun-tahun. Lengan kemejanya digulung hingga siku, memperlihatkan kulit pucat yang kini dihiasi bercak merah keunguan dan lepuhan bakar akibat sihir api lawan.Caelia meletakkan baskom berisi air hangat dan kain perban kasar di atas meja. Bunyi denting porselen baskom yang beradu dengan kayu memecah keheningan. Ia tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Gerakannya presisi, dingin, dan efisien."Jika kau ingin memotong tanganku, lakukan saja dengan cepat. Tidak perlu menyiksa dengan air hangat itu," Lucian meny

  • AKU MENYAMAR JADI MAID DI MANOR HANTU   016 : Penyergapan Dini Hari dan Pertahanan Lapisan Pertama

    Pukul 03.00 pagi. Waktu di mana dunia seharusnya mati dalam keheningan, Manor Weatherwoods justru meledak dalam kekacauan.Dentuman keras mengoyak udara malam. Pagar besi di sisi timur manor terbang menghantam tanah, menciptakan dentang logam yang memekakkan telinga. Debu mengepul, membawa aroma mesiu dan besi hangus yang menusuk hidung. Bayangan-bayangan hitam merangsek masuk—dua belas pria berzirah rantai ringan, bergerak dengan sinkronisasi predator."Valerie! Tetap di ruang bawah tanah. Kunci segelnya dari dalam dan jangan buka pintu apa pun yang terjadi!"Caelia tidak menunggu jawaban. Ia memutar tubuh di balkon lantai dua, menggenggam sebilah pedang latihan dari kayu ek padat yang ia ambil dari gudang beberapa jam lalu. Berat senjata itu memuaskan di tangannya. Dingin, padat, dan mematikan.Ia melompat.Tubuhnya melayang di udara,

  • AKU MENYAMAR JADI MAID DI MANOR HANTU   015 : Penyelidikan Ganda di Perpustakaan Terlarang

    Lantai lorong sayap utara manor itu sedingin es. Debu setebal lapisan salju menutupi permukaan batu, tidak terganggu oleh sapu pelayan selama puluhan tahun. Caelia berdiri di depan pintu kayu ek yang menjulang, dihiasi ukiran naga yang mulutnya terbuka lebar, seolah menolak siapa pun yang berani masuk.Lucian berdiri dua langkah di belakang, tangannya bersedekap di dada. Cahaya lilin yang ia pegang menari-nari, memantulkan bayangan panjang di dinding."Sejarah keluarga Weatherwoods bukan sekadar dongeng pengantar tidur," Lucian berbisik. "Keluarga itu menyegel perpustakaan ini dengan sisa darah terakhir sang komandan. Jika kau bukan keturunan langsung atau memegang segel komandan, pintu itu akan merobek tanganmu sebelum kau sempat menyentuh gagang kunci."Caelia tidak menoleh. Ia menarik belati kecil dari balik manset jasnya. Ujung tajamnya mengiris ibu jari kiri dengan gerakan efisie

  • AKU MENYAMAR JADI MAID DI MANOR HANTU   014 : Retakan Pertama di Cangkang Telur

    Manor Weatherwoods menelan langkah kaki mereka dengan keheningan yang menyesakkan. Udara malam yang biasanya dingin dan lembap kini terasa kering, dipenuhi aroma ozon yang menusuk hidung—tanda jelas adanya kebocoran sihir murni dalam skala besar. Caelia melepaskan pegangan pada gagang pedangnya, namun jari-jarinya tetap siap di dekat saku celemek, tempat ia menyembunyikan sisa ramuan penstabil."Kau merasakannya?" Lucian berhenti di tengah aula utama. Ia memiringkan kepala, telinganya bergerak tipis, seolah menangkap frekuensi suara yang tidak bisa didengar manusia biasa.Caelia tidak menjawab. Ia merasakan getaran merambat dari tulang tumit hingga ke tengkorak. Lantai kayu di bawah mereka mengerang, seolah-olah fondasi bangunan itu sedang dipaksa menahan beban yang jauh melampaui kapasitasnya. Tanpa peringatan, seluruh lampu minyak di lorong padam secara bersamaan. Kegelapan pekat menyelimuti mereka, pekat dan dingin."Bawah tanah," Caelia meluncur menuju pintu masuk ruang bawah tana

  • AKU MENYAMAR JADI MAID DI MANOR HANTU   013 : Ancaman Kereta Kuda dan Aliansi Terselubung

    Roda kereta berguncang keras saat melindas lubang di jalanan berbatu menuju pinggiran kota. Caelia menyandarkan punggung pada dinding kabin yang sempit. Korset penekan dada itu terasa seperti jeratan yang perlahan menghentikan aliran napasnya. Ia masih mengenakan pakaian pria, jubahnya tergeletak di samping tempat duduk.Kabin kereta tiba-tiba berderit. Pintu yang terkunci dari luar terbuka dengan sentakan paksa. Sesosok bayangan meluncur masuk seolah-olah ia adalah bagian dari kegelapan itu sendiri.Lucian De Eris duduk di hadapan Caelia. Ia tidak terlihat seperti baru saja melompati atap kereta yang sedang melaju. Kemejanya tetap rapi. Rambut birunya tersisir sempurna. Ia memegang cangkir porselen berisi teh mengepul, seolah ia baru saja duduk di ruang tamu Manor Eshla, bukan di tengah kereta sewaan yang bau debu.Caelia tidak membuang waktu. Dalam satu gerakan kilat yang nyaris tak kasat mata, ia menghunus belati dari balik manset jasnya. Ujung tajam belati itu menempel tepat di na

  • AKU MENYAMAR JADI MAID DI MANOR HANTU   012: Pertemuan dengan Sang Mantan Sahabat

    Suasana aula sidang membeku. Debu-debu yang beterbangan di bawah sinar cahaya lampu gantung kristal tampak berhenti bergerak. Hanya detak jam dinding besar di sudut ruangan yang memecah keheningan, terdengar seperti palu yang menghantam landasan besi.Grand Duke Raphael Von Vaelen berdiri satu langkah di depan podium. Bayangannya jatuh menutupi tubuh Caelia, menciptakan kepungan kegelapan yang menyesakkan. Pria itu tidak berkedip. Matanya yang kelelahan—dihiasi lingkaran hitam yang menceritakan malam-malam tanpa tidur—terkunci pada cincin segel di jari telunjuk Caelia."Desain ini," suara Raphael rendah, bergetar di sela napas yang tertahan. "Sudah lama aku tidak melihatnya. Terakhir kali benda ini ada di medan tempur Pulau Quin."Caelia mengeraskan rahang di balik kerah jas yang tinggi. Korset penekan dada membuatnya sulit menghirup oksigen, namun ia memaksa paru-parunya bekerja dengan ritme stabil. Ia tidak boleh gemetar. Ia adalah Viscount Weatherwoods. Ia adalah orang asing. Ia ad

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status