Home / Zaman Kuno / AKU MENYAMAR JADI MAID DI MANOR HANTU / 009 : Koin Guild dan Pemburu Artefak Sebenarnya

Share

009 : Koin Guild dan Pemburu Artefak Sebenarnya

Author: vevenulis
last update publish date: 2026-09-06 23:16:18

Cahaya lilin berkedip, melemparkan bayangan panjang yang menari di dinding kayu ruangan belakang pub. Suasana pengap, berbau keringat, arak murahan, dan ketakutan yang kental. Di atas meja kasar, sebuah koin emas tergeletak. Sisi permukaannya tidak menampilkan wajah raja atau lambang kerajaan, melainkan pahatan burung gagak yang sedang mematuk mata manusia.

Si Bartender menarik sudut bibirnya, membiarkan darah menetes dari luka di hidungnya. "Kau pikir kau bisa menguasai jalanan? Koin ini adala
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • AKU MENYAMAR JADI MAID DI MANOR HANTU   010 : Telinga Penuh Tindikan dan Penyamaran Pria

    Cahaya matahari siang memanggang taman depan Manor Weatherwoods, mengubah ilalang kering menjadi warna emas yang menyakitkan mata. Caelia berdiri di balik bayang-bayang pohon ek, membiarkan punggungnya bersandar pada kulit batang yang kasar. Fokusnya terkunci pada satu titik: profil samping wajah Lucian De Eris.Pria itu sedang membaca buku tebal bersampul kulit di kursi taman, kakinya menyilang santai. Caelia tidak memerhatikan isi buku itu. Ia memerhatikan telinga Lucian.Dua daun telinga pria itu penuh dengan deretan lubang tindikan halus, simetris, dan presisi. Tidak ada perhiasan emas atau perak yang menggantung di sana. Kosong. Bagi orang awam, itu mungkin hanya bekas tindikan lama. Namun, bagi mata seorang mantan komandan perang yang terbiasa membedah pola sihir musuh, lubang-lubang itu adalah sesuatu yang lain.Titik alir mana.Belasan lubang itu dirancang untuk menanamkan artefak penyembunyi status sihir tingkat tinggi. Lucian tidak sedang menyembunyikan identitasnya sebagai

  • AKU MENYAMAR JADI MAID DI MANOR HANTU   009 : Koin Guild dan Pemburu Artefak Sebenarnya

    Cahaya lilin berkedip, melemparkan bayangan panjang yang menari di dinding kayu ruangan belakang pub. Suasana pengap, berbau keringat, arak murahan, dan ketakutan yang kental. Di atas meja kasar, sebuah koin emas tergeletak. Sisi permukaannya tidak menampilkan wajah raja atau lambang kerajaan, melainkan pahatan burung gagak yang sedang mematuk mata manusia.Si Bartender menarik sudut bibirnya, membiarkan darah menetes dari luka di hidungnya. "Kau pikir kau bisa menguasai jalanan? Koin ini adalah surat kematian bagi siapa pun yang berani menyentuh harta Buried Letter."Gideon mundur dua langkah, punggungnya menabrak dinding kayu. Napasnya memburu, matanya membesar menatap benda kecil yang berkilau di atas meja. Tangannya yang gemetar terkepal di samping jubah gordennya."Buang benda itu, Nona Caelia. Sekarang." Gideon menelan ludah dengan susah payah. "Itu tanda kontrak eksekusi. Sekali koin itu diperlihatkan, mereka tidak akan berhenti sampai targetnya menjadi abu. Mereka tidak membal

  • AKU MENYAMAR JADI MAID DI MANOR HANTU   008 : Pengambilalihan Pub Piece of Land

    Udara di dalam Pub Piece of Land terasa seperti napas busuk orang mati. Campuran bir basi, tembakau murah, dan keringat dingin para pria yang terbiasa hidup dalam bayang-bayang memenuhi ruangan. Caelia berdiri di ambang pintu, matanya yang sedingin es memindai interior pub. Cahaya lampu gantung berayun pelan, melemparkan bayangan panjang yang menari di dinding kayu.Di dinding belakang bar, sebuah bingkai foto besar tergantung dengan kemiringan yang tidak sopan. Tujuh Pahlawan Perang Penyihir. Ada Auden Vance di sana, wujud prianya dahulu, berdiri tegak di samping Grand Duke Raphael. Foto itu menatapnya dengan kejayaan yang sudah membusuk, mengingatkan pada masa ketika dunia masih terasa memiliki aturan yang jelas. Sekarang, hanya ada sampah.Enam pria duduk mengelilingi meja bundar besar di tengah ruangan. Mereka adalah pimpinan Merchants' Association. Wajah-wajah mereka adalah peta dari setiap dosa kecil yang dilakukan di jalanan Midwintry.Langkah kaki Caelia berhenti tepat di bawa

  • AKU MENYAMAR JADI MAID DI MANOR HANTU   007 : Nenek Penjual Kentang dan Hukum Jalanan

    Pasar Midwintry berbau busuk. Aroma keringat basi, limbah ikan, dan sampah organik yang membusuk di bawah matahari siang menyerang indra penciuman. Caelia menyentakkan tas belanjaan di bahunya. Ia berhenti di bawah naungan atap kedai tua, memeriksa isi tas. Tujuh kentang. Satu, dua, tiga... sampai delapan.Penjual itu salah hitung. Ketidakteraturan ini mengusik sarafnya. Dalam perang, kesalahan hitung logistik berarti kelaparan bagi satu peleton. Caelia memutar tumit, kembali ke arah gang sempit di sisi pasar. Ia tidak suka memiliki sesuatu yang bukan miliknya.Gang yang dilaluinya begitu gelap, tertutup bayang-bayang toko kain di kedua sisi. Lantainya lembap, dipenuhi genangan air sisa cucian. Suara sepatu botnya beradu dengan batu jalanan yang licin, menciptakan irama monoton yang terputus oleh suara erangan. Caelia melambat. Ia menempelkan punggungnya ke dinding bata yang kasar, mengintip ke tikungan.Tiga pria berdiri mengepung seorang wanita tua. Salah satu pria, dengan tato naga

  • AKU MENYAMAR JADI MAID DI MANOR HANTU   006 : Potato Gratin dan Pot Bunga Tanpa Nama

    Cahaya matahari pagi menerobos celah jendela dapur yang kotor, menyinari debu yang menari di udara. Lucian berdiri di tengah dapur Manor Weatherwoods, memegang sebuah kentang busuk dengan ujung jarinya seolah-olah ia baru saja memungut bangkai tikus. Ia menjatuhkan umbi kecokelatan itu ke atas meja kayu dengan bunyi gedebuk yang menyedihkan."Apa ini? Apakah kita berencana memberi makan tikus atau membuat sup untuk manusia?"Caelia tidak mendongak. Ia terus mengupas kentang kedua dengan ritme konstan. Pisau kecilnya menyayat kulit tipis tanpa menyisakan daging umbi yang berharga."Itu adalah persediaan dapur. Kami menyebutnya makanan, Lucian. Cobalah untuk beradaptasi dengan kemiskinan."Lucian mendengus, sebuah suara elegan yang terdengar sangat tidak pada tempatnya di dapur yang berbau apek ini. Ia mengeluarkan sebungkus mentega dingin dan seikat rosemary segar dari balik jubahnya. Bahan-bahan itu tampak bercahaya, kontras dengan tumpukan sayuran layu di hadapannya."Beradaptasi? Ak

  • AKU MENYAMAR JADI MAID DI MANOR HANTU   005 : Sepotong Gratin dan Janji di Balik Jendela

    Aroma mentega yang mencair beradu dengan harum rempah rosemary yang tajam di dapur. Caelia berdiri mematung di sudut, tangannya memegang pengupas kentang, sementara matanya terpaku pada tangan Lucian. Pria itu menyusun irisan kentang tipis di atas loyang keramik dengan ketelitian seorang pembedah medis."Kentang busuk yang kau temukan di gudang bawah tanah tadi pagi kini menjadi potato gratin yang layak disajikan di meja raja," Lucian bergumam, suaranya tenang, nyaris seperti sedang melantunkan mantra.Caelia tidak menjawab. Ia mengalihkan pandangan ke tumpukan kulit kentang yang jatuh ke meja kayu. Kentang-kentang itu tadinya layu, tak bernyawa. Sekarang, di bawah tangan Lucian, bahan-bahan sampah itu berubah menjadi mahakarya kuliner. Ia mencium aroma gurih yang mulai menyeruak dari oven. Perutnya bergejolak, menuntut asupan."Kau menggunakan teknik velouté yang salah," Caelia bergumam, suaranya kering. "Kau menaruh terlalu banyak krim."Lucian tertawa kecil, suara yang terdengar se

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status