Home / Rumah Tangga / AMALIA, Kesetiaanku Diragukan / 1. Suamiku Menikahi Sahabatku 

Share

AMALIA, Kesetiaanku Diragukan
AMALIA, Kesetiaanku Diragukan
Author: Rumi Cr

1. Suamiku Menikahi Sahabatku 

Author: Rumi Cr
last update Last Updated: 2025-07-26 12:59:27

Amalia turun dari taksi bandara tepat di depan pintu gerbang rumah maditeran. Senyum mengembang saat tangannya meraih gagang kait pintu gerbang tersebut, digeser sedikit untuknya masuk ke halaman rumah.

"Assalamualaikum!" Amalia mengucap salam begitu melewati pintu masuk keluarga Santosa.

"Waalaikumsalam," jawaban lembut dari wanita yang sangat dirindukan dari ruang tengah. Amalia bergegas menemui nyonya keluarga Santosa tersebut.

"Mama!" seru Amalia merentangkan tangannya, menubruk Sinta untu mendapatkan pelukan hangatnya.

"Alia, masyaallah kangen sekali mama padamu, Nak." Sinta memeluk erat Amalia seraya mengelus bahunya.

"Oiya, rumah kok sepi. Kanzu mana?" tanya Amalia.

"Tadi dijemput Syaiba berdua suaminya. Sekalian periksa kandungan, katanya tadi."

Sinta menggandeng Amalia berjalan ke arah sofa untuk duduk melanjutkan perbincangan mereka.

"Masyaa Allah dah isi rupanya ya, hebat-hebat ... keren," kelakar Amalia diganjar tepukan di lengannya oleh Sinta.

"Alhamdulillah langsung isi, hari ini jadwal pemeriksaan keduanya. Harus cek rutin, karena sempat pendarahan."

"Masuk tiga bulan berarti ya, Ma?" Sinta menganggukkan kepala membenarkan pernyataan Amalia.

"Eh iya, itu Kanzu bisa lengket kayak prangko lho sama Ghizra, suami Syaiba," terang Sinta kemudian. Amalia mengernyit, karena nama itu tidaklah asing baginya.

"Ghi-Ghizra?"

"Oiya, mama lupa. Kamu belum kenal 'kan, dengan suami Syaiba. Heran juga itu Papamu, rencana awal mereka hanya sekedar ijab saja tiga bulan yang lalu itu. Ealah, mendadak sekalian bikin resepsi juga."

"Oh, begitu rencananya, Ma," Amalia meledek Sinta dengan lirikannya.

"Iyalah, mama dan Syaiba maunya resepsi ada kamu jadi pendamping pengantinnya, siapa tahu segera tertular dapat pasangan."

Amalia hanya tersenyum tipis menanggapi kalimat terakhir Sinta. Padahal Sinta tahu, bahkan mungkin seluruh anggota Santosa. Alasan Amalia enggan membuka diri menjalin hubungan dengan pria.

"Maaf, Alia ... mama tidak ada maksud apa-apa, Kanzu sudah lima tahun. Secara hukum, wanita tidak diberi nafkah lahir-batin selama tiga bulan boleh mengajukan cerai bukan? Pernikahan kalian pun tidak tercatat. Kamu masih muda, jangan menyia-nyiakan hidup demi seseorang yang entah di belahan bumi mana keberadaannya."

"Alia tahu Ma, mungkin belum maksimal juga upaya Alia mencarinya selama ini," balas Amalia.

"Kalau dia memang ada rasa tanggung jawab. Pasti sudah lama kalian bertemu kemudian hidup bersama. Nyatanya apa, tidak ada upaya dia mencarimu." Sinta menghela napasnya. Entah berapa kali dia menolak keinginan pria baik untuk memperistri Amalia. "Antara Syaiba dan kamu tidak ada yang kami bedakan. Ayahmu pasti menginginkan kebahagiaan untukmu, Nak." Sinta kembali mengeratkan rengkuhan putri sahabat suaminya itu.

Amalia terharu dengan perhatian dan kasih sayang keluarga Santosa kepadanya, namun untuk menikah bukan perkara yang mudah buatnya.

KTP Amalia tertulis belum menikah. Namun, nyatanya dirinya sampai saat ini masih status istri orang. Dirinya tidak memiliki buku nikah, karena enam tahun lalu hanya sebatas nikah agama yang dilaksanakan.

Memang benar, dirinya bisa beranggapan sudah bercerai karena hampir enam tahun tidak bersua dengan pria yang telah menghalalinya itu. Namun, hati kecilnya masih berharap untuk bersua dengan suaminya.

"Semoga setelah selesaikan program SM3T, kami bisa bersua Ma," jawab Amalia pada akhirnya.

"Kalau takdir memintamu melupakannya bagaimana? Bukan, tidak mungkin dia sudah berkeluarga saat ini 'kan?"

"Andai demikian, Alia akan minta jatuhkan talak darinya." Amalia terhela napasnya, kemudian mengulas senyum di bibir, hingga nampak lesung pipi kanannya, "Lagian, selesai program ini. Masuk PPG. Selama mengikuti program kami dilarang menikah, hehehe...." elak Amalia lagi.

"Mamanya Hilmy sering nanyain kamu Alia, berharap kamu mau menjadi menantu dalam keluarganya," sela Sinta lagi.

"Alia yakin, begitu tahu kebenarannya, akan mundur alon-alon Mama berikut mas Hilmynya."

"Walaupun mama enggak seakrab dengan neneknya Hilmy. Mama yakin, calon mertuamu itu sebijaksana ibunya."

"Ahay, calon mertua. Jangan terlalu optimis Mama Sinta." Dengan gemas Amalia mengeratkan pelukan di pinggang Sinta. "Aku istirahat di kamar mana nih, Ma?" tanya Amalia melepaskan pelukannya.

"Sementara di kamar tamu dulu ya, sebenarnya semua barangmu masih rapi tersusun di kamar kalian. Syaiba melarang kami menyentuh barang-barangmu," terang Sinta.

Dulu kamar Syaiba dan Amalia bersebelahan. Syaiba yang meminta papanya menjebol dinding pembatas, sehingga menjadi satu ruangan dengan dua pintu masuk pada akhirnya.

🌻🌻🌻🌻🌻

Amalia menggeliat saat terdengar samar pintu kamar diketuk, sekilas memperhatikan ponselnya tertera pukul 14.10 di sana. Hampir sejam dirinya tadi terlelap karena lelah perjalanan.

"Kakak, Kakak Alia!"

Suara itu amat Amalia rindukan. Bergegas dia menuju pintu untuk membukanya. Nampak bocah tampan, berkulit putih bersih tertawa gembira menyambutnya.

"Kanzu!" pekik Amalia langsung berjongkok memeluk erat balita itu.

"Ulu-ulu bahagianya," ledek Syaiba yang berada di belakang Kanzu. Amalia mendongak mengacungkan jempol pada sahabatnya itu.

"Eh, aku cuci muka dulu ya, biar PD berjabat tangan dengan si Mamas." Amalia berdiri, menuntun Kanzu masuk ke kamar diikuti Syaiba.

"Orang dianya lanjut ke kantor kok, kita cuma diturunkan depan pagar tadi."

"Ya enggak apalah, biar seger juga ini badan. Tak sekalian mandi saja kalau gitu," sahut Amalia mengeluarkan handuk beserta baju gantinya.

"Ya sudah, kami tunggu di taman ya, Alia."

🌻🌻🌻

"Bagaimana perasaanmu sekarang Syaiba. Sebentar lagi akan menjadi seorang ibu?" tanya Amalia seraya mengelus perut Sabrina yang masih rata.

"Bahagia sekali, serasa dapat keajaiban. Tapi, ya itu ... harus hati-hati. Sempat mengalami pendarahan di awal kehamilan. Alhamdulillah jalan 11 minggu sekarang."

Tin tin tin

Terdengar suara deru mesin mobil berhenti setelahnya. Kanzu yang asyik bermain pasir, bergegas berdiri lalu berlari menyambut seseorang yang keluar dari mobil fortuner hitam itu.

"Itu Ayah Kanzu dah pulang," ucap Syaiba memberitahu.

"Ayah?" tanya Amalia.

"Iya, aku yang menyuruhnya memanggil mas Ghizra ayah, sementara aku bunda. Kamu enggak keberatan, 'kan?,"

Amalia bergeming, entah mengapa jantungnya berdetak dengan kencang. Debaran yang lama tidak ia rasakan tetiba muncul kembali.

"Lengkap deh, ada Mama-Papa, Ayah-Bunda, Mbok dan Kakak. Ntar kalau mas Hilmy resmi jadi suamimu, Kanzu manggilnya Daddy saja,"

"Ayah, itu kak Alia. Kakaknya Kanzu. Cantik 'kan?" Kanzu menarik tangan suami Syaiba.

Amalia tertegun tak percaya dengan penglihatannya. Pria yang ditarik Kanzu ke bangku tempatnya duduk bersama Syaiba adalah ayah Kanzu Al Ghifari, Ghizra Arsyad.

Next ....

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • AMALIA, Kesetiaanku Diragukan   75. Ending

    Saka memperhatikan gambar-gambar bayi di sekitar ruangan, juga ibu-ibu hamil yang tampak berlalu-lalang. Hal itu membuatnya penasaran hingga ia bertanya pada sang ayah yang memangkunya. “Papa, kenapa ada gambar adik bayi banyak? Ibu-ibu hamilnya juga?” “Karena ini namanya bagian obgyn, tempat khusus dokter memeriksa ibu-ibu hamil,” jawab Satria, lalu tersenyum ketika melihat anaknya mengerjapkan mata—jelas mulai tersadar. Kanaya kemudian meraih tangan Saka, menempelkan telapak hangat itu ke perutnya. “Tadinya Papa dan Mama mau memberi tahu pas ulang tahun Saka yang ke-7. Tapi Saka selama ini jadi anak baik, enggak banyak nangis walaupun Papa sering kerja lama, sudah begitu pintar belajarnya … jadi hadiahnya Mama dan Papa kasih lebih cepat.” Satria tersenyum, lalu menunduk untuk berbisik, “Ini hadiahnya hebat banget, lho.” Saka menyimak, kemudian memperhatikan tangannya yang menempel di perut sang ib

  • AMALIA, Kesetiaanku Diragukan   74. Jangan Menguji

    "Mama ngapain?” tanya Kanaya setelah mandi dan mendapati bundanya antusias di depan lemari, mengeluarkan setelan pakaian formal. “Fran keluarkan mobilnya kakek. Satria mau pakai dan katanya sudah izin untuk antar kamu periksa.” Kanaya mengerjap. “Serius? Kakek izinkan?” “Iya. Semalam dia minta izin waktu mereka nonton bareng. Mbak Heni jam sebelas masih bangun, lalu keluarkan almond panggang sama bikinin teh hangat ... paginya bersih, enggak ada sisa di bak cuci.” Bu Syaiba mendekat. “Satria juga sudah kasih resume e-jurnal ke Kakek. Lima lembar dan semuanya tulisan tangan. Lumayan bisa dibaca, enggak berantakan.” “Masak sih, Mas Satria bisa begitu?” Kanaya sulit percaya. Bu Syaiba terkekeh. “Ya, nyatanya dia bisa melakukan itu, Nay ... Suamimu, menantu lelaki satu-satunya Bunda, papanya Sangsaka.” Kanaya berusaha tidak terlalu tersenyum. Ini jelas kemajuan. “Terus Mama kenapa keluarkan baju formal?” “Kamu enggak mau tampil cantik lagi?” “Mau ... tapi jangan yang fo

  • AMALIA, Kesetiaanku Diragukan   73. Tidak Terlalu Buruk

    YAYA’S TEAM > GHEA “Gimana, ? Berhasil?” >DAFFA “Enggak ada foto pamer. Berarti gagal.” “Ckckckk, sudah diduga emang.” > GHEA “Siapa tahu lupa ngasih kabar karena keburu asyik ☺.” >DAFFA “Asyik dicuekin maksudnya? Wkwkwk!” >GHEA “Jangan jahat gitu! Kita, kan sudah janji bantuin Kaka.” >DAFFA “Ya kita bantu, tapi Yaya ini mentalnya belum sanggup. Enggak bisa strategi tarik-ulur, dia maunya langsung ikat-ikat merapat.” >GHEA “Ikat-ikat? Ih, bikin kangen. Udah lama kita enggak ☺.” >DAFFA “Yuk, Bby ☺.” “Cari kata aman dulu.” >DAFFA (Sticker acak) >Satria Mandala “KAMU MAU KU IKAT LEHERNYA BEGITU PULANG YA, FA!!!” >Satria Mandala “KAMPRET!!!” Satria mengirimkan lebih banyak emoji jari tengah ke chat pribadi Daffa, diikuti puluhan voice note makian yang tidak layak dengar. Daffa membalas satu menit kemudian. >DAFFA “Udah jelas gagal kamu ya. Ckckck.” Sialan! Satria memaki dalam hati, lalu beralih ke kontak Kanaya. Tadi ia menitipk

  • AMALIA, Kesetiaanku Diragukan   72. Kamar Tamu

    "Ya ampun, pulas banget itu,” sapa Bu Syaiba saat Satria turun dari mobil dengan menggendong Saka.Jam segini, memang jam tidur siangnya Saka. Ditambah efek rindu karena sepuluh hari terpisah, Saka bahkan tidak mau duduk sendiri, ia langsung memeluk erat bahu kemeja Satria. “Belum lima menit jalan udah tidur,” jelas Kanaya sambil keluar mobil. “Yang ini udah minta makan lagi.” Ia mengelus perutnya. Bu Syaiba tertawa kecil dan memeluk Satria. “Sehat, Satria?” “Iya, Ma.” “Ayo masuk. Mama baru selesai goreng Chicken Kiev.” Satria masuk dan menoleh ke ruang tamu yang sepi. “Kakek sama Fran enggak di rumah, Ma?” “Kakek terapi lanjutan ditemani Fran. Malam pulang," jawab Bu Syaiba. “Eh, Saka mau dicoba dibaringkan dulu?” tanya Bu Syaiba. “Dia pegangan Ma. Tidurnya,” jawab Kanaya. “Kalau dilepas, rewel.” “Satria belum makan, Nay.” Satria tersenyum. “Kanaya bisa suapin aku, Ma.” “Idih. Orang anaknya dipangku bisa. Tangannya ada dua, juga!” balas Kanaya, matanya melirik tajam

  • AMALIA, Kesetiaanku Diragukan   71. Trik

    “Semua baik-baik saja, Ma … aku pamit langsung tengok mereka,” ujar Satria memberi tahu. Bu Laras kembali memeluknya. “Apa pun yang terjadi, kamu masih punya Mama, Ya ....” “Iya,” jawab Satria sambil membalas pelukan itu beberapa detik. Ghea ikut-ikutan memeluk, membuat Satria tertawa ketika Daffa sudah benar-benar dekat. “Kamu mau ikut peluk juga, Fa?” tawarnya. “Aku normal, cukup peluk adik kamu aja. Sini, Bby,” kata Daffa sambil merentang tangan, dan Ghea benar-benar langsung berpindah memeluknya. “Pamer terus!” Ghea terkekeh, menggeleng sembari bernyanyi, “Jangan iri … jangan iri … jangan iri dengki.” Satria memaki dalam hati. Sialan! Namun ia memutuskan fokus. Waktunya tidak banyak karena ia harus segera ke rumah keluarga Santosa. “Ck! Cepetan, Fa! Mana kopernya?” “Ish, santai napa ... sebenarnya enak barengan kita naik pesawatnya, berangkat sore, kan syahdu. Siapa tahu, langsung bisa ajak Kanaya ke rumah kalian untuk bermalam," canda Daffa, meski ia tetap mendek

  • AMALIA, Kesetiaanku Diragukan   70. Konsultasi

    Kanaya menyipitkan mata karena foto terbaru yang dikirim suaminya lewat email. Ada Fran berdiri di belakang Kakeknya, keduanya tersenyum di samping tong pembakaran yang jelas dipenuhi abu. >satriamandala Selamat pagi dari kami. Gantian PAP dong. Kangen muka bangun tidurnya istriku :) “Dih,” sebut Kanaya. “Kenapa, Bu?” tanya Fran. Kakek Rahmat yang sedang mengaduk susu untuk Saka ikut melirik. “Papanya Saka kirim foto,” kata Kanaya sambil menunjukkan layar tablet. “Oh, masih pagi juga,” ucap Fran tersenyum. “‘PAP’ itu apa, Nak?” tanya Kakek Rahmat setelah membaca sekilas. “Post a picture, kirim foto,” jawab Fran sambil mencondongkan tubuh ke layar cucu majikannya. “Ciyeee… ‘kangen muka bangun tidur istriku’.” “Cheesy banget, kan?” ucap Kanaya sa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status