ホーム / Rumah Tangga / AMBISI WANITA SIMPANAN / BAB 26. Tujuan Datang Bukan Karena Rindu Anak

共有

BAB 26. Tujuan Datang Bukan Karena Rindu Anak

作者: Mayangnoura
last update 公開日: 2025-04-28 19:59:44

"Suka-suka ibu mau menyebut dia apa. Pelac*r kek. Ani-ani kek. Wanita simpanan kek. Yang pasti mau tidak mau lusa malam aku akan datang ke rumah orangtuanya untuk melamarnya. Dan ibu, harus ikut aku."

Pandangan Marni langsung menyipit. "Kenapa ibu harus ikut kamu? Kamu kan bisa pergi sendiri?"

"Ya tidak bisa begitu dong, bu. Masak aku datang sendiri untuk melamar? Setidaknya aku bawa satu orang bersamaku. Orangtua Rini juga akan tersinggung kalau aku datang sendirian."

"Datang hanya berdua juga
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター
コメント (1)
goodnovel comment avatar
lullaby dreamy
giliran udh ga pny apa2 baru kelabakan .
すべてのコメントを表示

最新チャプター

  • AMBISI WANITA SIMPANAN   BAB 47. Bakso Papa

    TENG! TENG! TENG!"Ma, papa! Aku beli baksonya ya?"Citra tersenyum dan mengangguk. "Iya. Sekalian tanya sama papa apa butuh minuman dingin atau makanan?"Manisa mengangguk. "Iya."Gadis kecil berusia 10 tahun itu lalu berlari keluar rumah dengan wajah ceria mendekati penjual bakso yang sudah berhenti di depan rumahnya."Pa...! Bakso untuk aku!" teriaknya sambil terus berlari mendekati pedagang bakso yang tidak lain adalah Galih."Boleh. Mau berapa bungkus?" tanya Galih dengan senyuman lebar. "Satu saja. Buat aku doang.""Oke. Siap." Galih pun segera membuat satu bungkus bakso untuk Manisa. "Mama kamu tidak mau bakso?""Sepertinya tidak. Soalnya kalau mau, dia pasti menyuruhku membelikan untuknya juga. Oya, mama bilang apa papa butuh minuman dingin atau makanan? Biar nanti aku ambilkan."Galih menggelengkan kepala. "Tidak. Papa tidak butuh apa pun. Papa bawa minuman sendiri dari rumah dan masih ada." "O ya sudah. Eh, pa, minggir dikit deh kayanya. Ayah mau masuk."Galih langsung men

  • AMBISI WANITA SIMPANAN   BAB 46. Kejadian Demi Kejadian

    "Apa sih?! Sudah jam sembilan masih juga belum ada sarapan! Ibu kemana lagi masih pagi begini sudah menghilang?" gerutu Galih sembari menatap meja makan yang kosong. Rambutnya acak-acakan karena bangun tidur."Siapa yang menghilang? Ibu itu ke makam adek kamu bukan menghilang," balas suara yang baru masuk ruang makan.Galih menoleh ke sumber suara. Dia mendapati Marni menjinjing plastik hitam. "Pagi-pagi kok sudah ke makam sih, bu? Seperti kurang kerjaan saja."Mata Marni seketika melotot mendengar ucapan Galih. "Kurang kerjaan kamu bilang?! Ke makan adik kamu, kamu bilang kurang kerjaan?! Yang kurang kerjaan itu kamu! Sampai sekarang belum juga kerja! Mau makan apa kita besok? Uang didompet ibu saja tinggal lima puluh ribu!""Maksudku... kalau ibu memang mau ke makam, masak dulu. Jangan pergi tanpa meninggalkan makanan. Aku kan lapar bangun tidur.""Ya kamu masak sendiri! Jangan mengandalkan ibu! Kamu pikir ibu pembantu kamu?! Enak saja! Masak nasi mudah, ada rice cooker! Di lemari

  • AMBISI WANITA SIMPANAN   BAB 45. Penyesalan

    "Ini ramuannya. Kamu harus meminumnya sampai habis."Rini menelan saliva saat melihat segelas cairan hitam yang dihidangkan Mbah Rumini di hadapannya. Baru melihatnya saja dia mau muntah. Apalagi baunya itu lho membuat membuat perutnya seperti diaduk-aduk."Tunggu apalagi? Minumlah! Katanya mau langsung ke proses aborsi?" ucap Mbah Rumini lagi. Walaupun nadanya lembut, entah kenapa terdengar seperti memerintah dengan memaksa.Rini memaksakan senyum sebelum akhirnya mengangguk. "Ba-baiklah, Mbah." Dengan perasaan ragu, dia pun memegang gelas berisi ramuan itu dan membawanya ke dekat bibirnya. Tapi bukannya langsung minum, Rini justru terdiam. Hal itu tentu saja membuat Laras dan Mbah Rumini bingung. "Kenapa, Rin? Kamu mau berubah pikiran?" tanya Laras lirih memastikan. Niatnya sih biar tidak didengar oleh Mbah Rumini tapi nyatanya wanita tua itu bisa mendengarnya juga.Rini menggeleng. "Ti-tidak kok. Aku tetap dengan niatku." Dengan memaksakan diri, Rini akhirnya meneguk minuman itu.

  • AMBISI WANITA SIMPANAN   BAB 44. Ke Tempat Aborsi

    "Kamu yakin mau aborsi, Rin? Lebih baik pikirkan lagi keputusan kamu ini. Toh, bayi dalam perut kamu ini sudah diakui sama bapaknya."Bibir Rini menipis. "Memangnya kemarin-kemarin aku belum memikirkannya menurutmu? Dari pertama kali aku menelpon kamu untuk membantu niatku untuk aborsi, tentu saja sudah aku pikirkan masak-masak. Ya, Mas Galih memang mengakui bayi ini sebagai anaknya. Tapi aku tidak sudi mengurus anak ini setelah tahu kalau bapaknya tidak sesuai ekspektasi.""Mungkin itu sudah takdirmu. Terima sajalah. Aborsi juga bukan tanpa resiko, Rin. Resikonyo besar, Rin. Ada lho yang aborsi sampai kehilangan nyawa. Aku bukan mau menakut-nakuti tapi aku juga khawatir sama kamu."Rini menatap Laras dengan tatapan jengah. "Apa sih? Pikiranmu kok sampai sejauh itu? Badanku tuh kuat. Tidak selemah itu sampai berakhir dengan kematian. Sudahlah, kamu tenang saja. Aku akan baik-baik saja kok. Kamu berdoa saja tidak terjadi apa-apa dengan aku.""Kalau urusan berdoa, tentu aku sudah melak

  • AMBISI WANITA SIMPANAN   BAB 43. Jangan Cari Penyakit

    "Ibu kan sudah bilang kalau ibu akan menganggapmu sebagai menantu ibu selamanya.""Tapi mau sampai kapan ibu bersikap seperti ini? Kenapa tidak menerima kenyataan kalau menantu ibu itu Rini bukan aku? Setidaknya untuk saat ini karena itu yang memang sebenarnya.""Kan seperti yang ibu katakan tadi kalau Galih dan Rini sudah akan bercerai.""Mereka baru akan bercerai. Sedangkan aku dan Mas Galih benar-benar sudah bercerai.""Ibu tahu itu. Tapi apa pun bisa terjadi. Barangkali suatu hari nanti kalian akan bersama kembali.""Itu tidak akan pernah terjadi, bu. Sekali lagi tidak akan pernah terjadi.""Kenapa kamu bicara seperti itu, Citra? Kalau takdir tidak bisa kita tolak.""Aku akan menghindari takdir itu. Aku yakin takdir bisa dihindari. Cukup sekali aku dikhianati dan dibodohi. Jangan sampai ada yang kedua dan ketiga kali.""Galih tidak akan mengulangi kesalahannya. Dia sudah berubah. Jadi tidak akan ada yang kedua apalagi yang ketiga kali."Tapi aku berharap kalau rumah tangga Mas Gal

  • AMBISI WANITA SIMPANAN   BAB 42. Turut Berduka Cita

    Kenapa kamu malah diam saja?! Kamu tidak lihat keadaan adikmu Bagaimana?! Cepat hubungin ambulance! Kita bawa Gina ke rumah sakit!""Dibawa ke rumah sakit pun percuma, bu. Gina sudah tidak ada dari beberapa jam yang lalu. Lihat, darahnya sudah kering.""Apapun itu, cepat kamu telpon ambulance! Bawa dia ke rumah sakit! Atau kamu memang tidak mau membawanya?!""Tidak, bu. Bukan begitu. Baiklah. Aku akan menelpon rumah sakit sekarang."Galih pun menelpon rumah sakit untuk segera mengirimkan ambulance. Tak lama kemudian, jasad Gina dibawa ke rumah sakit. Tapi karena gadis itu memang sudah meninggal sejak beberapa jam sebelumnya, dibawa ke rumah sakit pun tidak menyelamatkannya. Hasil otopsi, Gina memang meninggal karena bunuh diri.***"Apa? Gina meninggal? Oke, kita kesana sekarang. Aku akan bersiap."Citra segera bergegas. Bersama sahabatnya Usi, dia pergi melayat ke rumah Galih."Dengar-dengar Gina meninggal karena bunuh diri," ucap Usi sembari tetap fokus menyetir.Citra terhenyak. "K

  • AMBISI WANITA SIMPANAN   BAB 37. Muncul Masalah Lain

    Bahu Galih mengendik. "Tidak taulah, bu. Kan Gina juga baru datang. Belum sempat nanyain ada apa. Tapi sepertinya terjadi apa-apa karena wajahnya basah dengan airmata dan rambut awut-awutan.""Duh, kenapa ya?" tanya Marni pada dirinya sendiri dengan perasaan khawatir."Baiknya ibu tanyakan langsung

  • AMBISI WANITA SIMPANAN   BAB 36. Kembali Ke Rumah Ibu

    "Kalau begitu tak ada gunanya kamu menjadi suami Rini!" sahut Siti dengan wajah marah dan tidak terima. "Rini butuh suami yang kaya! Bukan suami miskin!"Galih menelan saliva. "Kenapa ibu bisa bicara seperti itu? Memangnya siapa yang menginginkan aku menjadi suaminya Rini? Kalian bukan? Bahkan kali

  • AMBISI WANITA SIMPANAN   BAB 35. Hanya Pria Miskin

    Mendengar itu, tubuh Rini gemetar. Dia merasa langit baru saja runtuh. Bagaimana tidak, dia sudah memberikan diri sepenuhnya pada Galih dan menaruh harapan yang sangat besar pada pria itu demi bisa hidup tak berkekurangan. Tapi tiba-tiba dia mendengar pengakuan Galih kalau suaminya itu pria miskin

  • AMBISI WANITA SIMPANAN   BAB 34. Mengakui Kebenaran

    "Apa-apaan ini?! Astaga! Kenapa kamu mengeluarkan semua barang-barang Citra dari kamarnya, Rin?!"Suara yang tiba-tiba muncul itu membuat semua orang menoleh ke sumbernya. Tampak Galih berjalan mendekati Rini dengan wajah syok."Apa perlu kamu tanyakan kenapa aku mengeluarkan semua barang-barang ca

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status