Share

Peta Hutan Rhae

Author: Red Ruby
last update publish date: 2023-04-04 17:54:44

Langit mulai gelap ketika Emilia bersama tiga orang lain termasuk Rain berkendara menuju pinggiran suatu kota. Ketika mereka memasuki permukiman, mobil berhenti. Emilia yang semula sibuk dengan tablet di tangan menatap jalanan.

"Jalanan di depan tidak bisa dilewati mobil," ujar si supir, pria muda yang hari itu khusus Emilia sewa untuk mengantar mereka ke satu tempat.

"Seberapa jauh lagi jaraknya?" Emilia bertanya.

"Sepuluh menit dengan berjalan kaki. Tapi aku tidak bisa ikut," jelas si pria
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • AMETHYST Pengantin Terkutuk   Saatnya Pulang

    Rain menatap lurus ke dalam netra Emilia, memberikan tatapan perpisahan yang dingin sebelum akhirnya melemparkan pil keabadian itu ke udara. "Ambil itu!" serunya singkat.Seketika, keserakahan meledak di dalam gua. Emilia, Mark, dan seluruh anggota tim ekspedisi melompat secara bersamaan, tangan-tangan mereka terjulur ke atas berusaha menggapai pendaran biru tersebut. Namun, pil itu tidak jatuh. Seolah menolak hukum gravitasi, pil sebesar kelereng itu berhenti di udara, berputar dengan kecepatan tinggi hingga menciptakan pusaran cahaya biru yang menyilaukan.WUUUUUUUUUUUUUUUU—Suara dengung frekuensi tinggi yang memekakkan telinga mendadak muncul, menghantam dinding-dinding kristal dan memantulkannya kembali ke arah mereka. Suaranya begitu menyakitkan, seolah-olah ribuan kaca pecah secara bersamaan di dalam kepala."Argh!" Emilia jatuh berlutut sambil menutup telinganya rapat-rapat.Gideon pun tak luput dari serangan suara itu. Sambil tetap memapah tubuh Amy yang lunglai, ia berusaha

  • AMETHYST Pengantin Terkutuk   Gua Kristal

    Gideon menyadari atmosfer yang menjadi canggung sejak Rain masuk ke dalam gua. Untuk mencairkan suasana, ia mengeluarkan sebuah dadu segi delapan berwarna perak dari saku celananya. Dengan lihai, ia memainkan lempar-tangkap, membuat dadu itu berputar di udara sebelum mendarat sempurna di ujung jarinya."Ayolah, Amy. Jangan memasang wajah seperti sedang menunggu hukuman mati begitu," goda Gideon sambil mengerlingkan mata. "Rain itu lebih keras dari batu gua ini. Dia akan baik-baik saja, bahkan jika ular itu mengajak teman-temannya untuk makan malam."Amy tidak menyahut. Ia memilih duduk di sebuah batu besar yang permukaannya rata, menatap nanar ke arah kegelapan mulut gua. Pikirannya masih dipenuhi rasa bersalah karena telah mengabaikan bantuan Rain di jembatan tadi, namun rasa cemasnya jauh lebih mendominasi."Heei, kau dengar tidak? Bagaimana kalau kita bertaruh? Jika dadu ini berhenti di angka delapan, kau harus berhenti cemberut," Gideon mencoba lagi, namun suaranya perlahan memuda

  • AMETHYST Pengantin Terkutuk   Kembalinya si Penguasa Hutan

    Beberapa jam perjalanan melewati medan yang semakin curam membawa rombongan pada sebuah jembatan gantung tua. Jembatan itu tampak rapuh dengan tali tambang yang sudah berlumut, membentang di atas jurang dalam yang memisahkan dua tebing tinggi. Angin gunung yang kencang membuat struktur kayu itu berderit dan berayun pelan.Rain, sebagai yang paling ahli dalam navigasi, melangkah lebih dulu. Ia memeriksa setiap pijakan dengan teliti sebelum memberi isyarat agar rombongan mengikuti. Emilia berjalan tepat di belakangnya. Namun, saat mendekati ujung tebing seberang, sebuah kayu pijakan yang lapuk mendadak patah."Aaah!" Emilia memekik kecil saat tubuhnya limbung ke arah jurang.Dengan refleks secepat kilat, Rain berbalik dan menangkap tubuh Emilia. Ia merengkuh bahu dan pinggang gadis itu agar tidak terjatuh. Posisi mereka menjadi sangat dekat; wajah Emilia tersembunyi di ceruk leher Rain dan napas mereka menderu di udara yang dingin. Dari sudut pandang barisan di belakang—terutama dari po

  • AMETHYST Pengantin Terkutuk   Ajakan Emilia

    Suasana makan siang di kamp terasa kontras. Di satu sisi, tim ekspedisi Emilia tampak tegang mempersiapkan perlengkapan, sementara di sudut lain, Amy duduk melingkar bersama teman-temannya di bawah naungan pohon besar.Velia menggigit apelnya dengan suara renyah, wajahnya tampak lesu. "Yah, petualangan ini seru, tapi kenyataan memanggil. Waktu cutiku berakhir besok. Kalau aku tidak kembali bekerja, bosku akan menggantungku di lobi kantor," keluhnya malas."Aku juga," timpal Davon sambil membersihkan sepatunya dari sisa tanah gua. "Ada agenda keluarga yang tidak bisa kutunda lagi. Sepertinya kita harus segera turun gunung."Amy hanya terdiam, jemarinya memutar-mutar gelas minumannya. Pikirannya melayang jauh. Ia sudah mengirimkan surat pengunduran diri dari kafe milik paman Tora tepat sebelum perjalanan ini dimulai. Ia merasa butuh awal yang baru, meski ia sendiri belum tahu akan ke mana kaki melangkah setelah angka di perutnya mencapai nol.Tora yang duduk di sampingnya terus mengunya

  • AMETHYST Pengantin Terkutuk   Rute Baru

    Cahaya matahari pagi menyelinap masuk melalui celah-celah batu yang ditumbuhi lumut, menciptakan garis-garis emas di lantai ruangan utama. Sebelum Amy membuka mata, Rain sudah berada di ruang tengah, berdiri tegang di hadapan Gideon dan si peri hutan yang sedang menyeduh teh herbal."Jangan pernah bahas tentang solusi itu lagi di depan Amy," ujar Rain dengan suara rendah namun penuh penekanan. "Biarkan dia percaya bahwa kita hanya sedang mencari jalan keluar dari hutan ini."Gideon, yang sedang menyandarkan punggungnya di rak buku, menaikkan satu alisnya. Ia menatap Rain dengan saksama, menyadari ada sesuatu yang berbeda dari aura sahabatnya itu. "Kau melakukannya, bukan?" bisik Gideon. "Kau menghapus ingatannya tentang semalam?"Rain hanya mengangguk pelan. Tidak ada rahasia di antara mereka, namun ada rasa bersalah yang tersembunyi di balik tatapan dingin Rain. Ia tahu menghapus memori adalah tindakan egois, tapi melihat angka di perut Amy merosot tajam semalam, ia tidak punya pilih

  • AMETHYST Pengantin Terkutuk   Menghapus Ingatan

    Penjelasan si peri hutan sukses membuat tiga orang di depannya mematung seakan lupa cara bernapas. Udara di dalam ruangan yang tadinya terasa hangat kini mendadak membeku, lebih dingin daripada kabut di Hutan Rhae. Kata-kata itu menggantung di udara seperti vonis mati yang baru saja dijatuhkan.Gideon adalah yang pertama kali bersuara, suaranya parau dan penuh ketidakpercayaan. "Ini gila... benar-benar gila," gumamnya sambil mengusap wajah dengan kasar. "Setelah semua yang mereka lalui, takdir meminta mereka menciptakan nyawa hanya untuk dihancurkan? Itu bukan solusi, itu kekejaman yang baru!"Amy menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Bahunya berguncang hebat. Tiba-tiba saja, ia ingin menangis sejadi-jadinya. Bayangan tentang seorang anak—buah cintanya dengan Rain yang selama ini hanya berani ia impikan dalam khayalan paling rahasia—kini berubah menjadi mimpi buruk yang mengerikan. Ia takkan mampu melakukan hal itu. Tidak akan pernah.Rain mengepalkan tangannya hingga kuku-kuk

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status