Se connecterSetiadji. Putra selir yang seumur hidupnya dihina karena intrik Permaisuri dan Putra Mahkota. Tinggal di belakang ndalem keraton di komplek abdi dalem dan tidak pernah dijenguk oleh Romonya. Sampai seorang wanita bernama Aluna Larasati datang dari masa depan masuk ke tubuh putri abdi dalem menuntunnya menjadi putra mahkota. Dengan strategi aneh teknologi masa depan dibawanya ke hadapan Sinuwun untuk membuat Setiadji mendapatkan perhatian para sentono dalem. Kipas angin panel surya, kincir air untuk membuat listrik, dan mesin jahit manual serta masih banyak lagi. Apakah mereka berdua mampu bertahan dari intrik Permaisuri dan liciknya Putra Mahkota? Bagaimana cara putri abdi dalem melawan Putra Mahkota yang punya kuasa? Dulu Setiadji diremehkan. Kini, seluruh Keraton Megantara membutuhkannya sebagai pemegang tahta putra mahkota.
Voir plusHari-hari berlalu sama setiap harinya. Mereka masih membuat kipas angin tenaga surya saat siang. Dan malamnya mereka bermain permainan tradisional di kediaman putra mahkota.Bhaskara semakin merasa hidup meski bakatnya tak secerdas Setiadji. Dan Setiadji jadi sering berubah-ubah emosinya. Kadang tertawa bersama Laras, kadang tiba-tiba ngambek tidak jelas. Sedangkan Laras setiap hari selalu membujuk Setiadji yang gampang cemburu.Sejauh ini, hubungan mereka masih baik-baik saja. Prameswari belum mengetahui bahwa putranya sudah menjadi manusia, bukan robotnya yang penurut lagi.Satu minggu berlalu, kini waktunya kipas yang dipesan oleh Sinuwun diserahkan saat rapat. Selama satu minggu ini mereka mampu membuat sepuluh unit kipas angin tenaga surya. Sinuwun sangat senang. Ia memberi hadiah kepada keduanya.Setiadji mendapatkan hadiah berupa uang tunjangan untuk dirinya dan ibunya yang meningkat. Sementara Laras mendapatkan hadiah berupa sebuah kalung emas.Setiadji dan Laras pun menerima
Pagi hari yang cerah setelah semalam tenaga banyak terkuras untuk bermain engklek. Udara masih dingin karena matahari belum begitu menampakkan sinarnya. Laras berjalan ke dapur keraton untuk mengambil sarapannya. Meskipun tinggal di ndalem, ia tetap abdi dalem, kebutuhan makan harus tetap mengambil sendiri ke dapur karena tidak ada siapapun yang akan datang untuk melayaninya.Setelah selesai menyantap jagung rebus, Laras kembali ke ndalem untuk melakukan aktivitas seperti biasanya, membuat kipas di bengkel. Namun saat diperjalanan ia berpapasan dengan Bhaskara. Dua pengawalnya membawakan buku yang dibungkus kain yang berfungsi sebagai tas."Laras" panggilnya.Laras pun berhenti melangkah dan tersenyum. Ia masih berusaha ramah supaya villain ini tetap melunak dan mau jadi temannya."Kanjeng Gusti mau kemana?" tanyanya."Aku mau sekolah. Nanti sepulang sekolah aku akan langsung ke bengkel" jawab Bhaskara.(Sekolah? Dia kan sudah 18 tahun. Sekolah apa ya?) batinnya."Ehm... Kalau di seko
Akhirnya Laras melanjutkan makannya sampai habis. (Ya udah lah kalau mati. Yang penting makan dulu. Lebih baik mati dalam keadaan kenyang dari pada lapar) batin Laras.Suapan nasi itu ia nikmati karena perutnya memang lapar..Makanan di piring habis. Laras membereskan piring kotornya dan piring kotor milik Bhaskara. Tapi putra mahkota itu melarangnya."Biar dibereskan abdi dalem saja" ucapnya.Laras mengerutkan keningnya. "Aku kan abdi dalem"Bhaskara terlihat kikuk, "Maksudku biar dibereskan abdi dalem yang lain"Laras pun mengangguk. Ia letakkan lagi piring-piring kotor itu di atas meja."O iya, katanya Kanjeng mau ngajak rembugan. Rembugan soal apa?" tanya Laras.Bhaskara mengambil air di gelas bambu lalu meneguknya."Ehm... Aku... Apa aku masih kaku?"Laras mengerutkan keningnya. "Hah?""Ya. Kamu bilang aku bisa punya teman kalau tidak kaku kan? Apa aku masih kaku?" jelas Bhaskara."Oh. Kanjeng mau berteman dengan... abdi dalem sepertiku?" tanya Laras."Ya kenapa? Katanya aku ter
Sementara itu di bengkel, Setiadji menghampiri Laras yang masih duduk di lantai. Laki-laki itu berjongkok lalu membantu Laras berdiri."Laras. Kamu tidak apa-apa?" tanyanya.Laras merapikan rambutnya yang berantakan. "Nggak apa-apa, Raden"Setiadji berdehem. "Baik. Aku punya pertanyaan tapi aku tidak enak bertanya karena tadi ada Kakang Bhaskara. Kenapa tiba-tiba Kakang Bhaskara ikut mengerjakan proyek ini?" tanya Setiadji.Laras menyilangkan tangannya di belakang punggung. "Tadi siluman macan itu ngasih pedang ke leherku. Biar nggak jleb, ya aku tawarin dia masuk ke tim. Ya udah deh, dia mau. Jadi mulai sekarang, siluman macan itu ikut ngerjain proyek ini. Nggak apa-apa kan?"Ting. Ting. Ting. Laras mengedipkan matanya berulang sambil tersenyum.Setiadji tersenyum tipis. "Baiklah. Tapi hati-hati ya hatinya"Seketika laki-laki itu terbelalak. Wajahnya berubah merah. Ia jadi salah tingkah."Ehm... Ya udah kita istirahat dulu. Setelah makan siang kita lanjut lagi. Dah!" Setiadji melamba












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.