Home / Romansa / ANESTESI RINDU / BAB 2 KEPONAKAN KEPALA DEPARTEMEN

Share

BAB 2 KEPONAKAN KEPALA DEPARTEMEN

Author: Yoongina
last update Last Updated: 2026-01-18 11:46:01

"Lo Gila, Van! kalau suka sama cowok itu yang selevelan sama kita aja bisa ngga?" Siska mencoba membuka pikiran dan mata hati Vanya yang menurut dia sudah tertutup kehaluan untuk bisa memiliki dr. Devan yang ketampanan dan kejeniusannya di atas rata-rata.

"dr. Devan kan dokter spesialis bedah. Gue calon dokter spesialis bedah, yang Lo bilang ngga level tu di mana?" Vanya mengunyah roti untuk mengganjal perutnya di shift malam ini.

Siska melebarkan kedua bola matanya tak percaya. Ia menjitak kepala Vanya yang keras kepala.

"Sakit!" protes Vanya mengusap kepalanya.

"Apa perlu Gue siram air sekalian biar lo sadar dan nggak kebanyakan halu!" Ujar Siska menyipitkan matanya kearah Vanya. " Emang Lo nggak denger, kenapa dia sampai menjaga jarak sama semua wanita?"

Vanya menganggukkan kepalanya. Desas desus itu memang sudah dia dengar sejak menginjakkan kaki di Rumah Sakit ini sebagai seorang Residen. Saat sesi perkenalan, Vanya sudah terpaku dengan ketampanan Devan selaku Dokter Mentor spesialis bedah umum yang memasuki aula bersama Kepala Departemen Bedah dan Kepala Instalasi Gawat Darurat. Bukan hanya Vanya, tapi beberapa Residen wanita dari berbagai bidang ilmu bedah berbisik kagum melihat kehadiran Devan di tengah-tengah mereka. Melirik dengan tatapan iri kearah Vanya dan Siska sebagai Residen Bedah umum karena mendapatkan mentor dr. Devan yang sangat tampan.

"Gue tahu kok trauma masa lalu sulit dihilangkan, tapi setelah mengetahui penyebabnya, gue pikir akan lebih mudah untuk diobati."

Siska menggelengkan kepalanya, tidak tahu lagi harus berbuat apa untuk bisa menyadarkan sahabatnya.

"Lo harus tau!Evelyn, Residen Bedah Jantung, dia mengajukan pindah bidang ke bedah umum untuk bisa dimentori dr. Devan. Gadis cantik dan kaya raya itu beruntung memiliki otak yang cerdas untuk bisa menjadi seorang dokter spesialis. Dia salah satu saingan lo, Van!udah cantik, cerdas, dan keponakan dari Kepala Departemen Bedah, dr. Gunawan.."

Vanya yang belum mendengar berita tentang Evelyn menatap tidak suka mendengar informasi itu. Vanya sangat tidak menyukai Evelyn sejak mereka sama-sama Koas di Rumah Sakit yang sama.

Saat itu, Evelyn menyukai dokter spesialis jantung yang praktek di sana. Karena kecantikan dan kekayaan nya, Evelyn berhasil merebut hati dokter spesialis itu, yang adalah kekasih Vanya. Menjadi orang ketiga dalam hubungannya dengan Adam dan membuat Adam memutuskan hubungan dengan Vanya.

Sepertinya, karena dr. Adam lah, Evelyn akhirnya memutuskan meneruskan pendidikan spesialis bedah jantung.

"Serius Evelyn pindah ke bedah Umum?"

"Hm,," Jawab Siska mengangguk.

"Mulai kapan?" tanya Vanya lemas, merasa tidak nyaman mendengar saingannya itu akan bergabung dengan mereka.

"Besok."

"APA!" Vanya memuntahkan roti yang sudah sempat ia kunyah.

"Apa sih yang nggak mungkin buat dia, apalagi om nya itu dr. Gunawan, Kepala Depertemen Bedah, tinggal pindah Divisi malam ini juga, selesai."

Vanya tersedak, batuknya mereda perlahan namun rasa panas di dadanya justru semakin membara. Siska dengan sigap menyodorkan botol air mineral yang langsung ditegak Vanya sampai habis.

​"Besok?" ulang Vanya, suaranya naik satu oktav. "Dia benar-benar menggunakan status 'keponakan' Dr. Gunawan untuk mengejar dr. Devan ke bedah umum?"

Siska menganggukkan kepalanya kuat-kuat."Jadi, saran gue, mending lo mundur sebelum Evelyn bikin lo malu di depan dr. Devan. Lo tahu sendiri gimana kecerdasan Evelyn, cukup mengagumkan. Baru tiga bulan, tapi sudah menjadi residen kesayangan dokter spesialis bedah jantung."

​Vanya terdiam. Jemarinya meremas botol plastik yang sudah kosong hingga menimbulkan suara gemeretak yang nyaring di ruang residen yang sepi. Pikirannya melayang pada masa Koas mereka dulu, saat Evelyn merebut perhatian kekasihnya dan menghancurkan hubungan Vanya dengan Adam. Ya, Evelyn memang calon dokter yang cerdas. Tapi bagi Vanya, menjadi dokter bukan hanya harus cerdas, tapi juga memiliki hati seluas samudra untuk mengabdi pada masyarakat, dan Vanya tidak menemukan itu dalam diri Evelyn yang sombong dan angkuh.

"Kali ini nggak akan gue biarkan dia menang." Desis Vanya pelan. Matanya berkilat tajam.

​"Van, lo denger nggak sih? dr. Devan itu bukan dokter biasa. Dia itu 'tembok raksasa'! Gue dengar Evelyn ditolak mentah-mentah sama dr. Devan. Kalau Evelyn yang secantik model itu aja ditolak, apalagi lo yang cuma remah-remah kerupuk begini?"

​Vanya berdiri, merapikan jas putihnya yang sedikit kusut. "Justru itu poinnya, Sis. Evelyn memang cerdas, tapi ia lebih memilih menggunakan koneksi Om nya. Dia menganggap bisa mendapatkan dr. Devan semudah itu. Tapi gue..." Vanya menggantung kalimatnya, mencoba mencari kelebihan dirinya yang bisa menandingi Evelyn, yang ternyata tidak ada. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

Siska tertawa nyaring melihat Vanya yang tidak memiliki kelebihan untuk menyaingi Evelyn. Walau ia mengakui Vanya memiliki wajah cantik yang sebanding dengan Evelyn.

Reaksi Siska membuat Vanya cemberut. Baru saja ia hendak melangkah keluar meninggalkan Siska, interkom di dinding ruang residen berbunyi nyaring.

​"Panggilan untuk Dokter Residen Vanya, segera menghadap dr. Devan Alaric di Ruang Konsulen Bedah Umum sekarang juga."

​Siska berjengit. "Mampus. Panjang umur, baru diomongin udah dipanggil. Feeling gue nggak enak, Van. Jangan-jangan dia mau marah soal laporan Lo?"

​Vanya menarik napas panjang, mencoba menormalkan detak jantungnya yang tiba-tiba berpacu liar. Ia tidak takut pada amukan Devan, tapi dia merasa ini adalah saat yang tepat untuk membuktikan dirinya memiliki kemampuan sebelum Evelyn muncul besok pagi.

​"Doakan gue semoga laporan Gue nggak ada yang salah, Sis," ucap Vanya sambil melangkah mantap menuju pintu.

​Koridor menuju ruang konsulen terasa lebih panjang dari biasanya. Sesampainya di depan pintu kayu ek gelap itu, Vanya mengetuk tiga kali.

​"Masuk."

​Suara bariton Devan terdengar dingin dan berwibawa. Vanya membuka pintu. Di sana, Devan sedang duduk di balik meja besarnya, kacamata bertulang hitam bertengger di hidung mancungnya. Di hadapannya, terdapat sebuah berkas yang Vanya kenali sebagai laporan operasi kemarin.

​"Duduk, Vanya," perintah Devan tanpa mengalihkan pandangan dari kertas di tangannya.

​Vanya duduk dengan punggung tegak, mencoba mengabaikan aroma kopi dan parfum maskulin yang memenuhi ruangan Devan. Keheningan di antara mereka terasa seperti senar gitar yang ditarik terlalu kencang, siap putus kapan saja.

​"Laporanmu," Devan akhirnya bersuara, menggeser map biru itu ke arah Vanya dengan ujung jarinya yang panjang.

​Vanya melirik sekilas. Ia yakin sudah mengerjakannya semalaman tanpa cela. "Ada masalah, Dok?"

​"Masalah?" Devan menyandarkan punggung ke kursi kebesarannya, menatap Vanya dengan tatapan merendahkan seperti biasa. "Kamu menulis bahwa kita melakukan penjahitan pada arteri mesenterika inferior di menit ke 45."

​Vanya mengernyit, mencoba mengingat. "Benar, Dok. Sesuai dengan yang saya lihat di lapangan."

​"Itulah masalahnya, Vanya. Kamu hanya 'melihat', tapi tidak 'memahami'." Devan memajukan tubuhnya, tatapan mata coklat itu membuat jantung Vanya berdebar dua kali lipat. Karena rasa takut sekaligus terpesona. Sepertinya tuhan sedang berbaik hati saat menciptakan mahkluk setampan ini ke dunia, pikir Vanya menelan salivanya dengan susah payah.

"Tekanan darah pasien sempat turun drastis di menit ke 40. Penjahitan itu bukan sekadar tindakan biasa, itu adalah keputusan darurat karena pendarahan balik. Kamu sama sekali tidak mencantumkan alasan klinis kenapa kita memilih teknik continuous suture daripada interrupted pada jaringan yang serapuh itu."

​Vanya terdiam. Ia baru menyadari celah kecil namun fatal dalam analisisnya.

​"Laporan bedah bukan buku harian tentang apa yang kamu tonton, Residen. Ini adalah dokumen hukum," desis Devan. Ia mengambil pulpen dan memberikan lingkaran merah besar pada satu paragraf laporan Vanya. "Satu kelalaian kecil dalam dokumentasi seperti ini bisa menghancurkan kariermu di meja hijau jika pasien mengalami komplikasi. Kamu mengerti?"

​"Saya mengerti, Dok. Saya akan segera memperbaikinya," jawab Vanya, suaranya tetap stabil meski jantungnya berpacu.

​"Perbaiki dalam satu jam. Jika lewat satu menit saja, saya akan suspend jadwal kamu dalam ruang operasi." Devan kembali menatap layar monitornya, tanda bahwa percakapan telah berakhir.

Vanya bangkit berdiri, " Saya permisi, dok." Ucapnya melirik takut ke wajah Devan yang tegang dan fokus pada layar monitor, tidak menghiraukan Vanya yang berlalu menuju pintu.

​Namun, sebelum Vanya mencapai pintu, suara Devan kembali menghentikannya.

​"Dan satu lagi," ucap Devan tanpa menoleh. "Residen Evelyn akan bergabung di divisi ini besok. Jika kamu tidak bisa lebih baik darinya, sebaiknya kamu mengemas barang-barangmu sekarang sebelum dia melakukannya untukmu."

​Vanya mematung. Tangannya mengepal di gagang pintu. Bukan amukan Devan yang membuatnya terdiam, melainkan fakta bahwa Devan mengakui kemampuan Evelyn yang terdengar jauh lebih baik daripada dirinya.

​"Saya akan mengerjakan tugas dengan lebih baik, Dok," ucap Vanya kesal sebelum melangkah keluar dan menutup pintu dengan suara berdebum pelan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • ANESTESI RINDU   BAB 6 PUJIAN DI MEJA OPERASI

    Vanya mematung sejenak di depan pintu otomatis ruang bedah. Kalimat dingin Devan barusan seperti peringatan agar ia tidak tenggelam dalam kenangan masa lalu. Ia menarik napas dalam-dalam, memejamkan mata, dan membayangkan sosok Adam perlahan memudar, digantikan oleh gambaran anatomi kantung empedu yang pernah ia pelajari dari tugas yang Devan berikan saat awal kedatangannya di Rumah Sakit ini. ​"Fokus, Vanya. Fokus," bisiknya pada diri sendiri. ​Ia segera melangkah masuk ke area scrub station. Menanggalkan jas putihnya dan mengenakan seragam bedah yang berwarna biru langit dan mengikat rambut panjangnya untuk mengenakan penutup kepala. Dengan gerakan yang sudah terlatih, ia melakukan prosedur cuci tangan bedah. Air mengalir dingin membasahi lengannya, seolah membasuh sisa-sisa sentuhan Adam di pergelangan tangannya tadi. Setelah mengenakan gaun operasi steril dan sarung tangan dengan bantuan perawat, Vanya melangkah masuk ke dalam ruang operasi yang dingin dan terang benderang. ​

  • ANESTESI RINDU   BAB 5 MASA LALU YANG KEMBALI

    Pintu ruangan Devan diketuk dua kali sebelum akhirnya terbuka perlahan. Sosok Evelyn muncul dengan senyum menawan yang menjadi ciri khasnya. Ia membawa dua cup kopi dari kafe di lobi rumah sakit. ​"Dokter Devan? Masih sibuk?" tanya Evelyn dengan nada suara yang lembut namun terdengar percaya diri. Ia melangkah masuk tanpa menunggu jawaban, lalu meletakkan salah satu cup kopi di atas meja kerja Devan, tepat di samping map biru milik Vanya. ​Devan menutup laci mejanya, menyembunyikan tumpukan notes Vanya dari pandangan Evelyn. "Terima kasih, Evelyn. Ada perlu apa?" ​"Hanya ingin mengantarkan ini. Dan... aku ingin meminta maaf soal di ruang operasi tadi. Aku perlu menyesuaikan diri karena perubahan bidang bedah yang aku ambil," ujar Evelyn menyandarkan pinggulnya di tepi meja Devan, merasa percaya diri bisa sedekat ini dengan sang dokter spesialis. ​Mata Devan beralih dari kopi ke wajah Evelyn. "Di ruang operasi, gangguan sekecil apa pun bisa berakibat fatal. Aku harap itu tidak

  • ANESTESI RINDU   BAB 4 SECARIK KERTAS KECIL

    Vanya terduduk lemas di meja Nurse station IGD. Pikirannya melayang ke kamar operasi nomor tiga. Devan dan Evelyn sedang bersama saat ini, Devan pasti akan terkagum-kagum dengan kepintaran Evelyn di ruang operasi. Di masa koas setahun yang lalu, dokter spesialis jantung yang tampan, sempat mengisi ruang hati dan hidup Vanya. Hubungan mereka baik-baik saja, sampai kedatangan Evelyn setelah tiga bulan Vanya menjalani koas, membuat semua impian Vanya hancur berantakan. Kecerdasan dan kecantikan Evelyn mampu merebut hati Adam dari Vanya dan mereka menjalin hubungan di belakangnya. Vanya sempat stres dan merasa dikhianati teramat dalam, membuat gadis itu dirawat di Rumah Sakit karena dehidrasi berat dan asam lambung akut. Penyakit yang tiba-tiba singgah di tubuhnya karena Vanya memilih mengurung diri di kamar tanpa makan dan minum selama tiga hari lamanya demi melupakan bayangan Adam dalam hati dan pikirannya. Lalu kenapa sekarang Evelyn mendekati dr. devan? Pikir Vanya, Apa hubungan

  • ANESTESI RINDU   BAB 3 SENYUM PUAS EVELYN

    Pagi itu, udara di lorong Departemen Bedah terasa lebih berat bagi Vanya. Ia hanya tidur tiga jam demi merombak total laporannya hingga detail terkecil. Semalam tepat satu jam kurang delapan menit, Vanya berlari menyusuri lorong menuju kantor Devan untuk menyerahkan laporannya sebelum waktu yang ditentukan. Tapi, laporan itu masih belum memuaskan Devan. Ia memberi satu kali lagi kesempatan pada Vanya agar memperbaikinya dan pagi ini laporan revisi itu sudah harus diterima setelah selesai acara perkenalan Evelyn, di ruangan Dr. Gunawan. "Kan gue udah bilang, perhatiin detailnya. Kita kan udah tiga bulan bareng dr. Devan." Siska yang terlihat lebih segar menopang lengan Vanya yang kurang tidur. "Ya gimana dong, Sis, ini operasi pertama gue, di ruang operasi gue ngga bisa fokus, dr. Devan ganteng banget." Ucap Vanya menyebalkan. Membuat Siska melepaskan pegangannya, dan Vanya terduduk lemas di lantai. "Siskaa!!" teriak Vanya kesal. Saat itulah, aroma parfum bunga yang sangat maha

  • ANESTESI RINDU   BAB 2 KEPONAKAN KEPALA DEPARTEMEN

    "Lo Gila, Van! kalau suka sama cowok itu yang selevelan sama kita aja bisa ngga?" Siska mencoba membuka pikiran dan mata hati Vanya yang menurut dia sudah tertutup kehaluan untuk bisa memiliki dr. Devan yang ketampanan dan kejeniusannya di atas rata-rata. "dr. Devan kan dokter spesialis bedah. Gue calon dokter spesialis bedah, yang Lo bilang ngga level tu di mana?" Vanya mengunyah roti untuk mengganjal perutnya di shift malam ini. Siska melebarkan kedua bola matanya tak percaya. Ia menjitak kepala Vanya yang keras kepala. "Sakit!" protes Vanya mengusap kepalanya. "Apa perlu Gue siram air sekalian biar lo sadar dan nggak kebanyakan halu!" Ujar Siska menyipitkan matanya kearah Vanya. " Emang Lo nggak denger, kenapa dia sampai menjaga jarak sama semua wanita?" Vanya menganggukkan kepalanya. Desas desus itu memang sudah dia dengar sejak menginjakkan kaki di Rumah Sakit ini sebagai seorang Residen. Saat sesi perkenalan, Vanya sudah terpaku dengan ketampanan Devan selaku Dokter M

  • ANESTESI RINDU   BAB 1 PROYEK BEDAH HATI

    ​"Skalpel."​Hanya satu kata yang meluncur dari bibir Devan, namun mampu membekukan seluruh isi ruang operasi nomor tiga. Suara monitor vital sign menjadi satu-satunya tanda kehidupan di ruangan yang suhunya disetel sangat rendah itu.​Vanya menahan napas di balik masker bedahnya. Matanya terpaku pada tangan suster bedah di seberang meja yang sedikit gemetar saat menyerahkan pisau tajam itu ke telapak tangan Devan yang terbungkus sarung tangan lateks.​Devan memang tidak membentak, tapi aura dingin dan tatapan tajam yang dia tunjukkan justru jauh lebih menakutkan daripada amukan kepala departemen mana pun di Rumah Sakit ini.Di bawah sorot lampu operasi yang menyilaukan, pria itu bekerja dengan gerakan yang mengerikan. Cepat, bersih, dan tanpa keraguan sedikit pun. Jemarinya menari lincah di antara jaringan dan darah, seolah-olah dia sedang memperbaiki mesin jam tangan mewah, bukan sedang menangani pendarahan arteri manusia yang sekarat."Terjadi pendarahan cukup banyak di arteri mese

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status