LOGIN"Lo Gila, Van! kalau suka sama cowok itu yang selevelan sama kita aja bisa ngga?" Siska mencoba membuka pikiran dan mata hati Vanya yang menurut dia sudah tertutup kehaluan untuk bisa memiliki dr. Devan yang ketampanan dan kejeniusannya di atas rata-rata.
"dr. Devan kan dokter spesialis bedah. Gue calon dokter spesialis bedah, yang Lo bilang ngga level tu di mana?" Vanya mengunyah roti untuk mengganjal perutnya di shift malam ini. Siska melebarkan kedua bola matanya tak percaya. Ia menjitak kepala Vanya yang keras kepala. "Sakit!" protes Vanya mengusap kepalanya. "Apa perlu Gue siram air sekalian biar lo sadar dan nggak kebanyakan halu!" Ujar Siska menyipitkan matanya kearah Vanya. " Emang Lo nggak denger, kenapa dia sampai menjaga jarak sama semua wanita?" Vanya menganggukkan kepalanya. Desas desus itu memang sudah dia dengar sejak menginjakkan kaki di Rumah Sakit ini sebagai seorang Residen. Saat sesi perkenalan, Vanya sudah terpaku dengan ketampanan Devan selaku Dokter Mentor spesialis bedah umum yang memasuki aula bersama Kepala Departemen Bedah dan Kepala Instalasi Gawat Darurat. Bukan hanya Vanya, tapi beberapa Residen wanita dari berbagai bidang ilmu bedah berbisik kagum melihat kehadiran Devan di tengah-tengah mereka. Melirik dengan tatapan iri kearah Vanya dan Siska sebagai Residen Bedah umum karena mendapatkan mentor dr. Devan yang sangat tampan. "Gue tahu kok trauma masa lalu sulit dihilangkan, tapi setelah mengetahui penyebabnya, gue pikir akan lebih mudah untuk diobati." Siska menggelengkan kepalanya, tidak tahu lagi harus berbuat apa untuk bisa menyadarkan sahabatnya. "Lo harus tau!Evelyn, Residen Bedah Jantung, dia mengajukan pindah bidang ke bedah umum untuk bisa dimentori dr. Devan. Gadis cantik dan kaya raya itu beruntung memiliki otak yang cerdas untuk bisa menjadi seorang dokter spesialis. Dia salah satu saingan lo, Van!udah cantik, cerdas, dan keponakan dari Kepala Departemen Bedah, dr. Gunawan.." Vanya yang belum mendengar berita tentang Evelyn menatap tidak suka mendengar informasi itu. Vanya sangat tidak menyukai Evelyn sejak mereka sama-sama Koas di Rumah Sakit yang sama. Saat itu, Evelyn menyukai dokter spesialis jantung yang praktek di sana. Karena kecantikan dan kekayaan nya, Evelyn berhasil merebut hati dokter spesialis itu, yang adalah kekasih Vanya. Menjadi orang ketiga dalam hubungannya dengan Adam dan membuat Adam memutuskan hubungan dengan Vanya. Sepertinya, karena dr. Adam lah, Evelyn akhirnya memutuskan meneruskan pendidikan spesialis bedah jantung. "Serius Evelyn pindah ke bedah Umum?" "Hm,," Jawab Siska mengangguk. "Mulai kapan?" tanya Vanya lemas, merasa tidak nyaman mendengar saingannya itu akan bergabung dengan mereka. "Besok." "APA!" Vanya memuntahkan roti yang sudah sempat ia kunyah. "Apa sih yang nggak mungkin buat dia, apalagi om nya itu dr. Gunawan, Kepala Depertemen Bedah, tinggal pindah Divisi malam ini juga, selesai." Vanya tersedak, batuknya mereda perlahan namun rasa panas di dadanya justru semakin membara. Siska dengan sigap menyodorkan botol air mineral yang langsung ditegak Vanya sampai habis. "Besok?" ulang Vanya, suaranya naik satu oktav. "Dia benar-benar menggunakan status 'keponakan' Dr. Gunawan untuk mengejar dr. Devan ke bedah umum?" Siska menganggukkan kepalanya kuat-kuat."Jadi, saran gue, mending lo mundur sebelum Evelyn bikin lo malu di depan dr. Devan. Lo tahu sendiri gimana kecerdasan Evelyn, cukup mengagumkan. Baru tiga bulan, tapi sudah menjadi residen kesayangan dokter spesialis bedah jantung." Vanya terdiam. Jemarinya meremas botol plastik yang sudah kosong hingga menimbulkan suara gemeretak yang nyaring di ruang residen yang sepi. Pikirannya melayang pada masa Koas mereka dulu, saat Evelyn merebut perhatian kekasihnya dan menghancurkan hubungan Vanya dengan Adam. Ya, Evelyn memang calon dokter yang cerdas. Tapi bagi Vanya, menjadi dokter bukan hanya harus cerdas, tapi juga memiliki hati seluas samudra untuk mengabdi pada masyarakat, dan Vanya tidak menemukan itu dalam diri Evelyn yang sombong dan angkuh. "Kali ini nggak akan gue biarkan dia menang." Desis Vanya pelan. Matanya berkilat tajam. "Van, lo denger nggak sih? dr. Devan itu bukan dokter biasa. Dia itu 'tembok raksasa'! Gue dengar Evelyn ditolak mentah-mentah sama dr. Devan. Kalau Evelyn yang secantik model itu aja ditolak, apalagi lo yang cuma remah-remah kerupuk begini?" Vanya berdiri, merapikan jas putihnya yang sedikit kusut. "Justru itu poinnya, Sis. Evelyn memang cerdas, tapi ia lebih memilih menggunakan koneksi Om nya. Dia menganggap bisa mendapatkan dr. Devan semudah itu. Tapi gue..." Vanya menggantung kalimatnya, mencoba mencari kelebihan dirinya yang bisa menandingi Evelyn, yang ternyata tidak ada. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Siska tertawa nyaring melihat Vanya yang tidak memiliki kelebihan untuk menyaingi Evelyn. Walau ia mengakui Vanya memiliki wajah cantik yang sebanding dengan Evelyn. Reaksi Siska membuat Vanya cemberut. Baru saja ia hendak melangkah keluar meninggalkan Siska, interkom di dinding ruang residen berbunyi nyaring. "Panggilan untuk Dokter Residen Vanya, segera menghadap dr. Devan Alaric di Ruang Konsulen Bedah Umum sekarang juga." Siska berjengit. "Mampus. Panjang umur, baru diomongin udah dipanggil. Feeling gue nggak enak, Van. Jangan-jangan dia mau marah soal laporan Lo?" Vanya menarik napas panjang, mencoba menormalkan detak jantungnya yang tiba-tiba berpacu liar. Ia tidak takut pada amukan Devan, tapi dia merasa ini adalah saat yang tepat untuk membuktikan dirinya memiliki kemampuan sebelum Evelyn muncul besok pagi. "Doakan gue semoga laporan Gue nggak ada yang salah, Sis," ucap Vanya sambil melangkah mantap menuju pintu. Koridor menuju ruang konsulen terasa lebih panjang dari biasanya. Sesampainya di depan pintu kayu ek gelap itu, Vanya mengetuk tiga kali. "Masuk." Suara bariton Devan terdengar dingin dan berwibawa. Vanya membuka pintu. Di sana, Devan sedang duduk di balik meja besarnya, kacamata bertulang hitam bertengger di hidung mancungnya. Di hadapannya, terdapat sebuah berkas yang Vanya kenali sebagai laporan operasi kemarin. "Duduk, Vanya," perintah Devan tanpa mengalihkan pandangan dari kertas di tangannya. Vanya duduk dengan punggung tegak, mencoba mengabaikan aroma kopi dan parfum maskulin yang memenuhi ruangan Devan. Keheningan di antara mereka terasa seperti senar gitar yang ditarik terlalu kencang, siap putus kapan saja. "Laporanmu," Devan akhirnya bersuara, menggeser map biru itu ke arah Vanya dengan ujung jarinya yang panjang. Vanya melirik sekilas. Ia yakin sudah mengerjakannya semalaman tanpa cela. "Ada masalah, Dok?" "Masalah?" Devan menyandarkan punggung ke kursi kebesarannya, menatap Vanya dengan tatapan merendahkan seperti biasa. "Kamu menulis bahwa kita melakukan penjahitan pada arteri mesenterika inferior di menit ke 45." Vanya mengernyit, mencoba mengingat. "Benar, Dok. Sesuai dengan yang saya lihat di lapangan." "Itulah masalahnya, Vanya. Kamu hanya 'melihat', tapi tidak 'memahami'." Devan memajukan tubuhnya, tatapan mata coklat itu membuat jantung Vanya berdebar dua kali lipat. Karena rasa takut sekaligus terpesona. Sepertinya tuhan sedang berbaik hati saat menciptakan mahkluk setampan ini ke dunia, pikir Vanya menelan salivanya dengan susah payah. "Tekanan darah pasien sempat turun drastis di menit ke 40. Penjahitan itu bukan sekadar tindakan biasa, itu adalah keputusan darurat karena pendarahan balik. Kamu sama sekali tidak mencantumkan alasan klinis kenapa kita memilih teknik continuous suture daripada interrupted pada jaringan yang serapuh itu." Vanya terdiam. Ia baru menyadari celah kecil namun fatal dalam analisisnya. "Laporan bedah bukan buku harian tentang apa yang kamu tonton, Residen. Ini adalah dokumen hukum," desis Devan. Ia mengambil pulpen dan memberikan lingkaran merah besar pada satu paragraf laporan Vanya. "Satu kelalaian kecil dalam dokumentasi seperti ini bisa menghancurkan kariermu di meja hijau jika pasien mengalami komplikasi. Kamu mengerti?" "Saya mengerti, Dok. Saya akan segera memperbaikinya," jawab Vanya, suaranya tetap stabil meski jantungnya berpacu. "Perbaiki dalam satu jam. Jika lewat satu menit saja, saya akan suspend jadwal kamu dalam ruang operasi." Devan kembali menatap layar monitornya, tanda bahwa percakapan telah berakhir. Vanya bangkit berdiri, " Saya permisi, dok." Ucapnya melirik takut ke wajah Devan yang tegang dan fokus pada layar monitor, tidak menghiraukan Vanya yang berlalu menuju pintu. Namun, sebelum Vanya mencapai pintu, suara Devan kembali menghentikannya. "Dan satu lagi," ucap Devan tanpa menoleh. "Residen Evelyn akan bergabung di divisi ini besok. Jika kamu tidak bisa lebih baik darinya, sebaiknya kamu mengemas barang-barangmu sekarang sebelum dia melakukannya untukmu." Vanya mematung. Tangannya mengepal di gagang pintu. Bukan amukan Devan yang membuatnya terdiam, melainkan fakta bahwa Devan mengakui kemampuan Evelyn yang terdengar jauh lebih baik daripada dirinya. "Saya akan mengerjakan tugas dengan lebih baik, Dok," ucap Vanya kesal sebelum melangkah keluar dan menutup pintu dengan suara berdebum pelan.Fajar menyingsing dengan warna abu-abu yang suram, seolah turut merasakan kelelahan jiwa dari penghuni kediaman Alaric. Devan terbangun dengan rasa mual yang melilit perutnya. Setiap jengkal kulitnya terasa kotor, kejadian semalam terasa seperti peristiwa yang menyesakkan paru-parunya. Semalam, tanpa sepatah kata pun pada Evelyn yang masih terlelap, ia bergegas meninggalkan apartemen Evelyn dan kembali kerumah tanpa pamit. Devan mengusap kasar wajah nya yang terlihat lelah dan berjalan cepat menuju kamar mandi untuk membasuh semua jejak yang Evelyn tinggalkan di tubuhnya. Teringat akan Vanya, Devan mengakhiri aktivitasnya di kamar mandi dan berpakaian dengan terburu-buru lalu segera melesat menuju rumah sakit tempat Vanya dirawat. Pagi ini, ia akan menemui ibu Kemuning terlebih dahulu untuk meminta persetujuan pemindahan Vanya dari sana. untung saja, jalanan pagi ini tidak terlalu buruk, membuatnya cepat tiba di rumah sakit. Setelah mendapatkan parkir untuk mobilnya yang bukan
"Aku mau kamu melupakan Vanya malam ini dan hanya melihatku," bisik Evelyn serak, gairah yang coba ia buat membuat nafas mereka beradu. Evelyn kembali mendekatkan tubuhnya, mencari sela untuk membelitkan jemarinya di tengkuk Devan. Ia memberikan kecupan-kecupan kecil di rahang dan leher Devan yang mengeras, berusaha menggoyahkan pertahanannya. Devan memejamkan mata rapat-rapat. Jantungnya berdetak cepat, bukan karena cinta, melainkan karena insting seorang laki-laki yang bertarung dengan rasa muak di dalam dadanya. Setiap sentuhan Evelyn telah berhasil membangkitkan gairahnya. Namun, sisi hatinya yang lain, kembali mengingatkan Devan akan bayangan wajah Vanya yang pucat di bangsal ICU dan menunggu pertolongannya. "Eve..." geram Devan rendah dengan mata terpejam, sebuah peringatan sekaligus tanda bahwa ia mulai kehilangan kendali atas dirinya sendiri karena gadis itu terus mencium lehernya dan meninggalkan tanda kepemilikan di sana. Evelyn menyeringai tipis di balik bahu De
"Kamu gila, Mas! Bagaimana kalau aku hamil?" Evelyn berteriak sambil mendorong kasar tubuh kekar laki-laki yang masih berada tepat di atasnya. Napasnya memburu, karena kepanikan yang tiba-tiba menyergap setelah gairah yang baru saja tercipta. "Kenapa waktu itu kamu tidak menikah denganku saja, Eve? Aku benar-benar mencintaimu," sahut laki-laki itu dengan suara serak, matanya menatap Evelyn dengan pemujaan yang mendalam. "Sinting!" Evelyn mendesis, segera meraih pakaian miliknya yang berserakan di lantai marmer apartemen mewah itu. "Lebih baik kamu pergi sekarang. Sebentar lagi tunanganku akan datang, dan aku tidak mau dia melihatmu di sini!" Laki-laki itu bangkit, menatap punggung cantik Evelyn dengan kilat amarah di matanya. Dengan gerak gontai, ia memungut kemejanya yang tergeletak di lantai, lalu melangkah mendekati Evelyn yang sedang sibuk merapikan diri di depan cermin besar. "Apa lagi? Cepat pergi sekarang!" bentak Evelyn tanpa menoleh. Bukannya melangkah pergi, la
"Benar-benar memalukan! Kamu dan kakakmu bersekongkol untuk mempermalukan Papa dan Mama di depan keluarga Harrington!" Teriakan Frans menggema, memecah keheningan ruang kerja kediaman Alaric yang luas. Devan dan Aurel hanya bisa terdiam, tertunduk menerima amukan sang ayah malam ini. "Siapa sebenarnya gadis itu?! Sampai kalian berdua bekerja sama hanya untuk menolongnya?" Mata Frans berkilat tajam, tertuju lurus pada Devan. "Jawab, Devan!" bentaknya sambil memukul meja kerja dengan keras. Suara hantaman itu membuat Devan tersentak, namun ia perlahan mengangkat kepalanya, menatap wajah murka Frans yang duduk di kursi kebesarannya. Devan hanya menatap dingin sang ayah. Bibirnya terkatup rapat seolah terkunci, namun deru napasnya yang naik-turun menandakan ia sedang berjuang hebat mengatur gejolak emosi di dadanya. "Apa dia itu 'Rossa' kedua? Gadis miskin itu kekasihmu, hah?" desak Frans sinis, tak sabar karena Devan terus bungkam. Mendengar hinaan yang keluar dari mulut papany
"Dokter Devan, saya mau mengucapkan terima kasih untuk semuanya." Ucap ibu Kemuning lembut saat Aurel dan Devan membawanya ke kantin rumah sakit agar Kemuning bisa sedikit saja mengisi perutnya setelah beberapa jam menegangkan di ruang ICU. "Sama-sama bu Kemuning. Ini sudah menjadi kewajiban saya." Jawab Devan tertunduk sambil menikmati teh hangat di tangannya yang terasa beku. Hilangnya memori Vanya cukup membuat hatinya membeku seakan terkena obat Anestesi rindu yang membuatnya kehilangan gadis itu. Aurel menyadari kesedihan yang Devan alami. Dengan lembut ia mengusap pelan punggung adiknya dengan penuh kasih sayang. "Devan, makanlah sedikit. Kamu belum menyentuh makananmu sejak tiba di sini," ujar Aurel lembut, suaranya penuh rasa khawatir. Ia tahu persis bahwa di balik wajah dingin adiknya, ada badai yang sedang berkecamuk. Devan hanya mengangguk samar, namun matanya tetap tertuju pada uap teh yang membubung tipis. Pikirannya melayang kembali ke bangsal nomor dua. Bayangan
Suasana hangat yang baru saja tercipta antara Devan dan Ibu Kemuning mendadak membeku. Kehadiran Evelyn di ambang pintu ICU bagaikan badai yang menghempas ketenangan ruangan yang steril itu. Dengan langkah yang angkuh dan sepatu hak tinggi yang berbunyi tajam di atas lantai, Evelyn mendekat, menatap ke arah ranjang Vanya. "Keluar, Evelyn. Ini ruang ICU," desis Devan, suaranya penuh penekanan. Evelyn tertawa hambar, sebuah suara yang terdengar sumbang di tengah bunyi mesin pemantau jantung. "Aku datang hanya ingin mengingatkan fakta. Surat pemindahan tugasmu ke Wellness Hospital sudah ditandatangani Papa. Secara administratif, kamu tidak punya hak akses di sini, apalagi menangani pasien." Vanya, yang masih dalam kondisi bingung dan lemah, tampak semakin ketakutan. Ia mencengkeram pinggiran selimutnya, matanya bergerak gelisah menatap Evelyn yang tampak sangat membencinya meski ia sendiri tidak tahu mengapa. Bunyi beep pada monitor jantung Vanya mulai bereaksi, menandakan detak ja







