بيت / Romansa / ANESTESI RINDU / BAB 3 SENYUM PUAS EVELYN

مشاركة

BAB 3 SENYUM PUAS EVELYN

مؤلف: Yoongina
last update تاريخ النشر: 2026-01-18 12:00:48

Pagi itu, udara di lorong Departemen Bedah terasa lebih berat bagi Vanya. Ia hanya tidur tiga jam demi merombak total laporannya hingga detail terkecil. Semalam tepat satu jam kurang delapan menit, Vanya berlari menyusuri lorong menuju kantor Devan untuk menyerahkan laporannya sebelum waktu yang ditentukan. Tapi, laporan itu masih belum memuaskan Devan. Ia memberi satu kali lagi kesempatan pada Vanya agar memperbaikinya dan pagi ini laporan revisi itu sudah harus diterima setelah selesai acara perkenalan Evelyn, di ruangan Dr. Gunawan.

"Kan gue udah bilang, perhatiin detailnya. Kita kan udah tiga bulan bareng dr. Devan." Siska yang terlihat lebih segar menopang lengan Vanya yang kurang tidur.

"Ya gimana dong, Sis, ini operasi pertama gue, di ruang operasi gue ngga bisa fokus, dr. Devan ganteng banget." Ucap Vanya menyebalkan. Membuat Siska melepaskan pegangannya, dan Vanya terduduk lemas di lantai.

"Siskaa!!" teriak Vanya kesal.

Saat itulah, aroma parfum bunga yang sangat mahal, langsung menusuk indra penciuman Vanya.

​Di belakang Vanya seorang wanita berjalan anggun dengan jas putih yang sangat pas di badannya, seolah dipesan khusus dari penjahit kelas atas. Rambut cokelatnya tergerai indah, sangat tidak mencerminkan standar residen yang biasanya kucel karena jaga malam.

​"Vanya? Oh my God, lama nggak ketemu!" Evelyn berdiri angkuh di samping Vanya yang sedang terduduk di lantai. Kaki jenjangnya terlihat menjulang dan terawat. Sungguh, bentuk tubuh yang sangat sempurna.

Vanya berdiri. Tingginya yang hanya sejajar dengan telinga Evelyn membuat lehernya mendongak sedikit menatap wajah Evelyn yang sedang tersenyum remeh kepadanya dengan kedua tangan melipat di dada, mengabaikan Siska yang berdiri di samping Vanya dengan wajah masam.

​"Aku nggak nyangka kita bakal satu bidang lagi," ucap Evelyn, suaranya terdengar manis namun mengandung racun bagi Vanya. "Aku dengar dr. Devan itu mentor yang sulit. Jadi, dia pasti butuh seorang residen yang,,,yah, sedikit lebih kompeten untuk meringankan bebannya di ruang operasi."

​Vanya mengeratkan pegangan pada map laporannya, "Selamat datang di Bedah Umum, Eve. Semoga otakmu nggak tertinggal di Bedah Jantung." Sindir Vanya.

​Senyum Evelyn sedikit membeku, namun sebelum ia sempat membalas, dari jarak 50 meter, terlihat Devan berjalan tegap mendekati mereka yang akan segera melakukan pertemuan pagi ini dengan Dr. Gunawan, Kepala Departemen bedah yang menyempatkan diri untuk menyambut kedatangan Evelyn di bidang Bedah Umum.

Devan terus berjalan, melintas di sisi Vanya tanpa melirik mereka. Seolah dia tidak melihat kehadiran makhluk lain di hadapannya. Dengan tatapan dingin mengetuk pintu kantor Dr. Gunawan dan masuk kedalam.

Melihat Devan masuk, Evelyn bergegas melaju mengikutinya dan mengabaikan Vanya juga Siska yang menatap kesal.

"Sok cantik!nanti juga setelah bergabung beberapa hari, dia tidak akan sempat menata rambutnya sampai sebagus itu." Kesal Siska membantu Vanya berjalan masuk kedalam ruangan Dr. Gunawan. Vanya hanya terdiam menatap pintu ek warna coklat mengkilap, tempat evelyn menghilang beberapa detik lalu.

​"Selamat pagi, Dok." suara bariton Devan terdengar penuh wibawa menyambut jabatan tangan Dr. Gunawan yang tersenyum manis kepadanya. Karena keterampilannya yang selalu berhasil menyelamatkan banyak nyawa di ruang operasi, Devan menjadi dokter spesialis bedah umum andalan, sekaligus kepercayaan Dr. Gunawan.

​"Pagi, Dok!" Ucap para residen serempak mengikuti Devan.

​Dr. Gunawan meyalami mereka satu persatu, matanya menatap keponakannya dengan bangga sebelum beralih ke Devan. "Dokter Devan, saya percayakan Evelyn di tim Anda. Dia memiliki catatan yang sangat baik di Bedah Jantung. Saya yakin dia bisa memberikan kontribusi besar di sini."

"Tentu, dong Om. Aku yakin bisa memberikan bantuan yang maksimal di tim bedah umum." Evelyn menjawab Dr. Gunawan dengan mata yang tertuju sepenuhnya kearah Devan.

​Devan hanya mengangguk singkat, ekspresinya tidak terbaca. Matanya sempat melirik ke arah Vanya selama satu detik, sebelum beralih ke Dr. Gunawan.

"dr. Devan, aku mohon bimbingannya." Evelyn yang memilih duduk di samping Devan mencondongkan tubuhnya kedepan. Seolah ingin memperlihatkan lekuk tubuh nya yang sempurna.

Vanya yang duduk bersama Siska di seberang meja Devan dan Evelyn, menatap sinis kearah Evelyn yang selalu menggunakan keindahan tubuhnya untuk menggoda pria. Karena itu jugalah Adam tegoda.

Sesaat Vanya melirik Devan yang sedang berbicara dengan Dr. Gunawan melaporkan hasil evaluasi bedah umum dalam dua minggu terakhir ini, merasa bersyukur karena Devan sama sekali tidak tertarik dan mengabaikan Evelyn. Bahkan sedikit menggeser tubuhnya menjauhi gadis itu.

"Baik Devan, kebutuhan tambahan anggaran yang kau usulkan untuk Bedah umum tahun depan, akan aku sampaikan di rapat kerja tahunan minggu ini." Ujar Dr. Gunawan tersenyum puas dengan bahan usulan Devan.

"Kalau begitu kami permisi dulu, dok." Devan bangkit berdiri menyalami Dr Gunawan, dan berjalan keluar memimpin di depan dan diikuti ketiga Residen nya.

"Kita punya kasus Chisistektomi jam sepuluh. Dokter Evelyn, kamu akan menjadi asisten pertama. Dokter Siska, kamu asisten kedua. Vanya, kamu saya suspend untuk tidak bisa mengikuti operasi beberapa hari ini sampai laporan mu bisa saya terima dengan benar." tambah Devan menatap tajam hanya pada wajah lelah Vanya setelah mereka berada di luar kantor Dr. Gunawan.

​"Terima kasih, Dokter Devan. Saya tidak akan mengecewakan Anda," ucap Evelyn dengan nada yang dibuat sedikit manja, sambil melirik Vanya dengan tatapan kemenangan.

"Tapi, dok. Saya sudah menyelesaikannya semalaman. Dokter bilang akan mengeceknya pagi ini sebelum operasi. Tolong di lihat dulu, dok." Vanya menyodorkan map di tangannya pada Devan. Wajahnya penuh harap agar Devan mau mengeceknya terlebih dahulu sebelum mencoret namanya dari jadwal operasi.

Devan berjalan mendekat dan berdiri menjulang dihadapan Vanya, dia meraih map laporan di tangan gadis itu dan membacanya dengan perhatian penuh di halaman pertama. Tak lama, ia menghela nafas kasar dan mengembalikan laporan itu ke tangan Vanya.

"Perbaiki!" Gusar Devan memutar tubuhnya meninggalkan Vanya tanpa ada penjelasan, apa yang harus diperbaiki lagi dari laporannya.

"Apa yang salah, dok?Dokter!" teriak Vanya putus asa karena Devan sudah berjalan cepat diiringi senyum puas Evelyn dan Siska yang menatapnya iba.

​Darah Vanya seolah berhenti mengalir. Asisten pertama? Evelyn yang baru bergabung satu jam lalu langsung mendapatkan posisi utama di samping Devan, sedangkan ia?setelah tiga bulan baru diperbolehkan masuk kedalam ruang operasi. Benar-benar definisi, punya orang dalam tidur dan makanpun bisa tenang.

Vanya menatap hampa laporan di tangannya. Ia benar-benar tidak bisa mengerti jalan pikiran dr. Devan. Dokter idolanya itu telah menepati ancamannya untuk mencoret Vanya dari jadwal operasi tanpa mengecek lebih dalam laporan nya.

Vanya menghela nafas pelan dan mengusap setitik air mata dari sudut matanya. Baru hari pertama, Evelyn sudah berhasil merebut posisi nya di ruang operasi.

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • ANESTESI RINDU   BAB 44 PINDAH RUMAH SAKIT

    Fajar menyingsing dengan warna abu-abu yang suram, seolah turut merasakan kelelahan jiwa dari penghuni kediaman Alaric. Devan terbangun dengan rasa mual yang melilit perutnya. Setiap jengkal kulitnya terasa kotor, kejadian semalam terasa seperti peristiwa yang menyesakkan paru-parunya. Semalam, ​tanpa sepatah kata pun pada Evelyn yang masih terlelap, ia bergegas meninggalkan apartemen Evelyn dan kembali kerumah tanpa pamit. Devan mengusap kasar wajah nya yang terlihat lelah dan berjalan cepat menuju kamar mandi untuk membasuh semua jejak yang Evelyn tinggalkan di tubuhnya. Teringat akan Vanya, Devan mengakhiri aktivitasnya di kamar mandi dan berpakaian dengan terburu-buru lalu segera melesat menuju rumah sakit tempat Vanya dirawat. Pagi ini, ia akan menemui ibu Kemuning terlebih dahulu untuk meminta persetujuan pemindahan Vanya dari sana. untung saja, jalanan pagi ini tidak terlalu buruk, membuatnya cepat tiba di rumah sakit. Setelah mendapatkan parkir untuk mobilnya yang bukan

  • ANESTESI RINDU   BAB 43 RAGA YANG TERBELENGGU

    "Aku mau kamu melupakan Vanya malam ini dan hanya melihatku," bisik Evelyn serak, gairah yang coba ia buat membuat nafas mereka beradu. ​Evelyn kembali mendekatkan tubuhnya, mencari sela untuk membelitkan jemarinya di tengkuk Devan. Ia memberikan kecupan-kecupan kecil di rahang dan leher Devan yang mengeras, berusaha menggoyahkan pertahanannya. ​Devan memejamkan mata rapat-rapat. Jantungnya berdetak cepat, bukan karena cinta, melainkan karena insting seorang laki-laki yang bertarung dengan rasa muak di dalam dadanya. Setiap sentuhan Evelyn telah berhasil membangkitkan gairahnya. Namun, sisi hatinya yang lain, kembali mengingatkan Devan akan bayangan wajah Vanya yang pucat di bangsal ICU dan menunggu pertolongannya. ​"Eve..." geram Devan rendah dengan mata terpejam, sebuah peringatan sekaligus tanda bahwa ia mulai kehilangan kendali atas dirinya sendiri karena gadis itu terus mencium lehernya dan meninggalkan tanda kepemilikan di sana. ​Evelyn menyeringai tipis di balik bahu De

  • ANESTESI RINDU   BAB 42 MENJATUHKAN HARGA DIRI

    "Kamu gila, Mas! Bagaimana kalau aku hamil?" Evelyn berteriak sambil mendorong kasar tubuh kekar laki-laki yang masih berada tepat di atasnya. Napasnya memburu, karena kepanikan yang tiba-tiba menyergap setelah gairah yang baru saja tercipta. ​"Kenapa waktu itu kamu tidak menikah denganku saja, Eve? Aku benar-benar mencintaimu," sahut laki-laki itu dengan suara serak, matanya menatap Evelyn dengan pemujaan yang mendalam. ​"Sinting!" Evelyn mendesis, segera meraih pakaian miliknya yang berserakan di lantai marmer apartemen mewah itu. "Lebih baik kamu pergi sekarang. Sebentar lagi tunanganku akan datang, dan aku tidak mau dia melihatmu di sini!" ​Laki-laki itu bangkit, menatap punggung cantik Evelyn dengan kilat amarah di matanya. Dengan gerak gontai, ia memungut kemejanya yang tergeletak di lantai, lalu melangkah mendekati Evelyn yang sedang sibuk merapikan diri di depan cermin besar. ​"Apa lagi? Cepat pergi sekarang!" bentak Evelyn tanpa menoleh. ​Bukannya melangkah pergi, la

  • ANESTESI RINDU   BAB 41 HARGA SEBUAH PENGORBANAN

    "Benar-benar memalukan! Kamu dan kakakmu bersekongkol untuk mempermalukan Papa dan Mama di depan keluarga Harrington!" Teriakan Frans menggema, memecah keheningan ruang kerja kediaman Alaric yang luas. Devan dan Aurel hanya bisa terdiam, tertunduk menerima amukan sang ayah malam ini. ​"Siapa sebenarnya gadis itu?! Sampai kalian berdua bekerja sama hanya untuk menolongnya?" Mata Frans berkilat tajam, tertuju lurus pada Devan. ​"Jawab, Devan!" bentaknya sambil memukul meja kerja dengan keras. Suara hantaman itu membuat Devan tersentak, namun ia perlahan mengangkat kepalanya, menatap wajah murka Frans yang duduk di kursi kebesarannya. ​Devan hanya menatap dingin sang ayah. Bibirnya terkatup rapat seolah terkunci, namun deru napasnya yang naik-turun menandakan ia sedang berjuang hebat mengatur gejolak emosi di dadanya. ​"Apa dia itu 'Rossa' kedua? Gadis miskin itu kekasihmu, hah?" desak Frans sinis, tak sabar karena Devan terus bungkam. ​Mendengar hinaan yang keluar dari mulut papany

  • ANESTESI RINDU   BAB 40 KEMUNING DAN KETAKUTANNYA

    "Dokter Devan, saya mau mengucapkan terima kasih untuk semuanya." Ucap ibu Kemuning lembut saat Aurel dan Devan membawanya ke kantin rumah sakit agar Kemuning bisa sedikit saja mengisi perutnya setelah beberapa jam menegangkan di ruang ICU. "Sama-sama bu Kemuning. Ini sudah menjadi kewajiban saya." Jawab Devan tertunduk sambil menikmati teh hangat di tangannya yang terasa beku. Hilangnya memori Vanya cukup membuat hatinya membeku seakan terkena obat Anestesi rindu yang membuatnya kehilangan gadis itu. Aurel menyadari kesedihan yang Devan alami. Dengan lembut ia mengusap pelan punggung adiknya dengan penuh kasih sayang. "Devan, makanlah sedikit. Kamu belum menyentuh makananmu sejak tiba di sini," ujar Aurel lembut, suaranya penuh rasa khawatir. Ia tahu persis bahwa di balik wajah dingin adiknya, ada badai yang sedang berkecamuk. ​Devan hanya mengangguk samar, namun matanya tetap tertuju pada uap teh yang membubung tipis. Pikirannya melayang kembali ke bangsal nomor dua. Bayangan

  • ANESTESI RINDU   BAB 39 AKU MERINDUKANMU

    Suasana hangat yang baru saja tercipta antara Devan dan Ibu Kemuning mendadak membeku. Kehadiran Evelyn di ambang pintu ICU bagaikan badai yang menghempas ketenangan ruangan yang steril itu. Dengan langkah yang angkuh dan sepatu hak tinggi yang berbunyi tajam di atas lantai, Evelyn mendekat, menatap ke arah ranjang Vanya. ​"Keluar, Evelyn. Ini ruang ICU," desis Devan, suaranya penuh penekanan. ​Evelyn tertawa hambar, sebuah suara yang terdengar sumbang di tengah bunyi mesin pemantau jantung. "Aku datang hanya ingin mengingatkan fakta. Surat pemindahan tugasmu ke Wellness Hospital sudah ditandatangani Papa. Secara administratif, kamu tidak punya hak akses di sini, apalagi menangani pasien." ​Vanya, yang masih dalam kondisi bingung dan lemah, tampak semakin ketakutan. Ia mencengkeram pinggiran selimutnya, matanya bergerak gelisah menatap Evelyn yang tampak sangat membencinya meski ia sendiri tidak tahu mengapa. Bunyi beep pada monitor jantung Vanya mulai bereaksi, menandakan detak ja

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status