MasukPagi itu, udara di lorong Departemen Bedah terasa lebih berat bagi Vanya. Ia hanya tidur tiga jam demi merombak total laporannya hingga detail terkecil. Semalam tepat satu jam kurang delapan menit, Vanya berlari menyusuri lorong menuju kantor Devan untuk menyerahkan laporannya sebelum waktu yang ditentukan. Tapi, laporan itu masih belum memuaskan Devan. Ia memberi satu kali lagi kesempatan pada Vanya agar memperbaikinya dan pagi ini laporan revisi itu sudah harus diterima setelah selesai acara perkenalan Evelyn, di ruangan Dr. Gunawan.
"Kan gue udah bilang, perhatiin detailnya. Kita kan udah tiga bulan bareng dr. Devan. Masa lo belum bisa paham kemauan dia tentang isi laporan." Siska yang terlihat lebih segar menopang lengan Vanya yang kurang tidur. "Ya gimana dong, Sis, ini operasi pertama gue, di ruang operasi gue ngga bisa fokus, dr. Devan ganteng banget." Ucap Vanya menyebalkan. Membuat Siska melepaskan pegangannya, dan Vanya terduduk lemas di lantai. "Siskaa!!" teriak Vanya kesal. Saat itulah, aroma parfum bunga yang sangat mahal, langsung menusuk indra penciuman Vanya. Di belakang Vanya seorang wanita berjalan anggun dengan jas putih yang sangat pas di badannya, seolah dipesan khusus dari penjahit kelas atas. Rambut cokelatnya tergerai indah, sangat tidak mencerminkan standar residen yang biasanya kucel karena jaga malam. "Vanya? Oh my God, lama nggak ketemu!" Evelyn berdiri angkuh di samping Vanya yang sedang terduduk di lantai. Kaki jenjangnya terlihat menjulang dan terawat. Sungguh, bentuk tubuh yang sangat sempurna. Vanya berdiri. Tingginya yang hanya sejajar dengan telinga Evelyn membuat lehernya mendongak sedikit menatap wajah Evelyn yang sedang tersenyum remeh kepadanya dengan kedua tangan melipat di dada, mengabaikan Siska yang berdiri di samping Vanya dengan wajah masam. "Aku nggak nyangka kita bakal satu bidang lagi," ucap Evelyn, suaranya terdengar manis namun mengandung racun bagi Vanya. "Aku dengar dr. Devan itu mentor yang sulit ditaklukkan. Jadi, dia pasti butuh seorang residen yang,,,yah, sedikit lebih kompeten untuk meringankan bebannya di ruang operasi." Vanya mengeratkan pegangan pada map laporannya, "Selamat datang di Bedah Umum, Eve. Semoga otakmu nggak tertinggal di Bedah Jantung." Sindir Vanya yang mencoba mengingatkan perseteruan mereka karena Adam, dokter spesialis jantung yang telah membuang Vanya demi Evelyn. Senyum Evelyn sedikit membeku, namun sebelum ia sempat membalas, dari jarak 50 meter, terlihat Devan berjalan tegap mendekati mereka yang akan segera melakukan pertemuan pagi ini dengan Dr. Gunawan, Kepala Departemen bedah yang menyempatkan diri untuk menyambut kedatangan Evelyn di bidang Bedah Umum. Devan terus berjalan, melintas di depan mereka tanpa menoleh. Seolah dia tidak melihat kehadiran makhluk lain di hadapannya. Dengan tatapan dingin, Devan mengetuk pintu kantor Dr. Gunawan dan masuk kedalam. Melihat Devan masuk, Evelyn bergegas melaju mengikutinya dan mengabaikan Vanya juga Siska yang menatapnya kesal. "Sok cantik! Nanti juga setelah bergabung beberapa hari, dia tidak akan sempat menata rambutnya sampai sebagus itu." Kesal Siska membantu Vanya berjalan masuk kedalam ruangan Dr. Gunawan. Vanya hanya terdiam menatap pintu ek warna coklat mengkilap di hadapannya, tempat evelyn menghilang beberapa detik lalu. "Selamat pagi, Dok." suara bariton Devan terdengar penuh wibawa menyambut jabatan tangan Dr. Gunawan yang tersenyum manis kepadanya. Karena keterampilannya yang selalu berhasil menyelamatkan banyak nyawa di ruang operasi, Devan menjadi dokter spesialis bedah umum andalan, sekaligus kepercayaan Dr. Gunawan. "Pagi, Dok!" Ucap para residen serempak mengikuti Devan. Dr. Gunawan meyalami mereka satu persatu, matanya menatap keponakannya dengan bangga sebelum beralih ke Devan. "Dokter Devan, saya percayakan Evelyn di tim Anda. Dia memiliki catatan yang sangat baik di Bedah Jantung. Saya yakin dia bisa memberikan kontribusi besar di sini." "Tentu, dong Om. Aku yakin bisa memberikan bantuan yang maksimal di tim bedah umum." Evelyn menjawab Dr. Gunawan dengan mata yang tertuju sepenuhnya kearah Devan. Devan hanya mengangguk singkat, ekspresinya tidak terbaca. Matanya sempat melirik ke arah Vanya selama satu detik, sebelum beralih ke Dr. Gunawan. "dr. Devan, aku mohon bimbingannya." Evelyn yang memilih duduk di samping Devan mencondongkan tubuhnya kedepan. Seolah ingin memperlihatkan lekuk tubuh nya yang sempurna. Vanya yang duduk bersama Siska di seberang meja Devan dan Evelyn, menatap sinis kearah Evelyn yang selalu menggunakan keindahan tubuhnya untuk menggoda pria. Karena itu jugalah Adam tegoda. Sesaat Vanya melirik Devan yang sedang berbicara dengan Dr. Gunawan melaporkan hasil evaluasi bedah umum dalam dua minggu terakhir ini, merasa bersyukur karena Devan sama sekali tidak tertarik dan mengabaikan Evelyn. Bahkan sedikit menggeser tubuhnya menjauhi gadis itu. "Baik Devan, kebutuhan tambahan anggaran yang kau usulkan untuk Bedah umum tahun depan, akan aku sampaikan di rapat kerja tahunan minggu ini." Ujar Dr. Gunawan tersenyum puas dengan bahan usulan Devan. "Kalau begitu kami permisi dulu, dok." Devan bangkit berdiri menyalami Dr Gunawan, dan berjalan keluar memimpin di depan dan diikuti ketiga Residen nya. "Kita punya kasus Chisistektomi jam sepuluh. Dokter Evelyn, kamu akan menjadi asisten pertama. Dokter Siska, kamu asisten kedua. Vanya, kamu saya suspend untuk tidak bisa mengikuti operasi sampai laporan mu bisa saya terima dengan benar." tambah Devan menatap tajam wajah lelah Vanya setelah mereka berada di luar kantor Dr. Gunawan. "Terima kasih, Dokter Devan. Saya tidak akan mengecewakan Anda," ucap Evelyn dengan nada yang dibuat sedikit manja, sambil melirik Vanya dengan tatapan kemenangan. "Tapi, dok. Saya sudah menyelesaikannya semalaman. Dokter bilang akan mengeceknya pagi ini sebelum operasi. Tolong di lihat dulu, dok." Vanya menyodorkan map di tangannya pada Devan. Tangannya sedikit bergetar saat menyerahkan revisi laporannya ke hadapan devan. Wajahnya penuh harap agar Devan mau mengeceknya terlebih dahulu sebelum mencoret namanya dari jadwal operasi. Devan berjalan mendekat dan berdiri menjulang dihadapan Vanya, dia meraih map laporan di tangan gadis itu dan membacanya dengan perhatian penuh di halaman pertama. Tak lama, ia menghela nafas kasar dan mengembalikan laporan itu ke tangan Vanya. "Perbaiki!" Gusar Devan memutar tubuhnya meninggalkan Vanya tanpa ada penjelasan, apa yang harus diperbaiki lagi dari laporannya. "Apa yang salah, dok?Dokter!" teriak Vanya putus asa karena Devan sudah berjalan cepat diiringi senyum puas Evelyn dan Siska yang menatapnya iba. Darah Vanya seolah berhenti mengalir. Laporan yang susah payah ia buat, ditolak lagi bahkan dihadapan Evelyn. Dan apa tadi? Asisten pertama? Evelyn yang baru bergabung satu jam lalu langsung mendapatkan posisi utama di samping Devan, sedangkan ia?setelah tiga bulan baru diperbolehkan masuk kedalam ruang operasi. Benar-benar definisi, punya orang dalam tidur dan makanpun bisa tenang."Kalian lihat berita kemarin?" tanya salah satu perawat dengan nada berbisik namun antusias. "Istri Henry Harrington terbukti menukar anak kandungnya dengan anak kandung Tuan Henry sendiri," sahut seorang residen sambil menatap layar ponselnya. "Maksudnya... Evelyn bukan anak kandung Henry Harrington?" "Ternyata putri kandungnya itu Vanya—" "Gila! Benar-benar seperti cerita dalam sinetron, putri yang ditukar." Seorang perawat lain menimpali, "Dan ini terjadi pada teman kita sendiri. Pantas saja dr. Devan meninggalkan Evelyn. Ternyata dia lebih memilih anak kandung Harrington yang sebenarnya." "Iya, kalian benar. Itulah alasannya Mas Devan meninggalkan aku." Suara angkuh dan sinis itu mendadak terdengar dari balik punggung para residen dan perawat yang tengah asyik bergosip. Seketika, suasana IGD yang bising menjadi hening setelah kedatangan Evelyn. "Evelyn!" seru mereka hampir bersamaan. Wajah mereka pucat pasi mendapati Evelyn sudah berdiri di sana dengan tatapan tajam
Ruang sidang Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dipenuhi oleh ketegangan. Dinginnya pendingin ruangan tidak mampu meredakan hawa panas yang terpancar dari barisan kursi pengunjung. Di sisi kanan, Henry Harrington duduk dengan punggung tegak, namun guratan di wajahnya tidak bisa menyembunyikan kehancuran hatinya. Di sampingnya, Frans datang menemani Henry mengikuti persidangan Shinta dengan rahang mengeras. Di kursi pesakitan, Shinta Harrington duduk dengan kepala tertunduk. Tidak ada lagi keanggunan nyonya besar yang biasanya ia pamerkan. Dengan memakai kemeja putih dan rok hitam, kondisinya terlihat sungguh memprihatinkan. Di sayap kiri bangku pengunjung, terlihat Dr. Gunawan, adik kandung Shinta datang bersama beberapa anggota keluarga untuk memberi dukungan agar kakaknya tidak merasa sendirian. Apalagi, sejak Devan berhasil membongkar rahasia dua puluh enam tahun silam, Evelyn tidak mau lagi menemui mamanya di penjara. "Terdakwa Shinta Harrington," suara berat Hakim Ketua mem
Langkah kaki Devan yang panjang dan tergesa membuat Vanya hampir kehilangan keseimbangan saat mereka memasuki area nurse station IGD yang mulai sepi. Tanpa mempedulikan tatapan bertanya-tanya dari Siska yang masih berjaga, Devan menarik Vanya menuju ruangan residen. Vanya membuka pintu ruang residen dengan keras. Beberapa residen yang sedang beristirahat di dalam terkejut dan memandang kearah pintu. "Malam, dr. Devan," sapa beberapa residen yang melihat Devan berdiri di belakang Vanya. "Malam," sahutnya datar melanjutkan langkahnya mengikuti Vanya ke meja kerjanya yang ada di sudut ruangan. Bisikan-bisikan para residen yang melihat kebersamaan mereka terdengar mengiringi langkah Devan saat masuk kedalam. "Sttt, bukannya dr. Devan itu tunangan Evelyn ya?" "Kamu belum tahu? dr. Devan sudah mengakhiri hubungan mereka." "Yang benar?" "Ah masa? padahal sebentar lagi kabarnya mereka akan menikah." "Terus sekarang malah pacaran dengan Vanya? Apa hubungan mereka berakhir karena Vanya
"Jangan bercanda Deline. Ini masalah serius. Lagipula, aku penasaran, ada hubungan apa antara Kenan dengan kalian sampai dia mencelakai Rossa." Desis Devan dengan rahang mengeras. Deline semakin terisak seiring dengan suara detak jantung di layar monitor yang terdengar berirama cepat. Menyadarkan Devan untuk kembali pada situasi Deline saat ini. "Deline, sudah cukup. Jangan pikirkan apa-apa dulu. Jangan pikirkan hal-hal yang berat." Ucap Devan menurunkan nada suaranya. "Tapi aku takut, Mas." Lirihnya berbisik. "Jangan takut. Aku akan menjagamu di luar pintu ICU malam ini. Besok, kamu akan bergabung di kamar perawatan Tifani dan Jesi." Devan terus mencoba menenangkan Deline agar jantungnya kembali stabil. Ia terpaksa memberikan obat penenang ringan melalui aliran infus Deline. Cairan bening itu mengalir perlahan, masuk ke dalam pembuluh darah untuk meredam kepanikan yang nyaris membuat ritme jantung gadis itu kacau. "Tidur, Del. Aku di sini," bisik Devan sambil mengatur k
Suara tetesan cairan infus dan mesin pemantau tanda vital menjadi satu-satunya suara yang memecahkan kesunyian di ruang perawatan VIP nomor 103. Setelah melewati jam-jam kritis di ruang ICU pasca operasi tiga hari lalu, Tifani dan Jessi akhirnya dipindahkan ke ruang perawatan. Meski kondisi mereka sudah stabil, sisa-sisa trauma kecelakaan masih terlihat jelas pada tubuh yang kini terbalut perban dan gips itu. Tifani, wanita berambut pendek sebahu, terbaring di bed sebelah kanan, dadanya masih dibalut kencang untuk menstabilkan flail chest yang dialaminya, sementara luka trauma abdomennya menuntutnya untuk tetap dalam posisi diam, tidak boleh banyak bergerak. Di ranjang kiri, Jessi tampak lebih terjaga meski wajahnya pucat pasi. Kaki kanannya yang mengalami fraktur femur terbuka kini terpasang sistem traksi skeletal. Sebuah pin logam tipis namun kuat telah menembus bagian bawah tulang paha Jessi melalui prosedur bedah, dan di ujung pin tersebut, terikat sebuah tali nilon yang te
"Bagaimana menurutmu? Putraku meminta agar Vanya sembuh total dan benar-benar bisa menerima statusnya sebagai putri kandungmu sebelum mereka melangsungkan pernikahan. Lagipula, masalah putri pertamaku dengan suaminya pun belum menemukan titik temu." Henry meletakkan cangkir porselen mewah itu di atas tatakannya dengan denting pelan yang terdengar elegan. "Aku setuju dengan Devan," ucap Henry sambil menyandarkan punggungnya pada sofa yang empuk. "Sampai saat ini pun, aku masih tidak tahu bagaimana caranya membuat putriku mau memelukku dan memanggilku Papa," lirihnya sedih, mengusap titik air mata yang merembes di sudut matanya. Frans bergeser mendekat. Tangannya terangkat, mengusap punggung Henry dengan gerakan perlahan guna menyalurkan kekuatan bagi calon besannya itu. "Aku pun merasakannya, Henry. Melihat Aurel menderita di tangan Farel saja sudah cukup membuatku merasa gagal sebagai ayah," sahut Frans dengan suara yang berat oleh rasa bersalah. "Kita terlalu sibuk memba
Suasana hangat yang baru saja tercipta antara Devan dan Ibu Kemuning mendadak membeku. Kehadiran Evelyn di ambang pintu ICU bagaikan badai yang menghempas ketenangan ruangan yang steril itu. Dengan langkah yang angkuh dan sepatu hak tinggi yang berbunyi tajam di atas lantai, Evelyn mendekat, menata
Suara decit ban mobil yang beradu tajam dengan aspal parkiran rumah sakit memecah keheningan parkir rumah sakit siang itu. Devan keluar dari mobilnya bahkan sebelum mesin benar-benar mati sempurna. Ia mengabaikan setelan jas mahalnya yang kini tampak berantakan, satu-satunya fokus di kepalanya hanya
Suasana di dalam ruang ICU bangsal nomor dua, Vanya masih belum sadarkan diri. Bram dengan setia mematuhi perintah Devan untuk terus memantau kondisi gadis itu. Ia melangkah pelan mendekati ranjang Vanya, suara langkahnya menggema di atas lantai ICU rumah sakit yang dingin. Di ruangan itu, hanya te
"Maaf, kamu siapa, Nak?" suara lemah namun ramah itu keluar dari mulut Kemuning saat ia membuka pintu jati di depan rumahnya yang asri. "Saya Aurelia, Bu. Temannya Vanya," jawab Aurel dengan nada yang dijaga setenang mungkin. Kemuning sedikit terperanjat, matanya yang mulai sayu tampak berbinar







