تسجيل الدخولVanya terduduk lemas di meja Nurse station IGD. Pikirannya melayang ke kamar operasi nomor tiga. Devan dan Evelyn sedang bersama saat ini, Devan pasti akan terkagum-kagum dengan kepintaran Evelyn di ruang operasi.
Di masa koas setahun yang lalu, dokter spesialis jantung yang tampan, sempat mengisi ruang hati dan hidup Vanya. Hubungan mereka baik-baik saja, sampai kedatangan Evelyn setelah tiga bulan Vanya menjalani koas, membuat semua impian Vanya hancur berantakan. Kecerdasan dan kecantikan Evelyn mampu merebut hati Adam dari Vanya dan mereka menjalin hubungan di belakangnya. Vanya sempat stres dan merasa dikhianati teramat dalam, membuat gadis itu dirawat di Rumah Sakit karena dehidrasi berat dan asam lambung akut. Penyakit yang tiba-tiba singgah di tubuhnya karena Vanya memilih mengurung diri di kamar tanpa makan dan minum selama tiga hari lamanya demi melupakan bayangan Adam dalam hati dan pikirannya. Lalu kenapa sekarang Evelyn mendekati dr. devan? Pikir Vanya, Apa hubungan nya dengan dr. Adam sudah berakhir? Vanya mengusap wajahnya dengan kasar. Ia tidak ingin lagi mengingat masa lalu nya yang pahit. Mata dan otaknya sudah lelah membaca laporan berkali-kali. mencoba mencari kesalahan apa yang ia lakukan sampai Devan masih belum mau menerima laporannya dan benar-benar mencoret namanya dari jadwal operasi. Vanya fokus pada halaman pertama, karena Devan belum sempat melihat halaman berikutnya saat ia meminta Vanya memperbaiki laporan itu. "Belum pulang?" sapa seorang residen senior laki-laki yang menarik kursi di samping Vanya. Gadis itu menoleh dan tersenyum. "Belum, dok. Masih menyelesaikan laporan hasil operasi kemarin." Vanya kembali fokus pada halaman pertama lembar kertas di tangannya. Bram ikut melirik laporan di tangan Vanya, menyipitkan mata untuk memperjelas penglihatannya pada baris ketiga paragraf pertama. Ia meraih pulpen dari saku jas putihnya, namun tidak langsung mencoret, melainkan menggunakannya sebagai penunjuk. "Vanya, coba lihat bagian diagnosis pasca bedah ini," ujar Bram lembut. "Kamu menuliskan Tetralogy of Fallot dengan komplikasi pulmonari, tapi di bagian prosedur tindakan, kamu tidak mencantumkan detail ukuran shunt yang dipasang oleh Dokter Devan kemarin." Vanya tertegun. Ia mendekatkan kertas itu ke wajahnya. "Tapi Dok, saya sudah memasukkannya di bagian catatan alat kesehatan di lampiran belakang." Bram menggeleng kecil, senyum tipis menghiasi wajahnya yang tampak lelah namun tetap tenang. "dr.Devan itu perfeksionis. Dia tidak mau bolak-balik halaman. Baginya, halaman pertama adalah awal dari seluruh hasil laporan operasi. Jika ringkasan di halaman pertama tidak mampu menceritakan kronologi secara utuh, dia akan menganggap kamu tidak memahami apa yang terjadi di dalam rongga dada pasien." Bram kemudian mengambil secarik kertas kecil dan menuliskan sebuah rumus perhitungan aliran hemodinamik. "Tambahkan observasi saturasi pre dan post prosedur tepat di bawah indikasi medis. Gunakan istilah medis yang lebih spesifik untuk posisi anatomisnya. Jangan hanya tulis 'kanan', tapi gunakan right ventricular outflow tract. dr. Devan sangat menyukai istilah kedokteran yang lebih internasional. Mungkin karena beliau lulusan luar negeri." jelas Bram yang juga pernah ditunjuk Devan menjadi pembuat laporan hasil operasi yang mereka tangani di awal pendidikannya sebagai seorang residen. Vanya memperhatikan setiap coretan tangan Bram dengan saksama. Rasa sesak yang tadinya menghimpit dadanya perlahan terangkat. Sepertinya, ia terlalu fokus pada 'proyek bedah hati' nya terhadap Devan hingga melupakan detail teknis yang penting dan gaya laporan yang diinginkan Devan. "Kamu punya kemampuan, Vanya. Jangan sia-siakan itu." Ucapan Bram membuat Vanya menatapnya dengan binar harapan baru. "Terima kasih, Dokter Bram. Saya akan revisi bagian ini sekarang juga." Jari Vanya mulai menari lincah diatas keyboard laptopnya. Senyum manis terukir diwajahnya, membuat Bram menatap gadis itu dengan penuh perhatian. *** "Emang keren banget sih, Evelyn itu. Kok bisa ya, gadis manja kayak dia punya otak yang cerdas." Siska tanpa sadar mengucapkan pujian pada Evelyn mengingat kejadian di kamar operasi pagi tadi. Vanya menyeruput mie ayam di hadapannya dengan wajah masam. Siang ini setelah pulang dari Rumah Sakit, Vanya dan Siska memilih untuk makan mie ayam tak jauh dari tempat kos mereka. "Nggak usah muji-muji dia depan gue!" Siska menatap Vanya, ia teringat sesuatu, "Tapi tadi dr. Devan terlihat kesal, karena Evelyn sempat tidak fokus mengarahkan kamera di rongga pasien." Wajah Vanya kembali berseri, " Terus,,terus,,diomelin kayak gue kemarin?" Siska menggeleng tak perduli. Ia menyuap baso urat dan mengunyahnya dengan cepat, "dr. Devan hanya bilang 'Eve, tangan nya jangan gemetar', udah." "Udah?!Kok,,," Vanya merasa ini tidak adil. "Apa karena, Dr. Gunawan yang melarang dr. Devan untuk memarahi Evelyn?" kedua bola mata Siska melirik atap tenda gerobak mie ayam mencoba mencari jawaban kenapa Evelyn diperlakukan istimewa. Vanya melirik Siska yang memandang lurus keatas. Mendengar kalimat Siska, membuat hati Vanya mencelos. Ia merasa proyek bedah hatinya akan gagal karena kehadiran Evelyn di bedah umum. Ini semua terasa tidak adil. Evelyn sudah memiliki kecantikan dan kecerdasan yang tidak bisa Vanya tandingi. Keberuntungan gadis itu ditambah lagi dengan kekayaan orang tuanya yang berlimpah dan memiliki koneksi Kepala Departemen Bedah. Satu lagi, dia sudah mendapatkan dr. Adam yang juga tampan. "Kok ngga diabisin, Van?" tanya Siska melirik mangkuk Vanya yang masih penuh. "Udah ngga nafsu!" Siska tertawa puas telah membuat Vanya kesal. "Makanya, mimpinya jangan ketinggian. Kan gue udah bilang, Lo itu ngga selevel sama dr. Devan. Se kesalnya gue ngeliat Evelyn, tapi menurut gue dia lebih cocok kalau jadian sama dr. Devan." Vanya terdiam. Siska memang tidak mengetahui masa lalu Vanya dengan Evelyn di masa Koas. Karena mereka baru bersahabat tiga bulan lalu, saat sama-sama menginjakkan kaki di Rumah Sakit yang sekarang ini. Mendengar pendapat Siska, lagi-lagi membuat Vanya teringat bagaimana Evelyn dengan mudahnya merebut Adam dari sisinya. Mungkin pendapat itu ada benarnya, kalau Evelyn memiliki kelebihan yang tidak bisa ia tandingi. Saat ini target mereka berdua adalah dr. devan. yang ketampanan dan keahliannya dua kali lipat diatas dr. Adam. Kalau Adam saja bisa ia rebut dengan mudah, apalagi dr. Devan yang pasti juga memiliki kriteria tinggi seperti calon tunangannya yang telah meninggalkan dunia ini karena kecelakaan beruntun enam bulan lalu. *** Devan menyandarkan punggung sejenak di kursi kebesarannya. Setelah berjuang dalam operasi selama dua jam, ia memilih beristirahat di kantor. Ia memijat ujung pangkal hidung, mencoba memberikan sensasi nyaman di wajahnya. Sesaat kemudian, sudut mata elang itu menangkap sebuah map biru dengan catatan kecil diatasnya. 'Aku sudah memperbaikinya sebaik mungkin, semoga laporan ini sudah sesuai dengan hasil operasi kemarin'. Sebuah emot wajah tersenyum dan nama dengan tulisan terukir tersemat diakhir kalimat itu, 'VANYA'. Devan meraihnya dan mulai membaca laporan yang sudah diperbaiki Vanya untuk kesekian kalinya. Wajahnya terlihat serius membaca lembar demi lembar. Sebuah senyum tipis hampir tak terlihat, muncul di wajah tampan Devan. Ia meraih pulpen, membubuhkan tanda tangan di kolom approval dan menimpanya dengan stempel untuk mensahkan hasil laporan yang cukup membuatnya puas. Secarik kertas kecil berisi tulisan tangan Vanya, disimpannya dalam laci meja kerja bercampur dengan notes-notes lain yang sempat Vanya buat setiap kali gadis itu menyerahkan laporan dan tugasnya selama tiga bulan terakhir.Fajar menyingsing dengan warna abu-abu yang suram, seolah turut merasakan kelelahan jiwa dari penghuni kediaman Alaric. Devan terbangun dengan rasa mual yang melilit perutnya. Setiap jengkal kulitnya terasa kotor, kejadian semalam terasa seperti peristiwa yang menyesakkan paru-parunya. Semalam, tanpa sepatah kata pun pada Evelyn yang masih terlelap, ia bergegas meninggalkan apartemen Evelyn dan kembali kerumah tanpa pamit. Devan mengusap kasar wajah nya yang terlihat lelah dan berjalan cepat menuju kamar mandi untuk membasuh semua jejak yang Evelyn tinggalkan di tubuhnya. Teringat akan Vanya, Devan mengakhiri aktivitasnya di kamar mandi dan berpakaian dengan terburu-buru lalu segera melesat menuju rumah sakit tempat Vanya dirawat. Pagi ini, ia akan menemui ibu Kemuning terlebih dahulu untuk meminta persetujuan pemindahan Vanya dari sana. untung saja, jalanan pagi ini tidak terlalu buruk, membuatnya cepat tiba di rumah sakit. Setelah mendapatkan parkir untuk mobilnya yang bukan
"Aku mau kamu melupakan Vanya malam ini dan hanya melihatku," bisik Evelyn serak, gairah yang coba ia buat membuat nafas mereka beradu. Evelyn kembali mendekatkan tubuhnya, mencari sela untuk membelitkan jemarinya di tengkuk Devan. Ia memberikan kecupan-kecupan kecil di rahang dan leher Devan yang mengeras, berusaha menggoyahkan pertahanannya. Devan memejamkan mata rapat-rapat. Jantungnya berdetak cepat, bukan karena cinta, melainkan karena insting seorang laki-laki yang bertarung dengan rasa muak di dalam dadanya. Setiap sentuhan Evelyn telah berhasil membangkitkan gairahnya. Namun, sisi hatinya yang lain, kembali mengingatkan Devan akan bayangan wajah Vanya yang pucat di bangsal ICU dan menunggu pertolongannya. "Eve..." geram Devan rendah dengan mata terpejam, sebuah peringatan sekaligus tanda bahwa ia mulai kehilangan kendali atas dirinya sendiri karena gadis itu terus mencium lehernya dan meninggalkan tanda kepemilikan di sana. Evelyn menyeringai tipis di balik bahu De
"Kamu gila, Mas! Bagaimana kalau aku hamil?" Evelyn berteriak sambil mendorong kasar tubuh kekar laki-laki yang masih berada tepat di atasnya. Napasnya memburu, karena kepanikan yang tiba-tiba menyergap setelah gairah yang baru saja tercipta. "Kenapa waktu itu kamu tidak menikah denganku saja, Eve? Aku benar-benar mencintaimu," sahut laki-laki itu dengan suara serak, matanya menatap Evelyn dengan pemujaan yang mendalam. "Sinting!" Evelyn mendesis, segera meraih pakaian miliknya yang berserakan di lantai marmer apartemen mewah itu. "Lebih baik kamu pergi sekarang. Sebentar lagi tunanganku akan datang, dan aku tidak mau dia melihatmu di sini!" Laki-laki itu bangkit, menatap punggung cantik Evelyn dengan kilat amarah di matanya. Dengan gerak gontai, ia memungut kemejanya yang tergeletak di lantai, lalu melangkah mendekati Evelyn yang sedang sibuk merapikan diri di depan cermin besar. "Apa lagi? Cepat pergi sekarang!" bentak Evelyn tanpa menoleh. Bukannya melangkah pergi, la
"Benar-benar memalukan! Kamu dan kakakmu bersekongkol untuk mempermalukan Papa dan Mama di depan keluarga Harrington!" Teriakan Frans menggema, memecah keheningan ruang kerja kediaman Alaric yang luas. Devan dan Aurel hanya bisa terdiam, tertunduk menerima amukan sang ayah malam ini. "Siapa sebenarnya gadis itu?! Sampai kalian berdua bekerja sama hanya untuk menolongnya?" Mata Frans berkilat tajam, tertuju lurus pada Devan. "Jawab, Devan!" bentaknya sambil memukul meja kerja dengan keras. Suara hantaman itu membuat Devan tersentak, namun ia perlahan mengangkat kepalanya, menatap wajah murka Frans yang duduk di kursi kebesarannya. Devan hanya menatap dingin sang ayah. Bibirnya terkatup rapat seolah terkunci, namun deru napasnya yang naik-turun menandakan ia sedang berjuang hebat mengatur gejolak emosi di dadanya. "Apa dia itu 'Rossa' kedua? Gadis miskin itu kekasihmu, hah?" desak Frans sinis, tak sabar karena Devan terus bungkam. Mendengar hinaan yang keluar dari mulut papany
"Dokter Devan, saya mau mengucapkan terima kasih untuk semuanya." Ucap ibu Kemuning lembut saat Aurel dan Devan membawanya ke kantin rumah sakit agar Kemuning bisa sedikit saja mengisi perutnya setelah beberapa jam menegangkan di ruang ICU. "Sama-sama bu Kemuning. Ini sudah menjadi kewajiban saya." Jawab Devan tertunduk sambil menikmati teh hangat di tangannya yang terasa beku. Hilangnya memori Vanya cukup membuat hatinya membeku seakan terkena obat Anestesi rindu yang membuatnya kehilangan gadis itu. Aurel menyadari kesedihan yang Devan alami. Dengan lembut ia mengusap pelan punggung adiknya dengan penuh kasih sayang. "Devan, makanlah sedikit. Kamu belum menyentuh makananmu sejak tiba di sini," ujar Aurel lembut, suaranya penuh rasa khawatir. Ia tahu persis bahwa di balik wajah dingin adiknya, ada badai yang sedang berkecamuk. Devan hanya mengangguk samar, namun matanya tetap tertuju pada uap teh yang membubung tipis. Pikirannya melayang kembali ke bangsal nomor dua. Bayangan
Suasana hangat yang baru saja tercipta antara Devan dan Ibu Kemuning mendadak membeku. Kehadiran Evelyn di ambang pintu ICU bagaikan badai yang menghempas ketenangan ruangan yang steril itu. Dengan langkah yang angkuh dan sepatu hak tinggi yang berbunyi tajam di atas lantai, Evelyn mendekat, menatap ke arah ranjang Vanya. "Keluar, Evelyn. Ini ruang ICU," desis Devan, suaranya penuh penekanan. Evelyn tertawa hambar, sebuah suara yang terdengar sumbang di tengah bunyi mesin pemantau jantung. "Aku datang hanya ingin mengingatkan fakta. Surat pemindahan tugasmu ke Wellness Hospital sudah ditandatangani Papa. Secara administratif, kamu tidak punya hak akses di sini, apalagi menangani pasien." Vanya, yang masih dalam kondisi bingung dan lemah, tampak semakin ketakutan. Ia mencengkeram pinggiran selimutnya, matanya bergerak gelisah menatap Evelyn yang tampak sangat membencinya meski ia sendiri tidak tahu mengapa. Bunyi beep pada monitor jantung Vanya mulai bereaksi, menandakan detak ja







