Home / Romansa / ANESTESI RINDU / BAB 4 SECARIK KERTAS KECIL

Share

BAB 4 SECARIK KERTAS KECIL

Author: Yoongina
last update Last Updated: 2026-01-18 12:20:42

Vanya terduduk lemas di meja Nurse station IGD. Pikirannya melayang ke kamar operasi nomor tiga. Devan dan Evelyn sedang bersama saat ini, Devan pasti akan terkagum-kagum dengan kepintaran Evelyn di ruang operasi.

Di masa koas setahun yang lalu, dokter spesialis jantung yang tampan, sempat mengisi ruang hati dan hidup Vanya. Hubungan mereka baik-baik saja, sampai kedatangan Evelyn setelah tiga bulan Vanya menjalani koas, membuat semua impian Vanya hancur berantakan. Kecerdasan dan kecantikan Evelyn mampu merebut hati Adam dari Vanya dan mereka menjalin hubungan di belakangnya. Vanya sempat stres dan merasa dikhianati teramat dalam, membuat gadis itu dirawat di Rumah Sakit karena dehidrasi berat dan asam lambung akut. Penyakit yang tiba-tiba singgah di tubuhnya karena Vanya memilih mengurung diri di kamar tanpa makan dan minum selama tiga hari lamanya demi melupakan bayangan Adam dalam hati dan pikirannya.

Lalu kenapa sekarang Evelyn mendekati dr. devan? Pikir Vanya, Apa hubungan nya dengan dr. Adam sudah berakhir?

Vanya mengusap wajahnya dengan kasar. Ia tidak ingin lagi mengingat masa lalu nya yang pahit. Mata dan otaknya sudah lelah membaca laporan berkali-kali. mencoba mencari kesalahan apa yang ia lakukan sampai Devan masih belum mau menerima laporannya dan benar-benar mencoret namanya dari jadwal operasi.

Vanya fokus pada halaman pertama, karena Devan belum sempat melihat halaman berikutnya saat ia meminta Vanya memperbaiki laporan itu.

"Belum pulang?" sapa seorang residen senior laki-laki yang menarik kursi di samping Vanya. Gadis itu menoleh dan tersenyum.

"Belum, dok. Masih menyelesaikan laporan hasil operasi kemarin." Vanya kembali fokus pada halaman pertama lembar kertas di tangannya.

Bram ikut melirik laporan di tangan Vanya, menyipitkan mata untuk memperjelas penglihatannya pada baris ketiga paragraf pertama. Ia meraih pulpen dari saku jas putihnya, namun tidak langsung mencoret, melainkan menggunakannya sebagai penunjuk.

​"Vanya, coba lihat bagian diagnosis pasca bedah ini," ujar Bram lembut. "Kamu menuliskan Tetralogy of Fallot dengan komplikasi pulmonari, tapi di bagian prosedur tindakan, kamu tidak mencantumkan detail ukuran shunt yang dipasang oleh Dokter Devan kemarin."

​Vanya tertegun. Ia mendekatkan kertas itu ke wajahnya. "Tapi Dok, saya sudah memasukkannya di bagian catatan alat kesehatan di lampiran belakang."

​Bram menggeleng kecil, senyum tipis menghiasi wajahnya yang tampak lelah namun tetap tenang. "dr.Devan itu perfeksionis. Dia tidak mau bolak-balik halaman. Baginya, halaman pertama adalah awal dari seluruh hasil laporan operasi. Jika ringkasan di halaman pertama tidak mampu menceritakan kronologi secara utuh, dia akan menganggap kamu tidak memahami apa yang terjadi di dalam rongga dada pasien."

​Bram kemudian mengambil secarik kertas kecil dan menuliskan sebuah rumus perhitungan aliran hemodinamik.

​"Tambahkan observasi saturasi pre dan post prosedur tepat di bawah indikasi medis. Gunakan istilah medis yang lebih spesifik untuk posisi anatomisnya. Jangan hanya tulis 'kanan', tapi gunakan right ventricular outflow tract. dr. Devan sangat menyukai istilah kedokteran yang lebih internasional. Mungkin karena beliau lulusan luar negeri." jelas Bram yang juga pernah ditunjuk Devan menjadi pembuat laporan hasil operasi yang mereka tangani di awal pendidikannya sebagai seorang residen.

​Vanya memperhatikan setiap coretan tangan Bram dengan saksama. Rasa sesak yang tadinya menghimpit dadanya perlahan terangkat. Sepertinya, ia terlalu fokus pada 'proyek bedah hati' nya terhadap Devan hingga melupakan detail teknis yang penting dan gaya laporan yang diinginkan Devan.

​"Kamu punya kemampuan, Vanya. Jangan sia-siakan itu." Ucapan Bram membuat Vanya menatapnya dengan binar harapan baru. "Terima kasih, Dokter Bram. Saya akan revisi bagian ini sekarang juga."

Jari Vanya mulai menari lincah diatas keyboard laptopnya. Senyum manis terukir diwajahnya, membuat Bram menatap gadis itu dengan penuh perhatian.

***

"Emang keren banget sih, Evelyn itu. Kok bisa ya, gadis manja kayak dia punya otak yang cerdas." Siska tanpa sadar mengucapkan pujian pada Evelyn mengingat kejadian di kamar operasi pagi tadi. Vanya menyeruput mie ayam di hadapannya dengan wajah masam. Siang ini setelah pulang dari Rumah Sakit, Vanya dan Siska memilih untuk makan mie ayam tak jauh dari tempat kos mereka.

"Nggak usah muji-muji dia depan gue!"

Siska menatap Vanya, ia teringat sesuatu, "Tapi tadi dr. Devan terlihat kesal, karena Evelyn sempat tidak fokus mengarahkan kamera di rongga pasien."

Wajah Vanya kembali berseri, " Terus,,terus,,diomelin kayak gue kemarin?"

Siska menggeleng tak perduli. Ia menyuap baso urat dan mengunyahnya dengan cepat, "dr. Devan hanya bilang 'Eve, tangan nya jangan gemetar', udah."

"Udah?!Kok,,," Vanya merasa ini tidak adil.

"Apa karena, Dr. Gunawan yang melarang dr. Devan untuk memarahi Evelyn?" kedua bola mata Siska melirik atap tenda gerobak mie ayam mencoba mencari jawaban kenapa Evelyn diperlakukan istimewa.

Vanya melirik Siska yang memandang lurus keatas. Mendengar kalimat Siska, membuat hati Vanya mencelos. Ia merasa proyek bedah hatinya akan gagal karena kehadiran Evelyn di bedah umum. Ini semua terasa tidak adil. Evelyn sudah memiliki kecantikan dan kecerdasan yang tidak bisa Vanya tandingi. Keberuntungan gadis itu ditambah lagi dengan kekayaan orang tuanya yang berlimpah dan memiliki koneksi Kepala Departemen Bedah. Satu lagi, dia sudah mendapatkan dr. Adam yang juga tampan.

"Kok ngga diabisin, Van?" tanya Siska melirik mangkuk Vanya yang masih penuh.

"Udah ngga nafsu!"

Siska tertawa puas telah membuat Vanya kesal.

"Makanya, mimpinya jangan ketinggian. Kan gue udah bilang, Lo itu ngga selevel sama dr. Devan. Se kesalnya gue ngeliat Evelyn, tapi menurut gue dia lebih cocok kalau jadian sama dr. Devan."

Vanya terdiam. Siska memang tidak mengetahui masa lalu Vanya dengan Evelyn di masa Koas. Karena mereka baru bersahabat tiga bulan lalu, saat sama-sama menginjakkan kaki di Rumah Sakit yang sekarang ini.

Mendengar pendapat Siska, lagi-lagi membuat Vanya teringat bagaimana Evelyn dengan mudahnya merebut Adam dari sisinya. Mungkin pendapat itu ada benarnya, kalau Evelyn memiliki kelebihan yang tidak bisa ia tandingi. Saat ini target mereka berdua adalah dr. devan. yang ketampanan dan keahliannya dua kali lipat diatas dr. Adam. Kalau Adam saja bisa ia rebut dengan mudah, apalagi dr. Devan yang pasti juga memiliki kriteria tinggi seperti calon tunangannya yang telah meninggalkan dunia ini karena kecelakaan beruntun enam bulan lalu.

***

Devan menyandarkan punggung sejenak di kursi kebesarannya. Setelah berjuang dalam operasi selama dua jam, ia memilih beristirahat di kantor. Ia memijat ujung pangkal hidung, mencoba memberikan sensasi nyaman di wajahnya. Sesaat kemudian, sudut mata elang itu menangkap sebuah map biru dengan catatan kecil diatasnya.

'Aku sudah memperbaikinya sebaik mungkin, semoga laporan ini sudah sesuai dengan hasil operasi kemarin'. Sebuah emot wajah tersenyum dan nama dengan tulisan terukir tersemat diakhir kalimat itu, 'VANYA'.

Devan meraihnya dan mulai membaca laporan yang sudah diperbaiki Vanya untuk kesekian kalinya. Wajahnya terlihat serius membaca lembar demi lembar. Sebuah senyum tipis hampir tak terlihat, muncul di wajah tampan Devan. Ia meraih pulpen, membubuhkan tanda tangan di kolom approval dan menimpanya dengan stempel untuk mensahkan hasil laporan yang cukup membuatnya puas.

Secarik kertas kecil berisi tulisan tangan Vanya, disimpannya dalam laci meja kerja bercampur dengan notes-notes lain yang sempat Vanya buat setiap kali gadis itu menyerahkan laporan dan tugasnya selama tiga bulan terakhir.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • ANESTESI RINDU   BAB 6 PUJIAN DI MEJA OPERASI

    Vanya mematung sejenak di depan pintu otomatis ruang bedah. Kalimat dingin Devan barusan seperti peringatan agar ia tidak tenggelam dalam kenangan masa lalu. Ia menarik napas dalam-dalam, memejamkan mata, dan membayangkan sosok Adam perlahan memudar, digantikan oleh gambaran anatomi kantung empedu yang pernah ia pelajari dari tugas yang Devan berikan saat awal kedatangannya di Rumah Sakit ini. ​"Fokus, Vanya. Fokus," bisiknya pada diri sendiri. ​Ia segera melangkah masuk ke area scrub station. Menanggalkan jas putihnya dan mengenakan seragam bedah yang berwarna biru langit dan mengikat rambut panjangnya untuk mengenakan penutup kepala. Dengan gerakan yang sudah terlatih, ia melakukan prosedur cuci tangan bedah. Air mengalir dingin membasahi lengannya, seolah membasuh sisa-sisa sentuhan Adam di pergelangan tangannya tadi. Setelah mengenakan gaun operasi steril dan sarung tangan dengan bantuan perawat, Vanya melangkah masuk ke dalam ruang operasi yang dingin dan terang benderang. ​

  • ANESTESI RINDU   BAB 5 MASA LALU YANG KEMBALI

    Pintu ruangan Devan diketuk dua kali sebelum akhirnya terbuka perlahan. Sosok Evelyn muncul dengan senyum menawan yang menjadi ciri khasnya. Ia membawa dua cup kopi dari kafe di lobi rumah sakit. ​"Dokter Devan? Masih sibuk?" tanya Evelyn dengan nada suara yang lembut namun terdengar percaya diri. Ia melangkah masuk tanpa menunggu jawaban, lalu meletakkan salah satu cup kopi di atas meja kerja Devan, tepat di samping map biru milik Vanya. ​Devan menutup laci mejanya, menyembunyikan tumpukan notes Vanya dari pandangan Evelyn. "Terima kasih, Evelyn. Ada perlu apa?" ​"Hanya ingin mengantarkan ini. Dan... aku ingin meminta maaf soal di ruang operasi tadi. Aku perlu menyesuaikan diri karena perubahan bidang bedah yang aku ambil," ujar Evelyn menyandarkan pinggulnya di tepi meja Devan, merasa percaya diri bisa sedekat ini dengan sang dokter spesialis. ​Mata Devan beralih dari kopi ke wajah Evelyn. "Di ruang operasi, gangguan sekecil apa pun bisa berakibat fatal. Aku harap itu tidak

  • ANESTESI RINDU   BAB 4 SECARIK KERTAS KECIL

    Vanya terduduk lemas di meja Nurse station IGD. Pikirannya melayang ke kamar operasi nomor tiga. Devan dan Evelyn sedang bersama saat ini, Devan pasti akan terkagum-kagum dengan kepintaran Evelyn di ruang operasi. Di masa koas setahun yang lalu, dokter spesialis jantung yang tampan, sempat mengisi ruang hati dan hidup Vanya. Hubungan mereka baik-baik saja, sampai kedatangan Evelyn setelah tiga bulan Vanya menjalani koas, membuat semua impian Vanya hancur berantakan. Kecerdasan dan kecantikan Evelyn mampu merebut hati Adam dari Vanya dan mereka menjalin hubungan di belakangnya. Vanya sempat stres dan merasa dikhianati teramat dalam, membuat gadis itu dirawat di Rumah Sakit karena dehidrasi berat dan asam lambung akut. Penyakit yang tiba-tiba singgah di tubuhnya karena Vanya memilih mengurung diri di kamar tanpa makan dan minum selama tiga hari lamanya demi melupakan bayangan Adam dalam hati dan pikirannya. Lalu kenapa sekarang Evelyn mendekati dr. devan? Pikir Vanya, Apa hubungan

  • ANESTESI RINDU   BAB 3 SENYUM PUAS EVELYN

    Pagi itu, udara di lorong Departemen Bedah terasa lebih berat bagi Vanya. Ia hanya tidur tiga jam demi merombak total laporannya hingga detail terkecil. Semalam tepat satu jam kurang delapan menit, Vanya berlari menyusuri lorong menuju kantor Devan untuk menyerahkan laporannya sebelum waktu yang ditentukan. Tapi, laporan itu masih belum memuaskan Devan. Ia memberi satu kali lagi kesempatan pada Vanya agar memperbaikinya dan pagi ini laporan revisi itu sudah harus diterima setelah selesai acara perkenalan Evelyn, di ruangan Dr. Gunawan. "Kan gue udah bilang, perhatiin detailnya. Kita kan udah tiga bulan bareng dr. Devan." Siska yang terlihat lebih segar menopang lengan Vanya yang kurang tidur. "Ya gimana dong, Sis, ini operasi pertama gue, di ruang operasi gue ngga bisa fokus, dr. Devan ganteng banget." Ucap Vanya menyebalkan. Membuat Siska melepaskan pegangannya, dan Vanya terduduk lemas di lantai. "Siskaa!!" teriak Vanya kesal. Saat itulah, aroma parfum bunga yang sangat maha

  • ANESTESI RINDU   BAB 2 KEPONAKAN KEPALA DEPARTEMEN

    "Lo Gila, Van! kalau suka sama cowok itu yang selevelan sama kita aja bisa ngga?" Siska mencoba membuka pikiran dan mata hati Vanya yang menurut dia sudah tertutup kehaluan untuk bisa memiliki dr. Devan yang ketampanan dan kejeniusannya di atas rata-rata. "dr. Devan kan dokter spesialis bedah. Gue calon dokter spesialis bedah, yang Lo bilang ngga level tu di mana?" Vanya mengunyah roti untuk mengganjal perutnya di shift malam ini. Siska melebarkan kedua bola matanya tak percaya. Ia menjitak kepala Vanya yang keras kepala. "Sakit!" protes Vanya mengusap kepalanya. "Apa perlu Gue siram air sekalian biar lo sadar dan nggak kebanyakan halu!" Ujar Siska menyipitkan matanya kearah Vanya. " Emang Lo nggak denger, kenapa dia sampai menjaga jarak sama semua wanita?" Vanya menganggukkan kepalanya. Desas desus itu memang sudah dia dengar sejak menginjakkan kaki di Rumah Sakit ini sebagai seorang Residen. Saat sesi perkenalan, Vanya sudah terpaku dengan ketampanan Devan selaku Dokter M

  • ANESTESI RINDU   BAB 1 PROYEK BEDAH HATI

    ​"Skalpel."​Hanya satu kata yang meluncur dari bibir Devan, namun mampu membekukan seluruh isi ruang operasi nomor tiga. Suara monitor vital sign menjadi satu-satunya tanda kehidupan di ruangan yang suhunya disetel sangat rendah itu.​Vanya menahan napas di balik masker bedahnya. Matanya terpaku pada tangan suster bedah di seberang meja yang sedikit gemetar saat menyerahkan pisau tajam itu ke telapak tangan Devan yang terbungkus sarung tangan lateks.​Devan memang tidak membentak, tapi aura dingin dan tatapan tajam yang dia tunjukkan justru jauh lebih menakutkan daripada amukan kepala departemen mana pun di Rumah Sakit ini.Di bawah sorot lampu operasi yang menyilaukan, pria itu bekerja dengan gerakan yang mengerikan. Cepat, bersih, dan tanpa keraguan sedikit pun. Jemarinya menari lincah di antara jaringan dan darah, seolah-olah dia sedang memperbaiki mesin jam tangan mewah, bukan sedang menangani pendarahan arteri manusia yang sekarat."Terjadi pendarahan cukup banyak di arteri mese

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status