Home / Romansa / ANESTESI RINDU / BAB 6 PUJIAN DI MEJA OPERASI

Share

BAB 6 PUJIAN DI MEJA OPERASI

Author: Yoongina
last update Last Updated: 2026-02-09 20:19:00

Vanya mematung sejenak di depan pintu otomatis ruang bedah. Kalimat dingin Devan barusan seperti peringatan agar ia tidak tenggelam dalam kenangan masa lalu. Ia menarik napas dalam-dalam, memejamkan mata, dan membayangkan sosok Adam perlahan memudar, digantikan oleh gambaran anatomi kantung empedu yang pernah ia pelajari dari tugas yang Devan berikan saat awal kedatangannya di Rumah Sakit ini.

​"Fokus, Vanya. Fokus," bisiknya pada diri sendiri.

​Ia segera melangkah masuk ke area scrub station. Menanggalkan jas putihnya dan mengenakan seragam bedah yang berwarna biru langit dan mengikat rambut panjangnya untuk mengenakan penutup kepala. Dengan gerakan yang sudah terlatih, ia melakukan prosedur cuci tangan bedah. Air mengalir dingin membasahi lengannya, seolah membasuh sisa-sisa sentuhan Adam di pergelangan tangannya tadi. Setelah mengenakan gaun operasi steril dan sarung tangan dengan bantuan perawat, Vanya melangkah masuk ke dalam ruang operasi yang dingin dan terang benderang.

​Di sana, Devan juga dibantu mengenakan jubah operasinya dan sarung tangan steril oleh dua orang perawat. Vanya terpaku. Ia sangat mengagumi Devan saat diruang operasi. Baginya, Devan terlihat sepuluh kali lebih tampan dengan memakai atribut bedah. Devan melirik kearahnya. Mata elang itu menangkap sosok Vanya yang hanya berdiri diam tak jauh dari tempatnya.

"Masih tidak bisa konsentrasi?lebih baik kamu keluar." Suara dingin dan menusuk itu kembali menyapa gendang telinga Vanya.

"Ma-maaf, Dok." Vanya bergegas menuju meja operasi diiringi tatapan tajam Devan.

Tak lama, Devan sudah berdiri di samping kiri Vanya. Menatap pasien yang sudah terlelap damai berkat bantuan dokter anastesi. Lampu bedah besar di atasnya memberikan pencahayaan yang sangat tajam. Monitor laparoskopi di sisi ruangan menunjukkan sinyal vital pasien yang stabil.

​"Posisi asisten satu, dr. Vanya," suara Devan terdengar berat di balik masker bedahnya. Matanya yang tajam berpaling dari pasien menatap Vanya, "Pegang kamera. Pastikan visualisasi tetap jernih. Kalau lensa buram karena uap atau darah, segera bersihkan. Aku tidak ingin kehilangan arah karena asisten yang melamun."

​"Siap, Dok," jawab Vanya tegas, ingin meyakinkan Devan kalau dia sudah baik-baik saja.

​Operasi dimulai. Devan melakukan sayatan kecil di daerah pusar untuk memasukkan alat medis dan Veteriner berbentuk pena dengan ujung tajam, untuk membuat lubang agar Vanya bisa memasukkan alat bedah minimal invasif bernama Laparoscop yang berbentuk tabung panjang dan tipis berdiameter 3-12 mm, dilengkapi kamera dan lampu di ujungnya, ke rongga perut. Vanya dengan sigap memasukkan laparoskop ke dalam rongga perut pasien. Di layar monitor, organ dalam pasien terpampang jelas.

​"Naikkan sedikit. Arahkan ke lobus kanan hati," instruksi Devan.

​Tangan Vanya stabil. Meski jantungnya sempat berdebar karena tekanan di ruangan itu, ia berhasil menjaga kamera tetap tenang. Devan mulai melakukan robekan pada lapisan dalam dinding aorta pada jaringan di sekitar sistikus, yaitu saluran kecil yang menghubungkan kantong empedu dengan saluran empedu utama hati.

​Suasana menjadi sangat hening, hanya terdengar suara nada pola berulang dari mesin anestesi. Ketegangan meningkat saat Devan mulai memisahkan arteri sistikus. Ini adalah tahap krusial, salah sedikit saja, perdarahan hebat bisa terjadi.

​"Vanya, tarik kantung empedunya ke arah kranial. Aku perlu melihat Calot’s triangle," perintah Devan tanpa mengalihkan pandangan dari monitor.

​Vanya menggunakan alat untuk menjepit fundus kantung empedu dan menariknya dengan tekanan yang pas. Tidak terlalu lemah hingga menghalangi pandangan, dan tidak terlalu kuat hingga merobek jaringan.

​"Bagus. Tahan di situ," gumam Devan. Ada nada kepuasan yang sangat tipis dalam suaranya.

​Selama dua jam berikutnya, Vanya seolah menari mengikuti ritme kerja Devan. Ia seakan bisa membaca gerakan tangan Devan sebelum sang dokter menginstruksikannya. Saat Devan membutuhkan klip untuk pembuluh darah, Vanya sudah memosisikan kamera di sudut terbaik. Saat Devan membutuhkan irigasi, Vanya sudah siap dengan alat pengisap.

​Evelyn, yang ternyata masuk sebagai asisten observasi di sudut ruangan, hanya bisa terdiam melihat kekompakan itu. Ia yang berharap Vanya melakukan kesalahan fatal justru harus menyaksikan betapa Vanya sangat menguasai medan operasi hari ini.

​Setelah kantung empedu berhasil dipisahkan dan dimasukkan ke dalam kantung endobag untuk dikeluarkan, Devan melakukan pengecekan terakhir pada area bedah untuk memastikan tidak ada kebocoran empedu atau perdarahan.

​"Operasi selesai. dr. Vanya, lakukan penutupan." ujar Devan akhirnya. Ia mundur satu langkah dari meja operasi, melepaskan ketegangan dari bahunya.

​Vanya mengembuskan napas lega yang panjang. Keringat tipis tampak di dahinya, namun matanya tetap fokus saat melakukan jahitan untuk menutup sayatan sesuai perintah Devan.

​Sambil melepas sarung tangan sterilnya, Devan berjalan mendekati Vanya yang tengah membantu perawat merapikan peralatan. Devan berdiri cukup dekat, membuat Vanya mendongak.

​"Laporanmu kemarin tentang hemodinamik... kamu mempraktikkannya dengan baik hari ini. Kamu menjaga tekanan intra abdomen dengan sangat stabil melalui kontrol kamera," ucap Devan datar, namun kali ini matanya tidak sedingin biasanya.

"Pertahankan itu."

​Vanya menahan napas. "Baik, dok." Ia tersenyum manis dibalik maskernya, mendengar pujian dari Devan yang tidak pernah ia dengar selama tiga bulan bertugas di sini.

​"Satu lagi. Tidak ada alasan yang cukup kuat untuk membuatmu kehilangan kualifikasi sebagai residen bedah. Jangan biarkan masalah pribadi merusak masa depan yang sudah kamu bangun dengan susah payah di meja operasi ini."

​Tanpa menunggu balasan, Devan berbalik dan melangkah keluar menuju ruang ganti, meninggalkan Vanya yang mematung dengan perasaan campur aduk. Bukan hanya rasa bangga karena pujiannya, tapi juga kesadaran bahwa Devan ternyata memperhatikannya lebih jauh dari sekadar urusan medis.

​Vanya menoleh ke arah pintu, di mana Evelyn masih berdiri menatapnya dengan api kecemburuan yang semakin menyala.

Vanya hanya bisa menarik sudut bibirnya tipis saat matanya beradu dengan Evelyn. Ada rasa puas yang meletup di dadanya, tapi dia memilih untuk tidak membalas tatapan sinis itu dengan kata-kata. Baginya, hasil kerjanya tadi sudah cukup menjadi jawaban.

​Vanya segera menyelesaikan tugasnya dan bergegas menuju scrub station untuk mencuci tangan terakhir kali sebelum melepas seragam bedahnya. Saat ia melangkah keluar menuju ruang ganti, langkahnya terhenti karena Evelyn sudah mencegatnya di lorong yang agak sepi.

​"Jangan besar kepala dulu, Vanya," cetus Evelyn dengan nada ketus. "Dokter Devan cuma lagi mood baik aja makanya muji kamu. Jangan pikir satu operasi ini bikin posisi kamu aman di mata dia."

​Vanya menghela napas pendek. Dia benar-benar lelah, baik secara fisik maupun mental, untuk meladeni drama persaingan ini. "Aku nggak pernah merasa posisiku aman, Eve. Tapi setidaknya, tadi aku fokus ke pasien, bukan fokus nungguin orang lain buat salah."

​Kalimat kalem tapi menohok itu membuat wajah Evelyn memerah. Sebelum ia sempat membalas, Vanya sudah melengos masuk ke ruang ganti.

​Di dalam, Vanya duduk sebentar di bangku panjang. Ucapan Devan tadi kembali terngiang. “Jangan biarkan masalah pribadi merusak masa depanmu.” Kata-kata itu terasa seperti tamparan sekaligus pelukan hangat. Vanya yakin, kalau Devan telah melihat dan mungkin mendengar obrolannya dengan Adam. Tapi dimana dia berdiri?aku tidak melihatnya di kafetaria tadi?pikir Vanya bingung.

Vanya mengusap wajahnya menghilangkan pertanyaan dirinya sendiri yang tidak bisa ia jawab.

​Setelah berganti pakaian kembali ke jas putihnya, Vanya berjalan menuju kafetaria rumah sakit. Dia benar-benar butuh kafein. Namun, saat melewati taman kecil di dekat lobi, ia melihat sosok yang paling ingin ia hindari hari ini.

Adam masih ada di sana.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • ANESTESI RINDU   BAB 8 TUBUH YANG MENYERAH

    Vanya berbalik dengan mata yang panas terbakar air mata. Di luar ruangan, ia melihat Evelyn berdiri bersandar di dinding dengan tangan bersedekap, senyum kemenangan terukir jelas di wajahnya. ​"Selamat menikmati tugas administratifmu, Vanya," bisik Evelyn dengan nada puas saat Vanya melintas di depannya. Vanya sudah tidak punya kekuatan untuk membalas provokasi Evelyn. Bagaimanapun, kejadian hari ini memang mutlak karena kesalahannya. Ia sendiri yang memberi ruang untuk Evelyn agar menjadi orang terdekat dan kepercayaan Devan. Ia terus berjalan mengabaikan Evelyn dan meraih handphone di sakunya. Vanya membuka catatan proyek 'Bedah hati dr. Devan'. Ia menambah catatan : proyek Bedah Hati selesai dengan status GAGAL! ditutupnya catatan itu diringi dengan tetesan air mata yang sudah luruh sejak keluar dari ruangan Devan. *** Vanya duduk di meja perpustakaan rumah sakit yang sepi. Jarum jam menunjukkan pukul 03.30 pagi. Di hadapannya, tumpukan kertas folio baru terisi tiga puluh

  • ANESTESI RINDU   BAB 7 HUKUMAN

    Vanya mempercepat langkahnya, berharap Adam tidak melihatnya berjalan menuju kafetaria. Namun, sepertinya sosok Vanya memang telah dinantikan. Dari sudut mata Adam, ia bisa melihat sosok Vanya melintas didepannya dengan tergesa. "Vanya, tunggu. Kita belum selesai bicara," panggil Adam mendekati. Vanya menghela nafas pendek dan menghentikan langkahnya. Adam kini sudah berada di hadapannya dengan wajah sendu menatap Vanya. Tatapan seseorang yang menahan rindu sekian lama. Vanya yang sepenuhnya telah melupakan sosok Adam dalam hatinya karena sudah ada penghuni lain yang masuk kesana, menatap sebaliknya, dengan perasaan jengkel dan merasa sangat terganggu. "Ada apa lagi, dok?saya harus segera kembali ke IGD." Tangan Adam bergerak hendak meraih tangan Vanya, namun gadis itu segera melipat kedua tangannya di dada. Membuatnya mengurungkan niatnya. "Tolong buka blokir handphonemu, ijinkan aku menghubungi dan memperbaiki hubungan kita. Aku serius. Aku tidak bisa melupakanmu, Vanya." Vany

  • ANESTESI RINDU   BAB 6 PUJIAN DI MEJA OPERASI

    Vanya mematung sejenak di depan pintu otomatis ruang bedah. Kalimat dingin Devan barusan seperti peringatan agar ia tidak tenggelam dalam kenangan masa lalu. Ia menarik napas dalam-dalam, memejamkan mata, dan membayangkan sosok Adam perlahan memudar, digantikan oleh gambaran anatomi kantung empedu yang pernah ia pelajari dari tugas yang Devan berikan saat awal kedatangannya di Rumah Sakit ini. ​"Fokus, Vanya. Fokus," bisiknya pada diri sendiri. ​Ia segera melangkah masuk ke area scrub station. Menanggalkan jas putihnya dan mengenakan seragam bedah yang berwarna biru langit dan mengikat rambut panjangnya untuk mengenakan penutup kepala. Dengan gerakan yang sudah terlatih, ia melakukan prosedur cuci tangan bedah. Air mengalir dingin membasahi lengannya, seolah membasuh sisa-sisa sentuhan Adam di pergelangan tangannya tadi. Setelah mengenakan gaun operasi steril dan sarung tangan dengan bantuan perawat, Vanya melangkah masuk ke dalam ruang operasi yang dingin dan terang benderang. ​

  • ANESTESI RINDU   BAB 5 MASA LALU YANG KEMBALI

    Pintu ruangan Devan diketuk dua kali sebelum akhirnya terbuka perlahan. Sosok Evelyn muncul dengan senyum menawan yang menjadi ciri khasnya. Ia membawa dua cup kopi dari kafe di lobi rumah sakit. ​"Dokter Devan? Masih sibuk?" tanya Evelyn dengan nada suara yang lembut namun terdengar percaya diri. Ia melangkah masuk tanpa menunggu jawaban, lalu meletakkan salah satu cup kopi di atas meja kerja Devan, tepat di samping map biru milik Vanya. ​Devan menutup laci mejanya, menyembunyikan tumpukan notes Vanya dari pandangan Evelyn. "Terima kasih, Evelyn. Ada perlu apa?" ​"Hanya ingin mengantarkan ini. Dan... aku ingin meminta maaf soal di ruang operasi tadi. Aku perlu menyesuaikan diri karena perubahan bidang bedah yang aku ambil," ujar Evelyn menyandarkan pinggulnya di tepi meja Devan, merasa percaya diri bisa sedekat ini dengan sang dokter spesialis. ​Mata Devan beralih dari kopi ke wajah Evelyn. "Di ruang operasi, gangguan sekecil apa pun bisa berakibat fatal. Aku harap itu tidak

  • ANESTESI RINDU   BAB 4 SECARIK KERTAS KECIL

    Vanya terduduk lemas di meja Nurse station IGD. Pikirannya melayang ke kamar operasi nomor tiga. Devan dan Evelyn sedang bersama saat ini, Devan pasti akan terkagum-kagum dengan kepintaran Evelyn di ruang operasi. Di masa koas setahun yang lalu, dokter spesialis jantung yang tampan, sempat mengisi ruang hati dan hidup Vanya. Hubungan mereka baik-baik saja, sampai kedatangan Evelyn setelah tiga bulan Vanya menjalani koas, membuat semua impian Vanya hancur berantakan. Kecerdasan dan kecantikan Evelyn mampu merebut hati Adam dari Vanya dan mereka menjalin hubungan di belakangnya. Vanya sempat stres dan merasa dikhianati teramat dalam, membuat gadis itu dirawat di Rumah Sakit karena dehidrasi berat dan asam lambung akut. Penyakit yang tiba-tiba singgah di tubuhnya karena Vanya memilih mengurung diri di kamar tanpa makan dan minum selama tiga hari lamanya demi melupakan bayangan Adam dalam hati dan pikirannya. Lalu kenapa sekarang Evelyn mendekati dr. devan? Pikir Vanya, Apa hubungan

  • ANESTESI RINDU   BAB 3 SENYUM PUAS EVELYN

    Pagi itu, udara di lorong Departemen Bedah terasa lebih berat bagi Vanya. Ia hanya tidur tiga jam demi merombak total laporannya hingga detail terkecil. Semalam tepat satu jam kurang delapan menit, Vanya berlari menyusuri lorong menuju kantor Devan untuk menyerahkan laporannya sebelum waktu yang ditentukan. Tapi, laporan itu masih belum memuaskan Devan. Ia memberi satu kali lagi kesempatan pada Vanya agar memperbaikinya dan pagi ini laporan revisi itu sudah harus diterima setelah selesai acara perkenalan Evelyn, di ruangan Dr. Gunawan. "Kan gue udah bilang, perhatiin detailnya. Kita kan udah tiga bulan bareng dr. Devan." Siska yang terlihat lebih segar menopang lengan Vanya yang kurang tidur. "Ya gimana dong, Sis, ini operasi pertama gue, di ruang operasi gue ngga bisa fokus, dr. Devan ganteng banget." Ucap Vanya menyebalkan. Membuat Siska melepaskan pegangannya, dan Vanya terduduk lemas di lantai. "Siskaa!!" teriak Vanya kesal. Saat itulah, aroma parfum bunga yang sangat maha

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status