MasukBeberapa minggu berlalu dengan sangat cepat, dan reputasi Rio sebagai pria yang disukai banyak wanita semakin fenomena di Supermarket Jaya Makmur. Di supermarket, setiap wanita yang bekerja atau datang berbelanja selalu mencari kesempatan untuk bisa berbicara atau sekadar menyentuhnya. Rio menikmati semua perhatian itu dengan bijak, selalu menjaga jarak agar tidak terlalu dekat namun tetap ramah dan menyenangkan. Hubungannya dengan Sinta juga berjalan dengan lancar mereka tidak pernah lagi be
Setelah mengucapkan selamat tinggal pada Arin, Rio mengemudi mobilnya dengan hati yang lebih ringan. Untuk pertama kalinya dalam waktu lama, ia tidak merasa beban atau ragu di dalam dada hanya rasa tekad untuk memperbaiki apa yang sudah perlu ia perbaiki dengan Dewi. Jalan pulang yang biasanya terasa panjang kini terasa singkat, dan hatinya penuh dengan harapan. Ketika mobil memasuki halaman rumah, lampu depan sudah menyala hangat. Rio melihat sosok Dewi yang sedang menyapu halaman sambil sering melihat ke arah gerbang. Saat melihat mobilnya datang, wanita itu langsung menaruh sapu dan mengangkat tangan untuk menyapa dengan senyum lebar. “Kamu pulang lebih cepat hari ini, Sayang,” ucap Dewi dengan suara lembut saat Rio turun dari mobil. Tanpa berlama-lama, Rio mengeluarkan tangan dan menarik istri tercintanya ke dalam pelukan hangat, kemudian mencium dahinya dan bibirnya dengan penuh kasih sayang. “Sudah lama aku tidak pulang tepat waktu. Mau aku bantu
Beberapa minggu setelah pertemuan mereka, kehidupan Arin kembali sedikit terkendali. Namun rasa rindu terhadap Rio masih terkadang muncul, meskipun ia sudah mulai fokus pada hubungan baru yang membuat hatinya merasa lebih tenang dan dicintai. Sore hari itu, tepat setelah Arin selesai bekerja dan baru saja membersihkan kamar kostnya, suara ketukan lembut terdengar di pintu kamarnya. Ia langsung mengenalinya itu adalah Rio yang datang tanpa pemberitahuan, seperti biasa. “Mas Rio, kamu datang lagi?” ucap Arin dengan suara yang ramah tapi sedikit tertekan saat membuka pintu. “Masuk yuk!" Rio masuk dan melihat sekeliling kamar yang kini lebih rapi dengan dekorasi baru. Ia bisa merasakan energi yang berbeda di dalam ruangan lebih hangat dan penuh dengan kedamaian. “Kamu terlihat lebih bahagia, Cantik,” ucap Rio dengan senyum lembut, namun ada rasa cemburu yang tersembunyi di dalam matanya. “Kelihatannya kamu sudah menemukan yang cocok untuk dirimu.”
Kerinduan Arin terhadap Rio semakin memuncak seiring berjalannya hari. Meskipun ia sering mencoba bekerja ekstra atau mengikuti kegiatan bersama teman-teman kantor, rasa rindu itu selalu muncul setiap kali ia melihat tempat tidur kosong di kamarnya. Namun, Arin yang memiliki rasa harga diri yang tinggi tidak mau menjadi orang yang mengganggu atau memulai kontak duluan. Ia merasa bahwa jika Rio memang ingin bertemu, dia akan yang pertama kali menghubungi. Hari itu sore, tepat setelah Arin selesai bekerja dan baru saja mandi, suara notifikasi ponselnya terdengar. Ia dengan cepat mengambil ponsel dan melihat layarnya pesan dari Rio muncul di aplikasi ojol: "Hai Cantik! Kamu ada di kost sore ini nggak? Aku mau mampir sebentar kalau kamu tidak ada acara." Arin langsung merasa sumringah, wajahnya langsung bersinar dengan senyum lebar. Tanpa berlama-lama, ia segera mempersiapkan diri dengan sebaik mungkin. Ia mengoleskan body lotion dengan aroma bunga mawar ke
Pernikahan Rio dan Dewi dilaksanakan secara sederhana namun penuh khidmat di Kantor Urusan Agama (KUA) kecamatan Cempaka. Hanya keluarga inti yang menghadiri acara akad nikah, dengan doa panjang dari petugas KUA yang memimpin upacara. Dewi menangis bahagia saat Rio menyematkan cincin emas yang indah di jari kirinya, sementara Rio tersenyum lebar sambil mengucapkan janji untuk selalu merawat dan mencintainya. Setelah itu, acara berlanjut ke halaman rumah Dewi yang terletak di komplek perumahan yang asri di Cempaka Putih. Halaman yang biasanya cukup lapang kini dihiasi penuh dengan bunga merah muda dan putih, lengkap dengan tenda besar yang menutupi area makan. Teman-teman kantor Rio dari Supermarket Jaya Makmur datang dengan membawa hadiah beragam, mulai dari peralatan rumah tangga hingga amplop uang. Tetangga dari Rusun Simpang Tiga juga ramai menghadiri, membawa hidangan khas daerah mereka untuk berbagi kebahagiaan. Tapi tidak tampak wanita-wanita yang dulu dekat sama Rio
Sekitar seminggu setelah percakapan dengan Arin, Rio mendapatkan kabar yang menggembirakannya dari teman sekantornya, Bima. Sore itu, saat ia sedang bekerja di kantor, Bima mendekat dengan wajah ceria. “Rio, Perusahaan elektronik ternama PT. Global Teknologi sedang cari orang buat posisi Administrasi Penjualan Retail. Mereka butuh orang yang paham HSE atau K3. Coba kamu kasih tahu temanmu untuk melamar pekerjaan disini?” ucap Bima sambil menyerahkan brosur lowongan. Rio langsung mengambil brosur dan membacanya dengan cermat. “Wah bagus banget nih! Persyaratannya juga pas sama orang yang aku kenal. Pasti bisa nih dia lolos.” Tanpa menunda lama, saat pulang kerja dan melihat Dewi sedang sibuk memasak di dapur, Rio segera masuk kamar dan menghubungi Arin melalui aplikasi ojol. Rio: “Hai cantik! Ada kabar baik nih buat kamu. Ada lowongan kerja di PT. Global Teknologi, perusahaan ternama lho. Posisi Administrasi Penjualan Retail yang butuh orang pa
Setelah beberapa hari berlalu sejak janji pernikahan itu, Rio tidak bisa menghilangkan keinginannya pada Arin. Sore harinya, saat Dewi sedang keluar membeli kebutuhan rumah tangga, ia segera mengambil ponsel dan mencari nomor kontak Arin. Dengan jari yang sedikit gemetar, ia menekan tombol panggilan. “Hello… Mas Rio? Kok tiba-tiba nelpon?” suara Arin terdengar ceria di ujung telepon. “Ha… hai Arin. Aku kangen sama kamu,” ucap Rio dengan suara rendah. “Aku pengen banget main lagi sama kamu. Cuma masalahnya, rumah pacar aku di Cempaka Putih jauh banget dari kost kamu di Ciracas. Entah kapan lagi aku bisa datang kesana dan menciummu seperti dulu.” Arin terdengar sedikit sedih tapi langsung memberikan ide. “Iya Mas Rio, aku juga merindukanmu banget. Kalau bisa, aku aja yang pindah kerja deket kamu pasti lebih enak. Bisa sering-sering ketemu dan tidak perlu capek jalan jauh.” Rio merasa ide itu bagus dan segera merespons. “Betul







