LOGIN
Suara teriakan menyakitkan menusuk telinga Rio yang baru saja turun dari angkutan kota, tangan kanannya masih memegang tas kerja yang penuh dengan bungkusan makanan yang dibeli di supermarket tempat dia bekerja. “Jangan… Anton, tolong berhenti!”
Di lorong rusun yang kumuh dan sempit, seorang pria berkulit gelap dengan tubuh bongsor sedang meninju dan menendang perempuan yang terbaring di lantai. Wanita itu adalah Mira tetangganya yang selalu tersenyum manis setiap kali bertemu di lorong. Rambutnya kusut, baju putihnya sudah robek di beberapa bagian, dan wajahnya memerah dengan bekas memar yang baru saja terbentuk. “Kau bilang tidak enak badan?! Padahal kamu berdandan cantik seperti itu! Mau menarik perhatian pria lain ya?!” jerit Anton sambil menginjak perut Mira dengan kakinya yang mengenakan sepatu kerja berat. Bau alkohol menyebar ke udara sekitarnya. Beberapa penghuni keluar dari unit mereka, tapi hanya berani melihat dari kejauhan. Tak seorang pun berani melerai semua tahu bahwa Anton adalah pemabuk yang mudah marah dan menyakiti siapapun yang berani melarangnya. Rio merasa darahnya mendidih. Meski tubuhnya besar dan berotot, dia bukan orang yang suka berkelahi. Tapi melihat seorang perempuan diperlakukan seperti itu membuatnya tidak bisa tinggal diam. Dia menaruh tasnya ke lantai dan melangkah cepat menuju mereka. “Mas Anton, cukup sudah!” teriak Rio dengan suara yang kuat. Dia menghadang Anton yang mau menyerang Mira lagi. “Istri kamu sedang tidak enak badan, bukannya kamu harus merawatnya?” Anton menoleh dengan wajah memerah karena kemarahan, matanya merah menyala akibat mabuk. “OH KAMU! KAMU YANG SELALU BAIK HATI DENGAN ISTRIKU, KAMU NAKSIR ISTRIKU YA?!” Tanpa basa-basi lagi, Anton mengangkat tinjunya dan memberikan pukulan keras tepat di rahang Rio. Tubuh Rio sedikit terdorong ke belakang, tapi dia tetap berdiri kokoh. Anton menyerang lagi dengan pukulan beruntun ke perut, ke wajah, hingga ke dada. Rio hanya bisa membendung serangan dan mencoba menjauhkan Anton dari Mira yang sudah tidak berdaya di lantai. “Tidak usah kamu campur urusan rumah tanggaku!” jerit Anton sambil memberikan tonjokan keras ke perut Rio, membuatnya terjatuh di lantai. Darah mulai keluar dari sudut bibir Rio, matanya mulai berkabut karena panas dan rasa sakit. Hanya ketika suara petugas keamanan kompleks terdengar mendekat, Anton berhenti dan melarikan diri masuk ke unitnya. Beberapa saat kemudian, dua orang petugas keamanan datang bersama Pak RT yang sudah berusia lanjut. “Mas Rio! Kamu tidak apa-apa kan?” Pak RT mendekat dengan wajah khawatir, membantu Rio untuk berdiri. “Kenapa kamu harus ikut campur sih? Padahal kamu tahu Anton itu orangnya seperti apa.” Rio mengusap darah dari bibirnya dengan lengan bajunya, lalu melihat ke arah Mira yang sedang ditarik oleh beberapa perempuan tetangga. “Saya tidak bisa tinggal diam, Pak RT. Kalau saya tidak melakukan apa-apa, mungkin Mbak Mira akan terluka lebih parah.” “Niatmu baik, Mas Rio, tapi di dunia ini, niat baik kadang dianggap tidak baik oleh orang lain,” ucap Pak RT dengan nada menyakitkan. “Ayo, saya antar kamu ke unitmu. Kamu perlu istirahat dan merawat luka-lukamu.” Di kamar dengan perabotan sederhana seluas tiga kali empat meter yang penuh dengan buku, Pak RT duduk di kursi sambil menatap Rio yang sedang membersihkan luka di wajahnya dengan kapas basah. “Sabar ya Mas Rio… hidup di rusun seperti ini, banyak hal yang tidak bisa kita ubah begitu saja,” ucap Pak RT sambil mengeluarkan rokok dari saku bajunya. “Kalau ada yang perlu bantuan, bilang saja ke saya ya. Jangan kamu pendam sendiri.” Setelah Pak RT pergi, Rio menjatuhkan diri ke tempat tidur yang sudah tidak tebal lagi matrasnya. Tubuhnya penuh dengan rasa sakit, tapi yang lebih menyakitkan adalah apa yang ia lakukan tidak diterima orang lain meskipun dia hanya ingin membantu menyelamatkan nyawa tetangganya. Dia mengambil HP android yang sudah retak di bagian layar, lalu menekan tombol untuk melihat jam—sudah hampir jam sembilan malam. Tiba-tiba, suara dering HP terdengar membuatnya terkejut. Nomor yang muncul adalah dari desa di Sleman, Jawa Tengah. “Halo? Mas Rio ya?” suara Pak RT kampung yang bernama Karsono terdengar dari sisi lain. “Mas, aku ada kabar penting nih. Penjualan sawah Mbah Buyutmu yang luasnya 6 hektar, pembayaran akan dilakukan besok siang pukul dua di kantor notaris Gunardi di Sleman. Kamu harus ada di sana ya, karena kamu satu-satunya ahli waris.” Rio terdiam sebentar sebelum menjawab. “Baik Pak Karsono, saya akan datang besok pagi. Tapi saya harus minta ijin dulu ke bos saya di supermarket.” “Ya sudah, cepat-cepat persiapkan aja. Uang dari penjualan tanah itu penting buat masa depanmu. Sekaligus kamu ngecek usaha tambak ikan mu disini sama nengok rumah Mbah Buyutmu” ucap Pak Karsono sebelum menutup panggilan. Rio segera menelpon nomor bosnya di supermarket “Jaya Makmur”. Setelah beberapa kali bunyi, telepon akhirnya terjawab. “Pak Budi, ini Rio nih,” ucap Rio dengan suara yang masih sedikit terengah-engah. “Saya mau minta ijin cuti besok dan lusa ya. Ada urusan penting tentang tanah milik keluarga saya di Sleman.” “Rio ya… kenapa mendadak ya?” suara Pak Budi terdengar sedikit kesal, tapi kemudian menjadi lembut. “Baiklah, kamu pergi aja. Urusan keluarga penting. Cukup kamu kasih tahu ke karyawan lain untuk menggantikan shift mu.” “Terima kasih banyak, Pak. Saya akan balik kerja setelah urusan selesai,” jawab Rio dengan lega. ***Hari-hari setelah pertemuan terakhir dengan Nabila, hidup Rio mulai mengalami perubahan yang sangat aneh dan tak terduga. Awalnya ia mengira masalah dengan Nabila sudah selesai begitu saja, namun ternyata itu baru permulaan dari serangkaian kejadian ajaib yang membuat bulu kuduknya meremang. Kejadian pertama yang membuatnya kaget adalah pesan singkat yang masuk dari mantan selingkuhannya dulu, Sari. "Mas Rio, maaf ya selama ini sudah mengganggu. Aku rasa kita sudah cukup sampai di sini. Aku mau tobat dan memperbaiki hidupku. Jangan hubungi aku lagi ya. Selamat tinggal." Rio terbelalak. Baru saja Nabila menghilang, sekarang Sari juga tiba-tiba memutuskan hubungan secara permanen tanpa sebab yang jelas. Belum sempat ia mencerna itu, satu per satu nama wanita yang pernah dekat atau pernah berselingkuh dengannya mulai melakukan hal yang sama. Mereka mengirim pesan pamit, memblokir nomornya, dan seolah lenyap ditelan bumi. Tidak ada yang menuntut apa-apa, ti
Beberapa hari berlalu sejak Rio melepaskan cincin misterius itu. Awalnya, ia merasakan kelegaan yang luar biasa. Pikiran jernih, emosi stabil, dan nafsu yang kembali normal. Rio merasa seperti kembali menjadi dirinya yang dulu, Rio yang mencintai Dewi sepenuh hati dan tak pernah sekalipun berpikir untuk mengkhianatinya. Dewi pun terlihat lebih tenang dan bahagia, seolah beban berat yang sempat menyelimuti rumah tangga mereka telah terangkat. Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama. Suatu sore, saat Rio sedang memeriksa laporan penjualan di kantornya, ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal. "Mas Rio, ini aku, Nabila. Kita perlu bicara." Jantung Rio langsung berdegup kencang. Ia mengira setelah kejadian malam itu, Nabila akan menghilang dari hidupnya. Ia mencoba mengabaikannya, namun ponselnya kembali bergetar. "Ini penting, Mas. Aku tunggu di kafe biasa, jam 7 malam. Ini terakhir ka
Rio mengemudikan mobilnya dengan perasaan campur aduk. Hatinya bergemuruh, antara rasa bersalah yang menusuk dan kebingungan akan apa yang baru saja terjadi. Langit memang mendung, seolah memahami badai yang sedang berkecamuk di dalam hatinya. Ia tahu, ia harus menghadapi Dewi, istrinya yang sedang menanti di rumah dengan perut membuncit. Sesampainya di rumah, Rio mendapati Dewi sedang duduk di sofa ruang tamu, membaca buku dengan tenang. Aroma teh melati yang baru diseduh menyeruak, menciptakan suasana hangat yang justru membuat Rio semakin merasa tidak pantas. "Assalamualaikum," ucap Rio pelan, berusaha menyembunyikan getaran dalam suaranya. "Waalaikumsalam, Mas. Kok baru pulang?" tanya Dewi lembut, menatap suaminya dengan senyum. Senyum yang kini terasa seperti jutaan pisau menusuk jantung Rio. "Aku bikinin teh, Mas. Minum dulu biar enakan." Rio hanya mengangguk, melangkah gontai menuju sofa. Ia duduk di samping Dewi, me
Suasana di kamar mandi terasa hangat, namun hati Rio justru terasa dingin dan hampa. Air shower yang membasahi tubuhnya seolah tidak mampu membersihkan rasa kotor yang tiba-tiba menyelimuti hatinya. Ia berdiri mematung, menatap lantai keramik yang mengalirkan air bercampur sisa-sisa kenikmatan duniawi yang baru saja mereka nikmati. Di sebelahnya, Nabila sedang membasuh tubuhnya dengan gerakan lambat. Wajahnya tampak lelah namun masih memancarkan aura kepuasan. Namun, perlahan-lahan, senyum di wajah itu memudar seiring dengan memudarnya kabut nafsu yang tadi menguasai akal sehat mereka. Kini, realitas mulai menghantam keras. Rio menghela napas panjang, sangat panjang. Tangannya mengepal kuat, menampar pelan pipinya sendiri dalam hati. Apa yang sudah aku lakukan? batinnya berteriak panik. Ia baru saja mengkhianati kepercayaan Dewi, istri yang sangat setia dan mencintainya dengan tulus. Ia baru saja melakukan
Mata Rio terpaku pada bentuk tubuh Nabila yang terbentang di atas sofa. Meskipun nafsunya sangat besar, sejenak ia terhenti ingatan tentang Dewi yang sedang menunggu dirinya di rumah muncul tiba-tiba. Namun, godaan yang ada di depannya terlalu kuat untuk ditahan, dan segera ia merendahkan wajahnya perlahan ke arah payudaranya, dengan sentuhan lembut yang membuat Nabila mengeluarkan hembusan napas lembut. Bahkan sesekali Rio menggigit area ujung dada Nabila karena gemas. Nabila menyesuaikan posisinya hingga berada di bawah Rio, tubuhnya rileks namun penuh dengan hasrat yang sudah lama terpendam. Tangan Rio perlahan merayap ke arah bagian bawah tubuhnya, menyentuh lapisan tipis yang sudah lembap karena gairah yang tak bisa disembunyikan. Dan Rio langsung menarik kain itu dengan cepat, karena ia sudah tidak sabar ingin membalas perbuatan Nabila dulu. "Kenapa kita tidak melakukannya dengan lebih dalam waktu di Lombok?" bisik Rio dengan suara yang penuh nafsu saat i
Rio mencengkeram plastik buah di tangan kanannya sambil menatap wajah Nabila yang sedang tersenyum menyiratkan sesuatu. Meski hati masih berdebar karena pertemuan tadi, keputusannya sudah bulat ia tidak ingin sia-siakan kesempatan untuk bertemu dengan wanita yang telah mengusik pikirannya selama berbulan-bulan. "Boleh kah aku minta alamat apartemen dan nomor teleponmu," ucap Rio dengan suara yang sedikit bergetar, namun penuh tekad. "Saya ingin bisa menghubungimu ... atau hanya sekadar mampir." Nabila sedikit mendekat, bibirnya hampir menyentuh telinga Rio. "Kamu bisa datang, tapi kabarin dulu ya Pak Supervisor," bisiknya dengan nada yang menggairahkan. "Jangan sampai datang tiba-tiba, saya kan juga perlu waktu untuk menyambutmu dengan baik atau saya sedang tidak ada di apartemen saat itu" Saat mengucapkan kata-kata itu, ia menyentuh lembut dagu Rio dengan jemari telunjuknya sebelum mengambil selembar kertas dari kantong roknya dan menuliskan nomor serta alamat a
Hari-hari setelah kembali ke Jakarta, kehidupan Rio dan Dewi kembali berjalan seperti biasa. Rutinitas kerja, urusan rumah tangga, dan obrolan tentang liburan masih sering terdengar, namun ada sesuatu yang tersembunyi di dalam benak Rio. Setiap kali ia sendirian, wajah wanita asing yang pernah be
Setelah enam hari penuh dengan petualangan di Lombok dan Gili Trawangan, akhirnya tiba saatnya Rio dan Dewi harus kembali ke Jakarta. Pagi itu, mereka bangun lebih awal untuk menyelesaikan packing barang dan mengecek kembali semua pesanan yang telah dibuat di hotel. Suasana di kamar sedikit teras
Setelah menyantap sarapan bersama, suasana di antara Rio dan Dewi kembali menjadi lebih hangat. Rasa bersalah yang mengganggu hati Rio sedikit mereda saat melihat senyum bahagia istri tercintanya. Mereka memutuskan untuk menghabiskan hari itu dengan menjelajahi kawasan sekitar pulau, berharap bis
Gerakan lidah wanita misterius yang lihai dan penuh keahlian semakin memperkuat sensasi yang dirasakan Rio. Setiap sentuhan dan setiap gerakan membuat tubuhnya semakin terbakar oleh hasrat yang tak terkendali. Tak lama kemudian, dia mencapai klimaks dengan keras, cairannya muncrat ke wajah dan da







