LOGINPlak!
Jena menepuk tangan Ranti pelan. "Mulut lu, Ran. Bener kata Bang Malik, lu tuh kayak kuntilanak. Serem banget kalo lagi ketawa" "Tapi Jen…" Ranti mendekat, suaranya mendadak sok serius. "Elu mau nggak sama abang gue? Dari pada sama cewek-ceweknya yang bejibun itu, kayaknya si muka es lebih suka kasih effort ke elu." "Bego lu." Jena tertawa geli. "Gue ogah punya cowo play boy kaya abang lho, lagian abang lu seumuran sama Om gue, masa gue sama om-om." "Apanya yang gila."Ranti mencubit lengan Jena. "Abang gue baru tiga puluh tahun, bego. Mana bisa disebut om-om." Ada desiran yang datang begitu saja, saat Ranti bicara tentang Malik. Jena merapatkan jaket Malik di tubuhnya. Hangat. Dan entah kenapa, wangi citrus dari parfum Malik terasa menempel di hidungnya—seolah tubuhnya sedang dipeluk sesuatu yang asing tapi nyaman. Pagi harinya– “Jenaaaa!.. belum bangun aja kamu!” Suara teriakan Alya—Mama Jena—menggema sampai ke seluruh rumah, padahal langit masih gelap. Pagi ini terlalu dini untuk hidup. “Wuaaaam…” Jena menggeliat, matanya masih berat. “Iya, Ma… Jena bangun.” Badannya lemas seperti habis ditimpa beban berat. Begadang semalam benar-benar keterlaluan. Ia mabar bareng Ranti nyaris sampai jam dua pagi, padahal pagi ini ia ada presentasi penting. Jena lirik jam di meja. Nyaris setengah tujuh. Ah, mati. Ia tak sanggup untuk bergegas. Tapi ia pura-pura nggak peduli. Yang penting nurut dulu. Kalau Mama sudah teriak, satu rumah bisa ikut bangun semua. “Ya ampun…” gumam Jena sambil turun dari ranjang. “Boleh bolos nggak sih hari ini… ngantuk banget.” Ia meraih handuk, lalu menyeret langkah ke kamar mandi. Kamar mandi mereka posisinya dekat dapur. Begitu keluar kamar, Jena langsung disambut Alya yang sudah berdiri dengan wajah galak, lengkap dengan tangan bersedekap. Di meja makan, Papanya—Abimanyu—sedang santai menikmati kopi dan gorengan, seolah pagi adalah waktu terbaik untuk damai. “Anak gadis kok bangunnya siang,” omel Alya. “Cepetan. Keburu telat.” “Iya…” Jena manyun. “Ma, boleh bolos nggak? Jena lemes banget.” Ia sengaja berdiri manja, berharap suara Mama yang seperti petasan itu tiba-tiba melembut. Minimal hari ini diberi toleransi. Tapi Alya hanya mendelik. “Nggak bisa. Kamu bilang hari ini ada presentasi, gimana sih.” Jena menghela napas panjang. Ya sudah, setidaknya ia sudah mencoba—walau hasilnya memang bisa ditebak. “Ayo cepet. Papa udah nungguin. Jangan lama-lama!” lanjut Alya. “Iya, iya…” Akhirnya Jena masuk kamar mandi. Ia mengguyur tubuhnya dengan air hangat, berharap bisa mengusir pegal-pegal dan sisa kantuk yang masih menempel di kelopak mata. Beberapa menit kemudian, ia keluar dengan badan lebih segar. Matanya sudah lumayan hidup. Jena kembali ke kamar untuk bersiap-siap. Ia merapikan buku, memasukkan laptopnya kedalam tas, tak lupa makalah yang sudah ia susun dengan susah payah. Saat sedang sibuk, satu notifikasi masuk dari Ranti. Ranti: Jen, gua muntah-muntah. Kayaknya masuk angin. Jena mengernyit. Jena: Orang gila. Gua yang basah kuyup kemarin, elu yang masuk angin? Tak lama, pesan berikutnya masuk. Ranti: Eh serius gua. Satu foto punggung Ranti yang memerah muncul di layar. Jena mendengus. Jena: Ih sebel. Napa nggak gua aja yang sakit. Males ngampus kalo nggak ada lu. Ranti: Yaudah pura-pura sakit aja. Nggak bisa lu? Belajar boong kek. Gua ajarin nanti. Jena menahan tawa kecil. Saran menyesatkan—seperti biasa. Sudah belasan tahun mereka berteman, dan anehnya… mereka tetap sama. Ranti dengan sikap slengeannya, dan Jena dengan kepolosannya yang kadang bikin Ranti harus ekstra menjaga. Tapi biarpun begitu, Jena tahu: Ranti adalah orang yang paling mengerti dirinya. Bagaimana tidak mengerti, sepanjang hari Rena selalu ada disamping Jena. Jena menatap ke sudut kamar. Jaket hitam milik Malik masih tergantung rapi. Ia menggantungnya semalam setelah dipakai. Entah kenapa, melihat jaket itu membuat pipinya terasa memanas. Mengingat kejadian hujan kemarin… dan kalimat Malik yang kelewat tajam. Jena buru-buru menggeleng, seolah bisa mengusir memori itu. “Nanti pulang dari kampus gue balikin deh,” gumamnya pelan, lebih ke diri sendiri. “Sekalian nengokin Ranti.” “Dah siap?” suara Abimanyu terdengar dari depan kamar. Jena menoleh. “Siap, Pa.” Kini ia sudah berpakaian rapi. Rambut panjangnya ia jepit asal dengan jedai, tapi tetap terlihat manis. Ia juga membawa jaket sendiri yang cukup tebal—karena trauma kehujanan kemarin masih segar di ingatan. “Jena berangkat ya, Mah!” serunya. Alya muncul dari dapur, masih dengan ekspresi tegas, tapi suaranya lebih lembut. “Hati-hati di jalan ya, Jen. Pulangnya jangan keluyuran dulu. Langsung pulang.” “Iya, iya. Bawel, Mama…” Jena cengengesan. Alya mendelik lagi, tapi Jena keburu lari kecil keluar. Jena dan Abimanyu berangkat menggunakan motor. Maklum saja, Abimanyu belum bisa menyetir mobil. Mobil tua peninggalan kakek Jena hanya terparkir rapi di garasi, lebih sering jadi pajangan. Paling kalau ada perlu jauh, Alya yang mengendarainya. Di atas motor, angin pagi menerpa wajah Jena. Dan entah kenapa… Jena jadi kepikiran lagi tentang jaket hitam itu. Tentang wangi citrus yang kemarin sempat menempel di bahunya. Tentang Malik yang dingin, tapi… perhatian. Jena mengerutkan dahi. “Astaga,” gumamnya pelan. “Kenapa sih gue jadi mikirin itu…” Motor gede Papah Jena sudah terparkir di depan pagar. Jena pun sudah duduk manis di jok belakang. Postur Abimanyu cukup tegap, jadi saat Jena memeluk papahnya, ia merasa aman. “Dah siap?” tanya Abimanyu. Jena mengangguk. Bibirnya melengkung, dengan sinar mata yang berbinar. ia senang saat-saat seperti ini. Sudah sangat lama Jena tak berboncengan dengan Papanya–Abimanyu. Ia masih ingat, terakhir ia sering jalan bersama Papanya saat dirinya masih duduk di kelas sebelas. Setelah itu, sepertinya tak ada memori kebersamaannya dengan sang Ayah. Di depan rumah, tepat di luar pagar, Abimanyu melihat Malik yang juga baru keluar dari rumahnya. HR-V beige kesayangannya masih setia Malik gunakan. Tid— Malik menyapa sambil tersenyum saat tetangganya itu melewati rumahnya. “Anterin Jena ke kampus Om,” sapa Malik. “Iya nih,” jawab Papah Jena. “Kamu pagi banget berangkatnya, Lik.” "Iya, Om. Mau keluar kota,” jawab Malik santai. Jena terdiam. Matanya menangkap sosok di kursi sebelah Malik. Seorang wanita berambut pendek, sibuk merapikan lipstik di depan kaca kecil, seolah pagi ini hanyalah rutinitas biasa. "Baru juga putus... " gumam Jena pelan. Matanya menyipit, menatap mobil itu lama, "... udah gandeng cewe lain."Suasana restoran yang Malik tuju sore ini cukup ramai, setiap meja hampir penuh oleh pengunjung. Jena tahu betul setiap sudutnya, selalu dipenuhi oleh para pecinta makanan pedas. Termasuk dirinya. Namun keberadaanya saat ini di restoran favoritnya, tak menjadikan dirinya antusias seperti biasanya.Kenapa bisa begini ?Padahal, Sudah cukup lama semenjak terakhir kali dirinya dan Ranti tak berkunjung dan menikmati sajian yang membuat kedua gadis itu berselera untuk makan, sampai lupa daratan.Biasanya, baru satu langkah masuk ke restoran ini saja, dia akan tertawa riang, di dalam kepala sudah tersusun, menu apa saja yang akan di pesan. Namun kali ini, tak ada semangat yang ia rasakan. Ia hanya mampu berdiri tanpa bergerak menatap keberadaan Malik bersama perempuan yang Jena tahu adalah mantan kekasihnya itu.Apa karena ini? karna tiba-tiba muncul orang yang tak terduga dan 'mengganggu'.Tunggu.Kenapa ada pikiran jika mantan kekasih Malik yang tiba-tiba muncul itu mengganggu bagi Jena?
Jena masih merasakan kepalanya yang berdenyut, sisa kantuk karena dibangunkan dengan cara tak lazim. Tubuhnya masih terasa letih ditambah perutnya yang keroncongan, menambah semeraut wajah Jena. Apalagi dadanya masih berdegup begitu riuh karena dikagetkan oleh ulah Malik yang menggodanya, lalu meninggalkannya begitu saja. Jemari Jena sampai gemetar karena ulah Malik. Nafas beraroma tembakau bercampur mint itu masih mengganggu kewarasannya. Sempat Jena terdiam, terpaku menatap wajah datar Malik. hidung mereka nyaris saling bersentuhan, berbagi udara sebegitu dekat. Gadis mana yang tak akan syok, apalagi ini adalah pria yang terkenal dengan permainan cintanya yang singkat dengan banyak wanita, apa Jena akan bersikap biasa saja? tentu saja tak mungkin. Bola mata berwarna coklat terang itu memantulkan wajah Jena yang menahan nafas. Duduk saling berhadapan setelah Jena bangun dari tidurnya tiba-tiba. Dan Malik, hanya tersenyum sinis seakan sedang menggoda. "Sial, jantung gue–" gerutu
Dua jam berlalu lepas Jena terlelap di kursi penumpang disamping Malik. Langit sudah mulai menguning dengan lalu lintas yang kini mulai padat. Manusia di luar sana mulai sibuk mengejar waktu, memadati sudut jalanan ingin segera pulang, tak ingin terjebak oleh macetnya kota jakarta kala jam pulang kantor. Beberapa kali ponsel Jena yang gadis itu genggam berbunyi. Namun Jena yang tidur bagaikan bayi itu tak terganggu sedikitpun. Dan Malik? Tak berniat sama sekali membangunkannya, atau mengangkat telpon Jena yang berdering berkali-kali, mungkin itu panggilan telepon dari Ranti, atau bisa juga dari tante Alya–mamanya Jena. Ia tak peduli. Pria yang di juluki muka Es oleh Ranti– adiknya itu, malah sibuk menatap Jena. Sesekali Malik terkekeh mendengar dengkuran halus sahabat adiknya itu. Tak ada rasa bosan sama sekali. Bahkan Malik sengaja mengambil jaketnya untuk dijadikan selimut Jena. Kursi yang di duduki Jena, ia seting dengan posisi lebih mundur agar nyaman untuk tidur. Bukan han
Jena membulatkan mata, tubuhnya mundur selangkah. Ia tak menyangka, mengapa Malik kini berada di hadapannya. “Masuk, Jen.” Nada suaranya datar. Lebih seperti perintah daripada ajakan. Beberapa detik Jena hanya mematung. Pikirannya berkelana. Mengingat ucapan Malik tadi pagi. "Bukannya Malik sedang di luar kota?" gumam Jena lebih pada dirinya sendiri. Malik mendengus kesal, melihat Jena malah berdiam diri menatap dirinya. “Heh… malah bengong. Cepet.” Nada Malik terdengar tidak sabaran. Jena tersentak. Ia buru-buru membuka pintu belakang mobil, namun Malik langsung mendengus kesal. “Heh! lu kira gua sopir apa? Depan, dong.” “Iya… maaf.” Jena menutup pintu belakang dan segera beralih ke kursi depan. Ia duduk pelan di samping Malik, berusaha setenang mungkin meski kepalanya masih berdenyut hebat. Ia bersandar, seolah seluruh tubuhnya kehabisan tenaga. Malik memperhatikannya dalam diam. Lalu, tanpa banyak kata, ia mendekat. Membuka sabuk pengaman yang ia pakai, lal
Kemeja putihnya langsung berubah kecokelatan. Cairan itu lengket, dingin, dan membuat kulitnya menggigil. Jena memejamkan mata, jemarinya mengepal kuat. Menahan amarahnya agar tidak meledak di tempat. Rico membulatkan mata. Ia baru menyadari ada Hilda berdiri di sana, wajahnya dipenuhi amarah dan syok yang tak bisa disembunyikan. Gelas kosong masih berada di atas kepala Jena. Dan wajah Hilda seakan puas dengan gurat sinis menyebalkan, tatapannya menajam, menyimpan dendam yang begitu dalam pada Jena yang diam seakan menikmati aliran dingin mengotori rambut dan kemejanya. “Hilda! lu ngapain?!” bentak Rico. Netra Hilda nyalang. Ia menatap Jena yang malah tetap duduk dan melanjutkan mengunyah, seolah ia tidak peduli. Hilda semakin murka mendengar Rico membela Jena. Hilda tak segan menunjuk Jena tajam. “Cewek jalang ini yang ngapain?!” Jena mengangkat kepala perlahan. Menatap Hilda tepat di mata dengan tatapan menantang. Dengan suara rendah dan tajam, Jena berkata, “Elo
Hari ini ada sedikit keanehan di kelas. Saat Jena melangkahkan kaki ke dalam, tak ada yang menyapanya. Padahal biasanya, beberapa temannya akan melempar candaan ringan, atau sekadar mengangguk kecil saat ia lewat. Namun sekarang… berbeda. Yang tadinya ramai bercanda dengan teman sebangku, mendadak terdiam sepersekian detik begitu Jena muncul. Hening singkat yang terasa aneh. Lalu satu persatu, netra mereka menatap sinis ke arah Jena yang berjalan sendirian menuju mejanya. Napas Jena masih memburu karena tadi berlari menghindari kejaran Rico. Ia berhenti sejenak, menahan langkah, menenangkan tarikan nafasnya yang riuh. Ia mencoba memahami perubahan ekspresi yang mendadak muncul di wajah mereka. Langkahnya ia perlambat, sambil sesekali melirik mahasiswi lain yang berbisik-bisik melempar tatapan aneh pada Jena. Saat akhirnya sampai di mejanya dan duduk, Jena buru-buru merogoh kantong tasnya lalu mengeluarkan cermin kecil. Ia menatap wajahnya sendiri, takut ada sesuatu yang







