Share

Bab 5

last update publish date: 2026-02-05 23:21:28

Hari ini ada sedikit keanehan di kelas.

Saat Jena melangkahkan kaki ke dalam, tak ada yang menyapanya. Padahal biasanya, beberapa temannya akan melempar candaan ringan, atau sekadar mengangguk kecil saat ia lewat.

Namun sekarang… berbeda.

Yang tadinya ramai bercanda dengan teman sebangku, mendadak terdiam sepersekian detik begitu Jena muncul. Hening singkat yang terasa aneh. Lalu satu persatu, netra mereka menatap sinis ke arah Jena yang berjalan sendirian menuju mejanya.

Napas Jena masih memburu karena tadi berlari menghindari kejaran Rico. Ia berhenti sejenak, menahan langkah, menenangkan tarikan nafasnya yang riuh. Ia mencoba memahami perubahan ekspresi yang mendadak muncul di wajah mereka.

Langkahnya ia perlambat, sambil sesekali melirik mahasiswi lain yang berbisik-bisik melempar tatapan aneh pada Jena.

Saat akhirnya sampai di mejanya dan duduk, Jena buru-buru merogoh kantong tasnya lalu mengeluarkan cermin kecil. Ia menatap wajahnya sendiri, takut ada sesuatu yang aneh… sesuatu yang memalukan mungkin.

Tapi tidak.

Tidak ada apa-apa.

“Gak ada apa-apa…” gumam Jena pelan, lebih seperti bicara pada dirinya sendiri. “Terus kenapa mereka?"

Jena mengalihkan pandangannya pada mahasiswi yang duduk di sampingnya.

“Mel—”

Jena ingin bertanya, apakah ada yang aneh pada dirinya saat ini?, tapi belum sempat kalimatnya keluar, Dosen masuk begitu saja. Ia langsung mengurungkan niatnya untuk bertanya pada Amel yang bersikap sama: Acuh tak acuh padanya.

Huft..

Jena hanya mampu menarik nafasnya kasar. Berusaha menarik fokusnya dan melupakan apa yang terjadi.

"Selamat pagi semua," sapa Pak Dewangga pagi ini.

"Pagi."

"Silahkan persiapkan diri untuk kelompok yang bertugas untuk presentasi."

Mendengar inrupsi dari Dewangga, Jena segera mempersiapkan diri, begitupun dengan Amel, rekan sekelompok Jena.

Tanpa menoleh pada Jena, Amel maju sendirian, seakan ia ingin meninggalkan Jena. wajahnya tak ada keramahan sedikitpun.engabaikan Jena begitu saja tanpa berniat menyelaraskan diskusi agar berjalan dengan baik.

Amel seakan tak peduli.

Dan Jena, hanya duduk canggung dihadapan semua orang tanpa bisa ia melakukan apapun. Ia layaknya pajangan tak berfungsi dalam presentasi ini.

Selama kelas berlangsung, tak ada satu pun yang mau berinteraksi dengannya. Ia tak mendapatkan kesempatan sama sekali. Tak ada satupun yang melempar pertanyaan, jangankan mengoreksi, memperhatikan saja tidak.

Kini, Jena benar-benar diabaikan oleh semua mahasiswi di kelasnya.

Jemari Jena mengepal kuat di diatas paha berbalut rok caduroi yang ia gunakan. Dadanya terasa mengembang berat, sesak ia rasakan.

Jena bergumam pada dirinya sendiri, "Apa salah gue? apa karena ga ada Ranti, jadi mereka kaya gitu?"

Bukan tanpa alasan Jena bicara seperti itu, pada kenyataannya memang hanya Ranti yang selalu menempel padanya seakan tak memberi celah pada siapapun untuk menyentuh Jena.

Tapi sekarang.

Jika diingat-ingat, memang benar mereka selalu menyapa Ranti terlebih dahulu, lalu menyapa dirinya.

Pertanyaan-pertanyaan itu terus saja berseliweran dikepalanya. Hingga jam kelasnya usai.

Jena menggigit bibirnya pelan. Dadanya bergemuruh, tak memahami keadaan yang sebenarnya.

Kelas telah usai, Jena memutuskan untuk keluar dari kelas menuju ke kantin. Ternyata, bukan hanya mahasiswi dikelasnya saja yang seakan terganggu dengan kehadiran Jena, saat ia melangkah perlahan sendirian di Koridor menuju kantin pun, tatapan semua orang seaakn menusuk dirinya, sorot mata itu adalah sorot mata jiji seakan Jena sedang ditelanjangi.

“Mereka kenapa sih…?” gumam Jena. Kini ia bagaikan orang asing yang bahkan tak memiliki tempat di kampus ini.

Meski harinya terasa ada yang salah, Jena tetap berjalan lurus menuju kantin. Ia tak boleh melewatkan makan siangnya. Kalau tidak, lambungnya bisa perih lagi. Jena tahu betul bagaimana rasanya.

Ia mengantre sendirian untuk memesan makanan kesukaannya: gado-gado pakai lontong, bumbu kacang kental yang gurih manis. Ia suka sensasi rasanya, sayurnya segar, dan rasanya selalu menenangkan.

“Satu porsi ya, Mang. Nggak usah pakai cabai,” pinta Jena.

Penjual gado-gado meliriknya sekilas lalu tersenyum ramah. “Siang, Neng Jen. Mamang anterin ke meja ya. Duduknya mau di mana?”

Jena mengedarkan pandangannya, mencari kursi kosong yang agak tersembunyi.

“Ah… di sana aja, Mang. Deket tukang minuman,” jawabnya pelan.

Mamang gado-gado mengacungkan jempol.

Jena lalu berjalan ke meja di pojokan, tak jauh dari tukang minuman. Paling belakang dan nyaris tak akan ada yang duduk di sana.

Setidaknya, itulah yang Jena harapkan.

Sepanjang ia melewati meja-meja yang ditempati para siswa, beberapa pasang mata meliriknya sinis. Lalu ada suara yang sengaja dibuat sedikit keras—seolah diarahkan padanya.

“Cewek nggak tahu malu. Katanya nggak suka sama Rico, tapi ternyata diembat juga.”

Jena menegang. Tatapan mereka jelas mengarah pada Jena saat berbicara. Membuat Jena seakan jadi tertuduh.

“Gila ya… udah tahu Rico cowoknya Hilda. Sok kecantikan dia.”

Kalimat itu menusuk. Bukan karena benar, tapi karena jelas-jelas dibuat untuk menjatuhkan.

Jena melirik sekilas, tapi ia tak punya alasan untuk melabrak. Namanya tidak disebut. Dan ia benar-benar tidak ada hubungan apa-apa dengan Rico.

Detak jantungnya berpacu semakin cepat. Jemarinya meremas kuat ujung rok, berusaha menahan emosi yang mulai naik ke tenggorokan.

Ia tidak terima.

Sangat tidak terima.

Namun apa yang bisa ia lakukan. Sekali lagi, tak ada yang menyebut namanya, Hanya tatapan saja mengarahkan padanya, itu tak cukup untuk membuktikan mereka membicarakan dirinya.

Tiba-tiba perutnya seperti ditusuk-tusuk. Perih yang tajam membuat napasnya tercekat.

“Andai Ranti ada di sini…” gumamnya lirih.

Kini Jena sudah duduk di kursi sendirian. Gado-gadonya pun tersaji di atas meja. Ia mencoba mengaduknya pelan, menyiapkan suapan pertama, tapi rasanya tidak seenak biasanya.

Bukan karena makanannya berubah.

Tapi karena suasana harinya yang terasa begitu buruk.

Lalu, suara riang yang sama sekali tidak ia harapkan datang di waktu yang paling tidak tepat.

Rico duduk di hadapannya dengan senyum merekah, seperti mereka sedang baik-baik saja.

Jena mengangkat kepala, mendapati Rico menopang dagunya dengan satu tangan.

“Makan kok nggak ajak-ajak,” ucapnya tanpa sungkan.

Seisi kantin langsung menoleh.

Tatapan mereka mengarah pada Jena—tajam, penuh penilaian, seolah ia baru saja melakukan sesuatu yang tidak pantas.

Salahkan Rico yang tiba-tiba muncul.

Jena tidak mempedulikan Rico. Ia menekuri isi piringnya, ingin cepat selesai lalu pergi dari sana.

“Kok nggak jawab sih? Kamu marah sama aku?” Rico tetap saja bicara.

Belum sempat Jena menjawab, tiba-tiba rasa dingin mengalir dari kepala sampai lehernya.

"Ya Tuhan, apalagi ini?" Jena membatin.

Jemarinya mengepal begitu erat, ia muak dengan orang-orang hari ini.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Abang Playboy menungguku   Bab 10

    Suasana restoran yang Malik tuju sore ini cukup ramai, setiap meja hampir penuh oleh pengunjung. Jena tahu betul setiap sudutnya, selalu dipenuhi oleh para pecinta makanan pedas. Termasuk dirinya. Namun keberadaanya saat ini di restoran favoritnya, tak menjadikan dirinya antusias seperti biasanya.Kenapa bisa begini ?Padahal, Sudah cukup lama semenjak terakhir kali dirinya dan Ranti tak berkunjung dan menikmati sajian yang membuat kedua gadis itu berselera untuk makan, sampai lupa daratan.Biasanya, baru satu langkah masuk ke restoran ini saja, dia akan tertawa riang, di dalam kepala sudah tersusun, menu apa saja yang akan di pesan. Namun kali ini, tak ada semangat yang ia rasakan. Ia hanya mampu berdiri tanpa bergerak menatap keberadaan Malik bersama perempuan yang Jena tahu adalah mantan kekasihnya itu.Apa karena ini? karna tiba-tiba muncul orang yang tak terduga dan 'mengganggu'.Tunggu.Kenapa ada pikiran jika mantan kekasih Malik yang tiba-tiba muncul itu mengganggu bagi Jena?

  • Abang Playboy menungguku   Bab 9

    Jena masih merasakan kepalanya yang berdenyut, sisa kantuk karena dibangunkan dengan cara tak lazim. Tubuhnya masih terasa letih ditambah perutnya yang keroncongan, menambah semeraut wajah Jena. Apalagi dadanya masih berdegup begitu riuh karena dikagetkan oleh ulah Malik yang menggodanya, lalu meninggalkannya begitu saja. Jemari Jena sampai gemetar karena ulah Malik. Nafas beraroma tembakau bercampur mint itu masih mengganggu kewarasannya. Sempat Jena terdiam, terpaku menatap wajah datar Malik. hidung mereka nyaris saling bersentuhan, berbagi udara sebegitu dekat. Gadis mana yang tak akan syok, apalagi ini adalah pria yang terkenal dengan permainan cintanya yang singkat dengan banyak wanita, apa Jena akan bersikap biasa saja? tentu saja tak mungkin. Bola mata berwarna coklat terang itu memantulkan wajah Jena yang menahan nafas. Duduk saling berhadapan setelah Jena bangun dari tidurnya tiba-tiba. Dan Malik, hanya tersenyum sinis seakan sedang menggoda. "Sial, jantung gue–" gerutu

  • Abang Playboy menungguku   Bab 8

    Dua jam berlalu lepas Jena terlelap di kursi penumpang disamping Malik. Langit sudah mulai menguning dengan lalu lintas yang kini mulai padat. Manusia di luar sana mulai sibuk mengejar waktu, memadati sudut jalanan ingin segera pulang, tak ingin terjebak oleh macetnya kota jakarta kala jam pulang kantor. Beberapa kali ponsel Jena yang gadis itu genggam berbunyi. Namun Jena yang tidur bagaikan bayi itu tak terganggu sedikitpun. Dan Malik? Tak berniat sama sekali membangunkannya, atau mengangkat telpon Jena yang berdering berkali-kali, mungkin itu panggilan telepon dari Ranti, atau bisa juga dari tante Alya–mamanya Jena. Ia tak peduli. Pria yang di juluki muka Es oleh Ranti– adiknya itu, malah sibuk menatap Jena. Sesekali Malik terkekeh mendengar dengkuran halus sahabat adiknya itu. Tak ada rasa bosan sama sekali. Bahkan Malik sengaja mengambil jaketnya untuk dijadikan selimut Jena. Kursi yang di duduki Jena, ia seting dengan posisi lebih mundur agar nyaman untuk tidur. Bukan han

  • Abang Playboy menungguku   Bab 7

    Jena membulatkan mata, tubuhnya mundur selangkah. Ia tak menyangka, mengapa Malik kini berada di hadapannya. “Masuk, Jen.” Nada suaranya datar. Lebih seperti perintah daripada ajakan. Beberapa detik Jena hanya mematung. Pikirannya berkelana. Mengingat ucapan Malik tadi pagi. "Bukannya Malik sedang di luar kota?" gumam Jena lebih pada dirinya sendiri. Malik mendengus kesal, melihat Jena malah berdiam diri menatap dirinya. “Heh… malah bengong. Cepet.” Nada Malik terdengar tidak sabaran. Jena tersentak. Ia buru-buru membuka pintu belakang mobil, namun Malik langsung mendengus kesal. “Heh! lu kira gua sopir apa? Depan, dong.” “Iya… maaf.” Jena menutup pintu belakang dan segera beralih ke kursi depan. Ia duduk pelan di samping Malik, berusaha setenang mungkin meski kepalanya masih berdenyut hebat. Ia bersandar, seolah seluruh tubuhnya kehabisan tenaga. Malik memperhatikannya dalam diam. Lalu, tanpa banyak kata, ia mendekat. Membuka sabuk pengaman yang ia pakai, lal

  • Abang Playboy menungguku   Bab 6

    Kemeja putihnya langsung berubah kecokelatan. Cairan itu lengket, dingin, dan membuat kulitnya menggigil. Jena memejamkan mata, jemarinya mengepal kuat. Menahan amarahnya agar tidak meledak di tempat. Rico membulatkan mata. Ia baru menyadari ada Hilda berdiri di sana, wajahnya dipenuhi amarah dan syok yang tak bisa disembunyikan. Gelas kosong masih berada di atas kepala Jena. Dan wajah Hilda seakan puas dengan gurat sinis menyebalkan, tatapannya menajam, menyimpan dendam yang begitu dalam pada Jena yang diam seakan menikmati aliran dingin mengotori rambut dan kemejanya. “Hilda! lu ngapain?!” bentak Rico. Netra Hilda nyalang. Ia menatap Jena yang malah tetap duduk dan melanjutkan mengunyah, seolah ia tidak peduli. Hilda semakin murka mendengar Rico membela Jena. Hilda tak segan menunjuk Jena tajam. “Cewek jalang ini yang ngapain?!” Jena mengangkat kepala perlahan. Menatap Hilda tepat di mata dengan tatapan menantang. Dengan suara rendah dan tajam, Jena berkata, “Elo

  • Abang Playboy menungguku   Bab 5

    Hari ini ada sedikit keanehan di kelas. Saat Jena melangkahkan kaki ke dalam, tak ada yang menyapanya. Padahal biasanya, beberapa temannya akan melempar candaan ringan, atau sekadar mengangguk kecil saat ia lewat. Namun sekarang… berbeda. Yang tadinya ramai bercanda dengan teman sebangku, mendadak terdiam sepersekian detik begitu Jena muncul. Hening singkat yang terasa aneh. Lalu satu persatu, netra mereka menatap sinis ke arah Jena yang berjalan sendirian menuju mejanya. Napas Jena masih memburu karena tadi berlari menghindari kejaran Rico. Ia berhenti sejenak, menahan langkah, menenangkan tarikan nafasnya yang riuh. Ia mencoba memahami perubahan ekspresi yang mendadak muncul di wajah mereka. Langkahnya ia perlambat, sambil sesekali melirik mahasiswi lain yang berbisik-bisik melempar tatapan aneh pada Jena. Saat akhirnya sampai di mejanya dan duduk, Jena buru-buru merogoh kantong tasnya lalu mengeluarkan cermin kecil. Ia menatap wajahnya sendiri, takut ada sesuatu yang

  • Abang Playboy menungguku   Bab 4

    Masih terlalu pagi untuk menggoda seorang gadis. Jena melihatnya jelas. Di sana, di depan gerbang tinggi berwarna biru, seorang pria berdiri tegak dengan jaket baseball hijau. Tubuhnya tinggi, dengan senyum cerah yang rasanya seperti sinar matahari yang kelewat semangat untuk jam segini. Jena

  • Abang Playboy menungguku   Bab 3

    Senyum cerah Jena memudar, ada rasa mencubit yang membuat Jena seakan tak bernafsu untuk menyapa Malik. Ia hanya memalingkan wajahnya dari Malik. Jangankan memberi senyum secerah matahari pagi ini, bahkan menatap wajah Malik yang sesekali menatap dirinya saja, Jena merasa malas. Segera Jena mem

  • Abang Playboy menungguku   Bab 2

    Plak! Jena menepuk tangan Ranti pelan. "Mulut lu, Ran. Bener kata Bang Malik, lu tuh kayak kuntilanak. Serem banget kalo lagi ketawa" "Tapi Jen…" Ranti mendekat, suaranya mendadak sok serius. "Elu mau nggak sama abang gue? Dari pada sama cewek-ceweknya yang bejibun itu, kayaknya si muka es leb

  • Abang Playboy menungguku   Bab 1

    "Heh, tungguin ih…"Jena ngos-ngosan mengejar Ranti yang melesat lebih dulu. "Cepet, Jen! Lemah banget. Keburu jauh!" Ranti menoleh sekilas sambil tetap berlari kecil, seolah hujan rapat yang mengguyur mereka bukan masalah. Jena mendengus kesal. "Hujannya deres gini, niat banget lu ngintip oran

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status