LOGINDua jam berlalu lepas Jena terlelap di kursi penumpang disamping Malik. Langit sudah mulai menguning dengan lalu lintas yang kini mulai padat. Manusia di luar sana mulai sibuk mengejar waktu, memadati sudut jalanan ingin segera pulang, tak ingin terjebak oleh macetnya kota jakarta kala jam pulang kantor.
Beberapa kali ponsel Jena yang gadis itu genggam berbunyi. Namun Jena yang tidur bagaikan bayi itu tak terganggu sedikitpun. Dan Malik? Tak berniat sama sekali membangunkannya, atau mengangkat telpon Jena yang berdering berkali-kali, mungkin itu panggilan telepon dari Ranti, atau bisa juga dari tante Alya–mamanya Jena. Ia tak peduli. Pria yang di juluki muka Es oleh Ranti– adiknya itu, malah sibuk menatap Jena. Sesekali Malik terkekeh mendengar dengkuran halus sahabat adiknya itu. Tak ada rasa bosan sama sekali. Bahkan Malik sengaja mengambil jaketnya untuk dijadikan selimut Jena. Kursi yang di duduki Jena, ia seting dengan posisi lebih mundur agar nyaman untuk tidur. Bukan hanya ponsel Jena yang berdering. Namun ponsel Malikpun berbunyi berkali-kali. Ada dari sekretarisnya, dari orang tuanya, termasuk dari Ranti. Jangankan diangkat, dilihat saja tidak. Apakah Malik peduli? Tentu saja tidak. Baginya, kini yang jadi prioritas utamanya hanyalah Jena yang meringkuk di hadapannya dengan ekspresi polos yang tak terganggu sedikitpun dengan kebisingan dunia. Hingga suara itu terdengar nyaring. "Kruuuk.. kruuuk.. kruuuk." Perut Jena meraung ingin diisi, namun yang punya perut malah tak terganggu sedikitpun. Apakah gadis ini sangat lelah hingga lupa isi perutnya? Malik lalu melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Sudah hampir jam 6 sore. Sepertinya ia tak bisa mengulur waktu. Bisa-bisa ia akan menginap di sini bersama Jena jika Malik mengikuti keinginannya. Segera Malik menghidupkan mobilnya, bukan untuk langsung mengantar Jena pulang, namun ke tempat lain. Tempat yang terlintas dalam kepalanya akan disukai oleh Jena. 'Hanya seorang Jena'. Beberapa menit Malik mengemudi, mencari tempat yang cocok untuk dirinya dan Jena singgah. Hingga ia menemukan satu restoran kesukaan Jena. Mobil HR-V berwarna beige kesayangannya ini telah terparkir rapih di parkiran restoran hot pot favorit Jena namun jarang gadis itu sambangi. Bukan karena ia tak mampu membelinya, tapi Ranti mengatakan Jena sedang menjaga berat badannya yang kini mulai menggemuk. Ah... Dasar perempuan. Memangnya apa masalahnya jika tubuhnya menggemuk. yang penting Malik suka bukan. Setelah Malik mematikan deru mesin mobilnya. Segera Ia menyentuh bahu Jena lalu mengguncangnya perlahan. Berniat serius ingin membangunkan gadis pendengkur ini. Namun yang terjadi. Tak semudah itu membangunkan seorang Jena dari tidurnya. "Jen... Jen," panggilnya dengan suara lembut. "Hmmm..." Jena tak segera bangun, ia hanya bergumam lalu membalikkan tubuhnya hingga memunggungi Malik. "Ya ampun, ni bocah," gerutu Malik berusaha sabar. Sekali lagi ia mengguncang bahu Jena yang kini berada dalam posisi membelakanginya. "Jen, cepet bangun. Dah sampe nih." Suara Malik masih lembut. Bahkan suaranya nyaris berbisik. "Lu tidur apa mati sih Jen, susah banget dibangunin. Pantesan tadi gua cium lu ga bangun." gerutu Malik. Menyadari apa yang di ucapkan mulutnya sendiri, Malik malah tersenyum senang. Ia lalu mendekatkan diri pada Jena lalu memutar tubuh yang membelakanginya. Berkali-kali Malik membangunkan Jena, tapi hasilnya. Ah.. benar-benae diluar dugaan. "Mau bangun engga?" tanya Malik tepat di wajah Jena. "Iya mau.. tunggu satu menit lagi ya Mah," ucapnya masih mengigau. Malik malah terkekeh dengan kelakuan Jena. Ia bisa membayangkan bagaimana sulitnya tante Alya saat membangunkan anak gadisnya ini. Ada niat yang sedikit nakal yang terlintas di benak Malik, membuat senyum gelinya terukir. Ia yakin jika ia melakukannya sekali lagi, Jena tak akan menyadarinya. "Baiklah, kalo lu gak bangun sekarang, gua pastiin lu bakalan nyesel ya Jen." Suara Malik berdesir tepat di telinga Jena, membuat Kesadarannya berangsur-angsur kembali. Ada kekehan yang menyeramkan yang Jena rasakan, membuat bulu kuduknya menjadi meremang begitu saja, seakan dirinya sedang dibangunkan oleh ancaman menakutkan yang bisa mengakhiri hidupnya. Bulu mata lentik itu bergerak, mengerjap perlahan berusaha membuka sedikit demi sedikit. Penciumannya menangkap sesuatu. Aroma tembakau yang khas terasa begitu dekat, nafasnya beradu seakan seseorang ada persis di hadapannya. Kesadaran Jena makin menajam. Tidurnya terganggu, ia dipaksa berpikir dalam keadaan tertidur. "Ini bukan di kamar, yang manggil dari tadi bukan Mamah?" gumamnya masih menganggap ini dalam mimpi. "Suara nyokap lu emang kaya laki?" jawab Malik begitu dekat di wajah Jena, hingga hembusan nafasnya menerpa wajah Jena. Mata terpejam itu segera terbuka. Dihadapannya Malik tersenyum smirk dengan mata yang menatap tajam pada dirinya. Jena berkedip sekali. lalu mencengkram kuat baju yang menutup tubuhnya. saat ia tersadar sepenuhnya. Jena memekik tertahan. "O my God." "Udah kagetnya? cepet bangun, gua dah laper nih." Jena membeku sesaat, ia mengusap wajah bantalnya. Gadis yang masih belum sepenuhnya sadar itu berusaha mengingat apa yang terjadi. Ia bingung sesaat namun ingatannya perlahan mulai menajam. Satu yang pasti, sekarang dirinya tak di rumah, ia bersama Malik yang tadi menjemputnya di kampus. Entah sengaja atau kebetulan Jena tak tahu pasti. "Ini dimana?" tanya Jena dengan suaranya yang parau khas bangun tidur. "Di resto. Kita makan dulu ya, gua laper banget nungguin lu bangun, udah gitu susah banget lagi bangunnya." Ucapan Malik terdengar menggerutu, namun Jena tak merasa tersinggung sedikit pun. Mendengar kata Restoran, tiba-tiba perut Jena berbunyi. Ia ingat tadi siang ia hanya memasukan satu suapan makanan. Memang benar dirinya kini sangat kelaparan. Malik segera membuka pintu mobilnya. Lalu berputar membukakan pintu Jena. Perlakuan yang tak sesuai dengan apa yang keluar dari mulutnya. Jena hanya bisa menunduk sambil mengucapkan terimakasih. Pria ini adalah pria yang selalau tajam kala berbicara, namun setiap perlakuannya membuat Jena merasa dirinya diperlakukan spesial. Malik melangkah terlebih dahulu saat Jena telah keluar dari mobilnya. Melangkah tanpa berniat menunggu Jena. Di belakang, Jena tertinggal beberapa langkah. Ia menatap punggung Malik yang tegap. Ada pertanyaan yang mengganggu dalam kepala Jena. "Sebenarnya gue siapanga elu sih bang?"Suasana restoran yang Malik tuju sore ini cukup ramai, setiap meja hampir penuh oleh pengunjung. Jena tahu betul setiap sudutnya, selalu dipenuhi oleh para pecinta makanan pedas. Termasuk dirinya. Namun keberadaanya saat ini di restoran favoritnya, tak menjadikan dirinya antusias seperti biasanya.Kenapa bisa begini ?Padahal, Sudah cukup lama semenjak terakhir kali dirinya dan Ranti tak berkunjung dan menikmati sajian yang membuat kedua gadis itu berselera untuk makan, sampai lupa daratan.Biasanya, baru satu langkah masuk ke restoran ini saja, dia akan tertawa riang, di dalam kepala sudah tersusun, menu apa saja yang akan di pesan. Namun kali ini, tak ada semangat yang ia rasakan. Ia hanya mampu berdiri tanpa bergerak menatap keberadaan Malik bersama perempuan yang Jena tahu adalah mantan kekasihnya itu.Apa karena ini? karna tiba-tiba muncul orang yang tak terduga dan 'mengganggu'.Tunggu.Kenapa ada pikiran jika mantan kekasih Malik yang tiba-tiba muncul itu mengganggu bagi Jena?
Jena masih merasakan kepalanya yang berdenyut, sisa kantuk karena dibangunkan dengan cara tak lazim. Tubuhnya masih terasa letih ditambah perutnya yang keroncongan, menambah semeraut wajah Jena. Apalagi dadanya masih berdegup begitu riuh karena dikagetkan oleh ulah Malik yang menggodanya, lalu meninggalkannya begitu saja. Jemari Jena sampai gemetar karena ulah Malik. Nafas beraroma tembakau bercampur mint itu masih mengganggu kewarasannya. Sempat Jena terdiam, terpaku menatap wajah datar Malik. hidung mereka nyaris saling bersentuhan, berbagi udara sebegitu dekat. Gadis mana yang tak akan syok, apalagi ini adalah pria yang terkenal dengan permainan cintanya yang singkat dengan banyak wanita, apa Jena akan bersikap biasa saja? tentu saja tak mungkin. Bola mata berwarna coklat terang itu memantulkan wajah Jena yang menahan nafas. Duduk saling berhadapan setelah Jena bangun dari tidurnya tiba-tiba. Dan Malik, hanya tersenyum sinis seakan sedang menggoda. "Sial, jantung gue–" gerutu
Dua jam berlalu lepas Jena terlelap di kursi penumpang disamping Malik. Langit sudah mulai menguning dengan lalu lintas yang kini mulai padat. Manusia di luar sana mulai sibuk mengejar waktu, memadati sudut jalanan ingin segera pulang, tak ingin terjebak oleh macetnya kota jakarta kala jam pulang kantor. Beberapa kali ponsel Jena yang gadis itu genggam berbunyi. Namun Jena yang tidur bagaikan bayi itu tak terganggu sedikitpun. Dan Malik? Tak berniat sama sekali membangunkannya, atau mengangkat telpon Jena yang berdering berkali-kali, mungkin itu panggilan telepon dari Ranti, atau bisa juga dari tante Alya–mamanya Jena. Ia tak peduli. Pria yang di juluki muka Es oleh Ranti– adiknya itu, malah sibuk menatap Jena. Sesekali Malik terkekeh mendengar dengkuran halus sahabat adiknya itu. Tak ada rasa bosan sama sekali. Bahkan Malik sengaja mengambil jaketnya untuk dijadikan selimut Jena. Kursi yang di duduki Jena, ia seting dengan posisi lebih mundur agar nyaman untuk tidur. Bukan han
Jena membulatkan mata, tubuhnya mundur selangkah. Ia tak menyangka, mengapa Malik kini berada di hadapannya. “Masuk, Jen.” Nada suaranya datar. Lebih seperti perintah daripada ajakan. Beberapa detik Jena hanya mematung. Pikirannya berkelana. Mengingat ucapan Malik tadi pagi. "Bukannya Malik sedang di luar kota?" gumam Jena lebih pada dirinya sendiri. Malik mendengus kesal, melihat Jena malah berdiam diri menatap dirinya. “Heh… malah bengong. Cepet.” Nada Malik terdengar tidak sabaran. Jena tersentak. Ia buru-buru membuka pintu belakang mobil, namun Malik langsung mendengus kesal. “Heh! lu kira gua sopir apa? Depan, dong.” “Iya… maaf.” Jena menutup pintu belakang dan segera beralih ke kursi depan. Ia duduk pelan di samping Malik, berusaha setenang mungkin meski kepalanya masih berdenyut hebat. Ia bersandar, seolah seluruh tubuhnya kehabisan tenaga. Malik memperhatikannya dalam diam. Lalu, tanpa banyak kata, ia mendekat. Membuka sabuk pengaman yang ia pakai, lal
Kemeja putihnya langsung berubah kecokelatan. Cairan itu lengket, dingin, dan membuat kulitnya menggigil. Jena memejamkan mata, jemarinya mengepal kuat. Menahan amarahnya agar tidak meledak di tempat. Rico membulatkan mata. Ia baru menyadari ada Hilda berdiri di sana, wajahnya dipenuhi amarah dan syok yang tak bisa disembunyikan. Gelas kosong masih berada di atas kepala Jena. Dan wajah Hilda seakan puas dengan gurat sinis menyebalkan, tatapannya menajam, menyimpan dendam yang begitu dalam pada Jena yang diam seakan menikmati aliran dingin mengotori rambut dan kemejanya. “Hilda! lu ngapain?!” bentak Rico. Netra Hilda nyalang. Ia menatap Jena yang malah tetap duduk dan melanjutkan mengunyah, seolah ia tidak peduli. Hilda semakin murka mendengar Rico membela Jena. Hilda tak segan menunjuk Jena tajam. “Cewek jalang ini yang ngapain?!” Jena mengangkat kepala perlahan. Menatap Hilda tepat di mata dengan tatapan menantang. Dengan suara rendah dan tajam, Jena berkata, “Elo
Hari ini ada sedikit keanehan di kelas. Saat Jena melangkahkan kaki ke dalam, tak ada yang menyapanya. Padahal biasanya, beberapa temannya akan melempar candaan ringan, atau sekadar mengangguk kecil saat ia lewat. Namun sekarang… berbeda. Yang tadinya ramai bercanda dengan teman sebangku, mendadak terdiam sepersekian detik begitu Jena muncul. Hening singkat yang terasa aneh. Lalu satu persatu, netra mereka menatap sinis ke arah Jena yang berjalan sendirian menuju mejanya. Napas Jena masih memburu karena tadi berlari menghindari kejaran Rico. Ia berhenti sejenak, menahan langkah, menenangkan tarikan nafasnya yang riuh. Ia mencoba memahami perubahan ekspresi yang mendadak muncul di wajah mereka. Langkahnya ia perlambat, sambil sesekali melirik mahasiswi lain yang berbisik-bisik melempar tatapan aneh pada Jena. Saat akhirnya sampai di mejanya dan duduk, Jena buru-buru merogoh kantong tasnya lalu mengeluarkan cermin kecil. Ia menatap wajahnya sendiri, takut ada sesuatu yang
Masih terlalu pagi untuk menggoda seorang gadis. Jena melihatnya jelas. Di sana, di depan gerbang tinggi berwarna biru, seorang pria berdiri tegak dengan jaket baseball hijau. Tubuhnya tinggi, dengan senyum cerah yang rasanya seperti sinar matahari yang kelewat semangat untuk jam segini. Jena
Senyum cerah Jena memudar, ada rasa mencubit yang membuat Jena seakan tak bernafsu untuk menyapa Malik. Ia hanya memalingkan wajahnya dari Malik. Jangankan memberi senyum secerah matahari pagi ini, bahkan menatap wajah Malik yang sesekali menatap dirinya saja, Jena merasa malas. Segera Jena mem
Plak! Jena menepuk tangan Ranti pelan. "Mulut lu, Ran. Bener kata Bang Malik, lu tuh kayak kuntilanak. Serem banget kalo lagi ketawa" "Tapi Jen…" Ranti mendekat, suaranya mendadak sok serius. "Elu mau nggak sama abang gue? Dari pada sama cewek-ceweknya yang bejibun itu, kayaknya si muka es leb
"Heh, tungguin ih…"Jena ngos-ngosan mengejar Ranti yang melesat lebih dulu. "Cepet, Jen! Lemah banget. Keburu jauh!" Ranti menoleh sekilas sambil tetap berlari kecil, seolah hujan rapat yang mengguyur mereka bukan masalah. Jena mendengus kesal. "Hujannya deres gini, niat banget lu ngintip oran







