Share

Bab 3

last update publish date: 2026-02-05 21:44:48

Senyum cerah Jena memudar, ada rasa mencubit yang membuat Jena seakan tak bernafsu untuk menyapa Malik. Ia hanya memalingkan wajahnya dari Malik.

Jangankan memberi senyum secerah matahari pagi ini, bahkan menatap wajah Malik yang sesekali menatap dirinya saja, Jena merasa malas.

Segera Jena memeluk pinggang Abimanyu lalu berbisik, "Ayo pah."

Abimanyu mengangguk, lalu menepuk jemari Jena yang melingkar di pinggangnya, lalu berpamitan pada Malik yang masih berdiri disamping mobilnya.

“Ya sudah, salam buat ayah kamu ya.”

"Ok, om."

Abimanyu berlalu, meninggalkan Malik.

Sekilas Malik menatap punggung Jena yang menjauh. Gadis nakal itu tak sedikitpun menoleh padanya. Apalagi menyapanya.

“Udah gede sekarang dia,” gumam Malik pelan, "Berani banget dia engga natap muka gue."

Senyum tipis terulas di bibirnya, lebih mirip geli daripada tersinggung.

"Andai gue gak repot hari ini..."

Ia melirik jam di pergelangan tangannya. Jadwal penerbangannya tinggal satu setengah jam lagi.

Malik menghela napas pendek.

Ia memang sengaja menunggu beberapa menit di garasi tadi, hanya untuk melihat Jena berangkat.

Dan sekarang, ia malah terlambat.

“Oke.”

Ia membuka pintu mobil dan masuk.

Sella sudah duduk di kursi penumpang dengan wajah tidak sabar, tangan terlipat di dada. Jemarinya mengetuk pelan di siku.

“Bos, rapat ini penting banget, lho. Saya sampai jemput pagi-pagi,” ucapnya ketus.

Malik memutar bola matanya malas, asistennya ini memang sangat bawel.

"Berisik banget sih," ucap Malik sambil membenahi duduknya di balik kemudi.

Malik melajukan mobil yang tampak gagah itu ke jalan raya yang cukup padat. Beruntung perjalanannya bisa lewat tol untuk menghindari kemacetan. Kalau ia memaksa lewat jalan biasa, ia tak akan keburu.

Malik teringat apa yang Ranti katakan semalam saat dirinya hendak tidur. Adiknya itu masuk ke kamarnya begitu saja, lalu berkacak pinggang di hadapannya.

“Bang, jangan bikin aku malu terus dong depan Jena. Ganti-ganti pacar mulu, dia jadi ilfeel tau sama Abang. Satu komplek taunya abang tuh playboy cap kakap, padahal nyatanya hati bagai buaya cuma setia sama satu cewek.”

Hmmm.

Kebiasaan Malik memang begitu—hanya menanggapi adiknya dengan gumaman, padahal Ranti sudah kesal bukan main. Wajah dingin kakaknya itu seakan menyiratkan kata-kata:

Gue engga peduli.

Jelas banget.

Ranti malah duduk di karpet berbulu di kamar Malik, lalu mabar sampai jam dua pagi bareng Jena. Suara cekikikan Jena terdengar jelas sampai ke telinga Malik.

Lalu satu kalimat membuat Malik menajamkan pendengarannya.

“Ran, Rico ngajak nonton gue hari Sabtu. Gua iyain nggak ya?”

Ranti menjawab malas. Pria kesekian yang berusaha banget meluluhkan hati Jena. Ranti ingat Rico—ketua BEM yang ganteng itu—naksir berat juga pada Jena.

Jena memang cantik. Bahkan sangat cantik. Ada sentuhan Arab di wajahnya, dengan hidungnya yang mancung. Siapa yang nggak suka?

Bahkan Ranti sendiri, sebagai perempuan, mengakui kalau Jena memang yang paling cantik di angkatannya.

Ranti malah punya satu ide gila. Dengan antusias ia menjawab, “Cuma nonton kan? Terima aja. Tapi bilangin ke si Rico, ajakin gua. Biar gua yang morotin dia, elu kan nggak bisa.”

Ranti tertawa terbahak-bahak. Idenya cukup brilian. Jena nggak suka pada Rico, jadi Ranti membantu temannya itu agar segera terlepas dari kejaran pria seperti Rico.

Wajah Malik mengeras mendengar percakapan adiknya yang terdengar cukup jelas di telinganya.

Malik menggenggam setir lebih erat, rahangnya mengeras. Entah kenapa, kalimat sederhana itu terasa seperti sesuatu yang mengganggu—mengusik ruang yang selama ini ia kira aman dan tak tersentuh.

Ia menatap jalanan di depannya tanpa benar-benar melihat, sementara bayangan Jena dan nama “Rico” berputar-putar di kepalanya.

Hujan semalam, jaket hitamnya yang kini entah masih dipakai Jena atau sudah dilipat rapi, lalu tawa kecil gadis itu yang sempat ia dengar dari balik pintu kamar… semuanya menumpuk jadi satu, membuat dada Malik terasa sesak tanpa alasan yang bisa ia jelaskan.

"Bos.."

Suara Sella membuatnya sedikit tersadar.

"Sabar bos, kalo ngebut gini kita bisa mati," ucap wanita yang duduk di samping Malik.

Malik tidak langsung menjawab. Tatapannya tetap lurus ke depan. Tapi pikirannya… tidak ada di sana.

Jena.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Abang Playboy menungguku   Bab 7

    Jena membulatkan mata, tubuhnya mundur selangkah. Ia tak menyangka, mengapa Malik kini berada di hadapannya. “Masuk, Jen.” Nada suaranya datar. Lebih seperti perintah daripada ajakan. Beberapa detik Jena hanya mematung. Pikirannya berkelana. Mengingat ucapan Malik tadi pagi. "Bukannya Malik sedang di luar kota?" gumam Jena lebih pada dirinya sendiri. Malik mendengus kesal, melihat Jena malah berdiam diri menatap dirinya. “Heh… malah bengong. Cepet.” Nada Malik terdengar tidak sabaran. Jena tersentak. Ia buru-buru membuka pintu belakang mobil, namun Malik langsung mendengus kesal. “Heh! lu kira gua sopir apa? Depan, dong.” “Iya… maaf.” Jena menutup pintu belakang dan segera beralih ke kursi depan. Ia duduk pelan di samping Malik, berusaha setenang mungkin meski kepalanya masih berdenyut hebat. Ia bersandar, seolah seluruh tubuhnya kehabisan tenaga. Malik memperhatikannya dalam diam. Lalu, tanpa banyak kata, ia mendekat. Membuka sabuk pengaman yang ia pakai, lal

  • Abang Playboy menungguku   Bab 6

    Kemeja putihnya langsung berubah kecokelatan. Cairan itu lengket, dingin, dan membuat kulitnya menggigil. Jena memejamkan mata, jemarinya mengepal kuat. Menahan amarahnya agar tidak meledak di tempat. Rico membulatkan mata. Ia baru menyadari ada Hilda berdiri di sana, wajahnya dipenuhi amarah dan syok yang tak bisa disembunyikan. Gelas kosong masih berada di atas kepala Jena. Dan wajah Hilda seakan puas dengan gurat sinis menyebalkan, tatapannya menajam, menyimpan dendam yang begitu dalam pada Jena yang diam seakan menikmati aliran dingin mengotori rambut dan kemejanya. “Hilda! lu ngapain?!” bentak Rico. Netra Hilda nyalang. Ia menatap Jena yang malah tetap duduk dan melanjutkan mengunyah, seolah ia tidak peduli. Hilda semakin murka mendengar Rico membela Jena. Hilda tak segan menunjuk Jena tajam. “Cewek jalang ini yang ngapain?!” Jena mengangkat kepala perlahan. Menatap Hilda tepat di mata dengan tatapan menantang. Dengan suara rendah dan tajam, Jena berkata, “Elo

  • Abang Playboy menungguku   Bab 5

    Hari ini ada sedikit keanehan di kelas. Saat Jena melangkahkan kaki ke dalam, tak ada yang menyapanya. Padahal biasanya, beberapa temannya akan melempar candaan ringan, atau sekadar mengangguk kecil saat ia lewat. Namun sekarang… berbeda. Yang tadinya ramai bercanda dengan teman sebangku, mendadak terdiam sepersekian detik begitu Jena muncul. Hening singkat yang terasa aneh. Lalu satu persatu, netra mereka menatap sinis ke arah Jena yang berjalan sendirian menuju mejanya. Napas Jena masih memburu karena tadi berlari menghindari kejaran Rico. Ia berhenti sejenak, menahan langkah, menenangkan tarikan nafasnya yang riuh. Ia mencoba memahami perubahan ekspresi yang mendadak muncul di wajah mereka. Langkahnya ia perlambat, sambil sesekali melirik mahasiswi lain yang berbisik-bisik melempar tatapan aneh pada Jena. Saat akhirnya sampai di mejanya dan duduk, Jena buru-buru merogoh kantong tasnya lalu mengeluarkan cermin kecil. Ia menatap wajahnya sendiri, takut ada sesuatu yang

  • Abang Playboy menungguku   Bab 4

    Masih terlalu pagi untuk menggoda seorang gadis. Jena melihatnya jelas. Di sana, di depan gerbang tinggi berwarna biru, seorang pria berdiri tegak dengan jaket baseball hijau. Tubuhnya tinggi, dengan senyum cerah yang rasanya seperti sinar matahari yang kelewat semangat untuk jam segini. Jena baru sampai. Papahnya bahkan baru merapatkan motor di trotoar depan gerbang kampus Atmaja, tempat Jena menimba ilmu. Tapi Rico sudah menatapnya berbinar, seakan ia menantikan kedatangannya. Jena berusaha berpura-pura tidak melihat keberadaan Rico yang terus memandanginya—seolah menunggu sampai Papah Jena pergi sebelum ia mendekat. “Papah berangkat ya, Jen,” ucap Abimanyu. Jena mengangguk. Sebelum masuk ke halaman sekolah melewati gerbang biru yang menjulang di belakangnya, Jena mencium lengan Papahnya. Abimanyu membalas dengan mencium kening putrinya, lalu mengusap pucuk kepala Jena lembut. Abimanyu menyalakan motor gedenya, lalu melintasi jalanan padat ibu kota menuju tempat kerja.

  • Abang Playboy menungguku   Bab 3

    Senyum cerah Jena memudar, ada rasa mencubit yang membuat Jena seakan tak bernafsu untuk menyapa Malik. Ia hanya memalingkan wajahnya dari Malik. Jangankan memberi senyum secerah matahari pagi ini, bahkan menatap wajah Malik yang sesekali menatap dirinya saja, Jena merasa malas. Segera Jena memeluk pinggang Abimanyu lalu berbisik, "Ayo pah." Abimanyu mengangguk, lalu menepuk jemari Jena yang melingkar di pinggangnya, lalu berpamitan pada Malik yang masih berdiri disamping mobilnya. “Ya sudah, salam buat ayah kamu ya.” "Ok, om." Abimanyu berlalu, meninggalkan Malik. Sekilas Malik menatap punggung Jena yang menjauh. Gadis nakal itu tak sedikitpun menoleh padanya. Apalagi menyapanya. “Udah gede sekarang dia,” gumam Malik pelan, "Berani banget dia engga natap muka gue." Senyum tipis terulas di bibirnya, lebih mirip geli daripada tersinggung. "Andai gue gak repot hari ini..." Ia melirik jam di pergelangan tangannya. Jadwal penerbangannya tinggal satu setengah jam lagi.

  • Abang Playboy menungguku   Bab 2

    Plak! Jena menepuk tangan Ranti pelan. "Mulut lu, Ran. Bener kata Bang Malik, lu tuh kayak kuntilanak. Serem banget kalo lagi ketawa" "Tapi Jen…" Ranti mendekat, suaranya mendadak sok serius. "Elu mau nggak sama abang gue? Dari pada sama cewek-ceweknya yang bejibun itu, kayaknya si muka es lebih suka kasih effort ke elu." "Bego lu." Jena tertawa geli. "Gue ogah punya cowo play boy kaya abang lho, lagian abang lu seumuran sama Om gue, masa gue sama om-om." "Apanya yang gila."Ranti mencubit lengan Jena. "Abang gue baru tiga puluh tahun, bego. Mana bisa disebut om-om."Ada desiran yang datang begitu saja, saat Ranti bicara tentang Malik. Jena merapatkan jaket Malik di tubuhnya. Hangat. Dan entah kenapa, wangi citrus dari parfum Malik terasa menempel di hidungnya—seolah tubuhnya sedang dipeluk sesuatu yang asing tapi nyaman. Pagi harinya– “Jenaaaa!.. belum bangun aja kamu!” Suara teriakan Alya—Mama Jena—menggema sampai ke seluruh rumah, padahal langit masih gelap. Pagi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status