Mag-log inBagaimana jadinya jika abang dari sahabatmu adalah pria yang diam-diam mencintaimu sejak lama? Malik sudah berusaha melupakan Jena. Berkali-kali ia mencoba berpaling dengan perempuan lain, berpura-pura tak peduli, dan menjaga jarak. Namun semua sia-sia. Jena tetap ada di sekelilingnya—sebagai sahabat adiknya, sebagai tetangga yang hanya berjarak beberapa langkah dari rumahnya, dan sebagai satu-satunya gadis yang tak pernah bisa ia miliki. Jena, gadis pendiam yang terlihat kuat, tak pernah menyangka bahwa Malik menyimpan perasaan sejak dulu. Baginya, Malik hanyalah kakak Ranti yang dingin, galak, dan terkenal playboy. Semakin Jena dewasa, semakin sulit bagi Malik mengendalikan perasaannya. Ia tahu hubungan ini berbahaya—terutama karena Ranti sangat protektif terhadap Jena. Ranti tahu betul masa lalu Jena yang rapuh, dan ia tak akan membiarkan siapa pun menyakitinya… bahkan kakaknya sendiri. Lalu bagaimana jika Ranti mengetahui bahwa Malik, kakak yang ia percaya, justru adalah pria yang diam-diam mencintai sahabatnya? Akankah ia merestui mereka… atau menghancurkan perasaan itu sebelum semuanya terlambat?
view more"Heh, tungguin ih…"Jena ngos-ngosan mengejar Ranti yang melesat lebih dulu.
"Cepet, Jen! Lemah banget. Keburu jauh!" Ranti menoleh sekilas sambil tetap berlari kecil, seolah hujan rapat yang mengguyur mereka bukan masalah. Jena mendengus kesal. "Hujannya deres gini, niat banget lu ngintip orang yang lagi berantem." Ranti Cuma nyengir. Tetangganya itu memang kelewat kepo. Apalagi kalau yang jadi tontonan adalah kakaknya sendiri—Malik, si kakak sulung yang entah kenapa hobi banget berantem sama pacarnya… lalu putus. Dan anehnya, Ranti selalu terlihat paling bahagia setiap kali itu terjadi. "Ssst! Jangan berisik." Ranti berjongkok di balik semak, cekikikan kecil. "Kita liat abang gue bakal diapain sama cewek ini." Jena memutar bola mata malas. Dalam hati ia bertanya-tanya, apa benar Ranti adik kandung Malik? Bagaimana bisa seseorang terlihat begitu senang saat kakaknya berseteru dengan pacarnya, lalu berakhir diputusin? Plak! Suara tamparan itu menggema di bawah gempuran hujan yang cukup deras. Jena langsung melongo. Ia sungguh tak menyangka. Pemandangan yang mengagetkan ini kini ia saksikan secara live. Malik… ditampar. Suara tamparannya begitu jelas di telinga, bercampur dengan suara hujan dan gemuruh petir yang cukup ngeri untuk didengar. "Ish..." Jena meringis, refleks jemari Jena mengusap pipinya, Malik yang ditampar tapi malah dia yang merasakan kebas di pipi. Gadis berambut sebahu itu berdiri dengan bahu gemetar. Dadanya terlihat naik turun. Tatapannya menusuk, tapi terlihat rapuh. Sangat nampak kekecewaan yang mendalam pada wanita yang sebentar lagi akan menjadi mantan kekasih dari Malik itu. "Kamu keterlaluan, Kak." Suaranya bergetar. "Mulai sekarang aku nggak akan nyariin kamu lagi." Gadis itu berbalik dan berlari pergi, meninggalkan Malik dengan kekecewaan yang mendalam. Gadis yang terluka hatinya itu pergi begitu saja tanpa menoleh. Dan Malik? Hanya diam dengan wajah datar tanpa penyesalan sama sekali, mengusap pipinya, lalu menyisir poninya ke belakang dengan jari. Ranti dan Jena saling pandang, tak percaya. Drama pertengkaran ini sering ia saksikan, namun tak pernah Ranti merasa bosan. Namun kali ini adalah adegan yang paling dramatis bagi mereka. Sampai sampai dua gadis itu beradu tatap. "Gila…" Jena berbisik. "Ada juga perempuan yang berani nampar muka mulus si muka es itu." "Tuh kan." Ranti nyengir, seperti baru dapat momen emas. "Gue bilang apa? Si muka es nggak pernah bener-bener suka sama cewek." Jena mengangguk pelan, meski Jena tak percaya dengan Asumsi yang diberikan Ranti padanya. Tapi, faktanya Malik memang sering gonta-ganti pacar. Dan anehnya, semua selalu berakhir sama: Tangis. Marah. Dan Malik yang tetap dingin seperti biasa. Jena tahu, tak ada kekasih Malik yang bisa bertahan menjalin hubungan denganya lebih dari dua bulan. Menimbulkan asumsi liar yang membuat Jena bergidik ngeri. Malik seperti Cuma… mencoba. Seolah perasaan orang lain hanya eksperimen bagi Malik. "Udah pergi dia." Suara Malik tiba-tiba terdengar datar. "Kalian boleh keluar." Ranti dan Jena membeku. Kedua gadis nakal itu saling pandang. "Hah?" Ranti menoleh cepat. "Abang gue ngomong sama siapa?" bisiknya pada Jena. Jena menggeleng. Mereka yakin tidak ada orang lain di sana selain mereka berdua. Ranti bahkan sempat menengok ke belakang. Hanya kandang ayam yang jadi penghalang, dan semak-semak yang baunya menyengat. Jena hampir mual dan muntah mencium baunya. Malik mendengus pelan, terdengar kesal. Lalu—BRAK! Pagar bambu yang jadi "benteng persembunyian" mereka ditendangnya sekali. Hingga bergetar dan nyaris roboh. "Ya ampun!" Jena terpekik, refleks menutup telinga saking kagetnya. Sedangkan Ranti, berdiri terlalu cepat, kepalanya membentur genting kandang ayam hingga ia meringis kesakitan dan mengusap dengan keras kepalanya. “Aw!” Malik menatap tajam tanpa ekspresi, menunggu dua gadis nakal itu keluar seperti tikus ketahuan mencuri keju. "Apaan sih, Bang," Ranti nyerocos, sok galak. "Kita nggak ngintip. Jangan nuduh! Ngapain juga kita ngintip orang pacaran." Jena berdiri di belakang Ranti. Ia menunduk, malu setengah mati. Jemarinya mencengkram kuat tas slempang yang ia sampirkan di bahu. Ini bukan pertama kali Malik memergoki mereka mengintip. Rasanya Jena ingin menenggelamkan diri ke tanah saking malunya. Salahkan Ranti yang terlalu antusias nonton drama percintaan abangnya. Jena cuma… kebawa. "Serah lu aja, Ran." Malik terdengar jengah. Tatapannya beralih pada Jena. "Mau-maunya kamu ngikutin kuntilanak ini." Ranti langsung melotot. "Abang!" Dadanya berdebar. Kepalanya makin menunduk dalam, tak berani menatap mata Malik yang sudah ia bayangkan sedang memelototi dirinya. Jena benar-benar tak enak hati, sekarang ini. Malik tiba-tiba membuka jaket hitamnya. Tanpa banyak bicara, ia menyampirkannya ke bahu Jena. "Kalo pake kemeja putih, nggak usah ujan-ujanan," ucapnya datar. "Mau ngeliatin ke siapa bra item lu?" Seketika mata Jena membulat. Ia sampai lupa kalau dari tadi bajunya sudah basah dan mencetak jelas benda di balik kemeja putihnya. "Heh! Mesum!" Jena panik, merapatkan jaket itu. "Bisa-bisanya ngeliatin daleman cewek. Bangke lu, Bang!" Ranti baru sadar. Jaket Jena memang ia pinjam tadi di kampus. Saking antusias ngejar momen, ia lupa hujan ini nggak cuma bikin basah… tapi juga bikin tembus pandang. "Dasar adek bego," gumam Malik. Lalu ia berlalu begitu saja, masuk ke halaman rumahnya. Melewati pagar besi dan menghilang di balik pintu cokelat rumah besar milik keluarga Malik dan Ranti, seolah umpatan adiknya tidak ada artinya. Senyum sinis Malik barusan benar-benar membuat nyalinya drop. "Maafin gue, Jen." Ranti menggaruk tengkuknya. "Lupa gue, sumpah." "Tau ah. Elu sih, malah narik-narik mulu." Jena menekuk wajahnya, jemarinya menggenggam untuk merapatkan jaket. "Mana kandangnya bau banget lagi." Jena menutup hidung. Ia sudah nggak tahan lagi. Rok plisket hitam panjangnya ia angkat sedikit agar mudah melompati pagar. Ia harus keluar dari jebakan bau ayam ini. "Gue heran sama Bang Malik," Jena mengomel. "Kalo dia nggak suka sama cewek-ceweknya, ngapain nerima mereka?" Sejurus kemudian, Jena membulatkan matanya seakan memikirkan sesuatu yang paling gila yang tak mungkin terjadi pada Malik. " Apa jangan-jangan bang Malik-?" "Ya ampun," Ranti memutar bola matanya malas, "Trus harus nerima siapa?" Ranti nyengir. "Nerima cowok? Gila kali lu, Jen." Ranti tertawa sambil mengikuti Jena yang melompati pagar cukup tinggi. Namun Jena berhenti seketika, dia memutar badannya langsung menatap wajah Ranti yang terlihat kaget dengan gerakan Jena yang tiba-tiba. "Ngaku lu, abang lu suka sama cowo kan?"Jena membulatkan mata, tubuhnya mundur selangkah. Ia tak menyangka, mengapa Malik kini berada di hadapannya. “Masuk, Jen.” Nada suaranya datar. Lebih seperti perintah daripada ajakan. Beberapa detik Jena hanya mematung. Pikirannya berkelana. Mengingat ucapan Malik tadi pagi. "Bukannya Malik sedang di luar kota?" gumam Jena lebih pada dirinya sendiri. Malik mendengus kesal, melihat Jena malah berdiam diri menatap dirinya. “Heh… malah bengong. Cepet.” Nada Malik terdengar tidak sabaran. Jena tersentak. Ia buru-buru membuka pintu belakang mobil, namun Malik langsung mendengus kesal. “Heh! lu kira gua sopir apa? Depan, dong.” “Iya… maaf.” Jena menutup pintu belakang dan segera beralih ke kursi depan. Ia duduk pelan di samping Malik, berusaha setenang mungkin meski kepalanya masih berdenyut hebat. Ia bersandar, seolah seluruh tubuhnya kehabisan tenaga. Malik memperhatikannya dalam diam. Lalu, tanpa banyak kata, ia mendekat. Membuka sabuk pengaman yang ia pakai, lal
Kemeja putihnya langsung berubah kecokelatan. Cairan itu lengket, dingin, dan membuat kulitnya menggigil. Jena memejamkan mata, jemarinya mengepal kuat. Menahan amarahnya agar tidak meledak di tempat. Rico membulatkan mata. Ia baru menyadari ada Hilda berdiri di sana, wajahnya dipenuhi amarah dan syok yang tak bisa disembunyikan. Gelas kosong masih berada di atas kepala Jena. Dan wajah Hilda seakan puas dengan gurat sinis menyebalkan, tatapannya menajam, menyimpan dendam yang begitu dalam pada Jena yang diam seakan menikmati aliran dingin mengotori rambut dan kemejanya. “Hilda! lu ngapain?!” bentak Rico. Netra Hilda nyalang. Ia menatap Jena yang malah tetap duduk dan melanjutkan mengunyah, seolah ia tidak peduli. Hilda semakin murka mendengar Rico membela Jena. Hilda tak segan menunjuk Jena tajam. “Cewek jalang ini yang ngapain?!” Jena mengangkat kepala perlahan. Menatap Hilda tepat di mata dengan tatapan menantang. Dengan suara rendah dan tajam, Jena berkata, “Elo
Hari ini ada sedikit keanehan di kelas. Saat Jena melangkahkan kaki ke dalam, tak ada yang menyapanya. Padahal biasanya, beberapa temannya akan melempar candaan ringan, atau sekadar mengangguk kecil saat ia lewat. Namun sekarang… berbeda. Yang tadinya ramai bercanda dengan teman sebangku, mendadak terdiam sepersekian detik begitu Jena muncul. Hening singkat yang terasa aneh. Lalu satu persatu, netra mereka menatap sinis ke arah Jena yang berjalan sendirian menuju mejanya. Napas Jena masih memburu karena tadi berlari menghindari kejaran Rico. Ia berhenti sejenak, menahan langkah, menenangkan tarikan nafasnya yang riuh. Ia mencoba memahami perubahan ekspresi yang mendadak muncul di wajah mereka. Langkahnya ia perlambat, sambil sesekali melirik mahasiswi lain yang berbisik-bisik melempar tatapan aneh pada Jena. Saat akhirnya sampai di mejanya dan duduk, Jena buru-buru merogoh kantong tasnya lalu mengeluarkan cermin kecil. Ia menatap wajahnya sendiri, takut ada sesuatu yang
Masih terlalu pagi untuk menggoda seorang gadis. Jena melihatnya jelas. Di sana, di depan gerbang tinggi berwarna biru, seorang pria berdiri tegak dengan jaket baseball hijau. Tubuhnya tinggi, dengan senyum cerah yang rasanya seperti sinar matahari yang kelewat semangat untuk jam segini. Jena baru sampai. Papahnya bahkan baru merapatkan motor di trotoar depan gerbang kampus Atmaja, tempat Jena menimba ilmu. Tapi Rico sudah menatapnya berbinar, seakan ia menantikan kedatangannya. Jena berusaha berpura-pura tidak melihat keberadaan Rico yang terus memandanginya—seolah menunggu sampai Papah Jena pergi sebelum ia mendekat. “Papah berangkat ya, Jen,” ucap Abimanyu. Jena mengangguk. Sebelum masuk ke halaman sekolah melewati gerbang biru yang menjulang di belakangnya, Jena mencium lengan Papahnya. Abimanyu membalas dengan mencium kening putrinya, lalu mengusap pucuk kepala Jena lembut. Abimanyu menyalakan motor gedenya, lalu melintasi jalanan padat ibu kota menuju tempat kerja.






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.