Partager

Bab 7

last update Date de publication: 2026-04-15 23:25:02

Jena membulatkan mata, tubuhnya mundur selangkah. Ia tak menyangka, mengapa Malik kini berada di hadapannya.

“Masuk, Jen.”

Nada suaranya datar. Lebih seperti perintah daripada ajakan.

Beberapa detik Jena hanya mematung. Pikirannya berkelana. Mengingat ucapan Malik tadi pagi. "Bukannya Malik sedang di luar kota?" gumam Jena lebih pada dirinya sendiri.

Malik mendengus kesal, melihat Jena malah berdiam diri menatap dirinya.

“Heh… malah bengong. Cepet.”

Nada Malik terdengar tidak sabaran.

Jena tersentak. Ia buru-buru membuka pintu belakang mobil, namun Malik langsung mendengus kesal.

“Heh! lu kira gua sopir apa? Depan, dong.”

“Iya… maaf.”

Jena menutup pintu belakang dan segera beralih ke kursi depan. Ia duduk pelan di samping Malik, berusaha setenang mungkin meski kepalanya masih berdenyut hebat. Ia bersandar, seolah seluruh tubuhnya kehabisan tenaga.

Malik memperhatikannya dalam diam. Lalu, tanpa banyak kata, ia mendekat. Membuka sabuk pengaman yang ia pakai, lalu merapatkan tubuh pada Jena, kini mereka saling berhadapan, Malik semakin merapat, Jena duduk di kursi seakan ia ingin menenggelamkan tubuhnya pada kursi untuk menghindari Malik. Wajahnya kini hanya berjarak beberapa senti dari wajah Jena. Napas beraroma tembakau itu tercium samar. Jena refleks memejamkan mata, jantungnya langsung berdetak kacau. Kepalanya semakin pusing. Jena sangat gugup.

Namun, Malik sebaliknya, tak terlihat gugup sama sekali. Wajahnya tetap datar seperti tak memiliki ekspresi. Predikat sebagai pria berwajah sedingin Es memang pantas disematkan pada Malik.

“Kenapa bau lu aneh?”

Mendengar kalimat Malik yang tak terduga itu, Jena langsung membuka matanya. Ia berusaha mendorong dada Malik agar menjauh dari dirinya. Namun Malik malah menahannya. Ia tak berniat mundur.

“Gue—”

Jena tidak bisa menjawab. Kata-katanya tersangkut di tenggorokan.

Malik memperhatikan rambut Jena dengan saksama. Biasanya rambut itu wangi, rapi. Sekarang lepek, lengket, dan tidak beraroma seperti biasanya.

Hening.

Tatapan Malik tajam, menuntut kejujuran. Jena hanya menunduk kaku, menarik jaketnya makin rapat sampai ia berkeringat.

Tiba-tiba Malik menarik kerah jaketnya. Rel sleting itu turun sedikit. Cukup untuk memperlihatkan noda cokelat di kemeja Jena.

Dahi Malik langsung berkerut. Ia tidak bertanya lagi.

Tanpa bicara, Malik menarik sabuk pengaman dan memasangkannya pada tubuh Jena. Gerakannya tegas, tapi hati-hati. Setelah itu ia kembali duduk di belakang kemudi dan menjalankan mobil.

Mobil melaju menuju rumah.

Sepanjang perjalanan tidak ada percakapan. Malik tidak menyalakan musik. Hening terasa menekan. Udara dalam mobil terasa menipis seakan membuat sulit bernafas dengan bebas. Tangannya mencengkeram setir kuat-kuat.

Sepuluh menit berlalu.

Jena akhirnya tidak tahan.

“Kenapa abang jemput gue? Bukannya tadi pagi bilang mau ke luar kota ya?”

“Harus dijawab?” Nada Malik datar.

Jena menatapnya ragu, “Harus jawab lah. Kan ditanya.”

“Elu juga enggak jawab gue.”

“Itu—”

“Kalo lu enggak mau jawab, gampang. Gue cari tahu sendiri.” Suara Malik pelan, tapi mengandung ancaman.

“Dan orang yang bikin lu kayak gini… bakal habis.”

“Gue enggak apa-apa kok. Beneran.” Jena mencoba meyakinkan.

“Elu terserah enggak apa-apa,” balas Malik. “Gue yang apa-apa.”

Jena terdiam, hatinya meragu. Ia tak ingin kesalah pahaman menjadikan dirinya mendapatkan perlakuan buruk lagi hingga akhirnya Jena memberanikan diri untuk bicara.

"Bang," hening sejenak sebelum Jena meneruskan kata-katanya, "Gue engga mau orang lain salah paham sama gue."

Malik tak menjawab. Ia berpura pura tak peduli dengan kata-kata Jena. Bahkan Malik tak ingin menanggapi Perkataan gadis cantik itu.

Merasa dirinya diabaikan, akhirnya Jena menyerah.

Jena sudah terlalu lelah untuk berpikir. Matanya perlahan terpejam. Ia merapatkan jaketnya hingga menutup leher, seolah tidak ingin siapa pun melihat apa yang terjadi padanya.

Beberapa menit kemudian, napasnya berubah pelan. Dada yang naik turun menandakan jika Jena sudah ditarik ke alam mimpi.

Ia memelankan laju mobil, lalu menepikannya di sebuah pom bensin. Bukan untuk mengisi bensin. Malik hanya ingin berhenti sejenak. Memberi waktu pada Jena untuk tidur tanpa guncangan.

Malik menatap Jena yang tertidur. Wajah itu tampak lelah, pucat. Tak ada tangis, tak ada keluhan.

Namun, itu yang justru membuat amarah Malik naik langsung ke kepala.

Tangannya terangkat, menyentuh rambut Jena perlahan. Menyusurinya sampai ke sisi wajah. Jena melenguh pelan, tapi tidak terbangun.

Malik mendekat sedikit. Suaranya sangat pelan, hampir seperti gumaman untuk dirinya sendiri.

“Enggak ada yang boleh nyentuh kamu selain aku, Jen. Kamu harus ngerti itu.”

Jena bergumam samar dalam tidurnya, seolah mengiyakan tanpa sadar.

Malik tersenyum tipis. Ia menunduk dan mendekatkan bibirnya pada bibir Jena. Kemudian bibir itu menyatu tanpa ragu. Lembut. Singkat. Tidak menuntut.

Rasa yang ia tahan begitu lama… masih ada di sana.

“Kamu bocah pengganggu Jen."

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • Abang Playboy menungguku   Bab 10

    Suasana restoran yang Malik tuju sore ini cukup ramai, setiap meja hampir penuh oleh pengunjung. Jena tahu betul setiap sudutnya, selalu dipenuhi oleh para pecinta makanan pedas. Termasuk dirinya. Namun keberadaanya saat ini di restoran favoritnya, tak menjadikan dirinya antusias seperti biasanya.Kenapa bisa begini ?Padahal, Sudah cukup lama semenjak terakhir kali dirinya dan Ranti tak berkunjung dan menikmati sajian yang membuat kedua gadis itu berselera untuk makan, sampai lupa daratan.Biasanya, baru satu langkah masuk ke restoran ini saja, dia akan tertawa riang, di dalam kepala sudah tersusun, menu apa saja yang akan di pesan. Namun kali ini, tak ada semangat yang ia rasakan. Ia hanya mampu berdiri tanpa bergerak menatap keberadaan Malik bersama perempuan yang Jena tahu adalah mantan kekasihnya itu.Apa karena ini? karna tiba-tiba muncul orang yang tak terduga dan 'mengganggu'.Tunggu.Kenapa ada pikiran jika mantan kekasih Malik yang tiba-tiba muncul itu mengganggu bagi Jena?

  • Abang Playboy menungguku   Bab 9

    Jena masih merasakan kepalanya yang berdenyut, sisa kantuk karena dibangunkan dengan cara tak lazim. Tubuhnya masih terasa letih ditambah perutnya yang keroncongan, menambah semeraut wajah Jena. Apalagi dadanya masih berdegup begitu riuh karena dikagetkan oleh ulah Malik yang menggodanya, lalu meninggalkannya begitu saja. Jemari Jena sampai gemetar karena ulah Malik. Nafas beraroma tembakau bercampur mint itu masih mengganggu kewarasannya. Sempat Jena terdiam, terpaku menatap wajah datar Malik. hidung mereka nyaris saling bersentuhan, berbagi udara sebegitu dekat. Gadis mana yang tak akan syok, apalagi ini adalah pria yang terkenal dengan permainan cintanya yang singkat dengan banyak wanita, apa Jena akan bersikap biasa saja? tentu saja tak mungkin. Bola mata berwarna coklat terang itu memantulkan wajah Jena yang menahan nafas. Duduk saling berhadapan setelah Jena bangun dari tidurnya tiba-tiba. Dan Malik, hanya tersenyum sinis seakan sedang menggoda. "Sial, jantung gue–" gerutu

  • Abang Playboy menungguku   Bab 8

    Dua jam berlalu lepas Jena terlelap di kursi penumpang disamping Malik. Langit sudah mulai menguning dengan lalu lintas yang kini mulai padat. Manusia di luar sana mulai sibuk mengejar waktu, memadati sudut jalanan ingin segera pulang, tak ingin terjebak oleh macetnya kota jakarta kala jam pulang kantor. Beberapa kali ponsel Jena yang gadis itu genggam berbunyi. Namun Jena yang tidur bagaikan bayi itu tak terganggu sedikitpun. Dan Malik? Tak berniat sama sekali membangunkannya, atau mengangkat telpon Jena yang berdering berkali-kali, mungkin itu panggilan telepon dari Ranti, atau bisa juga dari tante Alya–mamanya Jena. Ia tak peduli. Pria yang di juluki muka Es oleh Ranti– adiknya itu, malah sibuk menatap Jena. Sesekali Malik terkekeh mendengar dengkuran halus sahabat adiknya itu. Tak ada rasa bosan sama sekali. Bahkan Malik sengaja mengambil jaketnya untuk dijadikan selimut Jena. Kursi yang di duduki Jena, ia seting dengan posisi lebih mundur agar nyaman untuk tidur. Bukan han

  • Abang Playboy menungguku   Bab 7

    Jena membulatkan mata, tubuhnya mundur selangkah. Ia tak menyangka, mengapa Malik kini berada di hadapannya. “Masuk, Jen.” Nada suaranya datar. Lebih seperti perintah daripada ajakan. Beberapa detik Jena hanya mematung. Pikirannya berkelana. Mengingat ucapan Malik tadi pagi. "Bukannya Malik sedang di luar kota?" gumam Jena lebih pada dirinya sendiri. Malik mendengus kesal, melihat Jena malah berdiam diri menatap dirinya. “Heh… malah bengong. Cepet.” Nada Malik terdengar tidak sabaran. Jena tersentak. Ia buru-buru membuka pintu belakang mobil, namun Malik langsung mendengus kesal. “Heh! lu kira gua sopir apa? Depan, dong.” “Iya… maaf.” Jena menutup pintu belakang dan segera beralih ke kursi depan. Ia duduk pelan di samping Malik, berusaha setenang mungkin meski kepalanya masih berdenyut hebat. Ia bersandar, seolah seluruh tubuhnya kehabisan tenaga. Malik memperhatikannya dalam diam. Lalu, tanpa banyak kata, ia mendekat. Membuka sabuk pengaman yang ia pakai, lal

  • Abang Playboy menungguku   Bab 6

    Kemeja putihnya langsung berubah kecokelatan. Cairan itu lengket, dingin, dan membuat kulitnya menggigil. Jena memejamkan mata, jemarinya mengepal kuat. Menahan amarahnya agar tidak meledak di tempat. Rico membulatkan mata. Ia baru menyadari ada Hilda berdiri di sana, wajahnya dipenuhi amarah dan syok yang tak bisa disembunyikan. Gelas kosong masih berada di atas kepala Jena. Dan wajah Hilda seakan puas dengan gurat sinis menyebalkan, tatapannya menajam, menyimpan dendam yang begitu dalam pada Jena yang diam seakan menikmati aliran dingin mengotori rambut dan kemejanya. “Hilda! lu ngapain?!” bentak Rico. Netra Hilda nyalang. Ia menatap Jena yang malah tetap duduk dan melanjutkan mengunyah, seolah ia tidak peduli. Hilda semakin murka mendengar Rico membela Jena. Hilda tak segan menunjuk Jena tajam. “Cewek jalang ini yang ngapain?!” Jena mengangkat kepala perlahan. Menatap Hilda tepat di mata dengan tatapan menantang. Dengan suara rendah dan tajam, Jena berkata, “Elo

  • Abang Playboy menungguku   Bab 5

    Hari ini ada sedikit keanehan di kelas. Saat Jena melangkahkan kaki ke dalam, tak ada yang menyapanya. Padahal biasanya, beberapa temannya akan melempar candaan ringan, atau sekadar mengangguk kecil saat ia lewat. Namun sekarang… berbeda. Yang tadinya ramai bercanda dengan teman sebangku, mendadak terdiam sepersekian detik begitu Jena muncul. Hening singkat yang terasa aneh. Lalu satu persatu, netra mereka menatap sinis ke arah Jena yang berjalan sendirian menuju mejanya. Napas Jena masih memburu karena tadi berlari menghindari kejaran Rico. Ia berhenti sejenak, menahan langkah, menenangkan tarikan nafasnya yang riuh. Ia mencoba memahami perubahan ekspresi yang mendadak muncul di wajah mereka. Langkahnya ia perlambat, sambil sesekali melirik mahasiswi lain yang berbisik-bisik melempar tatapan aneh pada Jena. Saat akhirnya sampai di mejanya dan duduk, Jena buru-buru merogoh kantong tasnya lalu mengeluarkan cermin kecil. Ia menatap wajahnya sendiri, takut ada sesuatu yang

  • Abang Playboy menungguku   Bab 4

    Masih terlalu pagi untuk menggoda seorang gadis. Jena melihatnya jelas. Di sana, di depan gerbang tinggi berwarna biru, seorang pria berdiri tegak dengan jaket baseball hijau. Tubuhnya tinggi, dengan senyum cerah yang rasanya seperti sinar matahari yang kelewat semangat untuk jam segini. Jena

  • Abang Playboy menungguku   Bab 3

    Senyum cerah Jena memudar, ada rasa mencubit yang membuat Jena seakan tak bernafsu untuk menyapa Malik. Ia hanya memalingkan wajahnya dari Malik. Jangankan memberi senyum secerah matahari pagi ini, bahkan menatap wajah Malik yang sesekali menatap dirinya saja, Jena merasa malas. Segera Jena mem

  • Abang Playboy menungguku   Bab 2

    Plak! Jena menepuk tangan Ranti pelan. "Mulut lu, Ran. Bener kata Bang Malik, lu tuh kayak kuntilanak. Serem banget kalo lagi ketawa" "Tapi Jen…" Ranti mendekat, suaranya mendadak sok serius. "Elu mau nggak sama abang gue? Dari pada sama cewek-ceweknya yang bejibun itu, kayaknya si muka es leb

  • Abang Playboy menungguku   Bab 1

    "Heh, tungguin ih…"Jena ngos-ngosan mengejar Ranti yang melesat lebih dulu. "Cepet, Jen! Lemah banget. Keburu jauh!" Ranti menoleh sekilas sambil tetap berlari kecil, seolah hujan rapat yang mengguyur mereka bukan masalah. Jena mendengus kesal. "Hujannya deres gini, niat banget lu ngintip oran

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status