Share

Bab 6

last update Tanggal publikasi: 2026-04-15 23:24:40

Kemeja putihnya langsung berubah kecokelatan. Cairan itu lengket, dingin, dan membuat kulitnya menggigil.

Jena memejamkan mata, jemarinya mengepal kuat.

Menahan amarahnya agar tidak meledak di tempat.

Rico membulatkan mata. Ia baru menyadari ada Hilda berdiri di sana, wajahnya dipenuhi amarah dan syok yang tak bisa disembunyikan. Gelas kosong masih berada di atas kepala Jena. Dan wajah Hilda seakan puas dengan gurat sinis menyebalkan, tatapannya menajam, menyimpan dendam yang begitu dalam pada Jena yang diam seakan menikmati aliran dingin mengotori rambut dan kemejanya.

“Hilda! lu ngapain?!” bentak Rico.

Netra Hilda nyalang. Ia menatap Jena yang malah tetap duduk dan melanjutkan mengunyah, seolah ia tidak peduli. Hilda semakin murka mendengar Rico membela Jena.

Hilda tak segan menunjuk Jena tajam. “Cewek jalang ini yang ngapain?!”

Jena mengangkat kepala perlahan. Menatap Hilda tepat di mata dengan tatapan menantang.

Dengan suara rendah dan tajam, Jena berkata, “Elo nggak liat gue ngapain? Buta lo ya?!”

Amarah Hilda makin memuncak. Ia menarik kerah kemeja Jena yang basah hingga wajah mereka berdekatan.

“Elo godain cowok gue, ngerti?!” desis Hilda.

Jena tersenyum sini, tanpa rasa takut ia balik mencengkram kaos tipis yang Hilda gunakan, "Elo emang buta," ucap Jena makin mendekatkan wajahnya pada Hilda.

Hilda makin menggeram, wajahnya memerah menahan emosi yang main naik ke kepala. Jemari dengan kuku bundah yang baru saja ia Naik art ia gunakan untuk memoerkuat cengkraman pada kemeja basah Jena.

Namun, Jena tak merasakan takut sedikitpun, ia yakin wanita ini yang membuatnya tak nyaman di kelas pagi ini, dengan rumor sampah yang menggelikan.

Rico buru-buru mencoba melerai. Ia memutar badan, mendekat, lalu menarik Jena ke sisi dirinya. Namun cengkraman Hilda masih disana.

“Hill, jangan ngawur. Kita udah putus! Jena nggak godain gue!”

Hilda tertawa pendek. Bukan tawa lucu—tawa menghina.

Jena mencengkeram tangan Hilda kuat-kuat, berusaha melepaskan cekikannya dari kerah baju.

“Kalian putus, ngapain bawa-bawa gue?” suara Jena bergetar menahan emosi. “Lepasin gue.”

Hilda masih ingin menahan, tapi Jena berhasil melepaskan diri.

Ia mendorong tangan Hilda hingga tubuh gadis itu mundur beberapa langkah.

Suasana kantin makin riuh. Kasak-kusuk tuduhan terdengar dari berbagai arah. Semua orang menjauh saat Jena berdiri, seolah Jena penyakit menular.

Rico berusaha mengejar, tapi Hilda menghalangi.

“Jen!” teriak Rico.

“Kita belum selesai, Co!” Hilda menyahut dengan penuh dendam.

Jena sudah tidak peduli lagi.

Ia mengambil uang dari sakunya, lalu memberikannya pada Mang gado-gado.

“Makasih, Mang.”

Mamang gado gado menatap Jena prihatin. “Aduh, Neng Jen…”

Jena menunduk sebentar. Jena malu ditatap oleh banyak orang seperti ini, ia tak suka dikasihani. Tapi amarahnya jauh lebih besar.

Kenapa ia harus diperlakukan seperti ini?

Kenapa ia yang jadi sasaran?

Kalau Ranti ada di sini…

Sudah pasti Hilda akan habis dijambak.

Dan Jena… tidak perlu menahan semuanya sendirian seperti ini.

***

Hari sudah hampir sore. Kepala Jena berdenyut cukup kuat, rasa pening dikepala menghantam begitu saja, Jena menggelengkan kepalanya pelan, memejamkan mata kuat-kuat, berharap rasa pusing cepat menghilang.

Sekarang ia berdiri di halte bus tak jauh dari kampusnya, bersandar pada tiang besi, dengan jaket yang membalut tubuhnya rapat-rapat. Jaket itu menutupi kemeja yang masih menyimpan noda kecokelatan—sisa guyuran minuman Hilda siang tadi.

Beruntung ia membawa jaket.

Setidaknya, ia masih bisa menutupi kekacauan itu… agar tidak terlalu memalukan saat pulang naik kendaraan umum.

Sepanjang sisa pelajaran tadi, Jena tidak menangis. Ia hanya diam. Menatap dingin teman-temannya yang seolah sepakat menuduhnya sebagai perusak hubungan orang lain.

Berbagai tatapan mengarah padanya—ada yang kasihan, ada yang terang-terangan puas melihatnya dipermalukan, ada juga yang seperti menyesal… tapi tetap memilih diam.

Jena tidak peduli.

Ia bukan tipe orang yang butuh perhatian atau simpati. Ia juga bukan orang yang suka memperhatikan orang lain. Jena lebih suka duduk dipojokan sendirian hingga rasa bosan akan datang dan membuatnya pulang.

Jena pun tak butuh ditolong oleh orang-orang yang berpura-pura baik padanya. Ia hanya membutuhkam Ranti bersamanya.

kini yang Jena inginkan cuma satu: pulang secepat mungkin, membersihkan diri, lalu menghilangkan rasa jijik yang masih menempel di kulitnya.

Ia melirik jam di pergelangan tangan lagi. Sudah lewat jam tiga sore. Biasanya Bus rutin datang setiap jam, namun sudah lewat tiga puluh menit, tak ada tanda-tanda Bus muncul.

Hari ini, Halte tak begitu ramai. Mungkin karena sudah terlalu sore. Jena kembali bersandar, merebahkan kepalanya ke tiang, menatap jalanan yang mulai sepi. Waktu berjalan lambat, membuat napasnya terasa berat. Lelah sekali rasanya.

Ia mendesah pelan.

Menunggu memang menyebalkan. Matahari tak terlalu terik sore ini, namun silaunya membuat mata Jena menyipit.

Saat ia sedang menatap kosong ke depan, tiba-tiba sebuah mobil berhenti tepat di hadapannya.

Jena memperhatikan laju mobil yang melambat. Itu mobil yang tidak asing. HR-V warna beige—persis seperti milik Malik.

Kaca mobil gelap itu turun perlahan, menampakkan sosok pria berwajah dingin duduk di balik kemudi, kacamata hitam bertengger di tulang hidungnya yang mancung, wajahnya menoleh pada Jena.

"Kenapa disaat kaya gini, harus ada bang Malik sih."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Abang Playboy menungguku   Bab 10

    Suasana restoran yang Malik tuju sore ini cukup ramai, setiap meja hampir penuh oleh pengunjung. Jena tahu betul setiap sudutnya, selalu dipenuhi oleh para pecinta makanan pedas. Termasuk dirinya. Namun keberadaanya saat ini di restoran favoritnya, tak menjadikan dirinya antusias seperti biasanya.Kenapa bisa begini ?Padahal, Sudah cukup lama semenjak terakhir kali dirinya dan Ranti tak berkunjung dan menikmati sajian yang membuat kedua gadis itu berselera untuk makan, sampai lupa daratan.Biasanya, baru satu langkah masuk ke restoran ini saja, dia akan tertawa riang, di dalam kepala sudah tersusun, menu apa saja yang akan di pesan. Namun kali ini, tak ada semangat yang ia rasakan. Ia hanya mampu berdiri tanpa bergerak menatap keberadaan Malik bersama perempuan yang Jena tahu adalah mantan kekasihnya itu.Apa karena ini? karna tiba-tiba muncul orang yang tak terduga dan 'mengganggu'.Tunggu.Kenapa ada pikiran jika mantan kekasih Malik yang tiba-tiba muncul itu mengganggu bagi Jena?

  • Abang Playboy menungguku   Bab 9

    Jena masih merasakan kepalanya yang berdenyut, sisa kantuk karena dibangunkan dengan cara tak lazim. Tubuhnya masih terasa letih ditambah perutnya yang keroncongan, menambah semeraut wajah Jena. Apalagi dadanya masih berdegup begitu riuh karena dikagetkan oleh ulah Malik yang menggodanya, lalu meninggalkannya begitu saja. Jemari Jena sampai gemetar karena ulah Malik. Nafas beraroma tembakau bercampur mint itu masih mengganggu kewarasannya. Sempat Jena terdiam, terpaku menatap wajah datar Malik. hidung mereka nyaris saling bersentuhan, berbagi udara sebegitu dekat. Gadis mana yang tak akan syok, apalagi ini adalah pria yang terkenal dengan permainan cintanya yang singkat dengan banyak wanita, apa Jena akan bersikap biasa saja? tentu saja tak mungkin. Bola mata berwarna coklat terang itu memantulkan wajah Jena yang menahan nafas. Duduk saling berhadapan setelah Jena bangun dari tidurnya tiba-tiba. Dan Malik, hanya tersenyum sinis seakan sedang menggoda. "Sial, jantung gue–" gerutu

  • Abang Playboy menungguku   Bab 8

    Dua jam berlalu lepas Jena terlelap di kursi penumpang disamping Malik. Langit sudah mulai menguning dengan lalu lintas yang kini mulai padat. Manusia di luar sana mulai sibuk mengejar waktu, memadati sudut jalanan ingin segera pulang, tak ingin terjebak oleh macetnya kota jakarta kala jam pulang kantor. Beberapa kali ponsel Jena yang gadis itu genggam berbunyi. Namun Jena yang tidur bagaikan bayi itu tak terganggu sedikitpun. Dan Malik? Tak berniat sama sekali membangunkannya, atau mengangkat telpon Jena yang berdering berkali-kali, mungkin itu panggilan telepon dari Ranti, atau bisa juga dari tante Alya–mamanya Jena. Ia tak peduli. Pria yang di juluki muka Es oleh Ranti– adiknya itu, malah sibuk menatap Jena. Sesekali Malik terkekeh mendengar dengkuran halus sahabat adiknya itu. Tak ada rasa bosan sama sekali. Bahkan Malik sengaja mengambil jaketnya untuk dijadikan selimut Jena. Kursi yang di duduki Jena, ia seting dengan posisi lebih mundur agar nyaman untuk tidur. Bukan han

  • Abang Playboy menungguku   Bab 7

    Jena membulatkan mata, tubuhnya mundur selangkah. Ia tak menyangka, mengapa Malik kini berada di hadapannya. “Masuk, Jen.” Nada suaranya datar. Lebih seperti perintah daripada ajakan. Beberapa detik Jena hanya mematung. Pikirannya berkelana. Mengingat ucapan Malik tadi pagi. "Bukannya Malik sedang di luar kota?" gumam Jena lebih pada dirinya sendiri. Malik mendengus kesal, melihat Jena malah berdiam diri menatap dirinya. “Heh… malah bengong. Cepet.” Nada Malik terdengar tidak sabaran. Jena tersentak. Ia buru-buru membuka pintu belakang mobil, namun Malik langsung mendengus kesal. “Heh! lu kira gua sopir apa? Depan, dong.” “Iya… maaf.” Jena menutup pintu belakang dan segera beralih ke kursi depan. Ia duduk pelan di samping Malik, berusaha setenang mungkin meski kepalanya masih berdenyut hebat. Ia bersandar, seolah seluruh tubuhnya kehabisan tenaga. Malik memperhatikannya dalam diam. Lalu, tanpa banyak kata, ia mendekat. Membuka sabuk pengaman yang ia pakai, lal

  • Abang Playboy menungguku   Bab 6

    Kemeja putihnya langsung berubah kecokelatan. Cairan itu lengket, dingin, dan membuat kulitnya menggigil. Jena memejamkan mata, jemarinya mengepal kuat. Menahan amarahnya agar tidak meledak di tempat. Rico membulatkan mata. Ia baru menyadari ada Hilda berdiri di sana, wajahnya dipenuhi amarah dan syok yang tak bisa disembunyikan. Gelas kosong masih berada di atas kepala Jena. Dan wajah Hilda seakan puas dengan gurat sinis menyebalkan, tatapannya menajam, menyimpan dendam yang begitu dalam pada Jena yang diam seakan menikmati aliran dingin mengotori rambut dan kemejanya. “Hilda! lu ngapain?!” bentak Rico. Netra Hilda nyalang. Ia menatap Jena yang malah tetap duduk dan melanjutkan mengunyah, seolah ia tidak peduli. Hilda semakin murka mendengar Rico membela Jena. Hilda tak segan menunjuk Jena tajam. “Cewek jalang ini yang ngapain?!” Jena mengangkat kepala perlahan. Menatap Hilda tepat di mata dengan tatapan menantang. Dengan suara rendah dan tajam, Jena berkata, “Elo

  • Abang Playboy menungguku   Bab 5

    Hari ini ada sedikit keanehan di kelas. Saat Jena melangkahkan kaki ke dalam, tak ada yang menyapanya. Padahal biasanya, beberapa temannya akan melempar candaan ringan, atau sekadar mengangguk kecil saat ia lewat. Namun sekarang… berbeda. Yang tadinya ramai bercanda dengan teman sebangku, mendadak terdiam sepersekian detik begitu Jena muncul. Hening singkat yang terasa aneh. Lalu satu persatu, netra mereka menatap sinis ke arah Jena yang berjalan sendirian menuju mejanya. Napas Jena masih memburu karena tadi berlari menghindari kejaran Rico. Ia berhenti sejenak, menahan langkah, menenangkan tarikan nafasnya yang riuh. Ia mencoba memahami perubahan ekspresi yang mendadak muncul di wajah mereka. Langkahnya ia perlambat, sambil sesekali melirik mahasiswi lain yang berbisik-bisik melempar tatapan aneh pada Jena. Saat akhirnya sampai di mejanya dan duduk, Jena buru-buru merogoh kantong tasnya lalu mengeluarkan cermin kecil. Ia menatap wajahnya sendiri, takut ada sesuatu yang

  • Abang Playboy menungguku   Bab 4

    Masih terlalu pagi untuk menggoda seorang gadis. Jena melihatnya jelas. Di sana, di depan gerbang tinggi berwarna biru, seorang pria berdiri tegak dengan jaket baseball hijau. Tubuhnya tinggi, dengan senyum cerah yang rasanya seperti sinar matahari yang kelewat semangat untuk jam segini. Jena

  • Abang Playboy menungguku   Bab 3

    Senyum cerah Jena memudar, ada rasa mencubit yang membuat Jena seakan tak bernafsu untuk menyapa Malik. Ia hanya memalingkan wajahnya dari Malik. Jangankan memberi senyum secerah matahari pagi ini, bahkan menatap wajah Malik yang sesekali menatap dirinya saja, Jena merasa malas. Segera Jena mem

  • Abang Playboy menungguku   Bab 2

    Plak! Jena menepuk tangan Ranti pelan. "Mulut lu, Ran. Bener kata Bang Malik, lu tuh kayak kuntilanak. Serem banget kalo lagi ketawa" "Tapi Jen…" Ranti mendekat, suaranya mendadak sok serius. "Elu mau nggak sama abang gue? Dari pada sama cewek-ceweknya yang bejibun itu, kayaknya si muka es leb

  • Abang Playboy menungguku   Bab 1

    "Heh, tungguin ih…"Jena ngos-ngosan mengejar Ranti yang melesat lebih dulu. "Cepet, Jen! Lemah banget. Keburu jauh!" Ranti menoleh sekilas sambil tetap berlari kecil, seolah hujan rapat yang mengguyur mereka bukan masalah. Jena mendengus kesal. "Hujannya deres gini, niat banget lu ngintip oran

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status