แชร์

Bab 4

ผู้เขียน: Lintang berseri
last update วันที่เผยแพร่: 2026-02-05 22:24:06

Masih terlalu pagi untuk menggoda seorang gadis.

Jena melihatnya jelas. Di sana, di depan gerbang tinggi berwarna biru, seorang pria berdiri tegak dengan jaket baseball hijau. Tubuhnya tinggi, dengan senyum cerah yang rasanya seperti sinar matahari yang kelewat semangat untuk jam segini.

Jena baru sampai. Papahnya bahkan baru merapatkan motor di trotoar depan gerbang kampus Atmaja, tempat Jena menimba ilmu. Tapi Rico sudah menatapnya berbinar, seakan ia menantikan kedatangannya.

Jena berusaha berpura-pura tidak melihat keberadaan Rico yang terus memandanginya—seolah menunggu sampai Papah Jena pergi sebelum ia mendekat.

“Papah berangkat ya, Jen,” ucap Abimanyu.

Jena mengangguk. Sebelum masuk ke halaman sekolah melewati gerbang biru yang menjulang di belakangnya, Jena mencium lengan Papahnya. Abimanyu membalas dengan mencium kening putrinya, lalu mengusap pucuk kepala Jena lembut.

Abimanyu menyalakan motor gedenya, lalu melintasi jalanan padat ibu kota menuju tempat kerja.

Sedangkan Jena… justru ragu untuk melangkah.

Di sana, Rico sudah menunggu, dengan senyum yang masih menetap, menyambut kedatangannya.

“Pagi, Jen.”

“Pagi…” jawab Jena singkat, lalu menambahkan basa-basi yang sebenarnya tidak ia butuhkan. “Nungguin siapa lu, Co?”

“Yaelah, pake nanya.” Rico terkekeh. “Nungguin kamu lah.”

“Gue?” Jena menunjuk hidungnya sendiri. “Ngapain nungguin gue? Nanti telat masuk lho. Kita kan beda kelas.”

Rico malah tertawa lebih lebar, seakan yang Jena katakan adalah lelucon paling lucu pagi ini. Padahal ia sama sekali tidak berniat melucu.

“Ngomong-ngomong…” Rico menatap Jena lebih teliti. “Kenapa kamu sendirian? Tumben banget dianterin sama Papah kamu. Bener kan tadi Papah kamu?”

“Iya, itu Papah gue,” Jena mengangguk.

Tanpa aba-aba, Rico menggamit jemari Jena dengan lancang, lalu menariknya agar berjalan beriringan.

“Eh—”

Jena tersentak kaget. Ia langsung menarik paksa jemarinya yang sudah terlanjur digenggam erat.

“Eh, Co! Ngapain tarik-tarik sih? Lepasin. Malu sama anak-anak lain,” bisik Jena, panik.

Tapi Rico sama sekali tidak peduli.

Ia malah menggenggam jemari Jena lebih kuat, membuat Jena mendekat padanya. Rico seperti tidak peduli tatapan sinis mahasiswa lain, seolah dunia hanya milik mereka berdua.

Rico tahu, Jena tidak akan heboh memberontak kalau Ranti tidak ada di dekatnya.

Saat Jena berjalan mengikuti langkah Rico—dengan jemarinya masih terperangkap kuat—ponsel Jena tiba-tiba berbunyi.

Di layar, tertera nama Ranti.

Panggilan video.

Tanpa ragu, Jena menerima panggilan itu dengan satu tangan.

“Ran—”

Ranti muncul di layar dengan wajah kusut, rambut berantakan, dan suara yang jelas masih serak.

“Jen, dah nyam—”

Belum sempat kalimat itu selesai, Ranti melihat siapa yang berjalan di samping Jena.

Detik berikutnya, suara Ranti meninggi seperti alarm darurat.

“Heh! Cucunguk ini ngapain dah barengan sama lo, Jen?!”

Jena hanya menghela napas kecil dan mengangguk pelan, pasrah.

Di sampingnya, Rico malah nyengir tanpa dosa. Bahkan sempat melirik layar ponsel Jena dengan santai, lalu berkata seenaknya.

“Kalo sakit, nggak usah gangguin orang lagi sekolah. Tidur sana.”

Ranti langsung geram.

Ia melotot besar, meski batuknya masih tersisa.

“Jauh-jauh, ya, lo dari sahabat gue. Kalo enggak… gue susulin lo sekarang!”

“Yaelah, Ran.” Rico tertawa meremehkan. “Kerjaan lo ngalangin gue jalan sama Jena aja.”

“Lo… uhuk, uhuk, uhuk!”

Di sela batuknya yang tak henti, Ranti tetap memaksa bicara untuk mengancam Rico.

“Gue bilangin lo ke abang gue!”

“Wahahaha…” Rico makin menjadi menguji amarah Ranti “Apa urusannya sama abang lo?”

Jena hanya bisa menekan pelipisnya, frustasi menghadapi pertengkaran yang rasanya tidak ada habisnya.

Melihat keadaan Ranti seperti itu, Jena jadi khawatir Ranti semakin hilang kendali. Apalagi saat ini sangat terlihat wajah Ranti memerah.

Ia buru-buru menarik lengannya dengan paksa saat merasakan genggaman Rico melemah. Jena kemudian lari meninggalkan Rico.

“Udah ya, Co. Aku duluan ke kelas.”

“Jen… ngapa ninggalin?” Rico memanggil, nada suaranya seperti protes. “Kan kita satu arah.”

Tapi Jena sudah melesat tanpa mempedulikan panggilan itu.

Ia berlari menjauh, langkahnya cepat—seolah ingin menghindari tatapan orang-orang yang mulai memperhatikan mereka.

Telepon video masih tersambung.

Di layar, Ranti masih batuk-batuk tanpa henti sampai matanya berair.

“Dah, Ran. Minum dulu.” Suara Jena melembut, kekhawatirnya tak bisa ia sembunyikan. “Aku udah di kelas ini.”

Di layar ponsel, Jena melihat Ranti meneguk segelas air jernih. Batuknya sedikit mereda, lalu ia berusaha menstabilkan napas.

“Bangke banget si Rico…” Ranti mendecih. “Nanti gue jemput lo, Jen, ke sekolah.”

“Ngapain dijemput sih, Ran?” Jena protes, setengah kesal, setengah cemas. “Kan lo lagi sakit. Udah gede gue ih, tolak Jena.

“Diem lu! Sekarang gue tidur dulu. Nanti udah baikan pasti.” Ranti tetap keukeuh dengan keinginannya. Ia memang sebegitunya pada Jena, hubungan mereka bukan hanya sekedar sahabat. Ada sebuah janji tak kasat mata yang seakan menjadi pengikat hubungan mereka.

Jena terlalu pendiam. Teman kecilnya sekaligus tetangganya itu tak pernah jauh dari dirinya. Jena terlalu introvert untuk ukuran anak remaja, jadi terkadang ia mendapat perlakuan menyebalkan dari teman sekelas.

Terutama dari cewek-cewek populer yang menggandrungi Rico.

Kekhawatiran Ranti tidak bisa dibilang berlebihan. Faktanya adalah kediaman Jena seakan memberi peluang para pembencinya.

“Ya ampun, Ran…” Jena menghela napas pelan. “Gue nggak apa-apa.”

Kalimat itu keluar pelan, lebih seperti bicara pada dirinya sendiri, sambil menatap layar ponselnya yang perlahan meredup.

Tapi entah kenapa…

Di dada Jena, rasa “nggak apa-apa” itu justru terasa seperti bohong. Tak bisa dipungkiri ketenangan Jena seakan menghilang saat Ranti tak bersamanya.

Jena tak mengerti, apa yang menyebabkan dirinya seakan tak mampu berbuat sesuatu untuk menjaga dirinya sendiri.

Selemah itukah Jena?

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Abang Playboy menungguku   Bab 10

    Suasana restoran yang Malik tuju sore ini cukup ramai, setiap meja hampir penuh oleh pengunjung. Jena tahu betul setiap sudutnya, selalu dipenuhi oleh para pecinta makanan pedas. Termasuk dirinya. Namun keberadaanya saat ini di restoran favoritnya, tak menjadikan dirinya antusias seperti biasanya.Kenapa bisa begini ?Padahal, Sudah cukup lama semenjak terakhir kali dirinya dan Ranti tak berkunjung dan menikmati sajian yang membuat kedua gadis itu berselera untuk makan, sampai lupa daratan.Biasanya, baru satu langkah masuk ke restoran ini saja, dia akan tertawa riang, di dalam kepala sudah tersusun, menu apa saja yang akan di pesan. Namun kali ini, tak ada semangat yang ia rasakan. Ia hanya mampu berdiri tanpa bergerak menatap keberadaan Malik bersama perempuan yang Jena tahu adalah mantan kekasihnya itu.Apa karena ini? karna tiba-tiba muncul orang yang tak terduga dan 'mengganggu'.Tunggu.Kenapa ada pikiran jika mantan kekasih Malik yang tiba-tiba muncul itu mengganggu bagi Jena?

  • Abang Playboy menungguku   Bab 9

    Jena masih merasakan kepalanya yang berdenyut, sisa kantuk karena dibangunkan dengan cara tak lazim. Tubuhnya masih terasa letih ditambah perutnya yang keroncongan, menambah semeraut wajah Jena. Apalagi dadanya masih berdegup begitu riuh karena dikagetkan oleh ulah Malik yang menggodanya, lalu meninggalkannya begitu saja. Jemari Jena sampai gemetar karena ulah Malik. Nafas beraroma tembakau bercampur mint itu masih mengganggu kewarasannya. Sempat Jena terdiam, terpaku menatap wajah datar Malik. hidung mereka nyaris saling bersentuhan, berbagi udara sebegitu dekat. Gadis mana yang tak akan syok, apalagi ini adalah pria yang terkenal dengan permainan cintanya yang singkat dengan banyak wanita, apa Jena akan bersikap biasa saja? tentu saja tak mungkin. Bola mata berwarna coklat terang itu memantulkan wajah Jena yang menahan nafas. Duduk saling berhadapan setelah Jena bangun dari tidurnya tiba-tiba. Dan Malik, hanya tersenyum sinis seakan sedang menggoda. "Sial, jantung gue–" gerutu

  • Abang Playboy menungguku   Bab 8

    Dua jam berlalu lepas Jena terlelap di kursi penumpang disamping Malik. Langit sudah mulai menguning dengan lalu lintas yang kini mulai padat. Manusia di luar sana mulai sibuk mengejar waktu, memadati sudut jalanan ingin segera pulang, tak ingin terjebak oleh macetnya kota jakarta kala jam pulang kantor. Beberapa kali ponsel Jena yang gadis itu genggam berbunyi. Namun Jena yang tidur bagaikan bayi itu tak terganggu sedikitpun. Dan Malik? Tak berniat sama sekali membangunkannya, atau mengangkat telpon Jena yang berdering berkali-kali, mungkin itu panggilan telepon dari Ranti, atau bisa juga dari tante Alya–mamanya Jena. Ia tak peduli. Pria yang di juluki muka Es oleh Ranti– adiknya itu, malah sibuk menatap Jena. Sesekali Malik terkekeh mendengar dengkuran halus sahabat adiknya itu. Tak ada rasa bosan sama sekali. Bahkan Malik sengaja mengambil jaketnya untuk dijadikan selimut Jena. Kursi yang di duduki Jena, ia seting dengan posisi lebih mundur agar nyaman untuk tidur. Bukan han

  • Abang Playboy menungguku   Bab 7

    Jena membulatkan mata, tubuhnya mundur selangkah. Ia tak menyangka, mengapa Malik kini berada di hadapannya. “Masuk, Jen.” Nada suaranya datar. Lebih seperti perintah daripada ajakan. Beberapa detik Jena hanya mematung. Pikirannya berkelana. Mengingat ucapan Malik tadi pagi. "Bukannya Malik sedang di luar kota?" gumam Jena lebih pada dirinya sendiri. Malik mendengus kesal, melihat Jena malah berdiam diri menatap dirinya. “Heh… malah bengong. Cepet.” Nada Malik terdengar tidak sabaran. Jena tersentak. Ia buru-buru membuka pintu belakang mobil, namun Malik langsung mendengus kesal. “Heh! lu kira gua sopir apa? Depan, dong.” “Iya… maaf.” Jena menutup pintu belakang dan segera beralih ke kursi depan. Ia duduk pelan di samping Malik, berusaha setenang mungkin meski kepalanya masih berdenyut hebat. Ia bersandar, seolah seluruh tubuhnya kehabisan tenaga. Malik memperhatikannya dalam diam. Lalu, tanpa banyak kata, ia mendekat. Membuka sabuk pengaman yang ia pakai, lal

  • Abang Playboy menungguku   Bab 6

    Kemeja putihnya langsung berubah kecokelatan. Cairan itu lengket, dingin, dan membuat kulitnya menggigil. Jena memejamkan mata, jemarinya mengepal kuat. Menahan amarahnya agar tidak meledak di tempat. Rico membulatkan mata. Ia baru menyadari ada Hilda berdiri di sana, wajahnya dipenuhi amarah dan syok yang tak bisa disembunyikan. Gelas kosong masih berada di atas kepala Jena. Dan wajah Hilda seakan puas dengan gurat sinis menyebalkan, tatapannya menajam, menyimpan dendam yang begitu dalam pada Jena yang diam seakan menikmati aliran dingin mengotori rambut dan kemejanya. “Hilda! lu ngapain?!” bentak Rico. Netra Hilda nyalang. Ia menatap Jena yang malah tetap duduk dan melanjutkan mengunyah, seolah ia tidak peduli. Hilda semakin murka mendengar Rico membela Jena. Hilda tak segan menunjuk Jena tajam. “Cewek jalang ini yang ngapain?!” Jena mengangkat kepala perlahan. Menatap Hilda tepat di mata dengan tatapan menantang. Dengan suara rendah dan tajam, Jena berkata, “Elo

  • Abang Playboy menungguku   Bab 5

    Hari ini ada sedikit keanehan di kelas. Saat Jena melangkahkan kaki ke dalam, tak ada yang menyapanya. Padahal biasanya, beberapa temannya akan melempar candaan ringan, atau sekadar mengangguk kecil saat ia lewat. Namun sekarang… berbeda. Yang tadinya ramai bercanda dengan teman sebangku, mendadak terdiam sepersekian detik begitu Jena muncul. Hening singkat yang terasa aneh. Lalu satu persatu, netra mereka menatap sinis ke arah Jena yang berjalan sendirian menuju mejanya. Napas Jena masih memburu karena tadi berlari menghindari kejaran Rico. Ia berhenti sejenak, menahan langkah, menenangkan tarikan nafasnya yang riuh. Ia mencoba memahami perubahan ekspresi yang mendadak muncul di wajah mereka. Langkahnya ia perlambat, sambil sesekali melirik mahasiswi lain yang berbisik-bisik melempar tatapan aneh pada Jena. Saat akhirnya sampai di mejanya dan duduk, Jena buru-buru merogoh kantong tasnya lalu mengeluarkan cermin kecil. Ia menatap wajahnya sendiri, takut ada sesuatu yang

  • Abang Playboy menungguku   Bab 3

    Senyum cerah Jena memudar, ada rasa mencubit yang membuat Jena seakan tak bernafsu untuk menyapa Malik. Ia hanya memalingkan wajahnya dari Malik. Jangankan memberi senyum secerah matahari pagi ini, bahkan menatap wajah Malik yang sesekali menatap dirinya saja, Jena merasa malas. Segera Jena mem

  • Abang Playboy menungguku   Bab 2

    Plak! Jena menepuk tangan Ranti pelan. "Mulut lu, Ran. Bener kata Bang Malik, lu tuh kayak kuntilanak. Serem banget kalo lagi ketawa" "Tapi Jen…" Ranti mendekat, suaranya mendadak sok serius. "Elu mau nggak sama abang gue? Dari pada sama cewek-ceweknya yang bejibun itu, kayaknya si muka es leb

  • Abang Playboy menungguku   Bab 1

    "Heh, tungguin ih…"Jena ngos-ngosan mengejar Ranti yang melesat lebih dulu. "Cepet, Jen! Lemah banget. Keburu jauh!" Ranti menoleh sekilas sambil tetap berlari kecil, seolah hujan rapat yang mengguyur mereka bukan masalah. Jena mendengus kesal. "Hujannya deres gini, niat banget lu ngintip oran

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status